Setelah memainkan wahana ekstrem, Elisia merasa mual dan pusing. Kemudian Elisia duduk dibantu Tara dan beristirahat sejenak, meski merasakan tubuh tidak kondusif lagi tapi dia merasa senang melakukan berbagai hal yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Liburan ini benar-benar berarti bagi Elisia. Melihat wajah Elisia yang pucat Tara memberikan air mineral kepadanya.
"Minum dulu" ucap Tara menyerahkan air minum
"Iya, makasih" ucap Elisia yang sedikit lemas menerima dan meminum air mineral
"Lain kali nggak usah dipaksain naik semua wahana apalagi yang ekstrim" ucap Tara memberikan pendapat sambil meminum buavita
"Iya. Ini karena gue terlalu antusias, apalagi sudah lama nggak bermain seperti tadi. Rasanya menyenangkan" ucap Elisia
"Bermain seperti itu memang membuat kita bisa meluapkan semua perasaan dan beban hilang. Oh ya gue perlu hubungi Adelio apa tidak?" ucap Tara yang masih khawatir
"Nggak perlu, gue sudah lebih baik kok" ucap Elisia santai
"Yaudah. Kalau kita makan siang gimana?" ucap Tara
"Boleh tuh mumpung gue juga lapar" ucap Elisia yang mulai merasakan lapar
"Mau request apa?" ucap Tara
"Apa aja yang penting enak dan halal" ucap Elisia
"Ok" ucap Tara yang beranjak pergi
Tara pergi ke stand makanan dan membeli 1 pizza sedang, 2 porsi ayam kentaki, 2 minuman matcha. Setelah itu Tara membawa makanan dan minuman ke tempat Elisia. Keduanya makan dengan lahap, hingga pizza maupun ayam kentaki habis. Minuman matcha tak luput dihabiskan, apalagi rasanya enak dan menyegarkan tenggorokan. Waktu terus berjalan hingga tiba waktu sholat dhuhur. Elisia dan Tara pergi ke mushola terdekat. Keduanya mengambil air wudhu, kemudian menunaikan ibadah sholat dhuhur. Setelah itu istirahat di teras musholla.
Revan dan Adelio berenang dengan santai menikmati waktu saat ini, rasa penat hilang dan berganti semangat penuh energi. Setelah selesai berenang keduanya berganti pakaian dan pergi menuju stand makanan terdekat untuk makan siang.
"Rasanya menyegarkan, mengasyikkan sudah lama tidak merasakan seperti ini" ucap Revan
Sejak meninggalkan Indonesia beberapa tahun lalu, Revan sibuk belajar dan bekerja. Revan tenggelam dalam dunianya sendiri hingga lupa bersenang-senang menghabiskan waktu luang untuk bermain dengan teman maupun liburan. Pikiran hanya fokus untuk menjadi terbaik agar tidak lagi mengalami pembullyan tapi justru karena itu dia menjadi pribadi yang dingin tak lagi ramah seperti dulu.
"Iya van. Gimana kabar duo cewek, aku kepikiran secara tadi lupa mau janjian ketemu dimana?" ucap Adelio yang menyesal karena kecerobohannya sampai lupa menanyakan janji ketemu padahal wilayah WBL luas, masa' harus ke pusat informasi kayak orang hilang aja.
"Aku juga lupa" ucap Revan yang khawatir pada Tara dan Elisia. Apalagi keduanya cewek, Tara meski nyebelin kalau hilang kan repot. Gimana coba lapornya ke Jose, bisa habis gue.
"Aku takut mereka nyasar, secara WBL luas banget" ucap Adelio mencemaskan duo cewek terutama Elisia
Meski kesannya dingin, tapi sebenarnya Adelio peka banget sama perasaan. Apalagi soal cinta Adelio bisa berubah bucin. Mencemaskan seseorang yang dicintai sangat wajar.
"Nanti kita cari, sekarang makan dulu, waiters datang" ucap Revan dengan tenang. Lebih baik mengisi energi terlebih dulu baru nanti dipikirkan langkah selanjutnya. Itu lebih praktis dan efisien.
"Ya" ucap Adelio yang juga menimbang-nimbang semuanya
Waiters datang membawa pesanan mereka 2 porsi soto babat jumbo dan 2 teh panas. Setelah itu Revan dan Adelio makan dengan lahap, semua makanan dan minuman sudah habis tanpa sisa. Setelah itu keduanya melanjutkan langkah ke musholla untuk menunaikan sholat dhuhur. Setelah sholat keadaan terasa rileks dan pikiran kembali jernih. Revan yang duduk di serambi musholla melihat kesamping tanpa sengaja menatap Tara yang bersantai. Kemudian Revan masuk kembali ke dalam musholla dan mengajak Adelio keluar.
"Bro, Tara ada diluar duduk di serambi sebelah. Kita lihat yok" ucap Revan
"Berarti Elisia juga ada disekitar sini" ucap Adelio
"Makanya lihat sendiri" ucap Revan yang beranjak keluar
"Ok" ucap Adelio mengikuti langkah Revan
Mereka melangkah ke serambi dan benar terlihat Tara yang duduk santai serta Elisia yang baru datang dengan aneka sosis, tempura goreng di kantong plastik.
"Woi, disini dilarang makan tau" ucap Revan
"Tau bos, kita kan cuma beli. Makannya nanti saat melihat pertunjukan" ucap Tara menjelaskan
"Iya benar, aku beli memang untuk nanti" ucap Elisia
"Tuh bro jangan suudzhon" ucap Adelio menempali
"Kenapa aku mulu yang salah" ucap Revan yang geram
"Karena cewek selalu benar" ucap Tara cengengesan
"Ya cewek selalu benar dan cowok selalu salah" ucap Revan dengan nada ketus
"Cukup, sekarang mending kita melanjutkan perjalanan. Girl sekarang mau kemana?" ucap Adelio yang tenang
"Mau ke tempat pertunjukan lumba-lumba yang" ucap Elisia
"Ok kalau gitu kita bergandengan tangan, biar nggak nyasar" ucap Adelio sambil mencari kesempatan
"Terus Tara sama Revan gimana?" ucap Elisia yang bingung
"Van, Lo gandengan tangan sama Tara. Dia cewek nanti nyasar kan kasian" ucap Adelio
"Ok, terpaksa" ucap Revan menghela nafas kasar
Mereka berjalan bergandengan Elisia dan Adelio, Revan dan Tara. Elisia asyik menyaksikan pemandangan sekitar hingga tidak sadar melepaskan genggaman tangan dan membuka salah satu dari plastik lalu memakan sosis. Adelio mengerutkan kening dan berdehem tapi Elisia tak terpengaruh.
"Sayang, katanya makannya nanti, kok jadi sekarang" ucap Adelio
"Maaf, khilaf" ucap Elisia
"Yaudah, kalau gitu kamu berhenti ok. Lagian kamu nggak takut gemuk" ucap Adelio
"Kamu ngatain aku gemuk" ucap Elisia yang merasa tersinggung
"Nggak gitu, jangan ngambek. Aku bisa jelasin" ucap Adelio mencoba membujuk. Adelio paham kalau sampai Elisia ngambek bisa didiamkan beberapa hari. Nggak bakal balas chat atau telpon. Kalau rindu gimana susah tau. Pokoknya harus dibujuk sampai luluh
"Oh ya" ucap Elisia yang mengerucutkan bibir
Adelio berusaha keras membujuk Elisia dengan kata-kata manis ataupun hal lain, tapi Elisia yang bete tetap cemberut. Hal ini mengundang gelak tawa Revan dan Tara.
"Ha ha, lucu ya mereka" ucap Revan yang menggelengkan kepala melihat tingkah pasangan di depannya
"Iya. Mereka itu lucu dan sweet" ucap Tara
"Yap membuat aku jadi pengen punya pacar" ucap Revan sambil membayangkan punya pacar. "sepertinya menarik, hariku pasti berwarna" gumam dalam hati
"Makanya cari pacar atuh bos" celetuk Tara
"Gimana kalau kamu jadi pacar saya?" ucap Revan yang mencoba menggoda Tara
"Katanya tadi nggak mau" cerocos Tara
"Kamu serius banget padahal saya bercanda" ucap Revan polos. Dalam hati "Ngerjain Tara asyik juga"
"Bos super nyebelin" ucap Tara kesal hingga mencubit pinggang Revan
"Ampun Tara, jangan cubit lagi. Sakit tau" gerutu Revan
"Biarin" ucap Tara acuh tak acuh
Melihat interaksi Revan dan Tara membuat ketegangan Elisia dan Adelio mencair. Elisia dan Adelio memandang ke arah bos dan karyawan semakin aneh. Hubungan keduanya sering bertengkar, saling ngerjain, dan sekarang seperti romantis. Hubungan yang jauh lebih harmonis ditimbang pasangan lain.
"yang, mereka serasi ya" ucap Elisia mengarah ke Tara dan Revan
"Iya tapi kelihatannya nggak nyadar" ucap Adelio santai memandang Revan. Gumam dalam hati "sepertinya Revan hanya memandang Tara sebagai karyawan, tapi di hatinya mungkin lebih. Hanya masalah gengsi tak mau mengakui apalagi tipe ceweknya tinggi. Terlalu rumit untuk dipahami.
"Kalau gitu kita jodohkan mereka" ucap Elisia santai
"Boleh tapi nanti aja dipikirkan" ucap Adelio tenang. Dalam hati "menjodohkan Revan bukan hal mudah, selera tinggi. Meski hati bilang cinta tapi karena gengsi bisa menolak mentah-mentah, huh bingung aku harus gimana?"
"OK" ucap Elisia sambil mengemasi kembali makanannya
"Makan sudah cukup" ucap Adelio
"Ya, aku lagi diet. Nanti lagi bareng sama Tara" ucap Elisia santai
"Ya" ucap Adelio. Dalam hati "diet apaan semua makanan dilahap, huh sabar jangan sampai ngambek lagi"
Elisia memberikan setengah bagian kepada Tara. Mereka berjalan menuju tempat atraksi pertunjukan lumba-lumba. Mereka menuju bangku belakang.
"Kenapa nggak duduk di depan" tanya Revan
"Mau kena cipratan air" ucap Tara masih ketus
"Nggak" ucap Revan
Mereka menyaksikan pertunjukan dengan santai. Pertunjukan dimulai dari atraksi anjing laut. Anjing laut bermain bola dan menari sesuai instruksi pelatih. Atraksi begitu indah hingga penonton menyiapkan kamera untuk mengabadikan momen. Selanjutnya pertunjukan lumba-lumba dimulai dari tepuk tangan penonton lumba-lumba memberikan salam. Lumba-lumba memulai atraksinya dari berenang mengelilingi kolam, melompat lingkaran dari rendah ke tinggi, lalu tarian lumba-lumba yang mengguncang air dan mencipratkan air ke penonton. Hal itu membuat penonton takjub dan tertawa bahagia. Pertunjukan selesai dan berganti ke sesi foto, para penonton yang antusias membayar dan berbaris untuk foto.
"Benar kan yang aku bilang" ucap Tara
"Iya" ucap Revan
"Ikut foto sama lumba-lumba yuk" ajak Elisia
"Ok" ucap Tara
Tara dkk ikut antri dan berhasil foto bareng lumba-lumba. Setelah ini mereka pergi ke bioskop 3D untuk menyaksikan film yang ditampilkan.