Tiga bulan lalu... "Maafkan aku Jas..." ucap Joe lirih. Di hadapannya Jasmine tetap menegakkan tubuhnya. Meski begitu Joe tahu seberapa hancur hati istrinya itu. Namun nasi telah menjadi bubur. Dan ia tak bisa hidup dalam kebohongan. "Mengapa?" tanya Jasmine dengan suara bergetar. Untunglah Juan tetap tertidur lelap di dalam pelukannya. "Aku tidak bisa menjawabnya." Jasmine memejamkan kedua matanya bersamaan dengan cairan kristal bening yang mengalir di atas kedua pipinya. Sarapan pagi yang seharusnya hangat berubah menjadi dingin. "Aku sangat mempercayaimu, tapi inikah balasannya?" Joe mendesah. "Jas, apa kamu lupa jika sejak awal aku menolak keras ide gilamu itu?" "Itu karena aku mempercayaimu! Aku percaya kamu adalah pria yang setia! Tapi nyatanya bullshit! Kamu sama saja denga

