Sempat memeluknya, panas tubuh Reeval masih bisa ia rasakan di sekujur tubuh Putri Aeradale. Ia mencemaskan kesehatan pria itu. Perbincangan terakhir mereka sebelum Reeval beranjak keluar tidak membuat Arcaviel urung peduli. Ia mustahil mengabaikan demamnya, jadi diarahkannya kaki menuruni undakan tangga spiral untuk menuju area dapur.
Dari tengah undakan, Arcaviel menjatuhkan atensi kepada seorang kesatria. Zirah besi masih membebat tubuh berisinya, tampak gagah meski tidak dengan kepala dan lehernya. Kesatria itu sesekali tertunduk, tercabut, tertunduk, dan seterusnya begitu, menandakan ia sedang mengantuk berat. Arcaviel tidak habis pikir mengapa Reeval sampai perlu mengerahkan kesatria untuk menjaga tangga.
“Kau baik-baik saja?” tanya Arcaviel, selagi ia meneruskan langkah dan menuruni undakan di pertengahan lorong.
Suara tiba-tiba berhasil mencabut sang kesatria dari rasa kantuk. Entah refleks atau bagaimana, ia spontan berdiri dari posisi bersimpuhnya dan berancang-ancang memelesatkan anak panah. Arcaviel berhenti detik itu juga, sedangkan paras kesatria itu memucat. Denting logam pada busur menggema ketika senjata itu terjatuh ke lantai, juga suara zirah besinya saat si kesatria bertelut kalut di hadapan sang Putri.
“P-Putri, mohon ampun!” Kesatria itu menyatukan jemarinya di depan kepala tanpa helm zirah, tetap dalam posisi bertelut. “M-Maafkan saya karena lalai—”
“Tidak masalah. Jangan setakut itu, Tuan.” Arcaviel mengulaskan senyum manis. “Salahku juga karena mengagetkanmu.”
“Tidak, Putri! Anda tidak salah sama sekali!” Kesatria itu masih berada dalam posisinya, dapat merasakan kedatangan Putri Aeradale ke sisinya.
Arcaviel menghela napas. “Bangunlah,” titahnya, tepat ia berhadapan dengan si kesatria. “Kenapa kau berjaga malam-malam begini? Apakah Yang Mulia menitahkanmu?”
Patuh, kesatria itu kembali berdiri setelah memungut busurnya di tangan. Postur tubuh tingginya membuat si kesatria perlu menunduk untuk mengamati paras elok sang Putri. Cuping telinganya sedikit memerah karena tidak pernah sekali pun ia sedekat ini dengan adik dari rajanya. Fitur Arcaviel terlampau sempurna, hampir tidak ada cacat. Tak dapat ia mungkir, Arcaviel merupakan perempuan terelok yang pernah ia temukan.
“Benar, Putri. Agar tidak sembarang orang bisa menyusup ke lantai dua kamar Anda,” jawab si kesatria, menahan tatapan keduanya.
“Ah, begitu.” Arcaviel menghela napas. “Kembalilah ke barakmu setelah ini.”
“Bagaimana, Putri?” Ia menatap bingung Putri Aeradale.
“Aku sangat aman di sini. Kau tidak perlu takut untuk ditegur Yang Mulia.” Arcaviel melipat tangan, kemudian berkata dengan tegas, “Ini titah dariku.”
“Tidak mungkin, Putri. Kakak Anda—”
“Aku tidak menerima bantahan.” Arcaviel siap berbelok menuju dapur, tetapi ia menoleh kembali untuk menatap si kesatria. “Ah ya, apa kau memiliki kunci dapur?”
“Kebetulan ada bersama saya,” dilemparkannya sorot bingung untuk Arcaviel, “apa yang ingin Anda lakukan malam-malam begini?”
Meskipun Arcaviel merasa kesatria itu terlalu ikut campur dengan urusannya, ia tetap merespons tanpa curiga, “Aku ingin membuatkan makanan dan teh untuk Ree—Yang Mulia.”
Si kesatria manggut-manggut. “Jika Anda berkenan, bolehkah saya ikut membantu?” tanyanya.
“Tidakkah kau ingin tidur?” Arcaviel balik bertanya.
“Tidak, Putri. Saya sudah terbiasa terjaga.” Binar netra si kesatria terlihat jujur saat ia berkata, “Lagi pula, tidak baik untuk Anda sendiri di malam-malam begini.”
Beberapa detik Arcaviel memikirkan keputusannya, ia lantas mengiakan bantuan dari kesatria tersebut. Diusungnya menuju bagian dalam dapur setelah si kesatria membuka pintu dengan kunci. Kepekatan dapur yang mulanya membelenggu mereka menjadi lebih terang. Arcaviel mulai membuka laci demi laci untuk mencari bahan pembuatan bubur ataupun bubuk teh.
Ketika ia membuka laci terbawah, jemarinya merogoh bagian dalam saat mendapati satu stoples bubuk teh di sana. Arcaviel beringsut berdiri untuk ia letakkan stoples tersebut di atas nakas, sampai embusan napas terasa di pelipisnya dan sebuah lengan melingkari perutnya. Jantung Arcaviel terasa berhenti, ia berdiri mematung. Sentuhan itu memperlambat kinerja otaknya.
“Putri,” panggil suara tersebut, diikuti dengan usapan meliar di sekitar tubuh atas dan bawahnya. “Anda ini polos, ya?”
“Tuan kesatria,” lirih Arcaviel, ketakutan mulai merayap dan deru napasnya terasa gemetar tak karuan. “Lepaskan.”
“Bagaimana bila saya tidak ingin?” tanya balik suara itu, kian mengimpit tubuh mereka.
“Lepaskan,” kata Arcaviel sekali lagi. Ia kembali berbicara usai mengabsen seluruh kekuatannya, “Yang Mulia akan menghukummu jika—”
“Maka dari itu, jangan coba-coba untuk melapor pada kakak Anda, Putri.” Kesatria di belakang tubuh mungil Arcaviel melontarkan seringai selagi mengusap perut Putri Aeradale. “Kalaupun Anda melapor, esok hari saya tidak akan berada di sini lagi. Anda pikir, apa yang membuat Yang Mulia mengutus saya berjaga? Itu karena hari terakhir saya bekerja di sini, Putri.”
Arcaviel menggigit keras bibir bawahnya pada detik di mana ia merasakan jemari kasar itu mengerumuni pahanya yang hanya berlapiskan tunik rendah. Tidak sampai di sana, kepala si kesatria mencondong ke depan, tepat di samping pelipis Arcaviel untuk mengecupnya terus-terusan. Arcaviel bisa melawan jika itu tidak terjadi secara mendadak, tetapi otaknya justru berhenti bekerja.
“Bereng—”
Arcaviel menghentikan ucapan tepat bibir sang kesatria menggigit kasar miliknya. Lingkar lengan kukuh itu membalikkan posisi Arcaviel untuk menghadapnya, melumat bibir ranum sang Putri dengan kasar dan lapar. Detik itu juga, amarah Putri Aeradale memuncak. Ia menekan keras punggung zirah besi sang kesatria dengan kuku-kuku jemarinya. Itu tidak akan berhasil jika tanpa bantuan mana.
Merasakan sesuatu merusak zirah besi miliknya, kesatria itu menarik kembali bibirnya dari Arcaviel, mendapati gurat kemarahan teramat sangat di sana. Tibalah kuku Putri Aeradale menusuk punggung kesatria itu, membuatnya langsung memekik kesakitan. Dapat Arcaviel rasakan mananya mengalir dari kuku menuju punggung sang kesatria.
“Itu hukumanmu!” geram Arcaviel, kian menguatkan aliran mananya untuk memecah organ tubuh si kesatria yang masih berfungsi.
“Kau jalang beti—argh!” Kesatria tersebut kembali dibuat menjerit ketika merasakan lambungnya meledak dan usus-ususnya terputus. Ia melengos dan memuntahkan cairan hitam ke permukaan lantai dapur. “Lepaskan aku, jalang!”
Arcaviel menulikan indra pendengarnya. Kobar kemarahan masih mengilat di sepasang manik birunya. Jeritan demi jeritan dari arah sang kesatria terus menggema di sekitar dapur. Ruangan luas yang tadinya hening, damai, dan dibumbui oleh aroma sedap, berganti menjadi jeritan mencekam dan aroma amis mengerikan. Arcaviel tidak peduli. Kesatria itu berhak membayar kebejatannya.
“Ampun, Putri. Ampun!” Si kesatria terus memohon. “Saya berhenti bekerja untuk menikah, Putri! Saya tidak mungkin meninggalkan calon istri sa—”
Arcaviel semakin dibuat marah, tetapi ia mengatur emosinya lebih cepat dari yang ia duga. “Apakah kau bahkan pantas disebut sebagai calon suami yang baik, Tuan Kesatria?” tanya Putri Aeradale, sorotnya mendingin ketika ia menarik kukunya kembali dari punggung kesatria. Secepat itu juga, si kesatria terbujur kesakitan di lantai. “Setelah perilaku kotormu kepadaku, apakah kau masih pantas?”
“A-Ampun, Putri,” ia bernapas terputus-putus, “s-saya tidak pantas, t-tetapi saya harus menikah, P-Putri. Mohon k-kebaikan Anda.”
Tawa kecut terlontar dari bibir ranum Arcaviel, tetapi cairan bening mencuat dari pelupuk netra birunya. “Aku cukup membiarkanmu seperti ini dan aku akan tetap melampor kepada kakakku. Untuk selanjutnya, nasib hidup atau matimu akan ada di tangan Yang Mulia.”
“P-Putri!” Kesatria itu kembali memuntahkan cairan hitam.
“Jangan membantah,” Arcaviel berucap dingin dan siap beranjak pergi dari dapur, “itu risikomu karena sudah berani menistakanku, Tuan.”
Putri Aeradale lekas keluar dari sana, tidak ingin lagi melihat ke belakang untuk mengingat kembali kejadian tadi. Isak tangisnya menjadi-jadi saat ia berlari menaiki undakan di pertengahan lorong untuk menuju tingkat dua. Alih-alih pergi ke ruang kamarnya, ia malah menuju kamar Reeval. Awalnya, Arcaviel memang berniat untuk memberikan bubur, teh hangat, serta kompres air hangat kepada pria itu.
Akan tetapi, niatnya malah berganti menjadi petaka.
Arcaviel ketakutan. Ia tidak mengira kesatria itu akan memperlakukannya dengan b***t. Padahal, Arcaviel ingin berbaik hati dengan mengizinkannya kembali menuju barak untuk tidur. Siapa sangka si kesatria malah memanfaatkan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya melalui dirinya? Belum lagi, kesatria itu memiliki calon istri!
Sembari menekan kuat-kuat isak tangisnya, jemari Putri Aeradale menggapai knop pintu kamar Reeval dan membukanya sehalus mungkin. Ia berlenggang ke dalam dengan tubuh sedikit tremor. Dilihatnya pria itu masih menutup rapat netra hitamnya, menandakan Reeval masih terlelap. Wajar saja, ini tengah malam. Untuk kesehatan Reeval yang sedang turun, bukan hal aneh bila pria itu melucutkan defensifnya.
Agar tidak mengusik tidur Reeval, Arcaviel berniat untuk memeriksa panas tubuhnya saja sebelum kembali ke ruang kamar pribadi gadis itu. Oleh karena itulah, ia mengulurkan punggung tangan pada permukaan kening Reeval, tetapi sentakan kuat dan tiba-tiba dari tangan pria itu membuatnya terperanjat. Bukan hanya Arcaviel, Reeval sendiri juga terkejut dengan keberadaan sang Putri.
“Sakit,” ringis Arcaviel, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kuat Reeval.
Pria itu baru tersadar sepenuhnya. Jadi, ia segera menarik tangannya sendiri dari Arcaviel, bertanya dengan nada dingin, “Apa yang kau lakukan di sini?”
“A-Aku—” Arcaviel mendeham untuk membasahi kerongkongannya yang kering, tetapi isak tangis yang sedari tadi ia tahan justru mengkhianatinya, “—h-hanya ingin memeriksamu.”
Permukaan kening Reeval mengerut saat mengamati penampilan kacau Arcaviel. Pria itu membenarkan posisi menjadi duduk dan bersandar di kepala dipan tanpa melepaskan atensi dari netra biru jernih Arcaviel. Satu tangannya menangkap lengan Putri Aeradale, mengusung tubuh mungilnya bersandar di d**a pria itu. Dapat ia rasakan lengan kiri Arcaviel melingkari lehernya.
“Tatap aku sebentar,” pinta Reeval, menyadari ada kejanggalan pada kekasihnya.
Arcaviel menurut. Ia tidak terkejut saat tangan kiri Reeval menahan dagunya kala itu menoleh. Reeval lebih dari tahu jika ia mengalami sesuatu. Ada hening sebentar, hingga tibalah di mana Arcaviel bisa merasakan aura mencekam dari pria di lingkaran lengannya. Rahang pria itu mengeras, tetap seperti itu meski jemari Arcaviel telah mengusap lembut rahangnya.
“Cavi, katakan siapa yang membuatmu seperti ini?” Reeval terus memakukan atensi pada bibir ranumnya, tidak perlu dilihat secara jelas pun, pria itu sadar ada tanda kekerasan di sana. “Cav!” bentaknya, tanpa sadar, saat tidak kunjung menerima respons signifikan dari lawan bicaranya.
Bentakan itu berhasil membuat tubuh Arcaviel kembali tremor. Reeval menarik napas dalam-dalam untuk mengatur luapan emosi pria itu. Ia kembali membisikkan kalimat penenang kepada Arcaviel, secara halus memintanya untuk bercerita. Arcaviel terlena dengan kelembutan Reeval. Memang sejak dulu, Reeval senantiasa berhasil menjadi tempat berpulang Arcaviel dari segala perkara hidupnya.
Oleh karena itu, Arcaviel tidak ragu bercerita tentang keinginannya membuat bubur dan teh hangat untuk Reeval—sampai kejadian b***t kesatrianya dialami oleh gadis itu. Mendengar cerita dari Reeval memaksa pria itu untuk menahan mati-matian amarahnya. Ia sangat marah kepada kesatria utusannya, tetapi ia juga marah kepada dirinya sendiri.
Jika bukan karena Reeval, Arcaviel tidak mungkin menuju dapur dan menemui kesatria itu.
“Jangan khawatir, Reeve,” bisik Arcaviel, menutup ceritanya dengan menenggelamkan kepala di antara ceruk leher Reeval. “Aku sudah memastikan kematian kesatriamu berjalan lambat.”
“Maafkan aku,” Reeval mengendus dalam-dalam aroma tubuh Arcaviel dari puncak kepalanya, “semestinya aku menolongmu, Cavi—bukan malah terlelap seperti tadi.”
Arcaviel menggeleng, sedikit menggelitik leher pria itu. “Kau masih hangat. Apa di sini ada kain untuk mengompresmu?” tanya Putri Aeradale, berniat untuk berkelit dari pangkuan Reeval, tetapi lengan kukuhnya menolak membiarkannya pergi.
“Cukup di sini.” Pria itu mengecup lembut bibir kekasihnya, menghapus noda bibir kesatria berengsek yang berniat mengeksploitasi Putri Aeradale. “Temani aku sampai aku terlelap.”
“Tetapi—”
“Aku hanya membutuhkanmu di sisiku, Putri.” Reeval mengulaskan senyum lirih. “Aku bahagia kau tidak pergi, tahu.”
“Reeve, tidur. Kau sudah mulai melantur.”
“Oh ya?” Satu alis Reeval terangkat main-main, siap menggoda Putri Aeradale lagi. “Kau tetap menikmati lanturanku, bukan?”
Arcaviel menggeser pipi Reeval menjauh ketika paras tampan pria itu mendekat. “Reeve!” serunya, salah tingkah.
Yang disebut namanya terkekeh puas. Ia mengusap kepala Arcaviel, membiarkan sang Putri membenamkan kepala di pundak. Arcaviel bergumam panjang, berpura-pura merajuk karena itu sudah menjadi kebiasaan lamanya ketika bersama Reeval. Entah bagaimana, mungkin akibat dari kembalinya ingatan sang Putri, sifat lama Arcaviel bisa beradaptasi dengan cepat.
“Reeve, aku mencintaimu,” Arcaviel setengah sadar begitu mengatakannya, “sangat-sangat mencintaimu.” Lalu, ia jatuh terlelap dalam kehangatan.
Sial, betapa aku juga mencintai bayi besar ini, gerutu Reeval, lalu sorotnya menajam saat ia menatap lurus ke arah siluetnya yang baru saja merangkak masuk melalui celah pintu. Bereskan kesatria berengsek itu. Lakukan dengan cara apa pun, buat dia mati dalam penderitaan.
Reeval sadar diri bila ia memang egois—karena siapa pun yang lancang menaruh tangan kepada miliknya, jangan harap mereka dapat selamat atau mati dengan tenang.[]