28. Hubungan Sebenarnya

1891 Kata
Suhu udara kastel naik drastis, bahkan dingin membekukan kala malam tidak berkenan mampir dan mereduksi atmosfer panas itu. Letupan amarah Reeval memang tertutup oleh raut datarnya, akan tetapi sudah mengenal bertahun-tahun sang Raja, mereka semua tahu benar ada yang tidak beres. Amarah tak terkatakan dari rajanya tertangkap dengan jelas oleh indra penglihat siapa pun. Ketibaan konvoi Raja Aeradale di pelataran kastel mengundang kegemparan bagi seisi kerajaan inti. Pria itu menunggang kuda cokelat, alih-alih Hugen, dengan Putri Aeradale duduk tepat di depan tunggangan. Selain sepasang saudara berdarah biru itu, mereka juga melihat dua pria tak sadarkan diri tengah diseret secara tidak etis oleh dua kesatria inti. Ini bukan kali pertamanya kesatria-kesatria inti meringkus pengkhianat. Jadi, para pengurus kastel sama sekali tidak menaruh rasa heran. Daripada itu, mereka lebih dibuat bingung dengan penampilan Putri Aeradale. Hidung dan telinga sang Putri memerah, tanda sehabis menangis. Paras gadis berdarah biru itu kacau bukan main, sepertinya sama sekali tidak memedulikan betapa berantakan paras dan tubuh eloknya. Arcaviel hampir lemas, tidak sanggup bertindak. Lengan kanan dan kiri Reeval kukuh memegang tali kekang pada sisi tubuhnya, seakan-akan tahu otak Arcaviel sempat memerintahkan gadis itu untuk melompat dari kuda tunggangan mereka. Arcaviel menolehkan kepala dan sedikit mendongak untuk melihat ke belakang, di mana kesatria inti masih menyeret kedua pria yang menguasai benaknya sejak tadi. Putri Aeradale melirih, “Reeve ….” Yang dipanggil bergeming. Reeval melompat turun dari pelana ketika pria itu sudah menghentikan kuda tepat di depan serambi kastel utama. Diangkatnya tubuh tak bertenaga Arcaviel dari atas kuda tanpa berminat membuka suara. Dapat ia lihat, binar netra Arcaviel tidak sejernih biasa, bahkan hampir redup. Menahan diri, Reeval mulai menarik Arcaviel menaiki serambi. Dua kesatria penjaga pintu buru-buru mengerjakan tugas mereka. Arcaviel sempat mengintip ke arah luar sebelum memasuki kastel utama. Ia menahan napas ketika tidak melihat siapa-siapa. Tentu saja itu karena para kesatria inti mengusung kedua pria itu menuju arah yang berbeda—tepat menuju menara. Reeval telah memisahkan mereka. Mencapai pertengahan lorong, mereka mulai menaiki undakan spiral. Arcaviel mengekor tanpa berniat melepaskan kembali tangannya dari Reeval. Ia tidak memiliki tenaga untuk itu. Bisa ia rasakan suhu tubuhnya naik, entah karena ia memendam amarahnya terlalu lama atau karena ia merasa tidak berdaya. Perasaan Arcaviel kini terlampau campur aduk, saking memusingkannya, ia tidak bisa mengidentifikasi perasaannya detik ini. Setiba sepasang saudara itu di lorong tingkat dua, Reeval mempercepat langkah besarnya dalam diam. Pria itu memang tidak berbicara apa-apa lagi semenjak dari Hutan Ash—tidak, lebih tepatnya semenjak Arcaviel mencoba menghamburkan diri kepada sepupunya. Perlakuan Reeval kepada Arcaviel lebih terasa dingin dan tatapan datarnya mencekik. Masih menggenggam erat pergelangan Arcaviel, pria itu mengusungnya menuju kamar pribadi Putri Aeradale. Arcaviel lagi-lagi kembali terisak, sesekali ia coba untuk menahan isak tangis tersebut. Dadanya terasa sesak dan sakit bukan main ketika teringat kembali dengan titahan Reeval kepada kesatria-kesatrianya. Apa benar Reeval akan memperlakukan kedua pria itu secara brutal? “Masuk.” Suara maskulin itu tidak terbantahkan. Kendati demikian, Arcaviel bergeming di tempat. Dengan satu tangan masih menahan knop pintu untuk akses keluar masuk tetap terbuka, Reeval terpaksa menariknya masuk. Pria itu menatap lurus manik biru Arcaviel. Untuk detik ini, Raja Aeradale menolak untuk menghibur Arcaviel. Selain karena masih memiliki urusan, ia juga merasa dirinya tidak pantas. “Bersihkan dirimu.” Dua kata itu final. Reeval baru akan berbalik untuk keluar dari ruangan, tetapi suara parau selanjutnya mengurungkan niat pria itu. “Pierce bukan pengkhianat, Reeve ….” Aku tahu, batin Reeval. Aku lebih dari tahu, Cav. “Dia—mereka—pantas mendapatkan itu.” Itu omong kosong, begitu bertolak belakang dengan hatinya. Kembali meneruskan langkah, Reeval beranjak ke luar pintu dan ia mengimbuh, “Sekali ini saja, kuminta kau menjadi adikku yang penurut, Arcaviel.” “Apa aku bahkan adikmu, Reeval?” Keinginan Reeval untuk menutup rapat pintu spontan terhenti. Sorotnya menajam kala ia berujar dengan nada rendah, “Jangan berbicara tidak-tidak.” “Kita siapa, Reeve?” Lagi, air mata tumpah begitu saja dari pelupuk manik biru Arcaviel. Sudah, ia lelah memendam seluruh rasa penasarannya. Ia hanya ingin tahu kebenaran itu. “Aku berkali-kali memimpikan kita. Kita jelas lebih dari sekadar adik-kakak—dan pria pemimpin Orbit Desertir bernama Arcaviar itu, kakak asliku, bukan?” Reeval menipiskan bibir. Ia meremas kepalan tangannya sendiri. Pria itu melengos ke arah lain—ke mana pun, kecuali Arcaviel. Akan tetapi, Putri Aeradale meneruskan langkahnya dan berhasil menyita atensi Reeval dari titik lain tersebut. Bogem halus dan tak bertenaga Arcaviel mendarat beberapa kali pada d**a bidang pria itu, menunjukkan kewalahan dan tidak tahu arah yang teramat sangat. “Kau siapa? Dari semua hal yang sudah kau lakukan sejauh ini, aku bahkan tidak bisa marah denganmu, Reeve ….” Gadis bernetra biru itu menatap lekat Reeval, tidak peduli betapa sembapnya ia sekarang. “Pulihkan mereka. Aku berjanji untuk tetap bersamamu, jika memang diriku yang kau inginkan dari awal,” Arcaviel meraih tangan Reeval, dirasakan sentuhan halusnya mengendurkan kepalan pria itu. “Mereka keluargaku, Reeve. Arcaviar kakakku, dan Pierce? Dia sepupuku selama di dunia fana. Jika kau membunuh mereka, itu sama saja—” Jemari kukuh Reeval terangkat untuk menyeka air mata sang Putri. Perlakuan itu seketika membuat Arcaviel lupa cara untuk berkata-kata. “Aku punya keputusanku sendiri, Cav.” Hanya jawaban singkat, pria itu melepaskan satu tangannya dari Arcaviel, beranjak meninggalkan Putri Aeradale termenung dalam kesendirian di ruang kamar pribadinya. Entah untuk kali berapa, Arcaviel kembali menangis. Kali ini, ia tidak ragu untuk mengumbar rasa sakitnya. Kebenaran sudah mulai terungkap, tetapi ia benci karena tetap tidak tahu apa-apa. Reeval merampas kepingan memorinya tentang Arcaviar, seorang pemimpin Orbit Desertir—yang notabene kakak aslinya, sang Raja Aeradale sebenarnya. * Pemedis amatir utusan Reeval keluar terbirit-b***t dari salah satu bilik menara. Ia baru saja selesai menutup luka-luka tikaman anak panah di sekujur tubuh Arcaviar dan Rodeus, tidak begitu membantu banyak. Masih untung, kedua pria itu sempat mengantisipasi serangan mendadak, sehingga mereka telah menelan pil penangkal rasa sakit sebelum terjun ke medan tempur. Saat ini, tubuh Arcaviar dan Rodeus—kesatrianya di masa depan (baca: bila ada), mengalami mati rasa. Kedua pria itu sebetulnya tidak terlalu ambil pusing, karena ada hal lain yang jauh lebih sinting. Pasalnya, dua siluet milik si k*****t meringkus tangan dan kaki mereka. Dibiarkan tubuh kedua pria itu melekat di dinding tanpa diizinkan bergerak lasak. Rodeus menghela napas. “Dia berubah,” gumamnya, menggulirkan netra ke samping kiri untuk melihat air muka datar Arcaviar. “Bagaimana perasaanmu?” “Kau tanya aku?” Arcaviar mendelik kepada kesatrianya. “Tidak, aku tanya kepada dinding di belakangku,” cibir Rodeus, direspons putaran bola mata rajanya. “Tentu kepadamu, dungu. Aku tahu benar kau sedang menyesal!” “Ck. Memang apa yang perlu kusesalkan, Primus?” “Keputusanmu ketika kau memisahkan mereka secara paksa.” “Sok tahumu mendarah daging.” Mendengar nada sinis dari Arcaviar, Rodeus memutuskan untuk tidak lagi banyak berbicara. Ia hanya dapat mengembuskan napas—dan bersin. Bilik menara ini tidak terawat sekali, pikir Rodeus. Pria itu menggulirkan netra cokelatnya dari area kiri menuju area kanan. Bilik ini tidak lebar-lebar amat, mungkin sekitar dua kamar kecil yang disatukan menjadi satu ruangan. Lantai dan dindingnya terbuat dari tegel, menandakan betapa kuno dan kolot menara tahanan di kerajaan inti. Lain waktu, Rodeus mungkin akan meminta Arcaviar untuk merombak bilik-bilik dalam menara. Itupun kalau Arcaviar berhasil merenggut kembali takhtanya dari pemimpin saat ini. Satu kata, sulit. Rodeus bukan bermaksud untuk meremehkan rajanya, tetapi akan lebih mudah bila pemimpin sekarang bukan mantan kawan dirinya dan sang Raja. Lanjut menyisir tatapan ke sepenjuru bilik, ada sebuah dipan lapuk dengan kasur kumal, sepertinya alas tidur itu keras bukan main. Mendadak, Rodeus kepikiran tentang para tahanan sebelum mereka, pasti sangat tersiksa untuk singgah di tempat ini. Dan terakhir, sudut kanan bilik terdapat sebuah pintu menuju kamar kecil. Jangan harap itu akan sebesar kamar kecilnya di barak, apalagi kamar kecil anggota kerajaan. Memikirkan bagaimana ia akan berada di sini sampai entah kapan, membuat Rodeus seketika bergidik. Ia berniat menyugar surai cokelat mudanya, nyaris melupakan fakta bila detik ini kondisinya sedang tercekal oleh siluet hitam di dinding. Menahan umpatan kasar, Rodeus melempar pandangan menuju pintu masuk bilik menara, serentak dengan Arcaviar. Pada detik itu juga, pintu akses keluar masuk bilik mulai terbuka ke dalam. Muncul batang hidung Reeval di ambang pintu. Arcaviar mengeratkan kepalan tangan kala netra sesama tajam milik mereka berserobok. Pria itu masih menahan tatapan tajam, sedangkan Reeval sudah menggantinya dengan kilat culas. Raja Aeradale palsu itu menggeser tatapan menuju Rodeus sejenak. “Pil penangkal rasa sakit, eh?” terka Reeval, mendengus pelan. “Rupanya masih ada satu perusuh lagi setelah Brigid.” Arcaviar berkata dengan rendah, “Lidahmu semakin enteng, Lanford.” “Apa kau membunuh Brigid?” Rodeus mengangkat suara. Ia sudah tahu kebenaran itu, tetapi ia mendengar dari mulut mantan kawannya sendiri. “Ya.” Reeval melipat tangan di depan d**a, bersandar pada dinding. “Aku membunuhnya.” Rodeus mengerutkan kening. “Ia berbohong,” gumamnya, hanya terdengar oleh telinga Arcaviar. “Yakin? Bukan karena mana dari Put—” Reeval melengos ke arah lain. “Tidak, aku membunuhnya dengan tanganku sendiri,” katanya, hampir berbisik. Rodeus justru menemukan titik terang dari gelagat mencurigakannya itu. “Bodoh,” dengkus pria itu, pelan. Bocah itu ... bagaimana bisa ia mengambinghitamkan dirinya sendiri demi Putri Aeradale? “Aku kemari bukan untuk mendengar umpatan kalian.” Reeval sadar, ia perlu mengalihkan pembicaraan. “Tetapi, aku hanya ingin mengatakan, takhtamu seutuhnya telah menjadi milikku. Percuma kau dan pengikutmu berusaha untuk menerobos kastelku, aku tidak akan berhenti.” “Persetan dengan takhta, aku menginginkan adikku, b******n!” “Arcaviel?” Reeval menyeringai. “Dia milikku, kau tahu itu.” “Caramu tidak benar, Lanford.” Rodeus mencoba untuk menengahi sebelum kedua pria itu bersilat lidah usai menguarkan aura permusuhan. “Demi Putri, kau sampai melakukan sejauh ini? Merampas takhta rajamu, mengambil adik dari rajamu sendiri? Ke mana akal sehatmu?” “Akal sehatku sudah memilih untuk pergi,” air muka Reeval berganti dingin, “semenjak kalian memisahkan kami.” “Nujum itu, berengsek! Aku memisahkanmu dengan adikku agar Arcaviel terhindar dari orang tidak berakal sepertimu!” Arcaviar menggeram marah. Ia siap mengabsen mana putihnya, membebaskan diri dari siluet, tetapi ia urung dan lanjut berkata dengan nada kewalahan, “Itulah mengapa sejak awal aku tidak ingin mendekatkan kalian. Aku heran, kenapa adikku bahkan terobsesi denganmu, sialan?” Reeval mencoba untuk menekan amarahnya dalam-dalam. “Aku satu-satunya orang yang bisa memahami Putri. Di saat kau, keluargamu, dan yang lain memintanya untuk berkedok dalam identitas yang berbeda, aku memintanya untuk menjadi dirinya sendiri.” Arcaviar mengetatkan rahang. Ia tahu itu dan ia tidak dapat mengelaknya. “Ini tidak akan ada habisnya.” Reeval menghela napas. “Jangan berharap aku bisa membebaskan kalian.” Jika bukan karena Arcaviel, aku mungkin akan langsung membunuh kalian, imbuhnya, dalam batin. “Kau harus tahu satu hal, Viar.” Yang disebut langsung mendongak semata-mata mendapati Reeval telah memunggungi mereka dan beranjak menuju ambang pintu. “Dengan atau tanpa izin darimu, aku tidak akan pernah berhenti mencintai adikmu.” Dan tepat pria itu berada di luar, pintu bilik menutup dan sahutan keras dari dalam terdengar. “Kau tidak mencintai adikku, berengsek!” Arcaviar memelototi pintu, tidak peduli bila Reeval mungkin sudah pergi dari sana. Ia tetap meneruskan selagi mendesis di antara giginya, “Kau—hanya terpikat dengan suaranya, Lanford.” Kau murni tidak mencintainya, terusnya dalam batin.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN