Gemeresik daun dan siulan terpaan angin mendampingi perburuan sore ini. Mentari hampir terbenam, melesak di antara awan-awan seputih kapas. Atmosfer mendingin dan suasana hutan sekitar berganti remang. Arcaviel siap dengan busur perak di tangan kirinya. Ia menegakkan punggung selagi mengarahkan tali busur ke satu concentric point terlekat di batang.
Belum sempat menarik tali busur, ia teralih menuju hal lain—puncak tebing batu—mengintip dari celah rimbun pohon. Hutan Ash, tempat perburuan mereka saat ini, ialah sebuah hutan liar yang terletak di tampuk tebing. Area tanahnya begitu luas, jangan harap dapat menuju penghujung sana dan balik dalam keadaan utuh. Tampuknya tidak terjamah, membuat siapa pun akan gagal mendaki tebing dan melihat kontinen lain.
Konon, Hutan Ash begitu lekat dengan kemisteriusannya dan kemagisannya. Ada beberapa asumsi tentang hutan liar tersebut. Salah satunya, Hutan Ash diasumsikan sebagai kontinen dari makhluk lain—di sini penghuni Aeradale menduganya sebagai tempat huni peri hutan. Kendati demikian, kebenaran itu masih diragukan oleh pihak mana saja, mengingat tak seorang pun dapat melihat peri hutan dengan mata telanjang.
Satu lagi asumsi mereka, kontinen asli di balik kedok Hutan Ash hanya dapat diakses oleh makhluk tertentu saja.
Ini membuat Arcaviel teringat dengan keyakinan desanya tentang ‘Dunia Seberang’ yang rupanya benar-benar ada dan bernamakan Aeradale. Ia hampir kehilangan fokus akibat terlampau merindukan Mom, Dad, dan … Pierce. Mengejap sejenak untuk mengabsen kembali kesadarannya, Arcaviel mulai menutup netra kiri. Tadi, pasca mendapat instruksi dari Reeval, ia baru mengetahui mata dominannya adalah netra kanan.
Deru napas halus Arcaviel memelan saking fokusnya menahan tali busur dan mengarahkan anak panah menuju bagian tengah concentric point. Dapat ia rasakan tangan Raja Aeradale menjamah pundaknya untuk membenarkan posisi Arcaviel agar lebih tegak lagi. Tidak tahu mengapa, perlakuan itu membuat konsentrasinya terbelah detik itu juga.
Arcaviel lantas mengulum bibirnya, kembali memusatkan atensi pada satu titik. Bukan lagi mengarahkan busur perak kepada concentric point, ia memindahkan arah bidikan ke lima meter di samping kanan titik tengah konsentris, tepatnya kumpulan daun-daun rimbun milik para pohon. Ia mulai dapat mengabaikan keberadaannya di atas tunggangan Hugen dan posisi depan belakang berjarak dekat dengan Reeval.
Bertepatan jemari kanan Arcaviel menjentikkan tali busur dengan asertif, anak panahnya mulai memelesat di antara remang-remang dan menentang arus angin malam. Pemilihan waktu Arcaviel akurat. Sekelebat siluet hitam, mungkin seukuran tupai di pelataran kastel, mendadak muncul dari balik dedaunan—seakan-akan sudah berserah diri pada mereka sejak tadi.
Siluet itu jatuh, disusul dengan suara gemerisik cepat daun. Reeval menepuk mercu kepala Arcaviel sesaat, baru turun dari Hugen untuk mengambil si makhluk yang sudah tergeletak memprihatinkan di atas tanah. Tidak lama, pria itu kembali menampakkan batang hidungnya sembari menenteng seekor kelinci. Mula-mula, Arcaviel mengira targetnya tupai.
Ukuran si kelinci terlampau berisi, belum lagi surainya berwarna kecokelatan dan sedikit kumal. Maka dari itu, ia rupanya keliru mengidentifikasikan makhluk itu sebagai seekor tupai, alih-alih kelinci. Lagi pula, semenjak kapan seekor kelinci dapat memanjat pohon? Ketika ia singgah di alam fana, kelinci-kelinci di sana tampak berukuran normal sekalipun habitat mereka liar. Mungkin beda habitat, beda ukuran, dan beda kelakuan.
“Panahanmu hampir baik,” Reeval melompat kembali menuju bagian atas pelana tanpa melepaskan si kelinci, “hanya saja sedikit memeleset. Ia masih hidup, hampir sekarat.”
“Astaga.” Perlahan, rasa bersalah menelusuk d**a Putri Aeradale. Arcaviel lekas menjatuhkan tatapan menuju si kelinci sekarat. Benar kata Reeval, bidikannya memeleset. Bukan terhunjam ke pusat nyawanya, ia justru membidik daerah usus hewan itu. Aku menyiksanya! “Bagaimana ini, Reeve?”
“Jangan panik,” ucap Reeval. “Ini sudah menjadi hukum alam.”
“Tetapi—”
“Alam liar itu kejam, Cavi,” Raja Aeradale menyelat sebelum rasa bersalah Arcaviel meningkat, “daripada memusingkan itu, apa sebaiknya aku mengajarkan cara menggunakan manamu?”
“Manaku?” Arcaviel mengamati satu telapak tangannya yang menjuntai bebas dengan kening mengerut ragu. Ia alihkan tatapan dari kelinci di tangan kiri dan mendongak untuk mencari manik hitam Reeval. “Baiklah, Reeve. Aku penasaran, apakah aku bisa memulihkan kembali kelinci sekarat ini ….”
“Cavi, kau—kita—tidak bisa menghadirkan kehidupan begitu saja,” pria itu memandang intens sang Putri, “tetapi, kita bisa mempercepat kematian.”
Arcaviel menenggak liurnya. Atmosfer Hutan Ash terasa semakin dingin dan mencekam. Arus angin terasa memeluk tulang-tulang belikatnya. Ia hampir menggigil, bahkan giginya telah beradu cepat tepat netra birunya berserobok dengan manik sehitam jelaga Reeval. Tanpa sinar pendukung, kecuali rembulan yang hampir naik mengisi angkasa, Arcaviel hanya bisa menemukan kilat tak terbaca pria itu.
“Ajarkan aku,” lirihnya, entah mengapa adrenalinnya terpacu.
“Pejamkan netramu.” Selagi menginstruksikan, Reeval menangkap tangan Arcaviel dan meremasnya subtil, seakan-akan memberi tahu bila pria itu masih ada bersamanya. “Rasakan semua pelepasan manamu, ambil kendalinya dan jangan biarkan manamu yang mencurinya darimu,” bisiknya, tepat di samping cuping telinga Putri Aeradale.
Arcaviel patuh. Ia coba mengikuti instruksi dari Reeval sedemikian persis. Merasakan pelepasan mana yang masih terbenam dalam diri Arcaviel. Dapat ia rasakan mana-mana itu memuntir dalam perutnya, merebak di antara aliran darahnya, menanggalkan jejak di setiap organ tubuhnya. Kedua pundak Arcaviel terasa seringan kapas begitu ia mulai menelungkupkan tangan.
Sudut bibir Reeval terangkat tipis, sepertinya bangga karena Arcaviel bisa mendapatkan kendali atas mananya. “Sekarang, arahkan tanganmu pada si kelinci. Manamu akan mengalir dari sana dan menghentikan detak jantungnya. Jangan membuka netramu.”
Mengulum bibir sebentar, Arcaviel kemudian mengangguk. Ia kembali melaksanakan instruksi dari pria itu. Tanpa membuka sepasang manik birunya, intuisi Arcaviel mengusung kedua tangannya ke atas tubuh si kelinci sekarat. Hewan bersurai cokelat itu sebelumnya sudah sempat ia letakkan di atas pangkuan paha Putri Aeradale, terbaring dengan napas tersendat-sendat.
Ketersiksaan sang kelinci hasil bidikannya membuat Arcaviel tidak sabar untuk menghentikan detak jantung itu. Maafkan aku. Aku akan melakukan ini dengan sangat cepat, batin Putri Aeradale. Jadi, ia buru-buru memusatkan fokusnya kembali pada mana yang mulai mengarus dari pundak, menuju lengan, dan—busss! Hugen tiba-tiba meringkik dan berlari tanpa arah dengan kesetanan.
“Berengsek!” Reeval mencoba merunduk untuk memungut tali kekang peliharaan mereka, tetapi kesulitan lantaran ia harus tetap merengkuh pinggang Arcaviel dari belakang. “Cav, kita akan segera menjatuhkan diri.”
“A-Apa?” Arcaviel terkesiap. “Apa yang terjadi dengan Hugen?!”
“Satu,” bisik Reeval, sama sekali tidak menghiraukan kepanikan Arcaviel. Ia mencoba menahan bobot mereka dengan satu tangan mencengkeram erat pelana kudanya. Pada hitungan kedua, Hugen menaikkan kaki depan, berniat menubruk pohon. Itu harus membuat Reeval kian mengeratkan rengkuh pinggang Arcaviel dan menegangkan punggung agar tidak jatuh sebelum saatnya.
Napas pria itu memberat selagi ia menoleh sepintas ke belakang. “Tiga!”
Arcaviel tidak repot-repot membungkam bibirnya. Ia memekik panik tepat Reeval mengusungnya menjatuhkan diri dari pelana Hugen. Mereka kemudian jatuh terguling di atas tanah. Arcaviel bisa merasakan pendaratannya cukup kasar, untungnya telapak tangan Reeval melindungi kepala belakang sang Putri agar terhindar dari benturan.
Masih merasakan lengan Reeval merengkuhnya erat, mereka berhenti berguling tepat punggung Arcaviel—yang masih betul-betul dilindungi pria itu—membentur pohon. Arcaviel melenguh, sedangkan Reeval menurunkan pandangan ke arah manik birunya. Sorot cemas menguasai netra sehitam jelaganya. Ia mulai mengerahkan sejumlah mana, membentuk sebuah siluet hitam secara diam-diam.
Panggil kesatria inti, sekarang! titahnya dalam batin, perlahan sang siluet memisahkan diri dari tubuh pria itu dan memelesat pergi dari sisi mereka.
Itu tidak sempat tertangkap oleh indra penglihat Arcaviel. Putri Aeradale hanya mendapati air muka datar Reeval, tetapi ia pelan-pelan mengangkat tangan untuk mengusap pipi pria itu yang agak tergores karena kerikil. “Reeve …,” bisik Arcaviel, kentara masih ketakutan atas kejadian tadi.
“Ada yang sakit, Cav?” Reeval menaikkan tangan dari pinggang Arcaviel dan menyugar surai cokelat pirangnya. Pria itu mulai membenarkan posisinya untuk duduk bersimpuh di atas tanah, kemudian membantu Arcaviel untuk duduk. “Bilang padaku—”
Desing angin terdengar. Sebuah anak panah memelesat cepat melintasi pelipis Reeval dan mendarat tepat di batang pohon dekat mereka. Pria itu mengetatkan rahang, sedangkan Arcaviel melingkari erat perut Reeval seperti seorang anak mencari perlindungan dari ayahnya. Reeval memicing sebentar di antara keremangan malam, tetapi berhenti kala tidak jauh dari mereka, ada suatu benda berkilat tergeletak di permukaan tanah; busur perak.
Reeval menarik lembut tangan Arcaviel dari perutnya. Pria itu beranjak memungut busur perak itu. Tepat ia berhasil memegangnya, sebuah kaki menahan tangan kanannya dengan sekali injak. Reeval tidak tahu siapa pemilik kaki itu, jadi ia mendongak dan mendapati seorang pemuda bersurai pirang. Manik hijaunya mengilat remeh saat netra mereka berserobok.
“Reeval Lanford, si pengkhianat kerajaan,” desis pemuda itu. “Kau salah bermain dengan Yang Mulia.”
Sedetik kemudian, pemuda itu sudah berpindah tempat. Bukan hanya itu saja, ia berlipat ganda. Reeval menarik cepat busurnya dan berdiri tegap. Cih, mana ilusi! batinnya, geram. Netra setajam elang itu mengitari sekitar. Pemuda itu tersebar di mana-mana. Sampai akhirnya, ia mendaratkan tatapan menuju Arcaviel, lebih tepatnya menuju belakang Arcaviel, di mana pemuda itu bersiap meringkus Putri Aeradale.
“Reeve?” bisik Arcaviel, kebingungan saat pria itu mengarahkan busur tidak jauh darinya.
“Jangan bergerak,” titah Reeval, sebelum akhirnya menjentikkan tali busur dan anak panah sukses menikam pemuda itu. “Berengsek!” Ia menggeram kesal begitu si pemuda mana ilusi melebur, menyisakan raut pucat Putri Aeradale. Tanpa berlama-lama, ia lekas berdiri mendekati Arcaviel dan memeluknya singkat. “Kita akan pergi dari sini. Jangan menatap belakang.”
“Berhenti melarikan diri, Lanford.” Pemuda itu hilang timbul sepanjang Reeval mengusung Arcaviel membelah hutan. “Kau tahu, aku sangat ingin menumpas habis seorang pengkhianat sepertimu, tetapi Yang Mulia tidak ingin kau mati.”
Yang Mulia akan datang sebentar lagi, Lanford. Setelah ia berhasil menaklukkan siluet-siluetmu itu.
Kali ini, suara sinis si pemuda berputar-putar di benak Reeval. Selagi berlari, pria itu lekas memusatkan mana hitam ke otaknya, menutup suara mengusik tersebut dari benaknya. Akan tetapi, ia mengalami sedikit kesulitan. Reeval sudah terlalu banyak menggunakan mananya dari sore ini. Ia sempat menyebarkan empat siluet sekaligus ke sekitar Hutan Ash selama perburuan, setelah itu ia menciptakan satu siluet lagi untuk memanggil para kesatria inti.
Kapasitas mana hitam pria itu melemah—dan Reeval teramat membenci kebodohan ini.
“Reeve—” Arcaviel mendadak berhenti. Itu juga membuat Reeval tidak lagi meneruskan pelariannya, “Pierce. Aku mendengar suara Pierce.”
Pria itu mengumpat kasar dalam batin. “Teruskan langkahmu,” ujar Reeval, dingin. Ia pikir Arcaviel akan mematuhi titahannya, tetapi tidak. “Arcaviel!”
Putri Aeradale justru melepaskan tautan tangan mereka, berbalik menghadap arah berlawanan. Ia mengabaikan kemarahan Reeval, menyipitkan netranya kala sebuah perawakan muncul dari balik kegelapan. Spontan, manik birunya membeliak. Alih-alih Pierce, ia malah menangkap sosok pria di pemakaman—sekaligus ‘kakak’ dalam bunga tidur Arcaviel tempo lalu.
“Kak … Viar?” bisik Arcaviel, dapat didengar langsung oleh Reeval.
Apa? batin Reeval, tidak habis pikir mengapa Arcaviel bisa mengetahuinya. Detik itu juga, pria itu menangkap lengan Arcaviel dan memasang tubuh di depan Putri Aeradale, bertindak seolah-olah ia akan melindungi adiknya dari pria tersebut. “Tetap di belakangku, Cav,” tutur Reeval, kali ini titahannya tidak terbantahkan.
Dapat Arcaviel lihat dari belakang, Reeval siap menjentikkan tali busur. Pria di pemakaman saat itu juga berhenti meneruskan langkah. Ia biarkan surai cokelatnya diterpa angin malam. Anak panah tajam di depan pria itu sedikit pun tidak mematikan adrenalin. Netra biru kehijauan itu bahkan menatap lurus hanya kepada Arcaviel. Sorotnya tidak terbaca—dan teramat tidak asing.
Arcaviel menahan napas tepat Reeval menjentikkan tali busur. Dan selanjutnya, semua berlangsung cepat. Sebelum ujung anak panah menikam jantung si pria di pemakaman, seseorang berderap dari belakang dan memasang tubuh—melindungi pria itu dengan mengibaskan pedang untuk menampik anak panah menjamah tubuhnya.
“Pierce!” teriak Arcaviel, sebelum ia sempat berhasil memajukan langkah, belasan anak panah dari belakang telanjur memelesat turun ke arah dua pria itu.
“Yang Mulia! Anda baik-baik saja?” Suara kedatangan para kesatria inti tidak lama merebak ke indra pendengar rajanya, berikut dengan derap tunggangan kuda masing-masing. Memutuskan untuk tidak merespons pertanyaan itu, Reeval memilih untuk beringsut mundur selagi menarik satu sudut bibirnya ke atas. Ia menatap sepintas kedua orang pengusik itu yang telah tumbang di atas permukaan tanah.
“Angkat tubuh mereka,” Reeval mulai melontarkan titahan, “ringkus dalam menara tanpa pengobatan medis dan biarkan mereka mati secara perlahan.”
“Reeve!” Arcaviel meremas erat lengan Reeval. Kala ia mendongak, arus angin menerpa halus pipinya yang telah basah karena air mata. “Apa yang sedang kau lakukan?!”
Memicing tajam, manik hitamnya mengilat saat tatapan keduanya berserobok. Perubahan cara berbicara Arcaviel cukup menyentil emosi pria itu. “Perhatikan bicaramu,” Reeval memasang air muka dingin kala pria itu meneruskan tanpa hati, “seorang pengkhianat seperti mereka—sangat pantas untuk mati.”
Dalam diam, sebagian kecil hati Reeval tertawa kecut dan bertanya sinis, “Oh, Lanford, apa kau sedang mengatai dirimu sendiri?”[]