3 hari telah berlalu, tapi Revan masih sibuk dengan dokumen kantor yang menumpuk. Revan merasakan jengah karena sibuk dengan bisnis sampai harus izin nggak ngajar di kampus. Semua bikin pusing, ia mencoba protes pada Jose yang sedang mengerjakan dokumen lainnya
"Bro, kapan nih kelar, pening gue lihat ini mulu" protes Revan pada Jose karena pekerjaan yang menumpuk
"Itu derita Lo, karena Lo belakangan nggak konsentrasi, padahal proyek lagi banyak, malah kemarin cuti, Lo kira gue babu Lo ngerjain semuanya" keluh Jose yang tak terima jika semua urusan bisnis diserahkan padanya
"Tapi Lo bisa kerjain semuanya, gue nggak fokus karena lagi mikirin kisah cinta gue nggak pasti, muka gue cakep tapi dia kok nggak punya feeling sama gue, salah gue apa coba" keluh Revan yang lagi-lagi pusing mikirin cinta yang tak pasti
"Lo cuma mikirin urasan Lo, Lo nggak mikirin yang lain, gue juga punya kehidupan, lagian ada beberapa yang Lo harus handle sendiri" ucap Jose ringan
"Kejam" keluh Revan
"Keadaan Lo lebih baik, ditimbang Exel, Exel harus urus perusahaan Lo di luar negeri, gimana keluarganya, makanya Lo tambah skuat untuk atasi perusahaan lo" ucap Jose yang mencoba mencari jalan keluar terbaik
"Gue sih udah coba cari tapi belum ada yang cocok" ucap Revan yang sudah berusaha keras untuk mencari orang yang ahli dan dapat dipercaya, tapi masih sulit ditemukan.
"Ya memang sulit juga sih, oh kisah cinta Lo emang gimana? Tanya Jose kepo dan simpati pada cinta Revan yang belum tau ujungnya
"Emang penting buat Lo" ucap Revan ketus
"Ya, kalau ada masalah cerita bro, jangan dipendam mulu" ucap Jose
"Tumben omongan Lo bener" ucap Revan ketus
"Lo harus selesaikan masalah biar pekerjaan Lo kelar, lagian perusahaan ini menjadi sumber daya karyawan, kasian karyawan kalau perusahaan Lo bangkrut" ucap Jose mengingatkan
"Hmm, gue fokus kok sama perusahaan, cuma kalau menumpuk jadi pusing kerjaannya" ucap Revan
"Syukurlah, terus gimana mau curhat apa tidak" ucap Jose
"Nggak, lain waktu aja, badmood gue. Sekarang kita fokus aja pada kantor" ucap Revan yang mengalihkan pandangan pada layar laptopnya
"Ok bro, aku permisi mau kerjaan yang lain, kalau ada masalah jangan lupa hubungi aku" ucap Jose
"Ok, sana keluar, kerjaan masih banyak" ucap Revan
" Huh" ucap Jose mengehela nafas kasar. Ia paham situasi Revan kalau udah mode dingin. Nggak bisa diganggu, "masalah apa yang sebenarnya dia alami" gerutu Jose dalam hati
Jose melangkah keluar dan pergi menuju ruangannya sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan. Sementara Revan fokus pada pekerjaan sambil menggerutu seakan tak rela mengerjakan dokumen yang menumpuk di ruangannya.
*****
Disisi lain Rania asyik makan dengan teman-teman di gazebo kampus. Banyak desas desus tentang Revan di kampus perihal ketidakhadiran dirinya saat mengajar
"Bete gue, pak Revan, nggak ngajar, dunia rasanya hampa" gerutu Cillia
"Lebay amat sih Lo, tuh lihat Rania aja santai" ucap Denia
"Rania memang bisa diharapkan, pikirannya cuma belajar mulu, nggak mikirin cinta" ucap Cillia kesal
"Duh guys, kalian kenapa pada bahas gue sih, gue emang fokus tuh buat masa depan, biar sukses dan karir cemerlang" ucap Rania santai
"Terus percintaan Lo gimana?" Tanya Cillia
"Ya begitu deh" ucap Rania acuh tak acuh
"Hmm, emang susah ya pikiran cuma begitu" ucap Cillia
"Jadi kesini cuma ngomongin gue"ucap Rania
"Sampai lupa, di kampus ada desas desus, kalau ketidak hadiran pak Revan mungkin karena lagi nyiapin acara lamaran" ucap Denia
"Uhhhk" Rania terbatuk. Dalam hati ", nggak mungkin orang dirinya galau mulu"
"Kenapa kesalak gitu" ucap Denia
"Aku cuma kaget, itu info darimana? Sumbernya apa bisa dipercaya" tanya Rania
"Iya sebenarnya aku juga nggak mau percaya sih, tapi semua mahasiswa pada percaya berita apalagi pak Revan jarang izin" ucap Cillia
"Benar tuh, meski aku juga nggak tau pasti sumber infonya, tapi berita ini cepat menyebar di kampus" ucap Denia
"Menurutku itu hanya gosip, jangan percaya, kecuali pak Revan klarifikasi kebenaranya. Mungkin dia izin karena ada urusan penting" ucap Rania
"Urusan penting ya lamaran" ucap Cillia
"Bukan itu maksudku, urusan seperti perusahaan" ucap Rania
"Maksudmu bekerja di perusahaan? Ucap Denia
"Kamu tau dari mana pak Revan sibuk di perusahaan" ucap Cillia
"Feeling, jangan remihin meski belum tentu akurat tapi bisa jadi pertimbangan" ucap Rania santai
"Ya, benar juga, dulu gosipnya pak Revan menjabat CEO perusahaan" ucap Denia
"Kok aku nggak tau" ucap Cillia
"Itu udah berita lama"ucap Denia
"Nggak kusangka ternyata kamu Denia ratu informasi" ucap Rania
"Itulah keahlian ku" ucap Denia
"Terus ada info nggak tentang Raka?"ucap Rania
"Tumben nanyain, kenapa kangen sama dia? Tanya Denia
"Cie cie, dekat dianggurin jauh dikangenin, duh Rania" ledek Cillia
"Bukan gitu, belakangan nggak masuk kuliah" ucap Rania
"Tuh anak lagi ada kepentingan keluarga, katanya mau dijodohkan dengan anak sahabat ayahnya" ucap Denia
"Zaman sekarang kok masih banyak perjodohan sih" celetuk Cillia
"Kenapa bete?" Tanya Denia
"Lihat Rania, Raka, Elisia mereka dijodohin, akunya kapan?" Celetuk Cillia
"Lo mau dijodohin, kalau gue sih ogah. Tapi gue bisa bantu Lo untuk cari jodoh" celetuk Denia
"Boleh asal ganteng, pintar, bin tajir kayak Revan atau Mr" ucap Cillia
"Mimpi Lo, nyadar kalau Lo mau jodoh kayak gitu, Lo minimal harus cantik dan pintar" ucap Denia
"Ih bikin insecure aja" ucap Cillia
"Udahlah, gue lapar nih, ayo pesan" ucap Denia
"Yaudah, cepat sana pesan, seperti biasa ok" ucap Cillia
"Kalau Lo Ran" ucap Denia
"Mie ayam dan es jeruk" ucap Rania
"Ok sip, tungguin ya" ucap Denia yang beranjak pergi untuk memesan makanan dan minuman.
Tak lama Denia muncul dengan nampan yang berisi makanan dan minuman
"Ini pesanan sudah siap tuan putri" ucap Denia sembari memberikan pesanan Cillia
"Terima kasih dayang setiaku" ucap Cillia
"Gue bukan dayang Lo, gue teman Lo" ucap Denia ketus sembari meletakkan makanan minuman miliknya
"Salah Lo bilang gitu, kalau gue tuan putri berarti Lo dayang" ucap Cillia
"Udah gue pesankan, Lo malah ngelunjak" ucap Denia ketus
"Cukup guys, jangan ribut" ucap Rania melerai sambil mengambil mie ayam dan es jeruk
"Ok, kita makan, dan Lo Cillia nanti yang balikin mangkok dan gelas" ucap Denia sembari makan bakso dengan lahap
"Iya deh" ucap Cillia pasrah
"Bagus" ucap Denia
Mereka bertiga menikmati makanan dan minuman di kantin. Setelah itu kembali ke kelas untuk melanjutkan perkuliahan selanjutnya.