EP 18 Dinner

1017 Kata
Rasa lelah bercampur bahagia menyelimuti hati setiap orang saat liburan apalagi bersama orang tersayang seperti keluarga, pasangan, atau teman. Biasanya sesibuk apapun orang bekerja pasti akan meluangkan waktu quality time untuk membuat keluarga tetap harmonis dan banyak yang melakukannya dengan liburan. Begitu pula yang dirasakan Revan, Adelio, Tara, dan Elisia liburan kali memberikan momen yang seru dan menyenangkan. Saat waktu menjelang sore mereka keluar dari WBL menuju musholla yang berada di luar. Mereka menunaikan sholat Ashar setelah itu bersiap untuk pulang. Keluar dari parkiran Adelio, dan Revan mengendarai mobil mereka ke arah Surabaya. Diperjalanan keduanya berhenti di salah satu tempat oleh-oleh karena bujuk rayu duo cewek Elisia dan Tara. Dengan muka murung dan terpaksa Adelio, Revan menuruti keinginan duo cewek yang harus dipenuhi. Revan dan Adelio pun memakirkan kendaraan terlebih dahulu dan kemudian menyusul duo cewek. Sementara Tara dan Elisia beranjak menuju toko oleh-oleh dengan penuh antusias. Di toko oleh-oleh terdapat berbagai macam makanan dan minuman seperti dodol, kue rangginang, serba serbi cokelat, belut goreng, jamur krispi, kerupuk buah baik matang maupun mentah, keripik tempe, keripik kentang, keripik talas, brem, bakpia, kue brownies, kue bolu kukus, aneka selai, kurma, sari buah, serta aneka kerajinan lain. Semua memanjakan netra dan membuat kaum hawa ingin belanja sebanyak mungkin. "Kira-kira enaknya beli apa ya" ucap Tara bingung begitu banyak makanan khas malang yang kelihatan menggiurkan "Entahlah aku juga bingung kelihatan enak semua" ucap Elisia yang juga melihat banyaknya produk yang tersedia di rak "Kalau bingung mending nggak usah beli. Lagian tadi ladies masih ada 1 kantong penuh dari minimarket" ucap Adelio santai "Itu mah beda" ucap Elisia yang tak terima kalau belanjanya gagal "Bedanya apa yang" ucap Adelio yang mengerutkan kening tak memahami perbedaan. Baginya belanja tuh ribet apalagi cewek pasti harus menunggu lama. "Kenapa nggak suka aku belanja lagi. Yaudah nanti aku bilang mami" ancam Elisia. Meski status Elisia masih calon istri tapi ibu Adelio sudah menganggapnya seperti putri sendiri. Bahkan sudah mencurahkan kasih sayangnya melebihi putranya sendiri. Dan kalau ada sesuatu yang terjadi di hubungan Elisia dan Adelio, ujung-ujungnya Adelio yang disalahkan. "Jangan ngambek gitu, kau boleh belanja sesuka hati yang" ucap Adelio yang pasrah "Beneran?" ucap Elisia "Iya, apa sih yang nggak buat kamu" rayuan Adelio sambil mengacak rambut Elisia "Makasih yang kau yang terbaik. Tapi lain kali jangan acak rambutku nanti kusut" ucap Elisia yang mendumel "Iya yang" ucap Adelio "Belum apa-apa udah seperti suami takut istri, bucin kau" ucap Revan dari arah belakang "Apaan sih bro, jangan ganggu orang kasmaran deh" gerutu Adelio yang merasa Revan merusak suasana yang tadinya udah indah "Yaudah berhubung dompet Sayangku masih ditanganku, aku traktir kau Tara" ucap Elisia santai tanpa memperdulikan tatapan tajam dari Adelio "Asyik gratisan oy, makasih" Tara yang jujur suka barang gratisan karena sekarang harus pintar mengatur keuangan yang pas-pasan "Sama-sama, yuk jalan. Nggak usah perhatiin para cowok" ucap Elisia "Ok" jawab Tara penuh semangat Elisia dan Tara belanja penuh semangat, sementara Adelio berusaha untuk mengejar calon istrinya. "Yang bentar deh aku mau ngomong sama kamu" ucapnya "Apa yang, dari tadi bukannya sudah ngomong" ucap Elisia yang memandang Adelio aneh "Itu yang.... dompetku kapan kau mau balikin" ucapnya dengan penuh gelisah "Nanti habis belanja, kau jangan pelit sama aku. Hus sana pergi jangan ganggu" ucap Elisia dengan nada kesal "Ok, aku akan pergi sama Revan. Jangan kangen loh ya" ucapnya dengan percaya diri dan melangkah pergi meninggalkan Elisia yang membeku. "Ini kenapa cowok semakin tak tau malu, berani merayu di depan umum, aku kan malu" ucap Elisia dalam hati. Perkataan Adelio membuatnya wajahnya merah dan terasa hangat. Tara yang melihat Elisia mengerutkan kening "Kau kenapa kok mukamu merah, sakit ya" ucap Tara melihat semu merah di wajah Elisia "Nggak kok, kita lanjutin belanjanya" ucapnya gelisah. "Duh gara-gara Adelio aku jadi salah tingkah kan" dumel Elisia dalam hati "Ok, let's go" ucap Tara penuh semangat Elisia dan Tara bersemangat dalam belanja. Sementara itu dengan raut yang muram Adelio meninggalkan kekasihnya dan pergi mencari udara segar. Revan pun mengikuti dari belakang "Jangan murung bro, cewek mah gitu nggak mau kalah. Kau yang sabar ini ujian" ucap Revan menyemangati "Iya bro aku tau. Aku cuma harap semoga dia tetap cinta dan setia sama aku" ucap Adelio berdecak "Sejak kapan kau jadi bucin. Setau ku dulu kau nggak suka dijodohin" ucap Revan bingung akan perubahan sahabatnya "Sejak ku tau dia cinta pertamaku. Aku berjuang lebih keras untuk mendapatkan cintanya. Kau juga harus berjuang jangan menyerah di tengah jalan" ucap Adelio melangkah pergi Adelio memang sempat muak dan kecewa akan keputusan orang tuanya menjodohkan dengan Elisia Kimmy yang miskin. Tapi setelah tau dia adalah cinta pertama saat kecil, Adelio perlahan kembali menemukan apa yang dicari. Hingga perjuangan yang tak pantang menyerah dilakukan apalagi harus bersaing dengan seorang pemuda playboy yang menjadi teman Elisia. Perjuangannya membuahkan hasil bisa menaklukkan hati Elisia. Sekarang cukup menjalani seperti air yang mengalir. "Oh cahaya bulan kau. Sekarang mau kemana bro?" ucap Revan yang tau kisah cinta Adelio "Mau cari udara segar" ucapnya menampilkan wajah datar "Ok, sekalian cari makan. Aku sudah dari tadi kelaparan" ucap Revan ceplas-ceplos "Boleh, tapi gimana dengan duo cewek" ucapnya cemas memikirkan calon istrinya "Udahlah nggak usah mikirin mereka. Nanti biar mereka cari kita, sekali-kali dikasih pelajaran biar tau rasa" ucap Revan yang gemas aksi cewek yang sesuka hati "Ide bagus" ucap Adelio santai merasa apa yang dipikirkan benar. Selama ini wanita selalu mau menang sendiri, sesekali dikerjain biar hargai para lelaki. Akhirnya Revan dan Adelio tiba di salah satu warung sederhana. Dengan menyaksikan panorama indah matahari tenggelam diiringan hembusan angin sepoi-sepoi menikmati pemandangan begitu nikmat ditambah makanan yang mereka pesan ikan bakar dan teh botol Sosro semakin menyenangkan. Waktu terus berjalan dilalui terasa ringan dan tak peduli pada cewek yang juga asyik belanja. Suasana benar-benar membuat kedua cowok terasa rileks ditambah lagi tadi sempat pegal-pegal menyetir lama, berjalan jauh, waktu istirahat sejenak benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal untuk memulihkan kembali tenaga agar bisa konsentrasi untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Tak terasa waktu berjalan cepat, segitu enaknya hingga lupa untuk mengubah pengaturan handphone dari mode silent ke mode suara. Hingga pesan maupun panggilan para cewek tak bisa dibalas oleh Revan maupun Adelio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN