Tertipu

1309 Kata
"Sabarlah hati. Jika kamu dilukai, artinya kamu masih perlu diuji agar tetap kuat menerima segala berkah di masa depan." =========== Matahari bersinar sangat garang, seolah-olah ingin menyengat apa saja yang dia sentuh dengan cahayanya. Tak banyak orang berlalu-lalang di tengah teriknya yang terasa membakar kulit. Pun Lintang, wanita itu bahkan mengernyitkan dahinya saat silau menerpa kaca pelindung helmnya. Harusnya tadi pagi dia telah berada di rumah orang tuanya dan mengeluarkan Anita dari sana. Akan tetapi, perdebatan dengan Buk Rima memakan waktu yang cukup lama. Wanita itu menyayangkan kekeraskepalaan Lintang, dia menganggap Ibu Gayatri tersebut terlalu arogan dengan keputusannya, terlalu terburu-buru, sehingga memutuskan sesuatu tanpa berpikir jernih dan dalam. Namun, Lintang menolak mentah-mentah tuduhan tersebut. Baginya, kesalahan apa pun akan termaafkan, tetapi tidak sebuah perselingkuhan. Apalagi dengan jelas keduanya telah berzina. Adanya janin di rahim Anita membuktikan jika keduanya melakukan pengkhianatan itu dengan kesadaran penuh. Bukan bertindak lebih kejam dari Tuhan, yang maha pengampun dan penyayang. Lintang wanita biasa, memiliki rasa sakit bila dilukai. Hatinya tak seputih malaikat yang tak memiliki dendam, justru saat ini dia mencoba berdamai dengan keadaan. Toh, semua telah terjadi, waktu yang telah bergulir tak akan mungkin berbalik arah kembali. Dia hanya ingin mendapatkan putrinya, tinggal di tempat yang kondusif, lalu merencanakan masa depan untuk mereka berdua. * Helm full face diletakkan Lintang di atas jok sepeda motornya. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut pekarangan, mengingatkan Lintang pada kebersamaanya dengan Anita. Hampir di akhir pekan mereka--Lintang, Arsen, Anita--akan berkumpul di sini, menanam mawar merah, sambil menunggu Arsen memasakkan makan malam untuk mereka. Segalanya terasa sangat indah saat itu. Lintang bener-bener merasa memiliki saudara yang tak pernah dia punya. Bahkan beberapa kali dia memergoki Anita dan Arsen saling melempar senyum dan tatapan penuh arti, dia tak pernah berpikir mereka berdua bermain di belakangnya. Sungguh wanita yang teramat naif. Terlalu lurus dalam berpikir dan menganggap jika dunia hanya berwarna putih tanpa ada hitam menyela. Lintang menganjur napas perlahan, mencoba mengusir nyeri yang hendak bertandang. Tidak! Bukan waktunya bersikap melankolis dan meratapi nasib. Dia mensugesti diri sendiri, jika mampu mengatasi semua cobaan yang mendera, jika dia adalah wanita kuat dan tegar. Lintang mengetuk pintu bercat putih tulang perlahan. Suara ketukan itu menghantarkan dentuman halus ke dalam hati Lintang, menciptakan ketegangan yang dia tak tahu karena apa. Terdengar langkah pelan dari dalam, lalu seperti gerak lambat sosok Anita muncul dari balik papan kayu itu. Wanita tersebut terkejut melihat Lintang berdiri di depan pintu sambil menatap dengan sorot sedingin es. Tanpa permisi, Lintang masuk ke dalam rumah, sambil menabrak bahu Anita keras, membuat wanita itu sedikit bergeser dari tempat dia berdiri. "Ada apa?" tanya Anita sambil mengusap bahunya pelan. Lintang menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Terdengar dengkusan dari bibirnya. "Kemasi barangmu dan keluar dari sini." Dahi Anita berkerut mendengar permintaan Lintang, dia berjalan mendekat melipat jarak di antara mereka menjadi lebih dekat. "Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba meminta rumah ini? Kupikir ...." "Kau pikir apa? Aku tidak perlu alasan untuk mengambil yang memang milikku. Jangan samakan aku sepertimu yang gemar mencuri." Lintang tersenyum sinis melihat wajah Anita yang memerah dengan kedua tangan terkepal kuat dan rahang terkatup rapat. "Aku tau kenapa kau melakukan ini. Kau tidak terima, kan, jika Mas Arsen memilihku." Anita mencoba memprovokasi Lintang. Dia terus saja berbicara tentang bagaimana Arsen memperlakukannya, tentang bagaimana pria tersebut memujanya. Lintang hanya tersenyum mendengar ocehan Anita. Dia berusaha tetap tenang, meski gelombang panas meradiasi hatinya. Bisa saja wanita itu mengusir paksa. Otaknya membentuk sebuah rencana, membuang semua barang-barang Anita ke jalan, lalu menyeret wanita ular itu keluar dari rumahnya. Akan tetapi, Lintang tak ingin mengotori tangannya, dia masih berharap kesadaran Anita. "Apa sudah cukup?" Suara Lintang menyela ocehan Anita yang tak ada ujungnya. "Terserah bagaimana Arsen memperlakukanmu, aku tak peduli. Aku sudah membuangnya, karena bagiku pria pengkhianat lebih cocok berada di tempat sampah dan kau malah bangga menampungnya. Kalian memang serasi." Lintang tersenyum penuh kemenangan saat melihat raut Anita yang merah padam, persis kepiting yang terkena uap panas. Tak perlu berkata panjang lebar atau makian untuk membuat wanita itu malu, hanya akan menguras energi dan pada akhirnya Anita akan tertawa melihat provokasinya menciptakan konfrontasi. "Aku tidak akan keluar dari rumah ini! Mas Arsen bilang aku boleh tinggal selamanya di sini," tolak Anita seraya bersedekap. Terpeta kesombongan yang membuat Lintang muak. "Arsen boleh mengatakan itu jutaan kali, tetapi ini rumah orang tuaku. Cepat kemasi barangmu dan keluar baik-baik sebelum aku melakukan dengan cara paksa." Suara Lintang yang terdengar dingin cukup menciutkan nyali Anita, tetapi wanita itu terlalu bebal. Dia berpikir Lintang tidak akan berani melakukan hal sejauh itu. Namun, dia salah. Wanita yang suaminya telah dia rebut itu bergerak ke kamar Anita, membuka lemari dan meraup semua pakaian Anita yang bisa dia jangkau, lalu berjalan keluar dengan cepat, kemudian melempar pakaian tersebut ke teras rumah. Melihat perbuatan Lintang yang tiba-tiba, membuat Anita bergerak menahan tangan pergerakan mantan sahabatnya itu. Akan tetapi, siapa yang bisa menahan amukan wanita yang sedang terluka. Lintang sudah menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan, tetapi Anita terus memancingnya. Cukup sudah dia berbasa-basi dengan wanita itu. Anita terus meracau, dia memaki perbuatan Lintang yang mengobrak-abrik kamarnya, tetapi makian itu seolah-olah irama penyemangat bagi Lintang. Dia menulikan telinga, tak perlu mendengar sumpah-serapah wanita tersebut. "Ada apa ini?!" Suara Arsen terdengar menggedor gendang telinga Lintang. Dia menoleh dan melihat pria itu sedang berdiri di ambang pintu ruang tamu, seraya menatap bingung. Apalagi dengan tumpukan barang-barang Anita yang bercecer di teras. Melihat kehadiran Arsen, Anita gegas menghampiri pria tersebut, bergelayut manja di lengan sang pria. Lintang memalingkan wajah. Ada cemburu yang menggeliat di dalam d**a, meski bibirnya berkata membenci Arsen, cintanya kepada pria tersebut masih ada, meski mungkin tertutupi oleh luka. "Mas, lihat! Lintang jadi gila. Dia mengusirku dari sini." Aduan Anita yang dibuat sesendu mungkin membuat Lintang mual. Seolah-olah angin berputar-putar di perutnya. "Apa benar?" Lintang tersenyum sinis mendengar pertanyaan Arsen. Harusnya pria itu sudah bisa membaca situasi. Kamar yang berantakan dan barang yang tercecer. "Iya, aku ingin mengambil rumah ini. Aku tidak salah, kan?" balas Lintang dengan nada dingin, seakan-akan kutub utara tengah bertandang ke hatinya. Terdengar helaan napas berat dari bibir Arsen. Pria itu berpaling pada Anita yang menatap sinis ke arah Lintang, ada tarikan senyum di bibir wanita itu, seolah-olah mengolok keberadaan Lintang yang hanya sebagai penonton melihat interaksinya dengan Arsen. "Anita, pergi ke kamar dan kemasi barangmu." Anita menoleh cepat ke arah Arsen. Mata wanita itu melebar dengan ekspresi terkejut. Dia pikir pria itu akan mengusir Lintang, tetapi malah mengatakan hal yang sebaliknya. "Apa? Aku ngga salah dengar?!" Anita melepaskan tangannya yang menggamit lengan Arsen, dia memasang raut kecewa. Arsen tidak menjawab, tetapi sorot matanya mengisyaratkan dia tidak ingin dibantah. Anita menajamkan mata pada Lintang yang berdiri tenang, masih dengan tatapan dinginnya. Wanita itu beranjak ke kamar dengan langkah berdentum keras. "Apa tidak bisa ditunda besok, Dek? Aku ngga bisa cariin kosan sekarang untuk Anita." Lintang menggeleng tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Arsen. Masih saja dia memikirkan tentang wanita itu. Apa dia tak melihat keadaannya yang juga kacau-balau? Kehilangan nakhoda dan buah hati . Sepertinya hati pria itu memang telah bebal. Lintang berjalan mendekat ke arah Arsen untuk menggulung jarak yang terbentang di antara mereka. Dia menantang mata elang milik sang pria. Mata yang dulu selalu mampu mengetarkan hatinya. Sama seperti saat ini, tetapi Lintang menahan diri. Dia tak ingin bertekuk lutut jatuh dalam pesona tatap Arsen. "Tidak. Cukup lama dia menikmati kebaikanku. Harusnya, jika kalian punya malu tidak menumpang tinggal di sini. Ini rumahku dan dengan bodoh membiarkan kalian menginjak semua kenangan orang tuaku dengan nafsu primitif kalian." Tidak dipungkiri Lintang ada getar dalam suaranya. Luka wanita itu masih basah, bahkan perihnya masih berdenyut nyeri. Namun, sekali lagi dia berusaha tegar. Tak ingin lagi patah. Arsen bergeming menatap Lintang lekat-lekat, sementara Lintang memalingkan pandangannya ke arah kumpulan bunga mawar yang tengah mekar. Kesiur angin sore mengambil tempat di antara mereka, serasi dengan langit yang berubah mendung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN