10

1329 Kata
"Itu ide yang buruk. Bukan. Itu adalah ide yang gila, Jas." Kening Rose bertautan sambil memandang kedua mata Jasmine lekat-lekat. "Bagaimana bisa pikiran seperti itu ada di dalam kepalamu?" lanjutnya dengan nada sedikit meninggi. Emosi mulai memenuhi Rose. Permintaan yang diberikan oleh Jasmine sungguh keterlaluan dan sangat tidak masuk akal. "Bu-bukan seperti itu Rose. Aku... aku bisa menjelaskannya," jawab Jasmine tergagap. "Aku nggak butuh penjelasanmu. Hanya saja, jangan pernah mengatakannya lagi. Lagipula apa yang akan mama lakukan jika ia sampai tau hal ini!?" "Ja-jangan beritahu mama Rose. Aku mohon..." Air mata telah menetes diatas pipi Jasmine. Membuat amarah di dalam diri Rose mereda. Katakanlah ia sedikit keterlaluan. Mengapa ia tidak membiarkan Jasmine menjelaskannya lebih dahulu daripada mengeluarkan emosinya seperti ini? Tapi, di sisi lain permintaan Jasmine sangat keterlaluan. Dan Rose benar-benar kecewa akan Jasmine. "Baiklah." Rose bersedekap dengan tatapan lurus menatap kedua manik Jasmine. "Aku tidak akan memberitahu mama. Hanya saja, aku tidak mengerti mengapa ide buruk itu ada di dalam kepalamu? Apa kamu sadar dengan ucapanmu itu? Kamu seperti bukan Jasmine yang aku kenal." Rose memegang keningnya yang tiba-tiba terasa sakit. Untuk beberapa saat Jasmine terdiam. Ia sudah menduga jika Rose akan bereaksi seperti ini. Meski begitu, dia siap. Siap menerima amarah Rose. Hanya saja dia tidak menduga jika Rose akan semarah ini. Padahal ide ini sudah dipikirkannya sematang mungkin yang memungkin dirinya memiliki masa depan yang cerah bersama keluarga kecilnya. Katakanlah Jasmine egois. Tapi ia terpaksa melakukannya. Ia tidak ingin mengecewakan keluarga Joe yang tidak mengetahui perihal operasi pengangkatan rahimnya. Juga, ia tidak ingin kehilangan Joe. Pria yang sangat dicintainya. "Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya Rose. Please..." mohon Jasmine sekali lagi. Rose memandang Jasmine sebentar sebelum akhirnya mendesah. "Aku akan mendengar penjelasanmu. Hanya saja jangan pernah berpikir jika aku akan melakukan keinginanmu yang gila itu. Mengerti?" "Aku mengerti," jawab Jasmine layaknya seorang siswi yang sedang tertangkap basah sedang menyontek. "Boleh aku memulainya?" Rose menganggukkan kepalanya sekali dan membiarkan Jasmine menjelaskan semuanya. Dimulai dari keinginan mertuanya yang menginginkankan keberadaan seorang cucu. Apalagi Joe adalah anak tunggal. Tentu saja orang tua seperti mereka menginginkan generasi penerus. Maka Jasmine terus memutar otaknya untuk mencari cara supaya Joe memiliki keturunan. Hingga akhirnya terbesitlah sebuah ide di dalam kepalanya. Ide gila yang membuat saudari kembarnya marah saat ini. "Aku mengerti," ucap Rose setelah mendengar penjelasan Jasmine. "Hanya saja, maafkan aku Jas. Aku tidak bisa membantumu kali ini," lanjutnya dengan pandangan iba. Jujur ia tidak tega melihat raut wajah penuh kesedihan Jasmine. Tapi apa daya, ide gila itu... benar-benar gila. Apalagi sampai membohongi kedua orang tua Jonathaan. Rose tidak akan melakukannya walaupun dia telah berjanji pada mama untuk tidak membuat Jasmine menangis. "Baiklah. Salahku telah memiliki ide yang tidak masuk akal seperti itu," gumamnya diiringi tawa hambar. "Maafkan aku Rose..." Suasana mendadak hening. Perlahan Rose melangkag turun dari tempatnya dan berjalan mendekati Jasmine. Kemudian memeluk saudari kembarnya dengan erat. "Maafkan aku juga. Kamu tahu kan aku sangat menyayangimu, hm?" Rose dapat merasakan sebuah anggukan sekali dari balik bahunya. "Karena aku sangat menyayangimulah makanya aku tidak ingin melakukan ide gilamu itu. Pikirkan ucapanku baik-baik. Apa yang akan terjadi bilamana kedua orang tua Joe mengetahui kebohonganmu?" Selesai mengucapkannya Rose melepaskan pelukan diantara mereka. Mengulas sebuah senyum tipis yang dibalas oleh Jasmine. Meski ia tidak yakin jika saat itu Jasmine benar-benar tersenyum untuk dirinya atau bukan? Satu hal yang pasti ia berharap Jasmine berubah pikiran dan memiliki jalan keluar yang lain. Bukankah banyak jalan menuju Roma? *** Tamu yang sedang berdiri di hadapan Rose sukses membuat perempuan itu terkejut. "Glenn?" panggilnya. "Yup. It's me Glenn. Bukan kembarannya atau hantunya." Selesai menjawab pria itu langsung masuk ke dalam rumahnya sambil melewati tubuh Rose. "Sepertinya aku tidak mengundangmu ke rumahku malam ini. Lagipula, kok tumben kamu ada di Bogor weekend kali ini?" tanya Rose heran sambil mengikuti jejak Glenn di belakangnya. Sepengetahuannya mengenal Glenn Aditya, pria itu selalu memiliki jadwal padat pada weekend seperti sekarang ini. Teman-teman kantor seperti ucapannya itu selalu sukses menyita waktunya di ibukota sehingga membuat pria itu sedikit kesulitan untuk pulang ke rumahnya di Bogor. Well, meski Rose tidak yakin dengan alibi pria itu. Secara sudah berapa kali Rose mencoba menghubungi Glenn pada weekend selalu berakhir dengan suara wanita yang menjawab ponsel pria itu. Sebenarnya Rose tidak akan terkejut bila Glenn mengaku bila dia sedang menjalin hubungan dengan perempuan. Apalagi dengan fisiknya yang bila dinilai juri kemungkinan mendapatkan nilai delapan koma lima. Tapi pria itu selalu menyangkalnya. Membuat kecurigaan di dalam pikiran Rose muncul. Apa mungkin Glenn adalah seorang gay? Tiba-tiba saja langkah Glenn terhenti. Berhasil membuat Rose terkejut. Untunglah rem kakinya masih bagus sehingga ia tidak menabrak tubuh tegap Glenn. Kemudian memutar tubuhnya sehingga sekarang mereka berhadapan. "Kebetulan jadwalku malam ini kosong. Jadi aku memutuskan untuk pulang. Dan satu kebetulan lagi ketika Jasmine mengirimiku pesan jika dia mengajakku malam ini untuk pesta barbeque di rumahmu. Bagaimana? Aku sangat beruntung bukan?" sahutnya. Rose berdecak beberapa kali. "Pede sekali dirimu," katanya sambil berlalu. Tidak lupa menginjak kaki Glenn. Alhasil pria itu meringis kesakitan lalu menyusul Rose menuju taman belakang rumah. Di bawah langit malam yang cerah, sebuah meja taman yang terbuat dari kayu berbentuk persegi panjang telah tertata rapi. Dua buah botol minuman soda dengan empat gelas kaca berdiri tegak di atasnya. Di sisi kirinya Jasmine melambaikan sebelah tangannya yang bebas ke arah Glenn yang baru saja datang. Sebelah tangannya lagi sedang memegang beberapa tusuk sate yang akan dipanggangnya. "Hai...selamat malam! Aku tidak menyangka jika akan ada acara seperti ini untuk menyambut kedatanganku," ucap Glenn sesampainya di dekat Jasmine. "Geer! Tau rasa kamu nggak aku kasih makan," balas Jasmine. "Ayo duduk! Biar aku dan Rose yang bagian memanggang." Glenn terkekeh mendengarnya. Lalu ikut duduk bergabung dengan Joe yang sibuk dengan ponselnya. Bukan Glenn namanya jika hanya duduk diam. Maka, ia menyapa Joe dan berlanjut dengan satu obrolan ke obrolan lainnya yang hanya dimengerti oleh para pria. "Makasih ya Rose..." Rose mengangkat wajahnya bingung. "Untuk?" "Untuk semuanya. Semua yang sudah kamu lakukan untukku," jawab Jasmine sambil membalikkan sate. "Sudah kewajibanku sebagai saudari kembarmu. Jadi jangan sungkan." Rose menarik sebelah sudut bibirnya. "Mendengarmu bicara seperti itu membuatku merasa kamu bukan dirimu sendiri," lanjutnya lagi. Jasmine terdiam sesaat. Ucapan Rose menyentuh hatinya. Alangkah beruntung dirinya memiliki saudara seperti Rose. Bahkan di dalam ingatannya Rose selalu mengalah. Membiarkan dirinya mendapatkan apapun keinginannya. Menurut Jasmine, Rose itu bagaikan malaikat pelindungnya. Selalu ada dan melindungi. Padahal siapa yang lahir lebih dulu 8 menit? Jasmine. Tapi mengapa keadaan menjadi terbalik. Dirinyalah yang terlihat seperti seorang adik daripada seorang kakak? "Mikir apa?" tanya Rose sambil menyenggol sisi lengan Jasmine ketika ia menemukan saudari kembarnya itu sedang melamun. "Bukan apa-apa. Hanya masa lalu yang tiba-tiba saja melintas di dalam kepalaku." "Masa lalu yang mana?" Jasmine tampak berpikir. "Apa kamu ingat saat Giring dan teman-temannya mencoba ngisengin aku?" "Tentu saja aku ingat!" jawab Rose bersemangat. Ingatannya jatuh pada saat di mana Giring, anak laki-laki bertubuh tambun yang suka menjahili anak perempuan. Termasuk Jasmine di dalamnya. "Saat itu kamu sukses membalas kejahilannya dengan menyamar menjadi diriku dan saat Giring mencoba memberiku cacing, kamu lebih dulu melempari dia dengan sebotol cacing yang kamu kumpulin." "Ya, ya... aku ingat. Thanks buat Gleen yang udah ngebantu aku nyariin cacing di kebun rumahnya," imbuh Rose riang. "Jujur, aku sedikit bingung sama kalian." Jasmine mulai mengangkat beberapa sate yang telah matang. "Kalian dulu seperti kucing dan anjing ketika pertama kali bertemu. Lalu beberapa bulan kemudian, kalian bagaikan amplop dan perangko. Selalu bersama. Jika dipikir-pikir mengapa kalian tidak jadian saja? Jika kalian menikah, kalian akan memiliki anak dan mungkin..." Gerakan tangan Rose berhenti. Amarah mulai memenuhi dadanya. Namun, ia mencoba untuk bertahan. Ditolehlan kepalanya dan bertemu dengan manik cokelat Jasmine yang tampak polos dan bening. "Kami hanya berteman. Tidak lebih. Sekarang lebih baik kita siapkan satenya. Aku rasa para pria sudah lapar," kata Rose mencoba mengalihkan pembicaraan diantara mereka. Entah mengapa ia malas membahas hal ini dengan Jasmine. Hati kecilnya berkata jika ada sesuatu yang salah dengan Jasmine. Hanya saja ia berharap apa yang ada di dalam hati kecilnya itu salah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN