5

1419 Kata
Rose mencoba melirik Joe, ingin melihat reaksi apa yang dimiliki oleh laki-laki itu setelah mendengar ucapan temannya yang menurut Rose perlu dikasih pelajaran. Jengkel rasanya mendengar ucapan laki-laki tanpa rambut ini. Dapat dilihat dari sudut matanya wajah Joe yang datar. Namun detik berikutnya wajah tampannya itu tersenyum. "Tentu saja, kau lupa kalau mereka kembar," katanya dengan kedua alis terangkat dan senyum di bibirnya yang tipis. Sontak Herman tertawa besar, "Kau benar. Aku hanya bercanda denganmu." Ia menepuk sisi lengan Joe. "Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu. Perutku sudah lapar. Kalian?" Ada kelegaan di dalam hati Rose ketika mendengarnya. Syukurlah Joe dapat memberikan jawaban yang tepat. "Kami baru saja selesai makan." Bibir Herman membulat. "Lain kali kita makan bersama di pertemuan berikutnya. Tapi bawalah istrimu yang sebenarnya. Jangan kembarannya," kata Herman yang dibalas Joe dengan senyum sebelum akhirnya pamit dan melangkah masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Herman yang masih memandang kepergian mobilnya sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kedai. Di dalam mobil keduanya terdiam. Masing-masing larut dengan pikirannya sendiri setelah insiden yang baru saja terjadi. Mendadak perjalanan menuju tempat kerja Rose terasa dua kali lipat lebih jauh. Akhirnya setelah suasana mengheningkan cipta diantara mereka, Joe membuka suaranya. "Apakah jam makan siangmu sudah berakhir?" Rose menoleh dan setelah mendengar pertanyaan Joe langsung melirik jam tangan yang melingkari lengannya. "Belum. Aku masih ada sisa sedikit waktu." Senyum tipis terukir di bibir Joe. "Mau menemaniku membeli hadiah untuk Jasmine?" tawarnya. "Apa? Jangan bilang kau lupa membelikan hadiah untuknya!" seru Rose, sedikit terkejut. Bagaimana bisa Joe belum memberikan hadiah untuk Jasmine? Sungguh sulit dipercaya. "Hanya hadiahnya yang terlambat. Tapi aku jamin aku-lah orang pertama yang mengucapkan selamat padanya! Pekerjaanku akhir-akhir sangat menyita waktu," kata Joe bangga yang dijawab dengan anggukan kepala dan senyum dari bibir Rose. Ia tahu betul siapa yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun kepada Jasmine. Tapi, untuk menghormati Joe maka Rose memilih untuk diam. Setelah melewati sedikit kemacetan di jam makan siang, akhirnya mereka pun tiba di salah satu mall di kota Bogor. Mereka masuk ke dalam sebuah departemen store yang berada di dalam mall tersebut. Mereka berjalan beriringan sambil sesekali Joe mengusulkan hadiah yang menurutnya bagus untuk Jasmine. "Sepatu?" tanya Joe. "Bukan ide bagus. Jasmine lebih suka memilih sepatunya sendiri," jawab Rose sok tahu. "Okay," kata Joe mengerti. Mereka kembali berjalan. "Tas?" usulnya lagi. Rose menggeleng. Joe setuju dan kembali berjalan. Begitu banyak pilihan yang ditanyakan Joe. Namun Rose terus menggelengkan kepalanya. Hingga akhirnya pandangan matanya bertemu dengan botol-botol kaca berwarna-warni dengan berbagai design yang menarik. Tampak mewah dan elegan. "Bagaimana kalau parfum?" tawar Rose. Joe tampak berpikir sejenak. "Boleh juga idemu itu." Karena Joe tidak pernah membelikan parfum untuk Jasmine. Istrinya itu lebih suka memilih sendiri segala sesuatu yang berhubungan dengan make up dan segala hal mengenai fashion. Senyum puas mengembang di wajah Rose karena ia yakin Jasmine akan