"Kadang, tak cukup satu ujian untuk membuktikan kita pantas atau tidak menerima berkah. Tetapi, ikhlas menerima semua cobaan dan meyakininya sebagai cara Tuhan menyayangi kita."
==============
Lintang membiarkan sepoi angin membelai rambutnya perlahan. Tatapan wanita itu jatuh pada gulungan mega yang terbias warna saga. Sang bagaskara begitu congkak memamerkan pesonanya pada semesta, selalu saja begitu kala dia hadir ataupun tenggelam. Dia mampu membuat seluruh mata tertuju padanya kala melukis selarik warna jingga di ujung cakrawala.
Suara ombak terdengar keras menampar batu karang yang berdiri kokoh, asin laut terasa menyerbu indera penciuman dan meninggalkan rasa lengket di pipi Lintang. Wanita itu menggenggam kunci rumah yang diserahkan Arsen dengan terpaksa. Dia berhasil mendapatkan rumah peninggalan orang tuanya kembali. Dengan tatapan kemarahan Anita, dia meninggalkan kedua orang yang kemudian bersitegang tentang di mana Anita akan tinggal. Dia tak mau tahu apa pun perdebatan keduanya.
Sekilas terdengar Arsen akan menyebut tentang percetakan kepada Anita. Apa pria itu akan mengajak wanita itu tinggal di sana? Percetakan itu memang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama dan kedua digunakan sebagai tempat produksi dan kantor, sementara lantai ketiga digunakan sebagai tempat beristirahat untuknya Arsen. Lintang mengira jika pria tersebut tinggal di sana setelah Handoko mengusirnya. Tak masalah sebenarnya baginya, tetapi jika Arsen membawa Anita ke sana untuk tinggal bersama, sungguh menyulut ketidakrelaan di hatinya.
Percetakan itu awalnya dia rintis bersama teman-teman kuliahnya. Berdiri di atas tanah peninggalan orang tua Lintang. Awalnya hanya berbentuk bangunan 6 x 5 m persegi. Dua tahun mereka merintis usaha tersebut, hingga kemudian semuanya menyerahkan pada Lintang karena kesibukan masing-masing, tentu saja dengan kompensasi yang sesuai. Dulu percetakan itu hanya melayani pembuatan undangan pernikahan dan souvenir, tetapi saat di tangan Lintang usaha itu mulai dikenal dan menerima permintaan pembuatan spanduk dan beberapa media iklan lainnya. Ikut campurnya Arsen dalam usaha tersebut membuat usahanya semakin maju. Dalam rentang waktu dua tahun mereka mampu membeli sebidang tanah yang cukup luas untuk memugar bangunan menjadi tiga lantai.
Pesatnya rejeki yang menghampiri keduanya, berbanding tegak lurus dengan hadirnya sebentuk nyawa di rahim Lintang. Kehamilan yang pertama yang sayangnya sempat mengalami permasalahan di mana kandungan wanita itu sangat lemah. Oleh karena itu Arsen memintanya lebih fokus pada kehamilannya. Saat itulah dia menemukan Anita yang tergeletak pingsan di tepi jalan saat mereka pulang dari percetakan. Terdorong rasa kemanusiaan, keduanya menolong, bahkan setelah mendengar kisah pilu wanita tersebut, membuat Lintang mengulurkan tangan bermaksud menolong. Siapa kira, justru wanita itu menggigit tangannya tanpa belas kasihan.
Lintang mendesah pelan. Melonggarkan dadanya yang terasa sesak oleh beban yang tak jemu menghimpitnya. Jika ingin jujur, jauh di relung hati masih tersimpan nama Arsen di sana. Empat tahun bukan waktu yang sebentar dalam mengarungi bahtera. Begitu banyak cerita yang keduanya buat. Kini semua kenangan itu ditampilkan di layar memori seperti cuplikan sebuah film. Orang bilang, melupakan cinta yang telanjur dalam adalah mengingat segala keburukannya. Sudah puluhan kali dia mencoba, tetapi logika selalu saja dipatahkan oleh hati. Mengesalkan.
"Maaf, bisa tolongin, saya?"
Lintang mendengkus kesal. Dia benci diganggu, apalagi suasana hatinya sedang tidak baik. "Tak bisakah Anda lihat, saya sedang tak ingin membantu siapa pun?! Jangan modus!" hardik Lintang tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kalau saya mampu, ngga akan meminta bantuan," jawab pria itu terdengar pelan.
Lintang tergeragap menyadari ketidaksopanannya. Dia menoleh ke samping kiri di mana suara itu berasal. Seorang pria--memakai kupluk yang menutup kepala hingga telinga--sedang menatapnya. Sepertinya pria itu memang membutuhkan pertolongan.
