Part 04

1060 Kata
"Aku ingin bicara tentang Al." Deg ... Jantung Gita berdebar sangat kencang. Dalam hati ia berpikir bahwasannya Alyta mengetahui percakapan antara dirinya dengan adik dari bosnya tersebut. Mungkinkah Al mengadukan semuanya pada sang Kakak? "Dari semalam aku mencoba menghubunginya, tapi begitu sulit. Sampai tadi pagi, aku tidak melihatmu datang. Aku khawatir Al tidak mengantarmu sampai rumah. Aku khawatir terjadi hal yang tidak baik padamu. Walau bagaimanapun, aku yang memaksanya untuk mengantarmu. Apa Al benar-benar mengantarmu sampai rumah?" Alyta menuturkan segala kecemasannya. Mengingat malam tadi kondisinya begitu sepi. Ia merasa bertanggung jawab, karena Gita pulang malam demi menyelesaikan pekerjaan di tempatnya. "Em ... Kak Al mengantar saya sampai depan rumah, Bu. Saya juga baik-baik saja. Ibu tidak usah khawatir." Gita menegaskan tentang keadaannya. "Mohon maaf, Bu, karena saya datang terlambat. Saya bangunnya terlalu siang," sambung Gita mencari alasan atas keterlambatannya. "Ya sudah, kamu kembali bekerja saja. Melihat kamu baik-baik saja, sudah membuatku tenang." Perintah Alyta segera dipahami oleh Gita. Ia pun kembali berkutat dengan berbagai alat jahit. Menyelesaikan pekerjaan yang sempai ia tinggalkan. Di antara gerak terampilnya dalam membentuk sebuah keindahan pada helaian kain di genggamannya, pun masih tak dapat menghalau akan segala pemikiran yang bergelut dalam kepalanya. Sesekali dirinya merutuki segala sikap yang telah ia tunjukkan pada Al. Lelaki yang pagi-pagi sekali menjejali berbagai emosi dalam hati. Tidak seharusnya Gita berlaku tidak sopan seperti itu padanya. Apa lagi, kalau Papanya sampai mengetahui hal tersebut. Pastilah, ia akan merasa gagal dalam mendidiknya. Sedari kecil, sang ayah tak pernah bosan untuk mengajarkan adab dan perilaku yang baik dalam bersosialisasi dengan siapapun. Terlepas dengan apa yang orang lain lakukan terhadap dirinya, meskipun buruk sekali pun. "Git, aku makan siang duluan, ya?" Suara Ella mampu mengalihkan tatapan Gita yang sebelum seakan telah terkunci. "Iya, El. Kamu duluan aja," seru Gita menyetujui usulan Ella. Mereka terbiasa untuk makan siang secara bergiliran. Mengingat butik yang selalu ramai pengunjung, tidak mungkin untuk ditinggalkan begitu saja ketika jam istirahat tiba. Segala bentuk peraturan itu telah mereka pahami dan setujui. Juga telah berlaku semenjak awal berdirinya butik mewah milik wanita anggun yang selalu menjadi panutan bagi para karyawannya. Menit berlalu, tibalah gilirannya untuk mengisi asupan kalori pada tubuhnya. Sekedar mengganti tenaga yang terbuang sebelumnya, meski rasa dan selera seakan enggan menggugah keinginannya. Gita tetap berdiri, ketika Ella mulai nampak memasuki ruang tempat dirinya berada. "Gita, sejak kapan kamu kenal sama adiknya Bu Alyta?" tanya Ella tiba-tiba. "Maksudnya?" Bukan jawaban yang Gita berikan, melainkan sebuah ketidak pahaman akan tanya yang terlontar dari rekan kerjanya tersebut. "Pak Al nunggu kamu di ruangannya Bu Alyta. Dia mau ajak kamu makan siang bareng," terang Ella, dengan tatapan penuh tanya dan curiga. Membuat degup jantung Gita kembali berpacu. "A-aku ...." Tergagap, Gita tidak tahu harus berkata apa. "Hm ... Gitu, ya, sekarang. Dapat gebetan kece gak mau bilang-bilang. Mau rahasia-rahasiaan," gerutu Ella dengan bibir mencebik. "Bukan gitu, El ...," sanggah Gita, namun segera dihalau oleh Ella. "Ok, fine. Aku udah gak kamu anggep temen lagi." Ella menampilkan raut yang berpura-pura sedih. Gita pun dibuat serba salah dengan sikap kekanakan Ella. Masalahnya adalah Gita sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa. Dia bahkan baru dua kali bertemu dengan Al. Gita tidak ingin Ella berpikir bahwa di antara mereka memiliki hubungan yang cukup dekat. Karena kenyataannya, hubungan keduanya tidak sebaik itu. "El ..." Gita menarik lengan Ella. Akan tetapi, Ella buru-buru menepisnya. "Udah, gak usah jelasin apa-apa sama aku. Dari kedatangan Pak Al yang nyari kamu aja, udah cukup ngejelasin semuanya. Sekarang, buruan temui dia. Ini juga perintah Bu Alyta. Jadi gak boleh ngebantah." Ella bertutur seraya tersenyum penuh arti di hadapan Gita. Semakin menciptakan ragam kebingungan dalam benak gadis berusia 21 tahun tersebut. Perempuan yang usiannya tidak berbeda jauh itu, terus mendorong punggung Gita agar segera mematuhi perintah atasannya. Gita yang merasa ragu, berusaha membatah kata-kata Ella. Ia begitu enggan menghampiri pintu ruangan yang kini telah berada tak jauh darinya. "El, serius aku gak mau," ucap Gita dengan tatapan memohon. "Kamu ini kenapa, sih? Ini perintah Bu Alyta, lho. Kamu gak mau, kan, kalau sampe dipecat?" Ella kian mendesak, dan menggiring Gita pada rasa takut akan kehilangan satu-satunya mata pencahariannya. "Tapi, El ...." Lagi. Ella kembali menghentikan setiap kalimat bantahan yang nyaris terlontar dari mulut Gita. Dengan segenap rasa terpaksa, Gita yang telah dibiarkan sendiri oleh Ella, bersusah payah menghirup udara demi menetralisir kegugupannya. Jemarinya mengepal dan terangkat, hendak melayangkan ketukan pada pintu kaca yang begitu jelas menampakan sosok lelaki yang dikatakan tengah menunggunya saat itu. Namun, sebelum ia berhasil mengetuk pintu, rupanya Al terlebih dulu menyadari kedatangannya. Tanpa banyak bicara, Al bergegas membuka pintu. Hingga tampilan indah yang tengah ia nantikan pun nampak jelas berada tepat di hadapannya. "Pe-permisi, kata Ella Ibu memanggil saya." Gita berkata demikian, karena tak ingin terlihat terlalu percaya diri. Meski sesungguhnya, ia telah mengetahui yang sebenarnya. "Bukan Kak Alyta. Tapi, aku," tukas Al cepat, tanpa berniat melepaskan panel pintu yang tengah ia genggam. Dengan gaya elegan dan penuh wibawa, Alyta berjalan mendekat pada dua anak manusia yang kini sedang berada di situasi yang mungkin kurang nyaman. Karena, jelas terlihat sekali betapa gugupnya Gita saat berhadapan dengan adiknya. "Kalian bisa jelaskan semua nanti. Kapan pun jika kalian siap. Sekarang kalian boleh pergi dulu. Lagi pula, saya juga tidak punya banyak waktu luang untuk hari ini." Alyta menatap keduanya secara bergantian. Hingga saat manik itu menangkap mengetahui bahwa Al menatap Gita dengan begitu intens. "Kau harus menjaganya dengan baik. Antar Gita pulang dengan selamat," peringat Alyta, hingga menarik paksa perhatian sang adik. "Pasti, Kak," balas Al dengan penuh keyakinan. Kemudian menarik lembut pergelangan tangan Gita, "Ayo!" ajaknya tanpa peduli apakah Gita setuju atau tidak. Ada rasa kesal dalam benak Gita atas sikap Al yang seenak hatinya membawa dirinya pergi. Namun, rasa segannya membuat gadis yang hobi memakai flatshoes itu urung memaki lelaki yang kini menggandeng tangannya tanpa malu sedikit pun. Sementara itu, tatapan dari teman-temannya seakan memaksa dirinya untuk mempersiapkan segala jawaban dari berbagai rasa keingintahuan mereka di hari esok. Bahkan ketika sang pangeran dengan rendah hati bersedia membukakan pintu mobilnya untuk Gita, kawan-kawannya kian melayangkan tatapan mengancam, bahwa Gita harus memberi mereka penjelasan. Dan saat itu, Gita hanya mampu membuang napas untuk sekadar menenangkan dirinya sendiri. Namun, belum juga rasa gelisah itu sirna, Gita kembali dikejutkan dengan pernyataan Al yang membuatnya semakin tidak karuan. "Kita makan siang dulu. Setelah itu menemui Papamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN