3

1321 Kata
Hidup yang awalnya tampak baik-baik saja,  dalam satu malam semuanya berubah. Di hadapannya sekarang, Jasmine yang awalnya tampak bahagia berubah menjadi penuh tangisan. Sehingga ikatan batin yang terjadi diantara mereka membuat Rose ikut menitikkan air mata. Perlahan ia memajukan tubuhnya dan memeluk erat tubuh kurus Jasmine yang duduk di atas tempat tidurnya. Setelah akhirnya Jasmine membuka kepahitan dalam pernikahannya, kenyataan yang harus diterimanya dengan lapang d**a. Sebuah fakta yang membuat setiap wanita merasa kehilangan kesempurnaannya. Layaknya seorang peri yang memiliki sayap namun tidak dapat mengepakkan sayapnya. Dengan penuh kasih sayang, Rose mengusap punggung Jasmine. Berharap usapan lembut yang diberikannya mampu memberikan ketenangan untuk batin Jasmine. "Maafkan aku, Jas. Aku tahu Tuhan pasti punya rencana besar untukmu dibalik semua ini," hibur Rose. Dibalik punggungnya, Rose dapat merasakan anggukan kepala Jasmine. Untunglah mama sedang menginap di rumah tantenya yang berada di Bandung. Sebab, Jasmine maupun Rose belum siap menceritakan segalanya kepada ibu mereka. Rose tahu bagaimana perasaan Jasmine saat ini. Hancur berkeping-keping sampai tidak bisa disatukan lagi. Jujur Rose sendiri masih tidak percaya dengan musibah yang baru saja di dengarnya. Tapi itulah saty fakra yang harus diterimanya. Beberapa menit yang lalu, Jasmine berkata dengan senyum kesedihan di wajahnya jika ia memiliki kanker serviks yang sudah mencapai stadium 1A. Dan hanya satu pengobatan yang dapat dilakukannya, yaitu histerektomi-operasi pengangkatan rahim. Rahim, kebanggaan para perempuan di dunia ini yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Dan saudara kembarnya harus kehilangan harta paling berharganya itu. Sakit rasanya d**a Rose saat mendengarnya. Namun, di sisi lain ia juga tidak mau kehilangan saudara kembarnya. Rose belum siap untuk itu. Ia masih menginginkan Jasmine berada bersamanya. "Aku harap kamu benar, Rose. Aku juga yakin ada makna yang indah dibalik semua ini," katanya sambil berusaha untuk tersenyum. Padahal Rose tahu seberapa besar usaha yang dilakukan Jasmine hanya untuk membuat sebuah senyuman. Membuat hati Rose teriris melihatnya. Entah mengapa Jasmine yang lemah lembut harus mengalami hal ini. Kenapa bukan dirinya saja yang kuat? Rose yakin, dirinya mampu melewati semua ini Rose tersenyum tipis. Mengiyakan dalam hati jika semuanya akan baik-baik saja. Sesuai dengan harapan perempuan kembar yang sedang saling menguatkan. *** Jonathan memandang istrinya yang sedang tidur terlelap di sisinya. Tadi ketika ia hendak memanggil istrinya yang sedang berada obegitu menyayat hatinya. Rahang Joe mengeras ketika mengingat kejadian di mana penyakit laknat itu ketahuan berdiam di dalam tubuh Jasmine. Wajah Joe menegang. Rahangnya mengeras. Meski begitu, ia berharap telinganya melakukan kesalahan. "Anda yakin dengan apa yang baru saja anda katakan, dok?" "Saya yakin sekali Pak Joe. Mendengar keluhan yang dikatakan istri anda. Saya usulkan jika anda dan istri anda melakukan pemeriksaan lebih lanjut," usul dokter wanita yang usianya diambang empat puluhan. "Bagaimana bila anda salah?" kata Joe ragu. Ia melirik istrinya yang pandangan matanya lurus ke depan. Joe sendiri tidak yakin jika roh Jasmine akan berada di sini setelah mendengar keputusan dokter. Seperti hakim yang baru saja memberikan hukuman mati kepada terdakwa. "Saya tidak mungkin salah. Gejala yang dialami Ibu Jasmine seperti rasa sakit setelah melakukan hubungan dan juga pendarahan yang menurutnya menstruasi berlebihan adalah ciri-ciri dari kanker serviks. Saya menganjurkan Ibu Jasmine untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk mengetahui sudah sejauh mana kanker ini menggerogoti tubuh istri anda." Akhirnya demi keselamatan Jasmine, Joe mengikuti semua prosedur yang berikan oleh sang dokter kandungan yang bernama Giselle. Dan setelah melakukan berbagai macam tes, dokter Giselle mengatakan jika Jasmine positif memiliki kanker serviks stadium 1A. Dan satu-satunya cara untuk mengatasinya dengan melakukan histerektomi. Saat itulah Jasmine sudah tidak kuasa menahan kesedihannya lagi. Impiannya menjadi seorang ibu telah kandas. Dengan hati-hati Joe mengangkat sebelah tangannya dan membelai lembut sisi wajah istrinya yang tertidur pulas. Seakan istrinya itu tidak sedang memiliki penyakit di dalam tubuhnya. "Meski tanpa rahim, aku akan tetap mencintaimu. Yang terpenting kamu tetap berada disisiku saja sudah cukup untukku," bisik Joe. Perlahan ia memajukan wajahnya dan mengecup lembut kening Jasmine sepenuh hatinya. *** Mama menatap putrinya dengan kesedihan yang mendalam. "Mengapa harus kamu, Jas? Kenapa bukan Mama saja yang sudah tua ini!?" seru Mama diiringi isak tangis yang lolos dari bibirnya. Tangan kanannya memukul d**a kirinya. Kecewa, pilu, sakit menjadi satu memenuhi hatinya. Saat ini adalah hari di mana Jasmine akan melakukan operasi histerektomi. Baik mama, Joe dan Rose sudah berada di rumah sakit untuk menunggu selama operasi berlangsung. "Jangan bilang begitu Ma. Jasmine cukup kuat untuk menghadapi semua ini," katanya yang terbaring lemah di atas brankar, yang kapan saja dapat membawanya ke dalam ruang operasi. "Aku yakin kamu bisa melewati ini, Jas. O iya, bentar lagi juga Glenn dateng. Dan katanya saat dia datang, dia mau lihat kamu tersenyum," ujar Rose menyemangati. Jasmine mengangguk lemah. "Pasti. Tenang aja, aku pasti akan keluar dengan senyum meski aku tidak sadarkan diri." Semuanya tertawa kecil mendengar candaan Jasmine meski sebenarnya hati mereka dipenuhi ketegangan. "Kamu akan baik-baik saja. Aku yakin itu. Kamu adalah perempuan kuat. Makanya aku jatuh cinta padamu." Giliran Joe yang berbicara pada Jasmine dengan jemari mereka yang bertautan. Jasmine tersipu malu. "Kamu terdengar seperti laki-laki yang sedang menyatakan cintanya," candanya. "Aku tidak peduli. Aku akan terus menyatakam perasaanku sampai kamu bosan." "Kamu tahu aku tidak pernah bosan mendengarnya," balas Jasmine. Tiba-tiba sebuah suara deheman membuat keduanya menoleh. "Jangan lupa ada kami di sini." Akhirnya mereka semua tertawa kecil. Sedikit mencairkan ketegangan diantara mereka. Sebuah ketukan pada pintu membuat semuanya menoleh ke arah pintu. Di ambang pintu, salah satu perawat memberitahukan jika sekarang adalah waktunya Jasmine melakukan operasi. Para perawat itu mulai mendorong brankar Jasmine, menuju ruang operasi yang berada di lantai dasar. Ketika pintu ruang operasi tertutup, lampu tanda operasi pun menyala. Dalam diam ketiga manusia itu duduk sambil berdoa dalam hati. Berharap operasinya berjalan dengan lancar sehingga Jasmine akan keluar dari ruang operasi dalam keadaan baik-baik saja, meski dirinya sebagai perempuan sudah tidak sempurna lagi. *** Rose menyandarkan kepalanya pada bahu Glenn. Selanjutnya ia menarik nafas panjang. Sedangkan Glenn hanya terdiam. Membiarkan gadis itu mengeluarkan ketegangan di dalam batinnya. "Syukurlah semuanya berjalan dengan lancar." ujar Rose membuka percakapan. "Kamu mengucap syukur tapi kenapa masih tegang begitu?" kata Glenn sambil menatap taman rumah sakit di bawah langit berwarna oranye yang menemani mereka. "Aku...aku khawatir jika Jasmine kehilangan kontrol dan terus berlarut dalam kesedihan. Karena ia tidak bisa menerima kenyataan baru yang mau tidak mau harus diterimanya." Tiba-tiba Glenn menyentil kening Rose. Membuat perempuan itu memekik pelan dan menarik kepalanya dari bahu laki-laki itu. Kemudian menatap jengkel wajah Glenn. Tapi bukannya minta maaf, laki-laki berkulit cokelat itu malahan memandangnya dengan marah. "Bodoh!" "A-apa? Mengapa kamu mengataiku bodoh?" "Karena kamu memang bodoh. Kamu tahu kenapa?" Rose menggelengkan kepalanya. "Karena kamu mengkhawatirkan keadaan Jasmine. Padahal yang lebih mengkhawatirkan adalah dirimu. Kamu tahu itu?" "Bagaimana bisa?" tanya Rose heran. Toh yang baru dioperasi itu Jasmine. Mengapa dirinya yang lebih mengkhawatirkan? "Karena sejak tadi aku belum melihat senyum di wajahmu. Sedangkan Jasmine sudah bisa tersenyum bersama suaminya di dalam kamarnya," jelas Glenn. Dan ucapan laki-laki itu kali ini sukses membuat Rose tertegun. "Dengarkan aku Rose, meski Jasmine tidak memiliki rahim lagi, tapi ia masih memiliki suami yang begitu mencintainya. Jadi aku rasa itu saja sudah cukup untuknya. Anak hanyalah pelengkap, titipan Tuhan. Namun jika tanpa cinta di dalamnya, aku rasa anak itu tidak akan bahagia." Ucapan Glenn benar-benar menyentuh hati Rose. Dan cukup melegakan hatinya. Rose tersenyum tipis. "Kamu benar. Aku yang salah. Terima kasih, Glenn."  Rose memandang Glenn dengan penuh ucapan terima kasih. "Tapi, aku tidak tahu jika kamu masih memiliki sisi bijak di dalam dirimu," ejeknya. Bukannya marah Glenn menarik sebelah sudur bibirnya. "Masih banyak hal yang tidak kamu tau tentangku. Ayo kita kembali melihat Jasmine! Aku rasa dia akan senang melihat senyum-mu itu. Dan jangan lupa kamu harus membayar biaya konsultasi." Mendengar ucapan Glenn, Rose tertawa. "Dasar tidak ikhlas!" protesnya sambil menjulurkan lidahnya lalu menarik Glenn untuk bertemu dengan Jasmine. Karena kekhawatiran yang sejak tadi mengganjal di dalam dadanya telah hilang. Benar apa yang dikatakan Glenn. Setidaknya kehadiran Joe yang begitu mencintainya pasti mampu memulihkan kesedihan Jasmine. Namun kenyataannya dugaan Rose kali ini salah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN