Part 07

1036 Kata
"Pa, Papa sarapan duluan aja. Gita mau siap-siap dulu." Gita berlalu setelah menyajikan menu sarapan sederhana untuk Papanya. "Nanti aja. Biar Papa nunggu kamu. Kita sarapan bareng," sahut Pak Mario. Gita pun hanya mengangguk. Setelah itu bergegas masuk ke kamarnya. Bersiap diri untuk pergi bekerja. Tak butuh waktu lama bagi Gita untuk bersiap. Ia hanya perlu mengganti pakaiannya dengan yang bersih dan rapi. Karena, dirinya bukan bekerja sebagai staf perkantoran, maka soal pakaian tidak ada ketentuan harus seperti apa. Apa lagi, tempatnya bekerja bergerak di bidang fashion. Tentunya semua pekerja dibebaskan berpakaian sesuai dengan gaya yang mereka sukai masing-masing. Ia pun segera bergabung dengan papanya untuk menikmati sarapan yang telah disiapkannya sejak pagi sekali. Meskipun telah lelah bekerja, Gita tetap selalu memasak sendiri menu makanan untuk sang ayah. Semenjak mengalami kecelakaan bertahun lalu, dokter telah mewanti-wanti agar menjaga makanan untuknya. Selain cacat pada kakinya, beberapa organ dalam tubuhnya pun mengalami masalah. Sehingga diharuskan untuk menerapkan pola hidup sehat, dan dilarang untuk melakukan pekerjaan berat, serta sebisa mungkin agar menghindari stress. "Pa, Gita berangkat dulu. Mungkin Gita pulang agak malam. Nanti Papa tinggal angetin aja lauknya, ya ...," pamit Gita, usai menghabiskan nasi di piringnya. Sudah menjadi kebiasaan, bahwa mencuci piring akan menjadi tugas Pak Mario. Sebenarnya Gita keberatan dengan usulan papanya tersebut. Namun, sang papa selalu berkata kalau hal itu dapat melatih sebagian otot tubuhnya agar tidak kaku. Lagi pula, mencuci piring bukanlah pekerjaan berat. "Ya udah, hati-hati. Nanti kalau pulang malam, kamu telepon Al aja. Minta dia jemput kamu terus antar pulang." Pak Mario berkata dengan senyum jahilnya. "Dih, Papa, apaan, sih? Udah ah, Gita berangkat." Gita segera mengayunkan langkah. Meninggalkan Pak Mario yang tengah menyunggingkan senyum mengejek padanya. Saat langkahnya baru menapaki jalanan beraspal, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Si pemilik pun turun dan membukakan pintu untuknya. Gita yang diperlakukan seperti itu, nampak terpaku. Ia merasa bingung dengan semua ini. "Ayo, masuk!" titah Al, yang langsung menyadarkan keterdiaman Gita. "Kak, gak usah kayak gini. Saya bisa berangkat naik taksi atau ojek." Gita berusaha menolak. "Kau bilang ingin mengenalku lebih jauh. Kau juga bilang kalau aku harus mengenalmu lebih jauh juga. Bukankah dengan kita sering bertemu dan pergi bersama, itu akan membuat kita saling mengenal?" Al tak lepas memandang Gita yang berpaling ke arah lain. "Apa Kakak gak takut, kalau saya akan memanfaatkan kebaikan Kakak ini?" Gita balas menatapnya. "Kalau kau berniat begitu, kau tidak mungkin memberitahukannya," ucap Al. "Saya bukan memberitahu, saya hanya mengingatkan. Karena sebuah kejahatan gak cuma terjadi karena ada niat, tapi bisa jadi karena ada kesempatan," tukas Gita sambil berjalan melewati Al. Bukannya marah ataupun kesal dengan perkataan Gita, Al justru tersenyum senang. Sikap Gita seolah menunjukkan sebuah perhatian bagi dirinya. Al dapat menyimpulkan bahwa Gita peduli terhadapnya. "Git ... Gita," seru Al, memanggil gadis yang telah beberapa langkah menjauh darinya. Ia pun menutup kembali pintu mobil, dan segera berlari mengejar gadis itu. Al membiarkan mobil putihnya itu terparkir sembarangan, demi menyusul langkah Gita. "Ngapain, sih, ngikutin?" gerutu Gita, sambil tetap berjalan. "Kamu tahu gak-" "Gak," serobot Gita, tanpa menunggu Al menyelesaikan perkataannya. Hal tersebut sungguh membuat Al ingin sekali menertawakannya. Gadis yang sangat unik menurutnya. Setiap saat sikapnya selalu berubah-ubah. Padahal kemarin, hubungan mereka nampak baik. Namun, hari ini Gita seolah begitu judes terhadapnya. Al semakin dibuat penasaran olehnya. "Aku, kan, belum selesai bicara." Al berkata sembari menahan tawa. Mendadak Gita menghentikan gerakan kakinya. Ia kemudian berbalik menatap lelaki yang seakan tak jera mengejarnya. "Kak, saya udah pikirin baik-baik untuk hubungan kita kedepannya." Al mengerutkan kening. "Saya gak mau PHPin Kakak. Jadi mending Kakak balik, gih. Dari pada nanti kecewa," sambung Gita, sambil mendorong bahu Al pelan. "Maksud kamu apa, sih?" tanya Al, yang kembali mengejar Gita. "Ya, itu. Saya gak mau ngasih harapan palsu buat Kakak. Lagian, Kakak tahu gak? Gara-gara Kakak nganterin saya pulang kemarin, Papa jadi salah paham. Papa kira kita pacaran," ujar Gita, tanpa mau berhenti berjalan. "Ya, makanya biar Papa kamu gak salah paham, kita pacaran beneran aja." Sontak Gita mendelik menatap sebal pada Al. Namun, hal itu justru membuat Al merasa gemas padanya. "Kamu kenapa, sih, tidak mau jadi pacar aku sekarang? Apa aku masih banyak kekurangan? Katakan apa kekuranganku?" Rentetan tanya terlontar dari mulut Al. Gita mendesah berat. "Bukan kekurangan, Kak. Justru kelebihan. Saya merasa jomplang, kalau kita pacaran. Kita ini kayak bumi dan langit, Kak. Jauh banget." Gita kembali melanjutkan langkah. Namun, kali ini lebih pelan. Seperti sengaja membiarkan Al menyamai langkahnya. "Gita, apa kau tahu, mamaku menikah dengan ajudannya?" Gita cukup tercengang mendengar fakta yang disampaikan Al. Namun, ia enggan untuk berkomentar. Meski rasa penasaran mejalari hatinya. "Dalam keluarga kami, status sosial tidak menjadi bahan pertimbangan, saat mencari pasangan. Yang terpenting adalah bisa saling menghargai dalam suatu hubungan. Soal cinta ...." Al sejenak memberi jeda. "Kita tidak harus menikah dengan orang yang kita cinta, tapi cinta pasti akan datang saat kita bisa menerima sebuah pernikahan dengan setulus hati. Dan itu bisa terjadi jika kedua belah pihak sama-sama tulus menjalaninya." Gita berusaha mencerna setiap bait kata dari bibir Al. Dirinya bukanlah sosok yang mudah paham tentang kata-kata puitis maupun kata mutiara yang memiliki makna yang mendalam. Namun demikian, Gita bisa menyimpulkan tentang apa yang dimaksud Al. Al tahu bahwa Gita tidak mencintainya, tapi lelaki itu yakin jika suatu saat dirinya mampu membuat Gita jatuh cinta padanya. Yang penting Gita bisa menerimanya dengan tulus terlebih dahulu. "Kak ...." Gita ingin berucap sesuatu, namun entah mengapa lidahnya terasa amat kelu. Mengetahui kegugupan Gita, Al tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali mengajukan diri agar menjadi pilihan terbaik Gita. Pria itu menekuk satu lututnya. Satu tangan ia letakkan dibelakang tubuhnya dan satu lagi meraih jemari Gita. "Gita, sekali lagi aku katakan padamu, aku terpesona padamu sejak pertama kita bertemu. Aku sungguh-sungguh menyukai dan tidak pernah ingin mempermainkan perasaanmu." Al menatap Gita dengan intens. "Gita, untuk kedua kalinya, dan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, aku ingin kembali melamarmu." Wajah Gita berangsur memanas, seiring dengan desakan butiran bening yang hampir jatuh dari sudut matanya. "Gita, menikahlah denganku!" Al menatap penuh harap pada Gita yang seolah terpaku di hadapannya. Entah jawaban apa yang akan Gita berikan. Al terus berdoa dalam hati, semoga Gita mau menerimanya. . . . . . . Hari ini aku double up, ya ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN