"Menikahlah denganku."
Bibir Rose sedikit terbuka. Pandangan matanya lurus menatap wajah Glenn yang sedang memandangnya dengan wajah serius. Detak jantung di dalam dadanya mulai tidak beraturan. Bukan merasa riang dengan pendengarannya, tapi karena merasa terkejut dengan dua kata yang memiliki efek dahsyat.
Tiba-tiba Glenn tertawa besar. Membuat kening Rose bertautan. Tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi sekarang.
"Kamu terlihat serius sekali! Aku...tidak bisa menahan tawaku lebih lama lagi," kata Glenn di sela-sela tawanya.
Menyadari apa yang sedang terjadi, perlahan amarah mulai memenuhi d**a Rose dan siap meledak kapan saja seperti gunung merapi yang siap meletus.
"Glenn!! Berani-beraninya kamu mengerjaiku!" pekik Rose sambil menatap sinis ke arah Glenn. Meski ia marah tapi tak dapat berbuat apa-apa karena tidak ingin menjadi pusat perhatian di kafe ini. Namun dalam hati Rose telah berjanji akan membalas perbuatan Glenn nanti setelah makan malam ini selesai.
"Habis kamu tampak sedih malam ini," ucap Glenn setelah tawanya reda. "Ada apa memangnya?"
"Eh? A-aku tidak sedih," elak Rose.
"Jawab saja sejujurnya Rose. Tak usah menutupinya dariku. Aku ini bukan laki-laki yang baru mengenalmu kemarin. Aku sudah mengenalmu sejak dadamu rata," kata Glenn tidak peduli dengan reaksi yang diberikan Rose atas ucapannya.
"A-apa!? Apa hubungannya dengan dadaku. Dasar laki-laki tua m***m!" umpat Rose.
Glenn tertawa puas. Berhasil membuat Rose yang dikenalnya kembali. "Laki-laki tua? Kita hanya berbeda tiga tahun," bela Glenn sambil mengangkat tiga jemarinya pada Rose.
"Tetap saja kau lebih tua dariku," bantah Rose sambil menekan kata tua di dalam ucapannya. Kemudian menjulurkan lidahnya pada Glenn.
Baru saja Glenn hendak balas mengejek, sayangnya waitress telah datang sambil membawa hidangan yang telah mereka pesan. Rose memandang makanan yang tampak menggiurkan itu dengan mata berbinar. Dan di dalam hati ia bersyukur atas kehadiran Glenn saat ini. Setidaknya laki-laki itu berhasil membuat dirinya melupakan sebuah perasaan yang sempat hadir di dalam dadanya tadi. Berharap perasaan yang tadi dirasakannya hanyalah sebuah rasa rindu akan kebersamaannya dengan seorang laki-laki. Sepertinya ia harus segera mencari pacar! Karena faktanya Rose sudah terlalu lama menjomblo!
Setelah makan malam berakhir, Glenn mengantar Rose pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Meski sebenarnya tanpa perlu diantar Rose mampu melakukannya sendiri. Toh rumah mereka berseberangan. Glenn saja yang terlalu berlebihan! Pikir Rose.
"Thank you buat dinner-nya," ucap Rose tulus.
"Your welcome."
"Aku masuk dulu," kata Rose, hendak membalikkan tubuhnya.
"Tunggu," cegah Glenn.
Dengan pandangan bingung Rose memandang Glenn yang sedang merogoh saku jaketnya. Detik berikutnya sebuah kotak putih sebesar telapak tangan dengan pita putih yang membungkusnya berada di tangannya.
"Untukmu."
Rose memandang wajah Glenn dengan mata berbinar? Glenn memberikannya hadiah? Memang bukan hal aneh, tiap tahun laki-laki itu selalu memberikan hadiah. Hanya saja hadiah yang diberikannya aneh-aneh. Seperti tahun lalu, kebetulan Rose sedang sakit punggung dan Glenn memberikan hadiah alat pijat. Meski Rose sempat jengkel tapi syukurlah alat pijat itu berhasil membuat rasa sakit pada punggungnya menghilang. Dan kali ini dengan kado semanis ini, sungguh bukan Glenn sama sekali!
Rose memicingkan matanya. "Apa kepalamu terbentur sebelum kita bertemu? Dan apa kamu yakin kado itu untukku?" tanyanya hati-hati.
Yang ditanya tergelak. "Tentu saja. Jika bukan untukmu, kenapa aku sodorkan padamu?"
"Karena ini bukan sepertimu. Kamu ingat, tahun lalu kamu memberiku alat pijat, tahun sebelumnya lagi kamu memberikanku alat penggaruk dan..."
"Okay! Hentikan. Mungkin hadiahku terlalu berharga sampai kamu bisa mengingatnya tapi tahun ini aku ingin memberikanmu sesuatu yang berbeda."
"Bukan karena kadoku tertukar dengan milik pacarmu?" tanya Rose penuh selidik.
Lagi-lagi Glenn tertawa. "Bukan Rose." Ia meraih tangn gadis itu dan meletakkannya diatas telapak tangannya. "Ambillah dan segera masuk ke dalam."
Rose memandang Glenn dalam diam sebelum akhirnya menghela nafasnya. "Okay and thank you."
"Your welcome Rose."
Setelah membersihkan diri Rose memandang dua hadiah yang diterimanya hari ini. Perlahan ia meraih paper bag pemberian Joe. Terdapat sebuah kotak soft pink di dalamnya. Senyum mengembang diwajahnya. Bagaimana bisa Joe berpikir untuk memberikannya Bvlgari Rose Essentielle? Rose, sesuai dengan namanya. Mengingat hal itu membuat hati Rose menghangat. Tapi ketika sosok Jasmine muncul dalam pikirannya, cepat-cepat ditepisnya perasaan itu.
Kemudian ia berpaling pada sebuah kotak abu-abu pemberian Glenn. Ia meraih dan membukanya. Dalam hati ia bertanya-tanya kado apa yang diberikan Glenn kali ini. Bukan batu akik kan? Tebaknya dalam hati. Ketika ia berhasil membukanya, kali ink Rose dibuat kagum oleh Glenn. Di dalam sana sebuah gelang mutiara tampak menggoda untuk dikenakan. Dengan sebuah gantungan berbentuk mawar berwarna putih seperti perak pada ujungnya.
Rose meraihnya dan menyentuh pelan setiap mutiara tersebut. Dua kata yang tepat untuk menggambarkan keindahan gelang itu. Sangat cantik. Seleranya tidak buruk, pikir Rose sambil tersenyum tipis. Sepertinya kali ini harus berterima kasih pada Glenn.
***
Meski hari terus berganti kenyataannya hati Rose belum dapat memilih satu pria yang tepat untuk memiliki hatinya. Sudah dua kali ia mencoba berhubungan dengan laki-laki. Tapi saat ia pulang ke rumah dan memandang botol parfum itu, hatinya kembali menghangat. Dan itu terjadi karena sebuah botol parfum! Aneh bukan?
Rose menghembuskan nafas beratnya. Tiba-tiba dering ponsel yang berada di atas mejanya membuat dirinya tersentak kembali pada kenyataan. Diraihnya ponsel tersebut tanpa melihat siapa gerangan yang menghubunginya.
"Halo," sapa Rose.
"Halo Rose," sapa suara di seberang sana yang dalam detik itu juga berhasil membuat Rose menegakkan tubuhnya. "Aku Joe."
"I-iya. Ada apa Joe?" Rasanya hati kecilnya bersorak mendengar suara berat ini.
"Apakah kamu bisa bantu aku?"
Kening Rose bertautan. "Tentu saja. Apa yang bisa kubantu?"
"Bisakah kamu membantuku menyiapkan perjalanan menuju Lombok? Aku ingin berbulan madu untuk kedua kalinya dengan Jasmine," kata Joe ceria.
Berbanding dengan Joe, hati Rose mendadak dipenuhi dengan awan hitam. Tak ada lagi senyum yang mengembang di bibirnya. Tak ada lagi debar jantung kebahagiaan saat mendengar suara Joe. Yang tersisa hanyalah rasa sakit yang mulai menyiksa hatinya. Sadarlah Rose, batinnya mengingatkan.
***