Part 03

1050 Kata
"Nak, kenapa wajahmu sembab begitu?" tanya Pak Mario saat Gita keluar dari kamarnya. Enggan menanggapi tanya sang Papa, Gita pun berpaling muka. Kemudian mengalihkan pembicaraan. "Pa, Gita sudah siapkan makanan untuk Papa. Gita berangkat dulu," ujarnya, yang mulai buru-buru melangkah. "Kenapa buru-buru. Ini masih terlalu pagi, Nak. Kau tidak sarapan dulu?" cegah Pak Mario. Ia tahu sebenarnya Gita sedang menghindarinya. "Em ... Ada pelanggan yang mau ambil pesanan hari ini. Dan Gita belum menyelesaikannya. Jadi harus cepat berangkat." Penjelasan yang cukup masuk akal. Meski ragu, Pak Mario tetap ingin memberi kepercayaan pada putrinya sendiri. Hanya helaan napas berat sebagai pelepas keberangkatan sang putri untuk menjalani sebuah tugas yang sesungguhnya bukan kewajibannya. Bertaruh nasib demi seteguk pelipur dahaga. Gadis berpostur tinggi semampai itu, berjalan menyusuri area komplek. Menuju keramaian jalan raya. Berniat mencegat sebuah taksi maupun tukang ojeg yang terkadang berlalu lalang di jalanan tersebut. Detik berlalu, jalanan nampak lengang. Entah tak ada yang bersedia untuk ditumpangi ataukah hadirnya yang terlalu dini, sehingga semua aktifitas kala itu terlihat sepi. Sampai penantiannya terjeda ketika sebuah mobil yang nampak tidak asing menghentikan lajunya tepat di hadapan Gita. Mau tak mau, Gita harus memastikan gerangan yang melantunkan sebuah sapa. Seakan merdu suara itu, mampu menghangatkan hawa dingin dari pagi yang terlihat sepi. "Kau mau kemana? Ini masih terlalu pagi." Lelaki itu turun dari mobil dan menghampirinya. "Saya mau kerja, Kak." Gita menyahut dengan ramah. Tak pelak lelaki yang pernah ia jumpai malam tadi pun menatap arloji yang terlingkar di lengannya. "Masih jam 6. Butik Kak Alyta buka jam sembilan. Mau apa kau sepagi ini?" Pertanyaan Al menyiratkan rasa curiga yang begitu kentara di rungu Gita. "Sebenarnya saya mau ketemu teman dulu. Setelah itu baru pergi kerja." Buru-buru Gita mencari alasan agar Al tak menaruh prasangka terhadapnya, yang memang sama sekali tak berniat melalukan sesuatu yang buruk sedikitpun. "Ok. Kalau begitu, ayo, kuantar kau menemui temanmu." Apakah itu sebuah penawaran, ataukah suatu solusi, Al mengajukan diri pada perempuan pemilik lesung pipi tersebut. Batin Gita yang tentu mengakui akan dusta yang ia cipta, berbisik untuk membatah kata-kata pria yang kini menjeratnya dengan sebuah praduga. "Tidak usah, Kak," tolaknya tanpa menyurutkan senyum demi menutup semua kegugupan yang mendera. "Kau tahu kalau penolakanmu itu telah memicu rasa curigaku?" Al kian menyudutkan Gita dalam situasi yang sama sekali tak terasa nyaman. Gita mendongak, menatap kedua manik lawan bicaranya. "Curiga? Curiga kenapa?" tanyanya tanpa gentar. Untuk sesaat, Al cukup tersentak dengan intonasi suara Gita. Jelas sekali raut tak menyenangkannya itu terlihat. Tapi, bukan Alindra jika tak pandai menguasai keadaan. "Siapa yang tahu kalau kau memang ada niatan tidak baik." Penuturan dari prasangka Al, cukup membuat Gita tercengang. Pandangan galak pun Gita layangkan pada Al. "Apa saya terlihat seperti seorang kriminal? Lagi pula apa urusan anda untuk tahu ke mana saya akan pergi? Apa ada kelakuan saya yang membuat anda terusik?" Rentetan tanya itu terlontar begitu saja, seiring ketidak nyamanan Gita di hadapan pria yang kini menatapnya dengan sangat intens tersebut. Benak Al kian tertantang untuk mengetahui lebih jauh tentang gadis yang ia kira lugu, namun cukup berani itu. Baru semalam tadi Gita menunjukkan sikap yang malu-malu. Namun, pagi ini, sungguh suatu perubahan yang tak pernah Al duga. Gita menampilkan sisi lain dari dalam dirinya. Sisi di mana ia mempertahankan sebuah keyakinan akan kebenaran yang ada padanya. "Iya." Jawaban singkat dari bibir Al, bagaikan mantra yang mampu membuat raga Gita mematung seketika. Ketidak pahamannya atas pengakuan Al, mengalunkan berbagai tanya dalam batin dan pikirannya. "Kau sudah mengusik ketenanganku. Kau, membuatku tidak bisa tidur semalaman dan memaksaku untuk keluar sepagi ini," sambung Al, memaparkan apa yang terjadi padanya semalam tadi. Gita menggeleng serta menatap gusar dengan pernyataan Al yang sungguh sulit dipercaya. Gadis itu sama sekali tak pernah merasa berbuat sesuatu hal yang sekiranya mengganggu lelaki yang begitu enggan berpaling dari hadapannya itu. Segera Gita menguasai diri dari situasi yang terasa konyol tersebut. Dengan mengurai tawa hambar, bahkan terkesan meremehkan, Gita membalas tatapan Alindra penuh dengan cercaan. "Apa maksud anda, Tuan Al yang terhormat? Tidakkah anda sadar bahwa anda telah menjatuhkan diri anda sendiri dengan pernyataan anda tadi?" kekeh Gita. "Aku menyukaimu, Gita." Bukan jawaban yang Al berikan, melainkan kembali mempertegas pernyataannya sebelumnya. "Ini tidak lucu!" Gegas Gita bergerak menjauh dari lelaki yang baru semalam ia temui tersebut. Al bergeming. Ia tak nampak berniat mengejar ataupun mengabaikan Gita. Ia terus menatap punggung yang perlahan membentangkan jarak di antaranya. Namun, lengkingan suaranya, sejenak menjeda langkah Gita. Hingga kemudian kembali berlalu tanpa minat untuk sekedar menoleh pada si pemilik suara. "Kau boleh tak percaya dengan pernyataanku tadi. Tapi, aku, Shaki Alindra Dewantara memastikan bahwa aku bukan lelaki penebar kata-kata manis dan janji. Aku adalah lelaki yang akan memberi bukti nyata dari segala yang kuucapkan padamu. Kau lihat saja, apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu percaya." Al merogoh saku jasnya. Mengeluarkan sebuah benda pipih nan canggih. Mendial sekumpulan angka agar dapat terhubung dengan seseorang yang ia yakin dapat membantunya untuk membuat Gita memercayainya. #YLt Gita berjalan tanpa tahu arah dan tujuan. Kaki melangkah dengan tatapan lurus ke depan. Namun, tak mampu menjelaskan apapun yang nampak dari iris hitam legam miliknya. Entah sudah berapa lama, waktu yang terbuang olehnya. Hingga decitan sebuah kendaraan, kembali menyadarkannya akan kelalaian yang telah ia cipta. Hanya demi memerangi gejolak hatinya dan menertawakan suatu kekonyolan yang menjadi menu sarapan paginya. "Heh ... Mau mati, ya ...," teriak si pemilik kendaraan yang nyaris menubruk tubuh letih itu. Hanya permohonan maaf yang mampu terucap, atas sesal dari tindakan bodohnya. Gita kembali berjalan. Namun, kini kesadaran sepenuhnya telah menguasai dirinya. Segera Gita menghalau sebuah taksi, dan meminta sang sopir menepikan di tempat ia mengadu nasib. "Gita, kamu dari mana aja? Jam segini baru datang," cecar Ella, teman seprofesinya. "Maaf, aku kesiangan." Gita memberi sebuah alasan. "Ya udah, cepet masuk. Terus temuin Bu Alyta. Dari pagi dia nyariin kamu," tutur Ella, membuat kedua alis Gita bertaut. Benaknya dipenuhi beragam tanya. Apa gerangan yang membuat si pemilik tempatnya bekerja begitu genting, hingga sedari pagi berkeras untuk menjumpainya? "Ada apa Bu Alyta nyari aku?" tanyanya, dengan segudang rasa penasaran. "Gak tahu. Katanya ini masalah pribadi," pungkas Ella, kemudian kembali berkutat dengan tugasnya sendiri. Secepatnya Gita menghampiri ruangan sangb atasan. Demi meraih jawaban dari segala kebimbangan dirinya. "Masuklah, Gita!" titah Alyta, bahkan sebelum Gita menegaskan sebuah ketukan di pintu kaca milik bosnya tersebut. "Aku ingin bicara tentang Al."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN