EP 19 Shopping dan Dinner

1746 Kata
Tara dan Elisia bersemangat berkeliling toko dengan membawa keranjang besar untuk meletakkan makanan maupun minuman yang hendak dibeli. Pandangan keduanya menyapu rak-rak dengan produk yang tertata rapi. Membutuhkan waktu lama untuk belanja, maklum kaum hawa kalau udah belanja pastinya lupa waktu termasuk Tara dan Elisia. Setelah melihat berbagai produk Elisia memilih membeli dodol, brem, kripik tempe, belut goreng, kripik buah dan ikan mentah, coklat, bolu kukus, dan jus buah. Sementara Tara membeli kripik tempe, kurma, kue sus aneka rasa, bakpia, bubuk kopi rasa unik, rangginang, bolu kukus, keripik pisang dan buah apel. Setelah itu keduanya membawa belanjaan ke kasir untuk membayar, Elisia maju dan mengeluarkan uang dari dompet saat cek out. Dengan membawa banyak belanjaan Elisia dan Tara pergi mencari keberadaan Revan dan Adelio "Gimana udah puas dong belanjanya?" ucap Elisia yang membawa tas besar berisi makanan dan minuman yang dibeli "Puas banget, makasih sudah traktir" ucap Tara yang merasa senang bisa belanja banyak plus gratis. "Sama-sama, sekarang kita cari para cowok" ucapnya yang penuh dengan semangat "Ok El, kita mulai dari mana dulu" ucap Tara yang menggaruk kepalanya bingung mau cari Revan dan Adelio. "Kita mulai dari parkiran" ucapnya mantap sambil melihat sekeliling "Ok" Tara yang menyanggupi Kedua cewek mulai berjalan ke arah tempat parkir untuk mencari keberadaan Adelio dan Revan. Setelah sampai tempat parkir keduanya berkeliling melihat sosok yang dicari. Hingga akhirnya mereka menemukan mobil yang ditumpangi tapi keberadaan para cowok tak ada di dalam maupun disekitar tempat itu. "Ini mobil bos Revan" ucap Tara antusias "Iya ini juga mobilnya Adelio. Tapi kok rasanya ada yang aneh" ucapnya yang merasa ada yang janggal "Iya kau benar, mobilnya disini tapi orangnya tak ada disekitar sini. Kemana mereka pergi" ucap Tara yang mencemaskan nasibnya dan Elisia "Nggak tau juga, coba deh kau hubungi Revan. Aku akan hubungi Adelio" ucapnya yang berusaha menyembunyikan rasa khawatir dan bingung "Ok" ucap Tara yang mencoba menghubungi Revan. Tapi hanya ada suara "Maaf nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi". Tara merasa kesal, Dia menghentakkan kakinya dan terus berusaha menghubungi Revan. Tapi tetap saja nggak terhubung, di message WA juga cuma centang satu. Begitu pula Elisia yang mencoba menghubungi Adelio beberapa kali tapi tak ada respon. Dan mencoba menelpon cuma ada suara "maaf pulsa anda tidak mencukupi silakan isi ulang pulsa". Elisia benar-benar mati kutu tidak tau harus bagaimana menghubungi Adelio, Elisia pun hanya bisa mondar-mandir sambil menatap handphone berharap Adelio bisa menghubungi. Tara pun menghampiri Elisia yang sedang duduk sejenak di salah satu bangku kosong sambil menopang dagu "Kenapa mukamu lecek. Apa jangan-jangan kau juga sulit mengubungi Adelio" ucap Tara yang menebak "Ya kau benar. Nggak biasanya dia abaikan aku seperti ini" ucapnya sedih merenungkan sesuatu "Kelihatan para cowok kesal dan mau ngerjain kita deh" ucap Tara yang mencoba memahami keadaan "Oh ya, terus kita gimana dong. Masa' harus nunggu disini terus" keluhnya "Kita disini sebentar, setelah itu kita keliling cari mereka" ucap Tara "Ok setuju" ucapnya yang lelah berjalan kaki Sementara dari sisi Revan dan Adelio menikmati waktu mereka hingga melupakan handphone dalam mode silent. Ditambah lagi asyik bercengkrama dengan orang-orang baru ditemui. Waktu berjalan tanpa berasa hingga keberadaan keduanya akhirnya ditemukan oleh Tara dan Elisia. "Akhirnya ketemu, hai bosku" ucap Tara menghampiri Revan yang duduk sambil makan ikan bakar "Eh Tara, hebat kau bisa sampai kesini dengan cepat" ucap Revan santai dengan menyilangkan kaki dan asyik makan "Pak bos ledek aku ya, dari tadi aku cari nggak ketemu, dihubungi susah banget. Aku capek dan lapar bos" ucapnya yang mengkrecutkan bibir "Maaf tadi nggak sempat lihat handphone" jawab Revan sambil minum teh "Sengaja ya" ucapnya yang sedih dan kecewa "Nggak" ucap Revan yang menyelesaikan minumnya "Nggak salah ya bos" tebak Tara "Kok tau" ucap Revan yang santai "Bos aku mau itu, enak pastinya" ucap Tara yang dari tadi ngiler melihat Revan memakan ikan bakar apalagi bau harum menggoda "Apa? Kau ingin apa?" ucap Revan tiba-tiba mendekati Tara "Bos jangan dekat-dekat, aku cuma mau ikan bakar, lapar kan udah bilang dari tadi" ucapnya yang ketar-ketir melihat Revan mendekat "Ohhh" ucap Revan acuh "Cuma gitu" ucapnya yang kecewa "Kenapa mau dipesanin" Revan yang menawarkan "Iyalah" ucapnya dengan nada kesal "Ok, kalau gitu aku pesanin dulu. Kau jangan kemana-mana nanti ilang saya yang repot" ucap Revan beranjak melangkah pergi "Memangnya saya anak kecil" ucapnya yang tak terima disebut anak kecil "Bukan, tapi kau lebih nyusahin dari anak kecil" ucap Revan "Huh" kesal Tara "Jangan bete nanti cantiknya hilang" rayuan Revan. Revan suka ngerjain Tara seperti ini, dari rayuan berakhir ledekan. "Bapak serius muji saya cantik" Tara yang udah merasa kepedean "Ya, kalau dilihat dari sedotan" ucapnya santai tapi bikin kesal orang "Yaudah sana pergi pesanin saya ikan bakar 2 dan minumnya teh" ucapnya yang kesal selalu dikerjain bosnya "Kau berani menyuruh saya, ingat saya bosmu" Revan mode judes "Maaf pak" Tara merasa serba salah. "Inggin rasanya jitak kalau nggak ingat itu bos sendiri, nyebelin banget bosku ini" gumam dalam hati "Berhubung saya baik hati, saya pesankan dulu. Oh satu lagi kau harus menjaga agar mereka tak bertengkar" ucap Revan yang menunjuk ke arah Elisia dan Adelio "Beres" ucapnya santai sambil merilik ke arah Elisia dan Adelio Revan pergi dan melangkah ke arah pemilik warung untuk memesan kembali makan dan minuman. Sementara Elisia sedang mode ngambek lagi sama Adelio. "Yang kau nyebelin banget, aku cari kau kemana-mana nggak ketemu, dichat nggak dibales" ucapnya kesal "Maaf yang, jangan ngambek dong" ucap Adelio "Bodo'" ucapnya yang masih marah pada Adelio "Sayang cantikku please maafin aku ya, aku salah. Lain kali nggak gitu deh" bujuk Adelio "Yakin nggak ngulangin kesalahan" ucapnya yang tak percaya "Yakin banget yang" ucap Adelio yang nada memelas "Aku kok nggak percaya ya" ucapnya yang cemberut Adelio tak banyak berpikir dan langsung melakukan tindakan untuk menenangkan Elisia 'Cup' Adelio mengecup kening Elisia. Pipi Elisia semakin merah "Kamu bikin malu aja, ini di depan umum" "Biarin aja" Sementara Tara yang menyaksikan mereka dari jauh tiba-tiba ditutup netranya ama Revan "Ih apaan sih nih, kok gelap. Aku kan ingin tau apa yang mereka lakukan" "Diam Tara, kau masih dibawah umur dilarang menyaksikan hal yang tak pantas" ucap Revan yang menutup netra Tara dengan tangannya. Revan sengaja menjahili Tara, melakukan hal itu terasa menyenangkan baginya "Apaan sih bos, aku tuh 22 tahun bukan anak dibawah umur" ucapnya yang tak terima dibilang dibawah umur. "Ohh ya" ucap Revan acuh "Lepasin bos" berontak Tara "Sebentar lagi" Perlahan Revan mengendurkan tangannya dan Tara perlahan membuka netra dan hanya melihat raut muka Elisia yang tersipu malu "Mereka sebenarnya lagi ngapain ya" ucapnya yang memandang Revan "Udahlah nggak perlu ikut campur, tuh lihat pesananmu datang, mau makan apa tidak" ucap Revan yang melihat pemuda yang membawa piring berisi ikan dan teh "Baiklah bosku yang baik hatinya" ucapnya penuh penekanan. Sebenarnya Tara cukup emosi dengan tingkah laku bosnya yang makin nggak jelas. Tapi berhubung perut keroncongan mending fokus pada makanan Setelah mendapatkan makanan dan minuman dari pramusaji, Tara langsung makan dengan lahap 2 ikan bakar langsung ludes begitu pula minumnya. "Alhamdulillah" ucapnya dengan rasa puas "Gimana kenyangkan sekarang" ucap Revan yang memandang takjub Tara. "Kecil-kecil makannya banyak, doyan apa rakus sih" gumamnya dalam hati "Iya bos makasih" "Sama-sama" "Lain kali boleh dong bos, kayak gini" ucap Tara yang berangan-angan liburan plus dapat banyak makanan gratis, hidup terasa indah "Ogah" ucap Revan acuh "Kenapa?" ucapnya bertanya-tanya. "Apa ada yang salah dengan diriku ini" gumam nya dalam hati "Karena kamu habisin banyak uangku" "Kan bos kaya, banyak uang. Berbagi sedikit untukku mah nggak ada apa-apanya" "Kalau aku bilang nggak, ya nggak" "Pelit" "Kalau pelit, dari tadi nggak menaktirmu" "Huh" Sementara itu, Elisia dan Adelio perlahan berjalan ke arah mereka "Kau kenapa Tara, berantem lagi ya" "Nggak" "Udah jangan berantem mulu. Nanti jodoh lho" ucapnya yang penuh semangat "Ogah" ucap Tara dan Revan bersamaan "Tuh kan, bicara aja bisa kompak gitu" ucapnya memanas-manasi keadaan "Jangan bicara gitu mulu El, aku nggak suka" ucap Tara terus terang sambil menyilang tangan "Kenapa bosmu kurang tampan" ucapnya menyelidik "Hi, para cewek jangan gosipin aku mulu. kayak nggak ada yang lain" ucap Revan "Tuh lihat tingkat kepedean terlalu tinggi, aku nggak suka yang seperti itu" "Ohh" ucap Elisia yang merasa pernyataan Tara itu benar "Tara" "Iya bosku yang tampan dan baik hati" "Sudah cukup kita pulang duluan. Aku sudah capek, atau mau pulang sama mereka" "Nggak lah bos, mana mau aku jadi nyamuk" "Ok sini barang belanjaannya, kau ikut dibelakang" "Ok" Tara mengekor dibelakang Revan dan berjalan menuju parkiran. Keduanya pun duduk di mobil, Revan di co-pilot sementara Tara asyik di kursi samping sambil mendengarkan musik melalui headset. Revan pun langsung bergegas untuk pulang. Sementara itu Elisia tetap membeku di tempat dan sambil membelai perut yang dangdutan sejak tadi. Adelio pun memberikan ikan bakar dan s**u jahe anget "Yang, kau kenapa?lapar nih makan" ucapnya yang memberikan ikan ke Elisia "Ok, tapi yang kita kok ditinggalin. Kan tadinya bareng, sekarang sendiri-sendiri" ucap Elisia "Udah sekarang makan. Nggak usah dipikirin, Revan emang gitu orangnya sukanya ninggalin teman, biasalah paling juga capek" ucapnya yang memahami karakter sahabatnya. Meski liburan kadang antusias tapi kalau soal kabur pasti nomor satu. "Iya" Elisia pun menghabiskan makanan dan minuman. "Yang, kalau makan kayak gini mirip di restoran dengan nuansa romantis ya" ucapnya yang melihat kearah matahari tenggelam "Kau menyindir ku karena tak mengajak dinner di restoran" ucap Adelio "Nggak tuh, aku berasa aja makan sederhana di warung pinggiran dan menyaksikan pemandangan matahari tenggelam itu menakjubkan" "Oh bagus, aku senang selama kau senang" "Belajar gombal darimana" "Adadeh" Setelah itu Adelio mengantarkan tunangannya kembali ke rumah, dan dia kembali ke apartemen yang tak jauh dari sekolah. Sementara itu melihat Tara yang tertidur pulas, Revan mengubungi Jose untuk mengetahui alamat tempat tinggalnya. Setelah sampai Revan membangunkan Tara. "Tara bangun" "Dimana ini bos?" "Rumahmu lah, nggak lihat ada penjaga di luar pintu" "Ohh kak Jose" Tara perlahan membuka pintu mobil dan berjalan ke arah Jose "Nih belanjaan jangan dilupain nanti nangis" ucapnya yang merasa bahwa Tara akan menangis melihat belanjaannya tak ada Tara menunduk dan kembali membawa barang belanjaan dari tangan Revan. Kemudian mengeluarkan 1 kotak bolu kukus dan diberikan kepada bosnya "Ini bos, dijamin enak" ucapnya sambil berlari dan masuk ke dalam rumah "Makasih bro, udah anter adikku balik. Lain kali kalau ajak jalan pulangnya jangan malam-malam" ucap Jose yang merasa Tara adalah tanggung jawabnya seperti Tania. Jadi harus memastikan keselamatan adik-adiknya. "Ok, Sampai jumpa" "Ya, hati-hati di jalan" Revan pun pergi meninggalkan rumah Jose dan mengemudi ke arah rumahnya. Setelah sampai Revan langsung mandi dan berwudhu. Kemudian menjalankan sholat isya' dan membaca Alquran. Selebihnya rebahan dan tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN