8

1224 Kata
"Paket bulan madu?" "Iya. Joe mengajakku berbulan madu untuk yang kedua kali," ujar Jasmine riang di seberang sana. Beberapa menit yang lalu Jasmine mengubungi ponselnya. "Dia suami yang baik, Rose. Nilai 10 rasanya tidam cukup kuberikan untuknya. Apalagi dia harus menerima kekuranganku..." Rose terdiam. Ucapan Jasmine sukses menyayat hatinya. Dari ucapan Jasmine, bisa diketahui jika saudari kembarnya itu masih belum bisa menerima kenyataan baru di dalam dirinya. Ya, Rose mengerti akan hal itu. Tidaklah mudah menerima kenyataan tersebut. Perempuan mana yang bisa dengan mudahnya menerima dengan lapang d**a jika saat ini dirinya bagaikan malaikat tanpa sayap. Meski begitu Rose kagum akan Jasmine. Dia mampu melewati semua itu hingga detik ini. Selain itu Rose bersyukur jika Jasmine memiliki suami yang amat sangat baik seperti Jonathan. Pria itu patut diberi penghargaan dengan label suami terbaik. "Jadi ke mana tujuan kalian kali ini? Aku akan dengan senang hati menyiapkannya," kata Rose mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bangka belitung," sahut Jasmine bersemangat. "Aku yakin pantai di Bangka tidak kalah indah dengan pantai-pantai di Bali." "Tentu saja! Kalian mau menginap di hotel apa dan kapan? Aku akan menyiapkan semuanya untuk kalian." "Umm..bisa tolong kamu carikan untukku? Rencananya kami akan berangkat 2 minggu lagi," jelas Jasmine. "Okay! Kamu tenang saja. Semuanya akan aku persiapkan dengan sempurna. Supaya bulan madumu berjalan dengan lancar dan lebih romantis dari pada sebelumnya!" "Thanks Rose! Aku mengandalkanmu," sahut Jasmine yang kembali terdengar ceria. Dalam hati Rose menarik napas lega. Ia tidak ingin Jasmine terus terpuruk pada kekurangannya. Toh di dunia ini banyak perempuan hebat yang bertahan tanpa rahim. Mereka terus memotivasi diri mereka dengan melakukan kegiatan sosial kepada anak-anak yatim piatu. Menjadikan mereka seperti anak kandung. Dan Rose berharap Jasmine akan sekuat mereka. Terutama dengan Joe yang berada di sisinya. "Mama bersyukur Jasmine memiliki Joe," kata mama saat mereka sedang makan malam bersama. "Dia mau menerima Jasmine apa adanya. Padahal di zaman sekarang ini banyak pria tidak setia." Rose mengangguk setuju sambil mengunyah daging di dalam mulutnya. Asem daging buncis buatan mama memang yang paling terenak. "Pokoknya, mulai sekarang jangan pernah membahas kekurangannya di depan Jasmine. Demi kebaikannya." "Mama setuju. Tapi..." Mama terdiam sejenak. Kemudian mengangkat wajahnya dan memandang Rose yang duduk di seberangnya. "Mama khawatir. Bagaimana jika suatu hari nanti Joe bosan? Bagaimanapun hati kecilnya pasti ingin menjadi seorang ayah." Kunyahan Rose terhenti. Ia menelan daging di dalam mulutnya dengan paksa. Ia tidak heran jika mamanya memiliki kekhawatiran seperti itu. Sejujurnya ia sendiri pun takut. Takut jika suatu hari nanti Jasmine kembali terluka karena Joe. Hanya saja Rose terus mencoba untuk berpikir positif. Cinta tidak akan memudar dalam waktu cepat bukan? Bahkan hujan saja butuh waktu yang lama untuk memudarkan cat pagar rumah. "Mama jangan khawatir. Jika hal itu sampai terjadi. Aku akan melindungi Jasmine. Apapun yang terjadi..." Rose meraih tangan mama dan meremasnya pelan diiringi senyum tipis di bibirnya. Memastikan mama jika semuanya akan baik-baik saja. Dan dalam hati ia berdoa hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Kekhawatiran mereka hanyalah ilusi. "Aku akan melakukan apapun supaya Jasmine tidak menitikkan air mata lagi," janjinya. *** Jasmine memandang wajah suaminya dari balik air mata yang berada dipelupuk matanya.  Perjalanan bulan madu yang diharapkannya akan berjalan dengan baik, nyatanya gagal total. Permintaan dari mertuanya berubah menjadi beban seakan ada dua batu besar sedang menimpa bahunya. "Jas, aku mohon jangan seperti ini..." pinta Joe saat melihat istrinya terus menutup kedua telinganya. "Aku juga tidak ingin seperti ini, tapi suara itu terus terdengar," ucap Jasmine lirih. "Kita harus cari cara supaya kamu tetap punya keturunan, darah dagingmu sendiri!" lanjutnya sambil memegang kedua sisi lengan suaminya. Joe tersenyum lembut. Berusaha menenangkan istrinya. "Tentu. Kita bisa melakukan adopsi. Kita bisa mengatakannya kepada kedua orang tua kita jika anak itu adalah anak kita, darah daging kita. Bagaimana?" "Tidak!" pekik Jasmine. "Itu tidak akan berhasil. Bagaimana kalau mereka tahu anak itu bukanlah anakmu. Aku tidak setuju. Kita harus cari cara lain!" Air mata mulai mengalir deras di kedua pipi Jasmine. Hatinya terasa sakit. Rasanya seperti ada sebilah pedang sedang menusuk dadanya kuat-kuat tanpa belas kasihan. Sungguh Joe tidak tega melihat semua ini. Rasa sakit yang dirasakan oleh Jasmine juga terasa olehnya. Perlahan ia menghampiri istrinya yang menangis dan memeluknya erat. "Tenanglah Jas, Tuhan pasti akan memberi kita jalan," bisiknya lembut sembari mengusap rambut istrinya. Perkataan yang sebenarnya juga ditujukan untuk dirinya sendiri. Untuk meyakinkan dirinya sendiri jika suatu hari nanti ada jalan keluar untuk mereka. Entah berapa lama mereka berpelukan hingga akhirnya tangisan Jasmine tak terdengar lagi. Dilihatnya sosok istrinya itu jatuh terlelap. Joe menarik tipis sudut bibirnya. Ia begitu mencintai perempuan yang berada dalam pelukannya. Bahkan tanpa kehadiran anak pun Joe tidak peduli. Asalkan Jasmine terus berada disisinya itu sudah cukup untuknya. Karena ia membutuhkan Jasmine untuk tetap melanjutkan hidupnya. Keesokan harinya, Jasmine terbangun dari tidurnya dalam pelukan suaminya. Ketika ia membuka matanya, pemandangan pertama yang ditemukannya wajah tampan Joe yang masih terlelap. Hati kecilnya yakin jika suaminya itu merasa lelah akibat semalam. Malam panjang yang membuat keduanya mempunyai rasa saling memiliki dan saling membutuhkan. Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka. "Pagi," sapa Jasmine hampir tanpa suara. "Pagi. Bagaimana perasaanmu?" "Better." Senyum tampak di bibir Jasmine. Ia memajukan wajahnya ke dalam lekukan leher suaminya. Mencari kenyamanan di dalam sana. Begitu juga dengan Joe yang menikmati kebersamaan mereka. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun rencana yang akan dilakukan bersama dengan istrinya hari ini. Karena sejak mereka tiba kemarin, mereka belum sempat ke luar dari hotel. Mungkin perjalanan ke Gili Kedis, pulau tak berpenghuni yang terletak di pesisir pantai barat daya pulau Lombok ini mampu membangkitkan suasana romantis diantara mereka, pikir Joe. Membayangkannya saja sudah berhasil membuat Joe tersenyum tipis. "Joe," panggil Jasmine yang masih berada dalam dekapannya. "Hmmm..." gumam Joe. "Aku sudah berpikir dan menemukan jalan keluar dari masalah kita. Tapi sebelum aku memberitahumu, maukah berjanji padaku untuk melakukannya?" tanya Jasmine sambil mengangkat wajahnya dan bertemu dengan manik cokelat milik Joe. "Bisa kita bicarakan hal ini nanti? Ini bulan madu kedua kita, sayang. Tapi kamu terus membicarakan hal-hal yang tidak sepantasnya kamu ucapkan dalam bulan madu ini." Jasmine tersenyum kecil. Benar kata Joe. Sejak mereka tiba, permintaan mertuanya yang mengharapkan cucu lahir dari rahimnya sendiri terus menjadi beban bagi Jasmine. Sehingga membuat dirinya merasa tidak nyaman hingga akhirnya semalam Jasmine tidak mampu lagi menahan semuanya. Setelah mertuanya tahu akan penyakit yang dialaminya dan histerektoktomi yang dilakukannya, kedua orang tua Joe, secara diam-diam telah meminta Jasmine untuk bercerai dan membiarkan Joe menikah dengan perempuan pilihan mereka. Hal ini terus mengusik hati Jasmine. Bahkan ketika ia mendengar permintaan kedua orang tua itu, seketika Jasmine merasa jika dirinya baru saja ditenggelamkan ke dalam lautan yang dalam dan dingin seorang diri. Tak ada satu pun yang tahu hingga akhirnya ia tenggelam dan mati. Seperti itulah gambaran dirinya saat ini. Namun sayangnya atas permintaan kedua orang tua Joe, Jasmine tak mampu mengatakannya kepada suaminya sendiri. Dan ini membuat Jasmine tertekan. Hingga sebuah ide muncul di dalam kepalanya. "Aku tidak akan membahasnya lagi asal kamu berjanji," kata Jasmine tegas. Joe menarik nafas panjang. "Baiklah. Aku berjanji. Tapi apakah jalan keluar yang ada di dalam kepalamu ini?" tanya Joe dengan senyum lembut. Berbeda dengan Joe, butuh kekuatan besar bagi Jasmine untuk mengatakannya. Tapi ia yakin inilah satu-satunya jalan yang dia punya agar tetap bersama dengan suaminya. Jasmine menelan salivanya dengan sulit. "Aku memang tidak bisa memberikan anak dalam keluarga kita ini. Tapi, aku yakin jika Rose bisa memberimu seorang anak." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN