Al berbicara dengan si penelepon dalam beberapa saat. Entah apa yang mereka bahas, Gita tak mampu menyimaknya dengan baik. Pikirannya justru berkelana jauh pada masa lalunya.
Kilasan kisah indah yang terpaksa harus terjeda. Atau mungkin bisa dikatakan berakhir. Sebab tahun demi tahun berlalu, pemuda yang dulu pernah menyemai rasa itu tak kunjung memberi berita, atau hanya sekedar sapa. Ia bak tertelan oleh masa.
Bahkan tanpa sadar, Gita telah lama kehilangan sisa-sisa asa terhadap sang pemuda.
"Hei, kok, melamun?" Teguran Al mengembalikan jiwa Gita pada kenyataan.
Seketika itu pula, Gita baru menyadari akan sajian yang terhidang telah di depan mata. Entah kapan sang pramusaji menata segala hidangan tersebut. Gita sungguh telah terjerumus dalam lamunan yang tiba-tiba mengurung kesadarannya.
Dengan memaksakan seulas senyum, Gita menanggapi perkataan Al yang memintanya segera menikmati kudapan yang kini tersungguh di hadapannya.
"Telepon dari siapa?" tanya Gita, setelah satu suapan berhasil ia telan.
"Itu dari penasihat cinta," jawab Al dengan sebuah gurauan.
Kedua alis Gita bertaut. "Maksudnya?"
"Bukan apa-apa. Aku hanya bercanda. Sudah, ayo, makan lagi," pungkas Al, seperti enggan membahas lebih lanjut.
Sedikit kecewa untuk Gita. Karena, sungguh rasa penasarannya meronta mengharap jawaban yang nyata. Namun, ia memilih untuk diam. Biarlah untuk saat ini hanya sebatas itu. Ia juga berharap, bahwa dugaannya tidaklah benar. Lagi pula, ia hanya melihat sekilas. Tidak begitu jelas. Bisa saja itu hanya mirip.
Mereka kembali melanjutkan menyantap hidangan yang mereka pesan sebelumnya. Sesekali diselingi obrolan. Atau sekadar bertanya tentang cita rasa dari sajian resto tersebut.
Beberapa saat menghabiskan waktu dengan Al, terasa cukup nyaman bagi Gita. Al yang supel memang pandai menghidupkan suasana. Namun begitu, Gita tetap tak ingin larut dalam kenyamanan tersebut. Gadis itu masih butuh waktu lebih lama lagi untuk mengenal pria yang kini telah kembali melajukan kendaraannya, demi mengantarkannya pulang.
"Terima kasih makan siangnya, Kak," ucap Gita saat mobil itu berhenti tepat di depan rumahnya.
"Kalau ngobrolnya?" Al tersenyum jahil pada Gita.
Gadis itu terkekeh dengan pertanyaan Al. "Ah, iya. Terima kasih juga buat ngobrolnya." Gita berusaha menahan untuk tidak terbahak. "Ya udah, sampai jumpa lagi, Kak!" pamitnya hendak membuka pintu mobil.
Namun, suara Al mengurungkan niatnya. "Kamu gak nawarin aku mampir?" kata Al.
"Eh, gak, deh. Rumah saya sempit. Kak Al juga pasti gak mau." Gita berasumsi.
"Apa aku gemuk?" tanya Al. Membuat Gita mengerutkan kening. Ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan Al.
"Ya ... Mungkin kau berpikir kalau aku tidak muat masuk ke rumahmu," lanjut Al, sehingga Gita tak mampu lagi menahan tawa. Ia pun tergelak dengan perkataan Al yang konyol tersebut.
"Kak Al ada-ada saja." Gita menggeleng saat tawanya mulai mereda. "Sudah ah, sudah sore. Saya mau menyiapkan makan buat Papa," pungkas Gita yang segera turun dari mobil Al. Kemudian melambaikan tangan sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.
"Udah jadian?"
Gita terjingkat kaget dengan suara tanya sang Papa saat dirinya baru saja menutup pintu.
"Ih ... Papa ngagetin aja." Gita mengusap dadanya yang berdebar karena terkejut. "Papa ngintip?" selidik Gita, saat melihat Papanya duduk di sofa dekat jendela.
Bukannya menjawab, Pak Mario justru melambaikan tangan. Meminta Gita mendekat.
"Kemarilah!" titahnya. Ia membelai rambut sang putri yang kini telah duduk di sampingnya. "Kau sudah dewasa, Nak. Sudah saatnya Papa mengalihkan tanggung jawab atas diri kamu pada seseorang."
"Papa, mulai, deh," keluh Gita, seraya menurunkan tangan Pak Mario dari kepalanya.
"Papa memang belum mengenalnya, tapi Papa yakin dia lelaki yang baik." Pak Mario menggenggam jemari Gita. "Papa juga melihat kamu bahagia setelah bertemu dengannya."
"Ih ... Papa sok tahu, deh," elak Gita seraya tertawa jenaka. "Udah, ah, Gita mau masak makan malam dulu." Gita beralasan agar sang papa tak lagi melanjutkan pembahasan tentang keinginannya supaya Gita segera menikah.
"Tadi pagi Al menemui Papa."
Langkah Gita yang baru saja, terhenti seketika. Ia menoleh pada papanya. Menatap penuh kebingungan.
"Dia ingin melamarmu," ungkap Pak Mario, yang membuat Gita ternganga tanpa sadar. "Papa sangat suka dengan keberaniannya. Tapi, Papa tahu, kalau Papa tidak berhak untuk menentukan. Karena itu, Papa memintanya untuk bicara langsung padamu."
"Jadi ...." Gita masih sulit mencerna semua itu. Tubuhnya masih mematung. Ingin sekali berucap sesuatu, namun terasa begitu sulit.
Pak Mario bangkit, kemudian berjalan mendekati Gita. Dirangkulnya bahu yang menegang tersebut.
"Papa memang gak bisa maksa kamu. Tapi, perlu Papa ingatkan, gak baik menolak niat baik seseorang. Papa harap kamu bisa mempertimbangkan lamarannya." Pak Mario menghela napas. "Papa sadar dengan perbedaan yang membentang diantara kalian. Tapi, Al dengan yakin akan memastikan bahwa itu gak akan jadi penghalang niatnya. Dia akan pastikan seluruh keluarganya akan merestui kalian. Asal kau bersedia menjadi istrinya."
Gita tidak tahu lagi harus berkata apa. Segala yang terjadi hari ini, sungguh sangat mengejutkan dirinya. Rasanya seperti sedang bermimpi. Entah ini mimpi indah ataukah mimpi buruk. Dirinya tiba-tiba saja dilamar oleh orang yang baru dikenalnya semalam.
"Kau berhak menolak. Tapi, sungguh Papa sangat berharap kau menerimanya. Agar Papa bisa tenang, jika sewaktu-waktu Tuhan memanggil Papa untuk menghadapnya." Pak Mario mengusap pelan bahu anak bungsunya tersebut. Sebelum ia meninggalkan gadis itu.
#YLt
Usai menyelesaikan segala aktifitas. Gita memutuskan untuk segera beristirahat. Selain tubuh, pikirannya pun teramat lelah. Ia berharap bisa secepatnya memejamkan mata.
Namun, sepertinya keputusan Gita tersebut adalah salah. Nyatanya, setelah cukup lama berbaring, ia masih kesulitan untuk terlelap. Pikirannya kian berkecamuk. Begitu sulit melupakan binar mata sang Papa yang menyiratkan sebuah harapan besar.
Batinnya terus berperang. Ia masih mengingat janji masa lalunya yang akan setia menunggu cinta pertamanya kembali. Namun, lamaran Al seolah menggoyahkan kesetiaannya. Sikap yang ditunjukkan Al seharian tadi, cukup membuatnya merasa nyaman. Haruskah ia menerima Al, dan melupakan janji setianya yang tak kunjung mendapat kepastian?
Mengingat usia sang ayah yang beranjak senja, tentu Gita berharap bisa memiliki pendamping yang mapan secara financial. Agar dapat menjamin kehidupannya secara layak tanpa harus dirinya turut membanting tulang. Ia ingin bisa merawat Papanya di masa tuanya dengan tenang. Meskipun Gita selalu berdoa, semoga sang Papa dapat berumur panjang.
Dari semua kriteria harapan calon suami bagi Gita, Al tentu memiliki semuanya. Tampan dan mapan sudah tidak perlu diragukan lagi. Lalu bagaimana dengan cinta? Gita juga tidak ingin serta merta menerima Al tanpa adanya cinta. Dirinya bukan wanita materalistis yang hanya mengutamakan harta. Ia tentunya tak ingin memanfaatkan Al hanya demi kecukupan materi.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tap love-nya buat yang belum. kalo yang udah, boleh komen-komen sebanyak-banyaknya.