Happy reading
.
.
.
Benarkah? Benarkah semua yang terjadi saat ini bukanlah mimpi? Batin Gita bertanya-tanya.
Sekali pun tak pernah terpikir bahwa kisah Cinderella itu ada dalam dunia nyata. Apa lagi sampai dialami oleh dirinya sendiri. Bahkan untuk bermimpi pun Gita tidak berani.
Siapa yang tidak mengenal keluarga Hendrawan? Keluarga kaya raya dengan limpahan harta yang tak terhitung jumlahnya. Meski tak ada nama Hendrawan di belakang nama Al, tapi ia tahu bahwa Al adalah keturunannya.
Alindra adalah cucu dari Hendrawan, seorang pejabat penting yang pernah berjaya pada masa jabatannya. Seorang yang punya pengaruh besar dalam pemerintahan dan kerajaan bisnis yang kini telah ia serahkan pada menantunya.
Namun begitu, tak banyak orang yang tahu tentang kisah internal keluarga tersebut. Bahkan tentang status sosial menantu Hendrawan yang berasal dari kaum sahaya. Yang orang-orang ketahui adalah Hendrawan hanya memiliki seorang putri tunggal dan 3 orang cucu, yang sama-sama tak pernah mau tersorot di depan publik. Meski hanya sekadar nama.
Bahkan Gita pun baru mengetahui bahwa Alyta merupakan keturunan keluarga tersebut, dari rekan kerjanya, setelah ia bekerja pada wanita anggun tersebut.
"Terima ... Terima ... Terima ...."
Suasana yang awalnya sepi itu, mendadak jadi riuh. Entah sejak kapan orang-orang mengerubungi dirinya dan Al. Seruan para penonton itu kian menjadi. Ditambah pula dengan tepukan tangan dan siulan yang seolah terus mendesak Gita untuk menuruti saran mereka.
"Kak-" Gita hendak berkata, namun segera disanggah oleh Al.
"Gita, please ...." Al, menatap Gita penuh harap. Ekor matanya pun seolah memberi isyarat agar Gita tidak membuatnya malu di hadapan orang-orang yang tengah mengerumuni keduanya.
Sesungguhnya Gita ragu untuk memberi jawaban. Namun, bisikan di hatinya seolah berkata, bahwa inilah saatnya. Saat bagi dirinya untuk membuka lembaran baru kisah hidupnya. Menghapus masa lalu, dan belajar menerima masa depan.
Meski perlahan, Gita menganggukkan kepalanya. Seketika itu pula kegaduhan mengiringi tarikan di kedua sudut bibir Al. Sorak sorai para pengguna jalan yang menyaksikan adegan bak drama romantis itu, sungguh manambah suka cita yang tengah menyelimuti hati Alindra.
"Cium ... Cium ... Cium ...." Kembali seruan para penonton mendesak pasangan baru tersebut.
"Sstt ... Belum muhrim," sahut Al, menghentikan sorakan orang-orang.
Berbagai tanggapan pun mereka berikan. Ada yang mengacungi jempol, salut dengan sikap jantan Al. Ada pula yang kecewa karena tidak dapat menyaksikan adegan yang lebih romantis lagi. Namun demikian, hal tersebut tak mampu menyurutkan rona berseri di wajah tampan pria itu. Jemarinya yang tertaut dengan Gita, kian mengerat. Seolah tak ingin gadis itu sampai terlepas.
"Kak, saya harus berangkat kerja," tutur Gita, membuat Al tersadar akan waktu yang telah ia curi dari sang kakak.
Sekalipun ia yakin Alyta tidak akan keberatan, tetapi dalam suatu pekerjaan, profesionalisme itu sangatlah penting dan harus diutamakan.
"Mohon maaf, pemirsa, calon istri saya masih harus pergi bekerja. Jadi, acaranya saya tutup sampai di sini." Al dengan lugas membubarkan kerumunan orang-orang yang mengitarinya. Membuat wajah seorang Gita bersemu merah.
Al menggandeng Gita menuju tempat di mana mobilnya terparkir semula. Kemudian ia membukakan pintu sebelah kemudi untuk gadis yang hari itu dinobatkan sebagai calon istrinya. Wanita muda yang baru dikenalnya, namun mampu mencuri segala perhatiannya.
Sepanjang perjalanan, dua anak manusia itu menampilkan ekspresi yang berbeda-beda. Alindra dengan senyum merekah menghiasi parasnya yang rupawan. Sedangkan Gita masih bingung dengan situasi yang terjadi. Gita justru ragu dengan keputusan yang telah ia ambil.
Namun begitu, gadis berparas ayu tersebut kembali menyemangati diri. Meyakinkan hati jika ini memang saat yang tepat baginya mengakhiri penantian panjang yang tiada pernah berujung. Meski cinta belum hadir di antaranya, Gita akan berusaha menerima lelaki di sampingnya dengan sepenuh jiwa. Seandainya pria itu bersungguh-sungguh membuktikan kata-kata dan memperistri dirinya.
"Hei, kok diem aja?" Al menatap sebentar pada Gita yang sedari tadi tak bicara sepatah kata pun.
Gita pun menoleh dan tersenyum manis pada pria yang tengah mengemudi di sampingnya. "Saya masih gak percaya, Kak," jawab Gita, tanpa menyurutkan lengkungan di bibirnya.
Al mengernyitkan dahi, "Gak percaya? Tentang apa?"
"Apa benar kisah Cinderella itu benar adanya."
"Kamu itu lucu. Kisah Cinderella itu cuma dongeng. Yang benar itu kisah kita berdua." Al tersenyum seraya meraih jemari Gita, kemudian mendaratkan satu kecupan di sana. "Tidak apa-apa, kan, aku cium tangan kamu?"
"Harusnya Kakak tanya sebelumnya. Bukan sesudahnya," ketus Gita, berusaha menarik kembali tangannya. Akan tetapi, tenaga Al lebih kuat untuk menahannya.
Jadilah tangan Al dan Gita saling bertaut hingga mereka tiba di butik milik Alyta. Hingga kendaraan beroda empat itu berhenti pun, Al sama sekali belum ada niatan untuk melepasnya. Ia malah memutar tubuh menghadap Gita.
"Pulangnya aku jemput, ya?" Al meraih tangan Gita yang satu lagi.
"Kak, lepasin," protes Gita, seraya mengedarkan pandang. Khawatir ada orang memergoki dan menyangka yang tidak-tidak.
"Sebentar saja, Sayang."
Blush ....
Wajah Gita merona seketika. Saat itu juga ia segera menundukkan wajah. Rasanya tak kuasa jika harus beradu pandang dengan pria yang baru saja memanggilnya 'Sayang' tersebut. Entahlah, perasaan Gita sungguh dibuat rak karuan olehnya.
Alindra pun tak bisa untuk tidak tersenyum. Ia tahu gadis di depannya tengah malu-malu. Namun, ia memilih menyembunyikan semua itu dengan kembali mengajak Gita bicara.
"Hubungi aku kalau sudah mau pulang," kata Al, masih setiap memandang Gita dengan intens.
"Saya harus menghubungi ke mana?" Jawaban polos Gita sontak membuat Al menepuk jidat. Ia lupa kalau dirinya dan Gita bahkan belum lama kenal. Mana mungkin sudah memiliki kontak masing-masing.
"Ah, aku lupa. Mana HP mu?" Al menadahkan tangan meminta Gita menyerahkan ponselnya.
Perempuan ayu itu lekas merogoh saku celananya dan menyerahkan ponsel miliknya pada pria di depannya.
Al menerima ponsel dari Gita. Namun, ia tak segera memasukan kontak miliknya. Lelaki itu malah membolak-balikkan benda tersebut. Memerhatikan dengan seksama.
Setelah merasa cukup puas, ia melemparkan ponsel Gita ke jok belakang. Hal tersebut sukses membuat kelopak mata Gita terbuka sepenuhnya. Ia pun menatap Al dengan kesal. Kemudian bergerak hendak mengambilnya kembali.
Namun, gerakan Gita segera terhenti oleh cekalan tangan kokoh Alindra yang dengan berani memegangi pinggang ramping seorang Sagita.
"HP kamu sudah ketinggalan jaman. Biar nanti aku buang." Al berkata dengan santai, tanpa menghiraukan tatapan Gita yang tak bersahabat.
"Biar saja ketinggalan jaman. HP itu aku beli dengan hasil keringatku." Gita sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Nih!" Al menyela dengan menyodorkan ponsel miliknya di depan wajah Gita. "Pakai HP ku dulu. Ada nomor sekretaris aku. Kamu hubungi dia kalau sudah mau pulang. Nanti HP kamu mau di- upgrade dulu," kekeh Al, yang begitu gemas melihat gadis manis itu menatap dirinya dengan galak.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa tap love nya, ya, manteman.