30. Pembebasan & Perasaan

2095 Kata
Bagaikan jiwanya sempat dipaku dan tercabut dari dinding, Arcaviel terkesiap bukan main. Sentakan kuat dari lukisan membuat jemarinya tertarik kembali dari sana, seketika ia sudah berada di realitas lagi. Manik birunya terhunjam lurus menuju bingkai lukisan anggota keluarganya dan menghela napas. Ia akhirnya berhasil mengingat semuanya, dari awal hingga akhir sebelum dikirim menuju alam fana. Kilas balik itu terpatri jelas dalam benak Arcaviel. Tidak hanya mengingatkan tentang Putri Aeradale semasa muda, tetapi lukisan itu juga mengungkapkan seluruh isi hatinya—bagaimana ia melihat sang kakak sebagai sosok yang perlu ditunduknya, bagaimana ia berusaha untuk menjadi apa yang diinginkan oleh keluarganya, bagaimana ia menyelami afeksi bersama Reeval, dan masih banyak lagi. Arcaviel mengusap permukaan lukisan itu. Catnya tidak mengotori telapak tangan sang Putri, menandakan lukisan tersebut sudah dilukis lama sekali. Berapa lama? Empat? Lima? Entahlah, tidak semua hal tentang properti kerajaan inti dapat ia ketahui dari kilas balik itu. Mengulaskan senyum manis di bibir ranumnya, ia merapatkan netra, berniat memutar ulang memorinya kembali. Sayang sekali, ada hal lain yang lebih krusial dari sekadar bernostalgia. Ia harus membebaskan Arcaviar dan Pierce—Rodeus—sebelum Reeval berbuat tidak-tidak kepada dua pria itu. Arcaviel mulai mengedarkan pandangan ke seluruh arah, mencari presensi kunang-kunang untuk dimintai tolong sekali lagi. Hanya saja, mereka raib semenjak ia tiba di ruangan properti ini. Sekarang, bagaimana Arcaviel bisa menolong kakaknya dan Rodeus? Haruskah ia berselindung menuju menara? Saran-saran nekat kemudian mengitari benaknya hingga Arcaviel dibuat kacau. Ia menatap sana sini, berharap keajaiban datang dan ia bisa tiba di dalam menara tanpa tertangkap basah. Akan tetapi, Arcaviel tidak bisa menemukan apa-apa, sampai lukisan itu kembali memanggilnya. Lanskap itu menguarkan sulur-sulur keemasan dari permukaan, berkejaran untuk menggapai Arcaviel. Mulanya ia berpikir demikian, tetapi seterusnya tidak dapat ia duga. Sulur-sulur keemasan itu melampaui Arcaviel sampai bermeter-meter ke depan. Ujung sulurnya menjamah pintu ruangan. Arcaviel lantas berbalik, bertepatan akses keluar masuk itu bersinar oleh taburan keemasan. Kaki jenjangnya menapak satu demi satu. Gerakan Arcaviel lambat, ia masih sedikit waswas meski probabilitas bahaya kecil. Diarahkannya satu telapak tangan Arcaviel menuju sinar keemasan pada pintu dan kesiap lolos dari bibirnya. Permukaan pintu dapat ia tembus. Intuisinya menitahkan tungkai Arcaviel untuk mulai beringsut masuk, jadi ia melangkah dan meninggalkan ketakutannya di belakang. Hangat, pikir Arcaviel, sebelum ia membuka netranya kembali semata-mata untuk membeliak. Suaranya halus saat ia berkata, “Kak?” “Viel?” “Amor—eh, Putri?” Arcaviel rasanya ingin menangis detik itu juga. Ia berterima kasih bukan main kepada lukisan yang sudah mengantar Arcaviel kepada dua pria itu. Tetapi, baru ia akan datang mendekat, dua siluet di dinding tempat Arcaviar dan Rodeus terlekat mulai meluruh ke lantai. Arcaviel mematung tatkala siluet itu menyatu seperti likuid hitam, mengalir menujunya. Suara gedebuk jatuh dari kedua pria itu sukses memecah lamunan Arcaviel. Ada sedikit kesenangan saat mereka tidak lagi terkekang oleh siluet-siluet itu, tetapi perasaan itu harus ia tekan mengingat ancamannya sekarang. Baru saja Arcaviar dan Rodeus siap mengarahkan mana mereka kepada siluet yang semakin dekat dengan sang Putri, sulur-sulur keemasan di belakang Arcaviel sudah lebih dulu memelesat. Desing angin melintasi indra pendengar Arcaviel, bertepatan sulur-sulur keemasan mencuat ke langit-langit ruangan dan menyerbu siluet berbentuk likuid itu bertubi-tubi. Permukaan bilik menara sedikit mengalami vibrasi. Likuid hitam memecah, kembali membentuk dua siluet berwujud perawakan seseorang. Arcaviel tidak asing dengan mereka. Apa jangan-jangan … siluet itu? Arcaviel mengejap, teringat dengan penculikan Pierce di Bukit Spirithorn. “Milik Reeve,” lirihnya, semestinya ia telah menduga dari awal. Kesiap lolos dari bibir Arcaviel ketika vibrasi mulai menguat. Kedua siluet hitam itu masih melecutkan sulur kehitaman untuk lawannya. Baik sulur hitam, maupun sulur keemasan, saling memutari satu sama lain dalam bentuk spiral. Pertikaian antarsulur itu dimanfaatkan dengan baik oleh Arcaviar untuk menjamah sang adik, sedangkan Rodeus mengekor sekaligus menjaga pria itu dari belakang. Ketika mereka mengira siluet-siluet itu terlalu sibuk untuk mengacuhkan Arcaviar dan Rodeus, rupanya mereka keliru. Salah satu siluet, berdiri paling dekat di sisi kedua pria itu, mengarahkan satu sulurnya yang lain untuk mengibas tubuh Arcaviar dan Rodeus tatkala mereka mencoba untuk memapasinya. Alhasil, tubuh kedua pria itu terlempar di udara dan membentur dinding. “Kak!” Masa bodoh bila ia terkena imbasnya, Putri Aeradale tidak perlu berpikir panjang untuk menghampiri mereka. Sulur-sulur keemasan menamengi Arcaviel ketika siluet yang sama juga ingin melukai sang Putri. Selepas ia menjamah kakak dan sepupunya dengan selamat, Arcaviel segera bertelut di depan dua pria yang tengah meringis itu. Jemari lentik Putri Aeradale lekas mengusap kening Arcaviar dan Rodeus. Cairan merah beraroma anyir sedikit menodai kepala dua pria itu, membuat Arcaviel tanpa sadar meringis. “Viel,” bisik Arcaviar. “Kenapa kau ada di sini? Kau baik-baik saja?” “Sulur itu mengantarku kemari.” Manik biru Arcaviel mengilat berkaca-kaca kala netra sepasang saudara itu berserobok. “Jangan mencemaskanku, Kak. Apa ini sakit?” Direspons oleh gelengan, Arcaviel menekan sedikit kepala sang kakak dan disusul oleh ringisan. Ia hampir mencibir, tetapi ia memutuskan berkata dalam nada lembut, “Aku akan mencoba memulihkan kalian. Setelah ini, pergilah bersama sulur-sulur itu.” Baru Arcaviel ingin mencoba mengerahkan mana putihnya, hasil belajar sang Putri semasa muda, Arcaviar menangkap lengan adiknya. “Bagaimana denganmu?” tanyanya, entah mengapa terdengar sengit. “Viel, kau tidak berencana untuk—” Arcaviel mendesis halus. “Ini bukan waktu tepat, Kak Viar. Mereka tidak akan bertahan lama lagi,” bisiknya, mengulaskan senyum manis. “Biarkan aku memulihkan Kak Viar dan Kak Rodeus dulu, oke?” “Putri?” Rodeus menatap lurus Arcaviel. Meski tengah mengatur air mukanya, tetapi binar syok tidak luput dari indra penglihat Putri Aeradale. “Anda sudah mengingat—” Ucapan Rodeus tertelan begitu saja setelah sang Putri menangkap tangannya dan tangan Arcaviar secara serentak. Arcaviel merapatkan netra birunya, merasakan mananya mengarus di antara pembuluh darah Putri Aeradale. d**a Arcaviel terdengar mendesir, ia kembali terbayang oleh masa-masa mereka ketika kecil. Itu membuat asanya untuk memulihkan Arcaviar dan Rodeus kian memuncak. Sementara itu, sulur-sulur keemasan mulai mengungguli kedua siluet Reeval. Mereka merupakan representasi dari asa Arcaviel untuk sejenak waktu. Jadi, semakin besar asa dalam diri Putri Aeradale, semakin berdampak juga untuk sulur-sulur keemasan dalam menaklukkan siluet hitam tersebut. Intensitas keemasan pada sulur meningkat drastis, bertepatan luka benturan pada kening dan kepala dua pria itu menutup sendirinya. Napas Arcaviel terputus-putus. Ia menarik tangannya dari sang kakak dan Rodeus, kemudian beranjak dari tempatnya. Perasaan lega lekas menguasai diri Putri Aeradale ketika ditemukannya sulur-sulur keemasan berhasil mengitari kedua siluet dan melata bagai ular. Satu detik setelahnya, kedua siluet itu binasa. Arcaviel melemparkan senyum untuk sulur-sulur tersebut. Lalu, mereka menyatu pada dinding tepat di belakang Arcaviar dan Rodeus—membentuk portal lagi. Kedua pria itu melongok ke arah dinding dari pundak mereka, tertegun. “Apa ini, Arcaviel?” tanya sang kakak, melemparkan sorot tajam kepada adiknya. “Kakak harus pergi sebelum Reeve kemari,” sulur-sulur keemasan melingkari pergelangan tangan Arcaviar dan Rodeus dari belakangnya, siap menarik mereka masuk ke dalam portal, “aku berjanji akan mengurus semua permasalahan ini.” Arcaviar mengetatkan rahang, mati-matian menahan tubuh agar tidak tertarik oleh sulur-sulur keemasan itu. “Kau—” “Si—al,” selat Rodeus, pria itu lebih dulu berhasil terseret masuk dan membuat Arcaviar menjadi lengah. Dalam satu tarikan kuat, Arcaviar gagal menahan bobotnya lagi. Sebelum ia tertarik menuju portal, pria itu berseru, “Viel, jangan tertipu dengan si berengsek i—” Seruannya teredam bertepatan batang hidung Arcaviar tidak lagi tampak. Seketika, bilik menara terdengar begitu senyap. Cairan bening menetes dari pelupuk netra biru Arcaviel, sulit rasanya untuk meninggalkan sang kakak—tetapi ia sudah berjanji dengan Reeval. Ia mungkin memihak kepada pria itu, tetapi selanjutnya ia akan memikirkan cara agar keluarganya bisa menerima takhta mereka kembali. Visual Arcaviel tiba-tiba mengabur. Ia mulai hilang keseimbangan, bertepatan suara dingin dengan amarah tertahan merangsek ke indra pendengarnya. Ia menghadap pintu dan di antara kaburnya penglihatan Putri Aeradale, dapat ia lihat perawakan Reeval yang baru saja datang. Rahang pria itu mengetat. Netra sehitam jelaganya menyorot tajam Arcaviel. “Arcaviel, kau—” Namun, ia perlu menelan bulat-bulat amarahnya ketika tahu-tahu saja tubuh mungil sang Putri tumbang—dan pria itu dengan sigap menangkapnya ke dalam dekapan. * Arcaviel baru siuman setelah seharian penuh tidak tersadarkan diri. Ketika ia mengekspos manik birunya, ia langsung sadar dirinya tidak lagi berada di bilik menara, melainkan ruang kamar pribadinya. Temaram di luar teras mengindikasikan malam telah tiba. Ia beranjak dari dipan selepas melakukan peregangan, bisa ia rasakan tubuhnya masih pegal akibat terbujur cukup lama. Kepala Arcaviel sedikit berat. Ia langsung paham kondisinya saat ini tidak terlalu sehat, tetapi Putri Aeradale masih bebal menginginkan mencari udara segar di luar teras. Bertepatan ia menapakkan alas kaki telanjangnya di sana, rasa dingin langsung terasa menusuk. Giginya gemeretak menggigil, namun ia mengabaikan itu karena terbayar oleh suasana damai pelataran taman di bawah sana. Para tupai masih terjaga di dekat pancuran. Beberapa mengisengi kelinci berisi yang sudah larut dalam bunga tidur mereka. Arcaviel tidak bisa menahan tawanya saat si kelinci terbangun akibat pengusikan para tupai dan melompat ke arah mereka galak. Ia menunduk untuk menatap lebih jelas dari pembatas teras. Tak dapat ia mungkir, Arcaviel membutuhkan hiburan. Putri Aeradale terlena dengan keindahan lanskap malam ini. Rembulan purnama raksasa tidak malu-malu muncul, menerangi pelataran taman dan juga dirinya yang berdiri di teras kamar. Ada juga kelap-kelip bintang, jumlahnya tidak terhitung. Eksistensi benda langit itu cukup banyak menenangkan gadis bersurai cokelat pirang itu dari perkara peliknya. Tetapi, ketenangan itu berakhir saat sebuah telapak tangan menyentuh permukaan keningnya dari belakang, diikuti dengan suara maskulin milik Reeval. “Masuk,” kata pria itu, hampir sedingin malam membekukan ini. Beringsut mundur satu langkah dari Arcaviel untuk menciptakan jarak di antara mereka, Reeval menarik kembali tangannya. “Jangan di sini, kau baru bangun.” Arcaviel memutar balik tubuhnya untuk bertatapan dengan Reeval. Jantung Putri Aeradale sedikit berdebar, bukan karena takut. Respons hatinya itu tidak dapat ia jelaskan dengan kata-kata. Ketimbang mendengar ucapan Reeval untuk kembali masuk ke dalam kamar, manik biru Arcaviel justru menginspeksi pria itu dari bawah kaki menuju atas kepala. Penampilan Reeval, seperti biasa, selalu menawan. Tidak peduli atribut apa yang akan ia kenakan, pria itu memesona—senantiasa memikat hati para gadis, termasuk Arcaviel sendiri. Seperti sekarang, Reeval hanya mengenakan kaos putih dan celana panjang hitam. Kesederhanaan pakaian pria itu tidak melunturkan ketampanannya, secuil pun tidak. Lamunan Putri Aeradale dari perawakan Reeval terpecah saat arus angin memberikan rasa dingin pada tubuhnya. Ia kembali menggigil, terkejut bukan main begitu tangan Reeval meraih pinggang sang Putri dan menggiringnya kembali ke kamar. Pria itu tidak berbicara apa-apa selanjutnya, bahkan ia langsung menarik lengannya dari sana untuk menutup pintu transparan teras. “Sahara akan menghidangkan makananmu sebentar lagi,” Reeval meliriknya sekilas dari refleksi pintu transparan, “jadi, isi perutmu nanti.” “Reeve,” panggil Arcaviel, lembut. Mendengar namanya disebut, ia memutar balik tubuhnya untuk memunggungi pintu transparan dan bersemuka dengan Putri Aeradale, tetapi apa yang terjadi setelahnya berhasil membuat jantung pria itu terasa berhenti melompat. Sepasang lengan mungil itu sudah melingkari perut datar berisinya dan kepala Arcaviel telah berada di bawah dagunya. Arcaviel merengkuh erat tubuh pria itu. “Kau hangat,” bisik gadis itu, tidak peduli bagaimana Reeval sedang mati-matian menahan keinginan untuk balas memeluknya. “Reeve, jangan sakit.” Menangkap kecemasan dari nada bicara Arcaviel, Reeval seketika lupa cara untuk bernapas. Arcaviel tahu pria itu juga jatuh sakit, sedikit mengalami demam saking frustrasinya karena sang Putri telah mengetahui tindakan busuk pria itu. Mulanya, Reeval menduga ia akan mendapat perlakuan dingin dari Arcaviel, tetapi pemikiran itu keliru. “Reeve,” sekali lagi, Arcaviel melirihkan namanya, “aku merindukanmu.” Arcaviel tahu dirinya sudah gila. Alih-alih memarahi dan menghakimi tindakan pria itu atas takhta keluarganya, Putri Aeradale justru mengucapkan kata-kata manis yang bertolak belakang dengan semestinya. Arcaviel tidak berdusta saat mengatakan bila dirinya merindukan Reeval. Itu sebuah kebenaran dan Arcaviel tidak berniat menyangkal. Ia merindukan pria itu—sangat. Kebersamaan mereka semenjak kecil sudah mengacaukan dan mematahkan kewarasannya. Maafkan aku, Mom, Dad, Kak Viar …, batin Arcaviel, aku tetap memegang janjiku, tetapi untuk sekarang, biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya. “Aku merindukanmu,” bisiknya lagi. Reeval tertegun. Pria itu belum berkata apa-apa, bahkan enggan membalas dekapan kekasihnya. Hingga, sebuah tanggapan dingin tersebut terlontar dengan sendirinya dari bibir musuh sang kakak, memaksa Arcaviel untuk beringsut mundur dengan tatapan pilu yang tidak sanggup dilihat lama oleh pria itu. Jawaban yang berhasil membuat cairan bening lolos dari pelupuk netra biru Putri Aeradale. “Kau tidak.” Reeval memapasi tubuh gadis itu dengan langkah besar, sebelum ia keluar dari ruangan. “Tidak perlu membohongi perasaanmu atas aku, Arcaviel.” Aku tahu kau membenciku—sangat membenciku.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN