Arsen melihat lagi kartu nama di tangannya. Dia bersemangat menemui Kinanti yang berada di alamat yang tertulis di kartu nama tersebut. Dia berharap wanita itu benar-benar bisa memberikan pekerjaan untuknya. Pagi-pagi sekali Arsen sudah bangun. Dia memilih pakaian terbaik, mencukur kumis, dan meminyaki rambut yang sudah dipangkas rapi semalam. Jika ingin jujur, Arsen juga sudah bosan hidup luntang-lantung dan gentayangan setiap malam. Semua itu hanya untuk mengikis bayang-bayang Lintang dari tempurung kepalanya. Dia belum mampu melupakan wanita itu. Tidak mau sebenarnya. Masa-masa bahagia mereka dulu masih terus menghantui benak si lelaki. "Sudah ada janji?" tanya salah seorang sekuriti saat arsen bertanya perihal Kinanti. Arsen mengangguk. "Sudah, kemarin Mbak Kinanti sendiri yang memb