menyukainya. Mereka pun langsung melangkah mendekati meja kayu putih yang berderetan dengan beberapa etalase kaca dengan pajangan berbagai macam parfum. "Ada yang bisa dibantu, Pak? Mungkin kami bisa membantu memilihkan parfum untuk istri anda ini," tawar salah satu pelayan wanita dengan make up sedikit tebal menutut Rose. Mendengar kata-kata pelayan wanita itu, cepat-cepat Rose meralatnya. "Bukan. Saya bukan istrinya." Pelayan wanita itu menutup bibirnya dengan kedua tangannya. "Oh..maaf. Saya pikir anda suami istri," katanya malu. "Tidak apa-apa," jawab Joe santai sambil melirik Rose yang hanya tertawa hambar di sisinya. Tidak menyangka jika kejadian seperti akan terjadi untuk kedua kalinya dalam hari yang sama. Padahal menurut pendapatnya sendiri, tidak ada kecocokan dari mereka saat ini. Jika dilihat dari penampilan pun, Rose berpikir jika mereka lebih mirip atasan dan karyawannya. Lihat saja Joe yang tampak menawan dengan kemeja dark blue dan celana khakinya. Sedangkan dirinya hanya memakai blouse pink dan celana panjang hitam. "Kalau begitu ada yang bisa saya bantu?" Pertanyaan pelayan wanita itu menyadarkan Rose dari pikirannya sendiri. Joe memandang wajah Rose. "Kamu saja yang memilih. Aku tidak mahir dengan hal seperti ini." "Baiklah kalau begitu. Bisa tolong pilihkan parfum yang berhubungan dengan jasmine?" "Sebentar." Pelayan wanita itu mulai mencari dan memilihkan beberapa merk parfum yang diminta Rose. Tak lama kemudian, pelayawan wanita itu mengeluarkan beberapa pilihan botol parfum. Ada yang kotak berwarna putih, ada yang pink dan ada yang gold. Pandangan mata Rose tertuju pada botol parfum berwarna gold berbentuk seperti diamond. "Bagaimana dengan yang ini?" tanyanya pada Joe. "Bagus," jawabnya singkat. Secara Joe sendiri tidak mengerti apa pun mengenai parfum. Namun kali ini dia merasa tertarik dengan bentuk botolnya yang unik. Kecil seperti diamond namun berwarna gold. "Ini parfum terbaik yang kami miliki. Harumnya sangat menyegarkan. Diawali dengan aroma seperti nektar bunga yang menyegarkan dari bunga dan kayu, selain itu aroma Neroli bersama Amalfi Lemon dan juga Raspberry turut melangkapi aroma pada fase pertama. Secara perlahan akan muncul aroma Jasmine yang dipadukan dengan African Orange Flower serta Gardenia di fase pertengahan. Pada fase terakhir aroma Patchouli dan juga White Honey meninggalkan jejak yang menyenangkan," jelas pelayan wanita itu sambil memberikan sampel parfum pada sebuah kertas kecil berwarna putih. Perlahan Rose menghirup aroma parfum tersebut dan aroma menyegarkan mulai memenuhi paru-parunya. "Kita ambil yang ini saja ya, aku yakin Jasmine akan menyukainya. Bagaimana?" Joe memajukan wajahnya dan mulai menghirup aroma parfum pada kertas putih yang berada di tangan Rose. Tanpa mereka sadari wajah mereka berada begitu dekat. Membuat Rose harus menahan nafas ketika dapat menghirup aroma mint yang keluar dari tubuh laki-laki itu. Dalam diam Rose memperhatikan sisi wajah Joe tanpa mengedipkan wajahnya. Matanya yang teduh, garis hidungnya yang lurus, dan bibirnya yang terukir sempurna membuat Joe tampak tampan. Sungguh beruntung Jasmine bisa memiliki suami seperti Joe. "Kamu benar. Aromanya enak. Kalau begitu kami ambil yang ini," kata Joe kepada pelayan wanita itu yang langsung beranjak dari tempatnya untuk mempersiapkan parfum yang dimaksud. Dan ketika ia menoleh ke Rose, pandangan mata mereka bertemu. Ketika mendapati Rose yang tampak mematung, Joe memiringkan wajahnya. "Kamu baik-baik saja Rose?" "Eh?" Rose mengerjapkan kedua matanya beberapa kali sebelum akhirnya kembali memandang wajah Joe. "A-aku baik-baik saja. Aku lihat-lihat ke sana dulu!" katanya gugup dan langsung meninggalkan Joe yang sedikit kebingungan dengan sikap Rose. Rose melangkah pergi ke bagian make up. Sekali lagi ia mengerjapkan kedua matanya. Ketahuan sedang menatap Joe sukses membuat dirinya merasa malu. Untunglah Joe tidak curiga. Karena ia yakin jika saat ini wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus. "Sudah selesai. Ayo!" ajak sebuah suara yang berhasil mengejutkan Rose. "Su-sudah selesai?" tanyanya pelan. Masih berusaha menutupi rasa malu yang memenuhi dirinya. Joe mengangguk dan memamerkan sebuah kantong kertas berwarna putih yang dibawanya. "Syukurlah.." sahutnya lega. "Ayo kita pergi," ajaknya. "Syukurlah? Ada apa memangnya? Apa ada penguntit?" tanya Joe ketika mereka sedang berjalan ke lift untuk menuju lantai basement di mana Joe memarkirkan Pajero-nya tadi. "Bukan. Tidak ada penguntit, hanya saja aku takut atasanku tiba-tiba ke kantor sekarang," katanya kaku. "Begitu. Aku pikir ada apa sehingga kamu tampak khawatir begitu. Kalau nanti atasanmu memarahimu, biar aku yang menjelaskan." Rose tertawa hambar. "Tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja. Lagipula atasanku tidak sekejam yang kamu pikirkan." Joe melirik wajah Rose yang berjalan di sisinya sekilas sebelum akhirnya mengangguk dan berjalan menuju tempat di mana Pajero-nya terparkir manis. Tak lama kemudian, Pajero Joe terparkir tepat di depan kantor Rose. "Terima kasih untuk ajakan makan siangnya," kata Rose sambil melepaskan seat belt. "Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu telah membantuku memilihkan hadiah untuk Jasmine." Rose tersenyum tipis kemudian hendak membuka pintu mobil, namun panggilan Joe menahannya. Ia memutar tubuhnya dan menghadap laki-laki itu.Sedangkan Joe mengeluarkan sebuah paper bag ukuran kecil dari dalam kantung kertas yang tadi dibelinya. "Ini hadiah untukmu. Sekali lagi selamat ulang tahun Rose," ucap Joe sambil tersenyum tulus. Rose memandang paper bag itu lalu memandang wajah Joe dengan pandangan tidak percaya. Ia menelan salivanya dengan sulit sebelum akhirnya sebelah tangannya meraih paper bag tersebut. "Terima kasih," gumamnya. "Your welcome." Segera Rose membuka pintu mobil dan beranjak keluar tanpa menoleh pada Joe. Dan ketika ia tiba di dalam kantornya yang dibatasi dinding kaca, ia memutar tubuhnya dan memandang Pajero hitam tersebut yang mulai berjalan meninggalkan halaman parkir. Setelah mobil Joe menghilang dari pandangan, Rose mengangkat sebelah tangannya yang memegang paper bagà pemberian Joe. Detik berikutnya sebuah senyum terlukis di bibirnya. Jasmine tidak salah memilih suami sehingga Rose bisa bernapas lega. Sepertinya dia juga harus mencari seseorang yang akan menemani hari-harinya di masa datang. Seseorang yang tampan dan setia seperti... Joe? Tunggu, kenapa ia membandingkan kriteria pria yang diinginkannya dengan Joe? Rose menggeleng-gelengkan kepalanya. Ditepisnya pikiran itu cepat-cepat. Kemudian menarik napas panjang. Sebaiknya ia segera masuk dan kembali bekerja sebelum pikirannya semakin aneh. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN