Part 01
"Kamu mau nunggu aku, kan?"
"Iya. Aku akan tunggu kamu kembali."
Sekelebat bayangan pemuda yang pernah menyemai bahagia di hatinya muncul. Tak lama kemudian, kata-kata sang ayah pun turut terngiang. Membuat segala pertahanannya seakan goyah.
"Gita, Papa sudah tua. Papa tidak bisa menjagamu lebih lama lagi. Lagi pula, banyak pria yang menyukaimu. Pilihlah salah satu yang baik. Jangan menunggu seseorang yang tidak pasti."
"Dia sudah janji sama Gita, Pa. Dia sedang mengejar cita-citanya. Setelah itu, dia pasti akan datang menemui Gita."
"Kalau memang dia sungguh-sungguh, setidaknya ia memberimu kabar. Bukan seperti ini. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi padanya saat ini. Siapa yang tahu kalau dia telah memiliki kekasih atau bahkan keluarga?"
Pikiran Gita kian berkecamuk. Memilih untuk setia pada ketidak pastian, atau mengikuti keinginan sang ayah demi sebuah kejelasan. Hatinya masih meyakini bahwa pemuda yang ia kenal di bangku SMA itu akan kembali. Namun, entah kapan, ia tidak pernah tahu. Di sisi lain, sang ayah yang beranjak senja, hanya punya satu keinginan, yakni menyaksikan anak perempuannya menikah dan bahagia.
"Lho, Git, belum pulang?" Sapaan bosnya menghempaskan segala lamunan Gita.
"Eh, iya, Bu. Ini selesaikan ini dulu," sahut Gita seraya menunjukkan sehelai kain yang tengah ia susun dengan payet.
Sebuah gaun pengantin pesanan seorang pelanggan itulah yang membuat Gita teringat akan permintaan sang ayah.
"Lanjut besok aja. Ini udah malem, lho." Alyta, sang atasan tak tega melihat Gita yang hanya sendiri di dalam workshop miliknya.
"Tapi, ini nanggung, Bu." Gita bersikukuh ingin menyelesaikan pekerjaannya.
Seharusnya tugas itu sudah selesai ia kerjakan. Namun, pikirannya yang melayang ke mana-mana, membuat semuanya terbengkalai. Gita hanya ingin bertanggung jawab atas kelalaiannya.
"Tidak apa-apa dilanjut besok saja. Lagi pula klien kita juga masih di luar negri. Katanya penerbangannya di tunda karena cuaca buruk. Jadi masih ada waktu sampai orangnya datang untuk melihat gaunnya," papar Alyta.
Ia tahu pasti Gita ingin menyelesaikan gaun tersebut malam itu juga. Karena, sebelumnya mereka sudah menjanjikan hari esok untuk dapat dilihat oleh sang pemesan.
"Oh, gitu, ya, Bu. Ya udah, deh, saya beresin aja dulu," timpal Gita, mengangguk paham.
"Udah, nanti aja. Ini udah malem, lho. Oh iya, kamu pulang naik apa?" Alyta membimbing Gita untuk keluar dari ruangan penuh dengan berbagai meterial berserat tersebut.
"Naik taksi, Bu."
Alyta pun mengangguk. Ia kemudian berjalan bersisian dengan gadis bernama lengkap Sagita Artamalisa tersebut. Bahkan, wanita yang tiga tahun lalu telah melahirkan seorang putri itu, tak segan menggandeng lengan bawahannya.
Gita tak mampu membantah kali ini. Ia mengikuti langkah Alyta, seraya mendengarkan apa saja yang sedang wanita itu bicarakan. Alyta banyak bercerita tentang putri kecilnya yang sudah banyak bicara dan ingin tahu segalanya.
"Wah, lucu sekali, ya, Bu. Saya jadi ingin bertemu dengan anak Ibu." Gita menyambut antusias akan cerita Alyta.
"Ya, kapan-kapan kau mainlah ke rumahku," ajak Alyta dengan semangat.
"Iya, Bu. Nanti saya atur, deh, waktunya."
Obrolan mereka pun terhenti, manakala sebuah mobil sport berwarna putih berhenti tepat di depan keduanya. Seorang lelaki berpakaian formal, nampak membuka kaca mobilnya. Ia memberi isyarat pada Alyta untuk masuk segera.
"Nanti dulu, Gita belum dapat taksi," kata Alyta, meminta pria itu menunggu sebentar.
"Gak apa-apa, Bu. Ibu pulang aja. Sebentar lagi juga pasti ada taksi, kok." Gita merasa sungkan kalau harus menahan bosnya tersebut.
Alyta menatap jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia pun merasa cemas bila membiarkan Gita menunggu taksi sendiri dengan suasana jalanan yang mulai sepi.
"Pulang bareng aja, yuk! Lagi pula kita searah," ajak Alyta.
"Jangan, Bu. Nanti merepotkan. Kan, rumah saya lebih jauh," tolak Gita, tak enak hati.
"Alamat kamu kelewatan, kok, sama adikku. Nanti biar dia antar kamu sekalian,"
"Adik?" Gita terlihat bingung.
"Iya, itu adikku. Kau kira siapa?" kekeh Alyta, melihat ekspresi bingung Gita.
Gita baru bekerja beberapa bulan di workshopnya Alyta. Sehingga ia belum tahu banyak tentang bosnya tersebut. Sebelumnya, ia mengira bahwa lelaki di dalam mobil itu adalah suaminya. Namun, rupanya tebakannya salah. Pria itu ternyata adiknya Alyta.
"Al, nanti sekalian anterin Gita pulang, ya? Kasihan dia gak dapat taksi," pinta Alyta pada sang adik, Shaki Alindra Dewantara.
"Ya sudah, ayo. Sudah malam," jawab Alindra dengan ekspresi yang sulit terbaca oleh Gita.
Alyta pun menarik pergelangan tangan Gita. Namun, Gita yang merasa tak enak hati, begitu enggan mengikuti atasannya tersebut.
"Gak usah, deh, Bu. Saya bisa pesan taksi online saja." Gita masih berusaha menolak.
"Gita, ini sudah malam. Jalanan juga sepi. Bagaimana kalau saat kamu menunggu taksi, tiba-tiba ada orang yang punya niat jahat?"
Gadis itu nampak kembali berpikir. Apa yang dikatakan wanita itu memang benar. Meskipun dia tidak membawa barang berharga, tapi orang jahat mana peduli dengan itu. Mereka bisa saja melukai fisiknya karena tidak bisa memberi apa yang mereka inginkan. Gita pun jadi bergidik ngeri. Ia pun akhirnya menerima ajakan Alyta.
Alindra yang memang sudah lelah bekerja, hanya mengantar kakaknya hingga gerbang rumahnya. Tanpa berniat untuk singgah sejenak, lelaki itu langsung berpamitan pulang.
"Kau pindah ke depan saja," pinta Alindra pada Sagita.
"Tidak usah, Kak. Di sini saja," tolak Gita, tak berani berdekatan dengan Al yang terlihat dingin di matanya.
Al pun berdecak kesal. "Kalau kau duduk di belakang, aku jadi seperti sopir," kata Al yang masih enggan melajukan mobilnya.
"Oh, iya, Kak. Saya pindah. Maaf."
Setelah gadis itu duduk di samping Al, pria itu segera mengendarai mobilnya. Memenuhi permintaan sang kakak untuk mengantarnya pulang dengan selamat. Tak ada obrolan yang berarti di antara keduanya. Mereka sama-sama terlihat canggung, karena baru pertama kali bertemu.
"Rumahmu di mana?" tanya Al.
"Di Griya Asri, Kak. Tapi gak usah masuk juga gak apa-apa. Berhenti di pos satpam saja." Gita tak ingin lebih merepotkan lagi dengan meminta pria itu mengantarnya sampai depan rumah.
Alindra tak menanggapi perkataan Gita, ia tetap berkendara dengan tenang. Nyatanya, Al justru memasuki kawasan komplek tempat tinggal Gita. Meskipun Gita sudah memintanya berhenti, Al malah menanyakan nomor rumah gadis itu.
"Makasih, ya, Kak. Udah nganterin sampe depan rumah. Maaf udah ngerepotin," ucap Gita sebelum turun dari mobil Al.
"It's ok ... Rumahmu bagus," sahut Al dengan pandangan meneliti pada rumah sederhana bergaya minimalis milik gadis berparas ayu tersebut.
Gita tersenyum mendengar pujian Al. "Mau mampir, Kak?" tanyanya berbasa-basi.
"Lain kali saja. Ini sudah larut malam."
Gita pun menganggukkan kepala. Namun, beberapa detik kemudian, ia nampak berpikir, apa maksudnya dengan lain kali? Apa pria itu benar-benar ingin mampir ke rumahnya? Dan ketika ia masih berusaha mencerna ucapan Al, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk kaca mobil Al.