"Kita makan siang dulu. Setelah itu menemui Papamu."
Wajah Gita terangkat untuk menatap seseorang yang seharian ini telah mengacaukan suasana hatinya. Wajah itu terlihat santai tanpa beban. Bahkan dapat Gita dengar senandung kecil dari bibirnya. Seakan tengah merasakan suatu kebahagiaan.
"Mau apa ketemu Papa?" Gita memberanikan diri untuk mengajukan sebuah pertanyaan.
Al tak langsung menjawab. Ia mengarahkan mobilnya untuk menepi. Gita pun kian berdebar, karena merasa akan ada hal serius yang hendak disampaikan oleh pria di sebelahnya itu.
Al memutar badannya agar menghadap Gita. Tatapan matanya tak mampu untuk Gita hindari. Manik itu terus memandang lekat. Seolah menantikan sebuah ekspresi dari seorang Sagita.
"Aku ingin melamarmu," jawab Al tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kak, ini tidak lucu. Tolong jangan membuat lelucon seperti itu. Memangnya siapa yang akan percaya dengan omongan Kakak? Ini, tuh, impossible banget, Kak." Gita tersenyum kecut menanggapi jawaban Al.
"Kenapa tidak percaya?" Al menuntut jawaban dari Gita.
"Kak, kita itu baru ketemu sekali. Itu pun-" Ucapan Gita terpotong.
"Dua kali, kalau kau lupa," serobot Al, dengan tetap menatap Gita dengan serius.
"Oke, dua kali," ralat Gita, dengan nada kesal. "Itu pun baru tadi malam dan tadi pagi. Bagaimana bisa Kakak memutuskan untuk melamar saya? Kita tidak saling mengenal satu sama lain."
"Kita bisa saling mengenal setelah menikah. Banyak, kok, yang menikah tanpa saling kenal terlebih dahulu. Teman sekolahku juga ada yang seperti itu. Mereka dijodohkan. Sekarang mereka hidup bahagia. Kita juga pasti bisa seperti itu." Al mencoba meyakinkan Gita.
Bukan rasa senang yang Gita rasakan setelah mendengar alasan Al, melainkan perasaan ingin mencakar wajah tampan di hadapannya tersebut. Bahkan hatinya pun turut mencibir sosok yang tak mau berhenti menatapnya tersebut. "Ganteng, sih. Tapi, bodoh," umpat Gita dalam hati.
"Itu, kan, beda cerita. Setidaknya keluarga mereka saling mengenal. Jadi mereka tidak perlu merasa seperti membeli kucing dalam karung," tutur Gita, berharap bisa membuat Al berubah pikiran.
"Kalau kucingnya secantik kamu, tidak masalah meskipun ada di dalam karung," tukas Al, semakin membuat Gita frustasi.
"Kak, please ... Jangan bercanda. Saya serius."
"Saya juga serius, Gita. Apa saya terlihat main-main? Saya ini sungguh-sungguh menyukaimu. Apa kau tidak percaya?" Al menelisik ke dalam manik hitam legam milik Gita.
"Oke, saya percaya kalau Kakak menyukai saya. Tapi, saya tetap tidak bisa percaya kalau Kakak ingin menikahi saya. Kita tidak bisa mengambil keputusan yang gegabah seperti ini. Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Jangan hanya terdorong oleh hawa nafsu, kemudian memutuskan untuk menikah."
"Apa aku terlihat begitu bernafsu terhadapmu?" Tatapan Al berubah. Ada gurat kecewa terlihat dari sana. Membuat Gita sedikit merasa bersalah. Sepertinya, ucapan Gita telah menyinggung perasaannya.
"Bukan begitu, Kak." Gita tertunduk. Ia merasa tak nyaman dengan perubahan ekspresi wajah Al.
"Lalu apa?" Suara Al terdengar lembut namun menusuk.
Gita semakin bingung harus berkata apa. Seumur hidup, ia tak pernah sekalipun ingin menyakiti siapapun. Tapi, Gita juga tidak bisa serta merta menerima lamaran Al. Meski secara lahiriah, Al sudah sangat memenuhi kriteria sebagai calon suami idaman. Akan tetapi, siapa yang tahu perangai asli dari pria itu? Gita takut jikalau ternyata lelaki itu bukanlah orang baik.
"Apa kau takut kalau aku bukan orang baik?" Pertanyaan Al kali ini seolah tahu apa yang sedang menjadi kecemasan Gita.
Al mengembalikan posisi duduknya. Kini ia menghadap lurus pada jalanan. Kebisuan Gita seakan menjadi jawaban dari pertanyaan Al yang terakhir. Suara hembusan napas panjang Al terdengar hingga ke rungu Gita.
Seketika itu pula, rasa bersalah kembali mengungkung nuraninya. Entah kenapa segala sikap yang Al tunjukkan seakan terus memaksa Gita untuk berhati-hati. Padahal, jika dipikir lagi, tidak ada yang salah dari apa yang telah ia katakan pada pria itu.
Namun begitu, Gita tetap berusaha untuk menghadapinya setenang mungkin. Ia tidak ingin dianggap terlalu mudah luluh dengan sikap lembut Al. Walau bagaimanapun, Gita tidak dapat membaca isi hati lelaki tersebut. Bersikap waspada menjadi pilihan terbaik untuknya.
"Aku memang bukan orang baik. Bahkan waktu kecil, aku pernah sengaja mencelakai adikku sendiri. Dan aku dimarahi oleh seluruh keluargaku termasuk ibuku. Semenjak saat itu, aku sadar kalau aku bukanlah orang yang baik."
Gita mendengarkan cerita Al dengan seksama. Ia menduga bahwa masa kecil Al tidak begitu menyenangkan. Namun, ia enggan mempertanyakan hal tersebut. Gita khawatir pertanyaannya hanya akan mengundang rasa iba dirinya terhadap Al. Ia tidak mau terlihat lemah dan luluh dengan kisah sedih pria yang kini tidak mau menatapnya lagi.
"Baiklah, Gita, karena aku bukan orang baik, aku bisa menyimpulkan bahwa kau pasti tidak akan menerima lamaranku. Maka dari itu, aku tidak akan memaksamu." Al kembali menyalakan mesin mobilnya. "Ayo, kuantar kau pulang."
Saat hampir saja mobil itu berjalan, Gita tiba-tiba menyentuh lengan Al yang tengah memegang kemudi. Hingga lelaki itu pun urung menginjak pedal gas. Ia menoleh pada wanita di sebelahnya. Ingin tahu apa yang akan disampaikan olehnya.
"Setidaknya, beri saya waktu untuk berpikir. Dan selama itu, biarkan saya mengenal Kakak lebih baik lagi. Begitu juga sebaliknya, Kakak harus mengenal saya lebih baik lagi."
Mendengar penuturan Gita tersebut, mau tak mau membuat sudut bibir Al tertarik ke atas. Senyum itu merekah seiring dengan rasa percaya dirinya yang kembali. Ucapan Gita seperti semilir angin yang menyejukkan hatinya yang hampir mendera kecewa.
Sebuah pengharapan baru seketika tergambar dalam lubuk sanubarinya. Semoga Gita bisa menerimanya dengan setulus hati. Tak peduli berapa lama pun ia harus menunggu. Al akan selalu setia menantikan saat itu. Saat di mana Gita memberi sebuah pernyataan. Pernyataan bahwa ia siap dipersunting olehnya.
"Terima kasih, Gita," ucapnya dengan rona bahagia terpancar di wajahnya. Gita pun membalas dengan sebuah senyuman manis. Senyuman yang sudah pasti akan membuat Al kembali tak bisa tidur.
"Jadi, sekarang kita pulang atau makan siang dulu?" tanya Al, seraya mulai melajukan kendaraan roda empat miliknya.
"Makan dulu, ya. Saya belum makan dari pagi," jawab Gita dengan nada merajuk.
Al merasa kasihan sekaligus gemas mendengarnya. Tanpa sadar tangannya terulur mengusap rambut Gita, hingga membuat gadis itu terjingkat kaget.
"Maaf," sesal Al, segera menarik kembali tangannya.
"Gak apa-apa, Kak. Saya cuma kaget aja," ungkap Gita.
Al membawa Gita ke sebuah resto berkonsep tradisional. Dengan sajian hidangan Nusantara. Juga pemandangan hijau nan asri. Menciptakan kesejukan dan kedamaian saat berada di tempat tersebut.
Sambil menunggu pesanan mereka disajikan, keduanya pun terlibat obrolan santai. Membicarakan tentang hal-hal ringan dan menyenangkan.
Hingga dering ponsel milik Al menjeda percakapan keduanya. Sebuah nama muncul di layarnya. Gita melihat sekilas deretan huruf yang tampil tersebut sama dengan seseorang yang ia kenal. Perasaan Gita mendadak gelisah saat itu juga. Apakah itu orang yang sama dengan yang ia kenal?
.
.
.
.
.
****************************
.
.
Hai, teman-teman, mon maap baru update lagi. Doain author sehat terus, ya. Biar bisa update tiap hari