Syukurlah operasi Jasmine berjalan lancar. Meski awalnya sedikit sulit untuk perempuan itu, namun keberadaan Joe di sisinya berhasil menutupi kesedihan Jasmine yang perlahan berubah menjadi rasa syukur. Karena Tuhan telah memberikan suami yang baik dan setia seperti Jonathan.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tibalah hari di mana Rose dan Jasmine berulang tahun. Berulang kali notifikasi ponsel Rose bergetar dikarenakan pesan-pesan yang memenuhi ponselnya dengan ucapan selamat ulang tahun dari beberapa teman-temannya. Namun, ada sebuah pesan yang menarik perhatian Rose kala itu.
Dear Rose, happy birthday to you. Aku harap kamu akan selalu cantik dan kuat seperti bunga mawar. Penuh senyum dan cinta untukku. How about dinner with me tonight?
Glenn
Rose tersenyum kecil melihat pesan dari Glenn yang terdengar lebay menurutnya. Untunglah rayuan seperti itu tidak mempan baginya. Meski begitu ia senang karena Glenn masih mengingat ulang tahunnya. Dimana yang berarti ulang tahun Jasmine juga. Rose sendiri tidak lupa mengirimkan pesan singkat untuk Jasmine tepat jam 00.00 malam yang isinya mengucapkan selamat ulang tahun. Sebagai ganti kebiasaan yang selalu mereka lakukan sejak dulu. Meniup lilin bersamaan tepat jam 12 malam. Lalu mereka akan berpelukan dan mengucapkan selamat ulang tahun.
Dengan lincah jemari Rose membalas pesan tersebut yang langsung dibalas Glenn cepat dengan mengirimkan sebuah alamat restoran.
"Ada yang senyum-senyum sendiri nih," celetuk Amel yang baru saja masuk ke dalam ruko di mana cabang jasa tour mereka berada.
"Eh Amel! Kamu jadi makan siang apa?" Alih-alih menjawab Rose malahan balik bertanya.
"Aku jadi makan nasi timbel dan ayam goreng Bu Siti. Kamu sudah makan?" tanya Amel yang telah duduk di sisinya karena meja mereka memang bersisian.
Rose menggelengkan kepalanya dengan pandangan mata memelas. Akibat kliennya yang tiba-tiba membatalkan keinginannya untuk membooking kamar hotel, padahal Rose sudah membookingnya untuk klien tersebut. Sedikit membuat Rose harus kerja ekstra di jam makan siangnya.
"Ya sudah sana makan. Aku yang gantikan kamu."
"Yay!" seru Rose riang. Amel memang baik. Selalu membantunya sejak ia bekerja di tempat ini. "Terima kasih Amel darling!"
Amel mengangguk pelan. Sedangkan Rose mulai meraih dompet dan ponselnya lalu beranjak keluar. Ia berjalan menuju kafetaria yang tersedia di dekat komplek ruko tersebut. Ketika ia berjalan di sisi jalan, tiba-tiba sebuah mobil pajero hitam berhenti. Membuat kening Rose bertautan. Kaca hitam itu perlahan turun dan tampaklah Joe yang berada di belakang kemudi.
"Joe!?" seru Rose sedikit setelah melihat sosok yang dikenalnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Joe dari dalam mobil.
"Aku mau makan siang."
"Ayo masuk! Kebetulan aku juga mau makan."
"Baiklah."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rose melangkahkan kakinya dan langsung masuk ke dalam kursi penumpang.
"Kok kamu bisa ada di Bogor?" tanya Rose membuka pembicaraan.
"Tadi aku ada janji dengan seorang teman lama di restoran deket sini. Terus nggak sengaja lihat kamu," sahut Jonathan.
Rose mengangguk mengerti. "Pantas aku nggak lihat Jasmine bersamamu," gumamnya.
"Iya. Dia udah aku ajak. Tapi nggak mau. Katanya malas. Jadi ia lebih memilih diam di rumah," kata Joe sambil tertawa kecil yang menular pada Rose.
"Aku tidak terkejut." Jasmine memang perempuan yang lebih suka berdiam diri di rumah dan melakukan apa saja pekerjaan rumah daripada melakukan perjalanan jauh.
"By the way, kamu mau makan siang apa?" Rose memiringkan wajahnya dan memandang iparnya.
"Sebenarnya aku kepingin makan nasi timbel. Tapi setahu aku, Jasmine pernah bilang kamu nggak begitu suka. Jadi aku ikut aja pilihan kamu. Soalnya makanan apa aja aku suka, asal tidak pedas."
Joe terkekeh mendengarnya. "Bagaimana kalau kita makan soto mie? Udah lama aku nggak makan itu, lagipula bukankah Bogor terkenal karena soto mie nya yang bikin ketagihan?" ajaknya.
Rose tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Good idea. Aku tau tempatnya."
Joe tersenyum dan mengikuti instruksi Rose ketika perempuan itu memberitahukan arah jalannya. Tak lama kemudian, mereka pun tiba di sebuah kedai soto mie dengan pengunjung yang mulai memadati kedai ini karena jam makan siang.
Memesan soto mie ditengah keramaian seperti ini membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya. Mereka diminta untuk menunggu sejenak hingga ada meja kosong. Dapat dilihat dari sudut mata Rose jika ada beberapa pasang mata yang melirik ke arah Joe. Suami dari kembarannya itu memang terbilang tampan. Kacamata yang bertengger dihidungnya menambah kedewasaannya. Tubuhnya yang tinggi tegap meski tidak memiliki otot namun cukup gagah. Harus diakuinya jika Jasmine tidak salah memilih suami.
"Silahkan duduk dulu bu," tawar salah satu karyawan. "Ini kursi untuk istrinya," lanjutnya sambil menyodorkan sebuah bangku kepada Joe.
"Eh, saya bu..." Namun sebuah tangan mencegahnya. Pandangan mereka bertemu dan Joe langsung menggelengkan kepalanya. Mungkin hendak berkata tidak perlu dijelaskan.
Hingga akhirnya Rose menurut. Alhasil perkataan karyawan itu membuat Rose merasa malu karena dianggap sebagai istri dari Joe. Hati kecilnya ingin memberikan penjelasan kepada karyawan itu, jika dia bukan istri Joe. Tapi jika dipikir ulang, untuk apa toh belum tentu ia bertemu kembali dengan si mas ini.
Setelah menunggu lima menit, akhirnya mereka berhasil mendapatkan meja untuk mereka tempat. Akhirnya Rose yang sedikit kikuk akibat perkataan karyawan kedai hanya bisa diam sambil duduk berhadapan dengan suami dari kembarannya sambil sesekali melempar senyum ketika pandangan mata mereka bertemu.
"Oh iya, hari ini ulang Jasmine yang berarti ulang tahunmu juga, kan?" tanya Joe tiba-tiba.
"Itu benar." Rose mengangguk sekali.
"Well, selamat ulang tahun kalau begitu." Joe mengulurkan sebelah tangannya.
"Terima kasih," balas Rose sambil menyambut uluran tangan laki-laki itu.
"Kalau begitu biar aku yang membayar makan siang ini."
"Lho kok begitu? Bukankah seharusnya yang berulang tahunlah yang membayar makanannya?"
Joe tertawa. "Itu bukan masalah. Lagipula aku tidak biasa dibayari oleh perempuan. Mau ditaruh di mana harga diriku sebagai laki-laki jika sampai terjadi hal seperti itu?"
Mendengar alasan Joe membuat Rose tertawa. "Kalau begitu aku tidak akan sungkan."
Tak lama kemudian, dua mangkok soto mie dan dua botol teh sosro berada di hadapan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan sambil sesekali mengobrol disela-sela makan mereka.
Setelah selesai makan dan membayarnya, Rose dan Joe berjalan menuju mobil. Namun ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil, sebuah suara berat terdengar jelas ditelinga mereka.
"Joe!" Yang dipanggil menoleh dan sedetik kemudian senyum merekah di bibirnya.
"Herman!" ucapnya.
"Apa kabar lo?" tanya laki-laki bernama Herman.
"Baik. Lo sendiri?"
"Gue juga baik. Lo bisa lihat sendiri."
"Masih nerusin perusahaan bokap lo?"
"Nggak. Gue udah buka perusahaan sendiri. Masih kecil sih belum segede punya bokap," jelas Joe pada temannya.
"Alah..lo bilang kecil taunya udah bercabang."
Mendengar candaan Herman membuat Joe tertawa. "Lo masih buka kafe?"
"Masih. Tapi tumben lo ada di Bogor?" Pandangan matanya beralih pada sosok disisi Joe. "Istri lo?"
"Bukan," ujar Rose cepat.
Bibir Herman membulat. "Perasaan waktu lo menikah cewek ini yang ada bersama lo dipelaminan?"
"Wajahnya memang sama tapi saya bukan istrinya. Saya kembarannya," jelas Rose. Tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Ia menoleh kepada Joe yang hanya tersenyum tipis.
"I see. Pantas wajah kalian sama. Tapi kalian berdua terlihat cocok," kata Herman lagi. Yang akhirnya hanya dibalas senyum kaku di bibir Rose. Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu pada Joe yang sudah beristri? Dan jelas-jelas istrinya itu adalah kembaran Rose?
***