29. Ingatan Masa Lalu

2181 Kata
Para kunang-kunang menemuinya lagi. Mereka persis ada di luar teras kamar, melintas acak tanpa mematikan sinar tubuhnya. Itu tak luput dari indra penglihat Arcaviel. Jadi, ia beringsut dari dipan selepas menuntaskan permenungan dan mendatangi pintu teras untuk mempersilakan mereka masuk. Sesuai dugaan, kunang-kunang lekas masuk di antara celah pintu teras, melingkari tubuh mungil Putri Aeradale. “Akhirnya kita berjumpa lagi, Putri.” Arcaviel tersentak. Ia berani bersumpah bila dirinya mendengar suara maskulin itu lagi—suara terakhir yang ia dengar sebelum eksistensinya disadari oleh para kesatria inti. Bisa ia rasakan tubuhnya sedikit linglung, tetapi satu kakinya dengan cepat mengimbangi. Usai berdiri tegap, Arcaviel menatap lurus pendar bercincin milik si kunang-kunang. “Ya, kita berjumpa lagi,” bisik Arcaviel, lirih. Ia memaksakan sudut bibirnya untuk tertarik naik. Ini mungkin terkesan aneh; berbicara kepada kunang-kunang. Arcaviel nyaris menertawakan dirinya, mengingat ia sempat menarik kesimpulan bila koloni hewan mungil itulah yang tengah berbicara dengannya. Akan tetapi, respons selanjutnya dari para kunang-kunang langsung mematahkan niat Arcaviel untuk itu. “Kami akan mengantarkan Anda menuju tempat di mana kepingan memori Anda tersimpan, Putri,” kunang-kunang itu berhenti memutari Arcaviel, terbang seirama di depan Putri Aeradale dengan barisan rapi, “ikutlah kami.” Bagaikan utas tali dan kemilin benang, mereka terbang menuju pintu kamar. Arcaviel baru ingin berkata bahwa akses keluar masuknya dikunci dari luar, tetapi selanjutnya ia kehabisan kata-kata. Lidahnya terasa kelu bertepatan kunang-kunang itu melingkari knop pintu dan terbuka sempurna. Buru-buru ia bergerak mengekor. Jantungnya sedikit memburu saat melintasi lorong. Manik biru Arcaviel tidak henti-hentinya bergerak sana sini. Sejauh ia membelah pintu dan lukisan parasnya, tidak ada siapa-siapa. Otak Arcaviel dengan lancangnya mulai mencitrakan segala kemungkinan terburuk bila ia tertangkap basah berhasil keluar dari kamar. Ia mungkin akan dihadapkan oleh amukan Reeval, hal terakhir yang ia inginkan jika itu terjadi. Miris sekali, bagaimana bisa aku merasa ketakutan di kediamanku sendiri? batin Arcaviel, prihatin. Fakta tentang Reeval Lanford bukan kakaknya tidak membuat Arcaviel bisa membangkitkan adrenalinnya begitu saja. Ia bahkan tidak mampu—gagal—memarahi pria itu atas perbuatan buruknya kepada Arcaviar dan Pierce. Afeksi Arcaviel terhadap Reeval, musuh dari kakaknya, terlalu besar dan perasaan itu berhasil membodohinya. Entah apa ikatan di antara mereka sebelum Arcaviel berakhir di Desa Silkvale. Arcaviel cepat-cepat ingin tahu jawabannya melalui para kunang-kunang. Oleh karena itu, tidak peduli dengan risikonya bila Reeval mendapatinya keluar dari kamar, Arcaviel akan tetap mengikuti koloni hewan bertubuh kuning menyala tersebut ke suatu tempat. Larut dalam pemikiran acaknya, Arcaviel tidak sadar ia diarahkan menuju lorong kecil kediaman mendiang Brigid. Akses menuju lorong sudah terbuka begitu saja dengan pola seperti tadi—di mana kunang-kunang berbaris melingkari knop dan voilà! Lidahnya tidak bisa untuk tidak berdecak kagum. Koloni hewan itu selalu berhasil membuatnya terpana. Ia mulai menaiki undakan. Keremangan di sekitar anak tangga hampir tidak ada, mengingat pendar kuning milik tubuh si kunang-kunang menerangi setiap langkahnya. Sebagian dari hewan kecil itu menanti Arcaviel untuk mendahului mereka, sisanya memimpin jalan di depan. Bisa ia dengar suara pintu menutup di belakang tepat Arcaviel menaiki undakan ketiga. Tidak repot-repot menoleh, Arcaviel lanjut memusatkan atensi lurus ke depan. Bertepatan ia menapak di puncak undakan, dua pintu yang berseberangan langsung menguasai visualnya. d**a Arcaviel sedikit sesak ketika ia melihat pintu