"Papa?" gumam Gita, namun masih terdengar oleh Alindra.
Keduanya sama-sama keluar dari mobil untuk menghampiri lelaki baya yang disebut 'Papa' oleh Gita.
"Pa ...." Gita mengecup punggung tangan Papanya.
Selang beberapa detik, Al pun menghampiri dan menyapa, "Selamat malam, Om! Saya Al. Maaf mengantar Gita hingga larut."
"Selamat malam. Terima kasih sudah mengantar Gita. Om sempat khawatir saat Gita bilang mau lembur. Takut gak ada yang nganter pulang," ujar Pak Mario, papa Gita.
Al pun tersenyum dan berkata dengan sopan, "Sama-sama, Om. Kebetulan kita searah. Jadi sekalian saja."
Pak Mario menepuk bahu Al pelan. Sikapnya tersebut, tak luput dari perhatian Gita. Gita bisa melihat bahwa sang ayah terlihat senang dan menyukai Al. Namun, Gita tak ingin apa bila Papanya menaruh harapan pada lelaki yang baru saja ia temui satu jam yang lalu itu.
"Pa, sudah malam. Kak Al mungkin sudah ingin pulang buat istirahat." Gita mencoba melerai keakraban Papanya dengan Alindra.
"Ah, iya, Om ... Saya permisi dulu. Sudah larut malam. Selamat malam, Om ...." Al menjeda kalimatnya, sesaat menatap pada Gita yang nampak tertunduk. "Selamat malam, Gita," sambung Al, hingga membuat sang pemilik nama mendongak membalas tatapannya.
Gegas Gita mengajak papanya masuk ke rumah, setelah Al pergi tanpa mendengar balasan atas ucapannya.
"Jadi, namanya Al?" usil sang Papa, setelah Gita berhasil menutup pintu rumahnya.
"Papa, jangan mulai, deh ...." Gita memutar bola matanya, jengah.
"Sikapnya baik. Dan dari penampilannya, sepertinya dia cukup mapan." Pak Mario berasumsi tentang Al. Lelaki yang baru saja mengantar putrinya pulang.
"Dia adik dari bosnya Gita, Pa. Ya, pastilah dia mapan. Keluarga mereka itu konglomerat. Makanya, Gita harap Papa tidak berpikir kalau Gita punya hubungan spesial dengan Kak Al. Karena itu adalah sesuatu yang mustahil. Lagi pula, dia mau anterin Gita pulang juga karena disuruh oleh Bu Alyta, Pa." Gita menjelaskan secara detail tentang apa yang dia ketahui tentang Al, dan juga alasan pria itu mengantarnya pulang.
Papa Gita menggeser duduknya agar lebih dekat dengan sang putri.
"Maafkan Papa, Nak! Keterbatasan Papa telah membuat hidupmu jauh dari kata layak. Bahkan Papa juga tidak mampu memberimu pendidikan yang bisa menunjang karir dan masa depanmu agar lebih baik." Lelaki yang beranjak senja tersebut, menggenggam jemari Gita.
"Papa, berhenti berkata seperti itu. Lagi pula, ini sudah jadi keputusan Gita untuk ikut bersama Papa. Bagi Gita, cuma Papa yang mengerti segala apapun tentang Gita. Gita bahagia, kok, dengan kesederhanaan ini," hibur Gita dengan senyum yang menenangkan.
Ayah dan anak itu saling merengkuh dalam kasih sayang. Memberi kekuatan agar bisa melewati hari-hari selanjutnya dengan lebih baik. Berdamai dengan masa lalu, adalah hal selalu diajarkan Pak Mario pada Gita.
Gita banyak belajar dari masa lalu kedua orang tuanya. Di mana ketidaksetiaan dapat menyakiti seseorang yang telah dengan tulus memberi cinta.
Dulu, keluarganya sangat bahagia. Memiliki kedua orang tua yang harmonis dan juga dua orang kakak yang selalu menjaganya. Hingga musibah pun datang merenggut seluruh kebahagiaannya.
Sebuah kecelakaan yang membuat sang ayah terbaring koma selama berbulan-bulan. Segala apa yang mereka miliki habis terjual untuk pengobatan papanya. Sang ibu pun terpaksa harus banting tulang untuk sekedar bisa makan. Hingga suatu hari, godaan pun datang.
Mama Gita menggugat cerai suaminya yang bahkan baru saja sadar dari tidur panjangnya. Ia memilih pergi dengan seorang pria yang memiliki kehidupan jauh lebih baik dari papanya. Lelaki berkebangsaan asing yang saat itu menjadi turis yang ia pandu saat berwisata. Wanita itu juga membawa serta kedua kakaknya.
Sebenarnya saat itu, Gita juga hendak di bawanya untuk tinggal menetap di negara asal lelaki tersebut. Namun, Gita yang masih berusia 13 tahun, bersikukuh untuk menolak ajakan ibunya. Dia tidak tega meninggalkan papanya yang bahkan belum benar-benar pulih.
"Sudah sana istirahat. Kamu pasti capek." Papa Gita menginterupsi kilasan bayangan masa lalu dalam benak Gita.
"Iya, Pa. Papa juga istirahat, ya?"
Pak Mario mengangguk pasti. Ia menatap siluet sang putri yang menghilang di balik pintu kamarnya. Ada rasa sesal dalam relung hatinya. Semenjak di tinggal ibunya, Gita mulai belajar mencari uang sendiri. Berbagai pekerjaan pun ia lakoni demi bisa makan dan membiayai pengobatan sang ayah.
Untuk beberapa tahun, sang ibu masih mengirim uang pada Gita. Untuk membiayai sekolahnya. Namun, Gita hanya bisa menyelesaikan sekolahnya hingga tamat SMA. Karena sang ibu yang tengah mengandung anak dari suami barunya, terpaksa berhenti bekerja. Ternyata, uang yang ia berikan untuk Gita selama ini, adalah uang hasil kerja kerasnya sendiri. Gita pun mendengar kabar tersebut dari kakak sulungnya yang menghubunginya secara diam-diam.
"Maafkan aku, Rida. Karena aku, keluarga kita jadi berantakan. Entah bagaimana hidupmu sekarang. Semoga kau baik-baik saja," gumam Pak Mario, dengan tatapan menerawang. Mengingat segala yang telah menimpa hidupnya.
"Hari ini, untuk pertama kalinya Gita pulang diantar oleh seorang laki-laki. Dia sepertinya pria yang baik. Dia begitu sopan. Tapi, entahlah. Latar belakang lelaki itu sungguh jauh berbeda dengan putri kita. Rida, di manapun kau berada saat ini. Doakan selalu Gita, agar bisa hidup bahagia. Seperti aku yang juga selalu mendoakan Galih dan Gibran. Seharusnya, mereka sudah berkeluarga, bukan?"
Di balik pintu kamarnya, rupanya Gita mendengar segala gumaman sang ayah. Ada rasa sedih menyelusup ke dalam jiwanya. Ia tahu betul betapa papanya tak pernah sekali pun berhenti mencintai mamanya. Meski dengan segala yang telah wanita itu lakukan. Tak sedikit pun pria itu mempersalahkannya. Bagi Pak Mario, segala kekacauan dalam keluarganya adalah bentuk dari kegagalannya dalam menjadi kepala keluarga.
"Gita juga selalu berdoa untuk Papa dan Mama. Semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan." Setitik bening, menyeruak dari sudut matanya. "Mama, Gita juga berharap Mama kembali pada kami. Percayalah, Papa pasti sangat bahagia jika Mama mau pulang." Gita menekan wajahnya pada bantal. Meredam isak tangis yang tak mampu ia cegah.
#YLt
Di dalam unit Apartemen mewah, Al yang telah selesai membersihkan diri, menatap lamat-lamat pantulan wajahnya dalam cermin. Lelaki yang memilih tinggal sendiri tersebut, meneliti segala detail dari paras rupawannya.
"Apa aku kurang tampan?" Al bertanya sendiri, sambil sesekali memiringkan kepala agar bisa melihat wajahnya sendiri dari segala sisi.
"Kenapa dia tidak mau melihatku? Hh ... Kenapa aku jadi konyol begini?" Al menggelengkan kepala, kemudian segera mengenakan pakaiannya agar bisa langsung istirahat.
Al membaringkan tubuhnya yang telah seharian bekerja. Seharusnya, ia bisa secepatnya tertidur dengan pulas. Mengingat ia pulang hampir tengah malam. Namun, nyatanya netra elangnya begitu sulit untuk terpejam. Bayangan gadis yang baru saja ia antarkan pulang itu, seakan terus mengganggu ketenangannya.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Tap love ya, reader ...