“Naga Emas … leluhurmu?” Itu merupakan suara paling pertama semenjak mendengar penuturan Drago akan identitas leluhurnya. Reeval, sang pemilik suara, masih mengejapkan netra hitam jelaga pria itu ketika menyoroti lurus kolega bedebahnya tersebut. Sementara yang ditatap perlahan-lahan menerbitkan kerutan di permukaan kening. Drago kelihatan kebingungan dengan reaksi dua sejoli itu yang terlampau di luar asumsinya. “Ya, kenapa gurat kau seperti menahan buang air begitu?” tanya Drago, merasakan ekspresi sang Raja terlalu konyol dan aneh untuk diabadikan. Reeval menormalkan ekspresinya usai berdecak singkat. “Apa yang kau tahu soal Naga Emas?” tanya pria itu, datar. “Tidak banyak,” jawab Drago, terlalu enteng. Ia menyandarkan punggungnya sembari melipat kedua tangan di belakang kepala dan

