Happy reading .... . . . Puas menangis, perlahan Gita mulai tenang. Al mengajak wanita itu untuk duduk. Ditatapnya wajah sang istri yang bersimbah air mata. "Ada apa?" tanya Al, lembut. Gita bingung harus menjawab apa. Ia tak ingin berbohong, tetapi dia juga tak mau kalau Al dan Kallan kembali berseteru. Terlebih pria itu juga bisa salah paham terhadapnya. "Kau terlihat ketakutan seperti melihat hantu saja," kata Al lagi. "Hantu?" "Hemm ...." Al mengedikkan bahu. Tiba-tiba terbersit ide di kepala Gita. Tentu saja, ia bisa menjadikan hantu sebagai alasan. "I—iya, Kak. Sepertinya rumah ini ada hantunya. Tadi, aku seperti diikuti saat naik tangga," dusta Gita, mengada-ada. Sejenak kening Al berkerut. Namun, kemudian ia tergelak dengan keras. "Sayang, kau jangan mengada-ada. Mana