ruang kamar Brigid. Arcaviel menatap telapak tangannya sendiri, di mana Brigid sempat menyentuh jemarinya sebelum kematian menjemput. “Putri, sesuatu mengusik pikiran Anda?” Seekor kunang-kunang terbang ke hadapan Arcaviel dan mendekatkan dua antena mungilnya. “Anda baik-baik saja?” Lamunan Arcaviel spontan terpecah. Ia menipiskan bibir ranumnya dan menggeleng kecil. “Tidak apa, jangan mencemaskanku. Aku baik-baik saja, Sir,” katanya, kemudian berkukuh pada dirinya sendiri untuk tidak memikirkan Brigid lebih dulu. Ia harus ingat tujuannya kemari, yakni mendapatkan kembali ingatannya di masa lampau. “Baiklah, Putri.” Sepeninggal kunang-kunang itu dari hadapan Arcaviel, Putri Aeradale kembali meneruskan langkah menuju pintu seberang kamar Brigid. Koloni kunang-kunang berbaris melakukan pola yang sama bagaikan kemilin benang. Mereka lalu mengerumuni knop, tidak lama sinar cukup terang menguasai visual Arcaviel. Ia perlu memicing untuk melihat jelas bagaimana pintu tersebut membuka dengan sendirinya. Mengejap beberapa kali, sinar itu dirasanya mulai meredup hingga hilang sama sekali. Koloni kunang-kunang mengarahkan antena untuk menghadap Putri Aeradale. Secara serentak, kepala mungilnya menunduk seakan-akan memberikan penghormatan. Intuisi Arcaviel seakan-akan berkata bila manik-manik hitam bulat itu sedang berpendar penuh asa, tetapi kenapa? “Temui seluruh jawaban Anda di dalam ruangan ini, Putri. Itu akan memanggil diri Anda.” Arcaviel masih sempat berucap terima kasih kepada mereka, hingga ia mulai memasuki ruangan khusus properti kerajaan. Bisa ia temukan pertama kali jajaran rak tinggi berisikan properti antik kerajaan. Di antaranya terdapat guci keramik, vas bunga, dakon—ia sedikit terkejut Aeradale memiliki mainan itu, cakram hitam, jam dinding kuno, dan masih banyak lagi. Hingga manik biru Arcaviel terhunjam menuju sebaris rak di depan sana. Isi rak itu terdiri dari bingkai-bingkai, sebagian besarnya adalah mata uang kuno dan lukisan pemandangan. Tetapi, ada satu lukisan keruh berhasil menguasai atensinya secepat itu juga. Arcaviel tidak bisa melihat dengan jelas. Lukisan lanskap itu berdebu, hampir rusak malah. Catnya meluruh, menciptakan bercak noda di sana sini. Kendati demikian, Arcaviel bisa menebak bila lanskap itu berlukiskan beberapa orang. Merasakan lukisan itu semakin memanggilnya, Putri Aeradale kembali teringat dengan amanat dari kunang-kunang. Itu akan memanggil diri Anda, kata mereka. Jadi, Arcaviel tidak berlama-lama untuk berjalan lurus ke depan dan mendatangi lukisan lanskap itu. “Kuharap ini benar-benar jawaban yang kucari,” ia bermonolog, kemudian jemari lentiknya terangkat naik untuk meraba permukaan lukisan. Deg! Jantung Arcaviel mencelus. Kilat putih menemui matanya, tidak membutakan namun cukup membuat indra penglihatnya berair. Arcaviel spontan menarik jemarinya kembali dari lukisan untuk menghalau netranya dari kilat tersebut. Lama-kelamaan, sinarnya meredup dan jantung Arcaviel bereaksi untuk kedua kalinya. “B-Bagaimana mungkin?” Bukan lagi lukisan lanskap yang keruh, ia mendapati gambar itu kembali utuh. Ingatan Arcaviel terlempar lagi menuju masa di mana ia melihat penyusup tepat perjamuan malam itu. Penyusup itu menampakkan potret ini—persis seperti lanskap di hadapannya sekarang. Hanya saja, itu bukan berupa sebuah potret, melainkan lukisan anggota keluarganya. Manik biru Arcaviel memindai paras keempat sosok di dalam lukisan, baru tatapannya terhenti pada perawakan Arcaviar. Tanpa sadar, ia menarik sudut bibirnya ke atas. Ia berjanji dirinya akan membebaskan Arcaviar dan Pierce dari menara, tetapi belum sempat memikirkan rencananya, kilat kembali muncul dari paras Arcaviel di lukisan. Arcaviel tergerak untuk meraba gambar itu lagi, dan … inikah masa laluku? * “Arcaviar, ini Reeval Lanford—putra satu-satunya Paman Topaz.” Aku keliru menentukan waktu kedatanganku, pengaturannya tidak pas. Alhasil, seperti sebuah kebiasaan, rasa takut menelusukku. Ini sering terjadi setiap kali aku kemari dan mendapati Dad kedatangan orang asing. Untungnya, aku belum sempat berbicara apa-apa dan berselindung di balik ketiak kakakku saat kakiku spontan berlari kecil ke arahnya. Ketiga orang di dalam ruangan kini memusatkan atensi kepadaku. Sedikit kikuk, aku menatap balik Kak Viar dan hampir meringis begitu kakakku menghunjam tatapan sengit. Ia menunjuk mulutnya sendiri, seperti biasanya, aku akan mengangguk bila ia bergelagat seperti tadi. Kak Viar mengangguk puas, menarik tangannya dariku untuk bergeser menjauh. Walau terbiasa, aku hanya bisa menelan rasa kecewaku melihatnya berkelit. Dad mendeham singkat. Aku menggeser atensi dari kakakku untuk memindai balutan kemeja dengan jubah satin tersampir di belakang punggung Dad. Beliau tampak besar dan berkuasa ketika mengenakan atributnya sebagai Raja Aeradale. Aku selalu mengagumi Dad, tetapi aku tidak pernah berusaha untuk mengimitasi beliau. Kak Viar lebih pantas untuk itu. “Reeval, ini putra keduaku, Avi.” Aku mengangkat paksa sudut bibirku, telah menduga ia akan memperkenalkanku sebagai ‘putra’ alih-alih ‘putri’. Entah atas alasan apa, keluargaku merombak penampilanku menjadi bagian dari kaum laki-laki. Aku sama sekali tidak menginginkan itu, tetapi aku terpaksa mengikuti keinginan mereka meski hatiku berkata sebaliknya. Mereka kerap menjejaliku pil pengubah suara dan berbicara seadanya. Aku hanya dipersilakan menjadi diriku ketika malam tiba, bermain dengan boneka-bonekaku—menggunakan tangan yang sudah penuh oleh bekas irisan pedang. Ya, selain merombak penampilan dan menjejalkan pil, keluargaku juga memaksaku untuk bisa berpedang. Dan performaku sejak dulu tidak ada peningkatan, jadi kuhabiskan seluruh pagi dan siangku dengan berlatih pedang bersama kesatria lain di barak. “Senang bertemu Anda berdua, Pangeran Arcaviar,” Reeval menggeser tatapan menujuku dan meneruskan, “ dan Pangeran Avi.” Selagi mengangguk, jemariku meremas kemilin jubah Kak Viar. Pancaran aura putra dari Paman Topaz terlampau luar biasa. Aku melihatnya sebagai pemuda mengerikan, bagaikan ia dapat menghancurkan kaca dalam satu kejapan saja. Kesan pertamaku untuknya tidak terlalu baik. Ia dingin bukan main, bahkan mengimbangi kakakku sendiri. “Jadi, karena kalian sudah saling mengenal, Dad ingin mengonfirmasikan bahwa Reeval akan menjadi calon kesatria pendampingmu di masa depan, Viar,” urai Dad, pandangannya menyorot tegas netra biru kehijauan Kak Viar. “Dad harap kalian bisa akur dan bekerja dengan baik.” “Baik, Dad.” Arcaviar mengangguk paham. “Mohon kerja samanya, Reeval.” Yang membingungkan, hari demi hari, dua pemuda kaku itu justru semakin akur. Aku sering mengamati duel mereka saat latihan, saling menghunuskan pedang dan melempar pandang, memancarkan aura permusuhan, tetapi berakhir biasa saja sewaktu duel berakhir dengan kemenangan yang hampir mirip piala bergilir. Ini membuatku sedikit iri karena performa Reeval meningkat cepat. Bibirku meloloskan kesiap ketika ujung tajam pedang berjarak tidak sampai satu senti tepat di depan leher kakakku. Kak Viar meludah, tetapi selanjutnya menyeringai seolah-olah meremehkan kematian. Reeval menarik pedangnya dari leher kakakku, kemudian dua orang itu sama-sama beristirahat, mendudukkan diri di sisi kanan dan kiri Kak Rodeus, calon kesatria pendamping kakakku yang lain. Mereka bisa akrab dengan cepat, sedangkan aku? Yah, aku bahkan jarang sekali berinteraksi dengan Kak Viar, kecuali saat latihan bersama kakakku. Hingga akhirnya, di suatu waktu, aku mulai dekat dengan salah satu dari mereka. Bukan Kak Viar, bukan juga Kak Rodeus, melainkan putra dari Paman Topaz, Reeval—atau Reeve, panggilanku untuk pemuda itu. Semua bermula ketika aku bertindak ceroboh, lupa menelan pil pengubah suaraku dan menabrak Reeve. Untuk pertama kalinya, ia mendengar suara asliku. Mulanya, aku teramat ketakutan. Beruntung, ada Kak Rodeus yang tanggap memisahkan kami dan mengusung Reeve pergi. Ketika kupikir Reeve tidak akan mencurigaiku, rupanya aku salah besar. Ketika ia tahu kebenaran identitasku, Reeve tetap memperlakukanku dengan baik. Ia bahkan mengajariku cara menciptakan mana hitam—yang mana hampir mustahil oleh pemilik mana putih sepertiku. Akan tetapi, di luar dugaan, aku berhasil melahirkan mana hitamku sendiri. Aku diam-diam melatih manaku bersama pemuda itu. Di setiap pertemuan, kami bertukar kisah sampai-sampai aku tahu Reeve tidak hanya piawai dalam berpedang, tetapi juga dalam hal memanah. “Kau berhasil, Putri.” Aku bisa mendengar nada bangga dari pemuda itu ketika aku berhasil mendaratkan anak panah tepat di pusat concentric point. Bisa kurasakan bibir ranumku merekah, mengulaskan senyum tercerah yang pernah kulakukan sepanjang aku hidup. Entah bagaimana, aku mulai merasakan eksistensiku di Aeradale bermakna dan itu semua tidak akan kudapatkan jika tanpa Reeve. Saat aku menoleh, pemuda itu tampak berniat maju untuk memungut kembali anak panah yang menancap di titik konsen, tetapi aku tidak membiarkannya. Kutangkap lengan kukuh Reeve, pemuda itu spontan menghentikan langkah dan melemparkan tatapan heran. Kami berdiri menghadap satu sama lain. Aku bisa menatap fitur wajahnya dari dekat, nyaris mendekati sempurna. Lipatan kening Reeve semakin dalam. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap keningnya dengan ibu jari, jadi kulakukan saja tanpa berpikir panjang. Aku menjatuhkan busur di tanganku, membiarkan senjata itu tergeletak begitu saja di permukaan tanah. Namun, alih-alih mengusap keningnya, aku justru berjinjit dan jemari kananku menyusuri pipi pemuda itu. “Putri?” Reeve mengejap. “Terima kasih, Reeve …,” bisikku, selanjutnya aku tidak tahu dari mana keberanian berhasil kudapatkan ketika bibirku tahu-tahu saja telah menyentuh miliknya. “Aku menyukaimu.” “Putri?” Ia memanggilku sekali lagi, sepertinya kehabisan kata-kata. “Kau baru saja menyatakan—” Aku hampir mencibir, tetapi kutunjukkan senyum semanis mungkin. “Iya, kau tidak salah dengar,” balasku. “Aku menyukai—he-em, mencintai sepertinya kedengaran lebih tepat.” Kulihat netra sehitam jelaganya mengejap. Aku mendadak resah. Bagaimana jika Reeve tidak mempunyai rasa yang sama? Ah, ini memalukan. Baru saja aku ingin memundurkan langkah, kudengar dengkus darinya yang disusul dengan pengikisan jarak di antara kami. Ia maju semata-mata mengangkat daguku, entah sejak kapan aku menunduk malu. “Kenapa kau selalu berhasil berada selangkah di depanku?” tanya Reeve, menahan tatapan kami dengan kilat yang tidak kumengerti. “Aku mencintaimu juga, Putri.” “Tentu saja harus!” Niatku untuk menyamarkan salah tingkahku berujung memuakkan. Dirasanya aku ingin raib dari Aeradale saat ini juga, terutama ketika bibirku spontan melirih, “Kau harus ….” Reeve tertawa pelan. “Putri—” “Panggil aku Cavi,” ketusku, masih berupaya menahan rona terbit di pipiku dan sepertinya gagal. “Ya, Cavi.” Suara rendahnya berhasil membangkitkan roma halus di tengkukku, tetapi aku berusaha untuk tidak bereaksi apa-apa. Kami masih bertatapan, hingga gurat Reeve berganti menjadi serius. “Dan kau tahu apa jadinya bila memilikiku?” Kebingungan, kepalaku mulai menggeleng. “Itu artinya, berhenti bersikap manis kepada yang lain,” Reeve menjentik pelan keningku dengan jemari kukuhnya, “aku tidak sudi berbagi milikku.” Dan yah, semenjak saat itu, dia mendapatkanku—sebagaimana aku mendapatkannya. Kelekatanku dengan Reeve semakin terbentuk, hingga keluargaku berhasil mengendus kebersamaan kami ... dan berakhir mengirimku pergi.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN