"Dia siapa, Mas?" Anita langsung mencerca Arsen dengan pertanyaan. Dia bahkan tidak membiarkan lelaki itu berganti baju terlebih dahulu. "Apaan, sih, kamu?" Arsen menepis tangan Anita yang memegang lenganya. Lelaki itu terus berjalan menuju kamar. Anita menyusul langkah Arsen. Rasa cemburu membakar dadanya. Seperti api yang menyala-nyala merambat ke sekujur tubuh, panas, seakan-akan hendak menembus ubun-ubunnya. "Mas, jelaskan siapa dia? Kenapa kalian tidak terlihat dekat sekali?" cecar Anita lagi. "Apaan, sih! Lepasin!" Arsen menepis tangan Anita yang memegang kemejanya. lelaki itu menyorot marah kepada wanita yang tengah berbadan dua tersebut. "Dengar, ya, kamu enggak punya hak melarang apa pun yang aku lakukan. Kamu harusnya tahu diri. Jadi jangan coba-coba membatasi aku karena kam