Lintang berdiri dengan canggung sambil menyelipkan anak rambut yang bergoyang ditiup sepoi angin. Matanya tertumbuk pada selimut yang menutupi paha sang pria. Yang membuat dia tercekat pria tersebut duduk di kursi roda yang digerakkan secara otomatis.
"Bisa Anda tolongin saya?"
Lagi pria itu mengulangi permintaannya, membuat Lintang salah tingkah. Dia malu dan merasa bersalah, karena berkata ketus dan menatap terlalu lama ke arah kursi roda.
"Eh, iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu." Lintang merutuki lidahnya yang gugup, semakin memperjelas arti tatapannya.
"Saya jatuhin pulpen sampai menggelinding ke sana," jawab sang pria seraya menunjuk bangku beton yang berada di sebelah kanan Lintang. "Bisa tolong diambilkan, saya agak kesusahan membungkuk," imbuhnya pelan.
Lintang segera berjalan ke arah bangku beton tersebut, lalu membungkuk meraih pulpen yang terjepit di antara celah bebatuan.
"Ini, maaf, saya tidak bermaksud ...."
Lintang menjeda kalimatnya ketika pria tersebut menatapnya lekat. "Saya tau maksud Anda. Iya, saya cacat itu yang membuat gerakan saya terbatas."
Mendengar nada suara yang terdengar dingin dan raut datar, semakin membuat rasa bersalah mengembang di d**a Lintang. Apalagi ketika melihat sang pria asing memutar kursi rodanya menjauh.
*
Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, sayup Lintang mendengar suara Buk Rima berbicara dengan seseorang di ponsel, tetapi tidak jelas siapa. Di dorong rasa penasaran Lintang mendekati wanita paruh baya tersebut. Buk Rima yang menyadari kehadiran Lintang berbalik, seraya meletakkan telunjuk di bibir. Isyarat agar wanita itu tak menyela pembicaraannya.
"Baiklah, Pak. Saya sangat menyesali apa yang terjadi. Saya mohon Bapak bisa memikirkan kembali."
Entah apa jawaban lawan bicara Buk Rima. Yang jelas raut wanita tersebut terlihat sangat muram. Seolah vonis berat telah di jatuhkan atasnya.
Buk Rima memperhatikan ponselnya yang kini menampilkan foto anak-anak panti sebagai wallpaper. Ada mendung yang kini bergelayut di manik mata yang mulai menua itu. Sepertinya keresahan baru saja datang bertamu ke dalam pikirannya.
"Ada apa, Bu?" tanya Lintang pelan, seraya mengusap lengan wanita yang sudah seperti ibunya sendiri itu.
Buk Rima menggeleng pelan, seraya mengulas senyum tipis, tangannya meraba layar ponsel dengan jemari sedikit bergetar. Lintang mengenal gestur tersebut. Wanita yang sudah seperti ibu kandungnya itu sedang gundah memikirkan sesuatu, dan dia yakin ini ada hubungannya dengan anak-anak panti. Sebuah prasangka segera mengambil tempat di kepala Lintang, tetapi segera dia mengusirnya, tak ingin memikirkan hal yang belum tentu terjadi.
"Ada apa, Buk? Cerita sama Lintang," pinta wanita itu sambil menuntun Buk Rima duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu.
Buk Rima menganjur napas perlahan, seraya menatap Lintang lekat. Ada ragu yang menyelimuti selaput matanya yang telah menua. Beberapa kali mulutnya seperti ingin bergerak, tetapi lidahnya seolah kelu.
"Buk, kalau ibu ngga ngomong, Lintang ngga tau ada masalah apa. Mungkin aku bisa bantu."
Lintang berusaha menyakinkan. Tangannya menggenggam erat kesepuluh jemari yang telah berkeriput itu.
"Tadi yang nelpon Pak Handoko. Beliau mengatakan kalau ...." Buk Rima sekali lagi menatap ragu ke arah Lintang yang menunggu jawaban darinya.
"Papa kenapa, Buk?" desak Lintang. Wanita itu yakin apa yang dibicarakan di telpon tadi ada hubungan dengan dirinya.
"Beliau mengatakan agar kamu berhenti memikirkan Gayatri. Sampai kapan pun Gayatri akan tinggal bersamanya. Jika, kamu nekat, dia akan melakukan sesuatu, Nak."
Gemetar suara Buk Rima kala mengatakan rangkaian kata tersebut. Perlahan air turun dari kelopak matanya yang mengendur. Dia merengkuh bahu Lintang dan mengusapnya perlahan.
Lintang hanya diam tanpa ekspresi mendengar ucapan Buk Rima. Matanya menatap foto anak-anak panti yang tergantung rapi di dinding ruang tamu, sementara Buk Rima masih terus mengusap bahunya dengan isak tertahan.
Tbc