Part 09

1011 Kata
Happy reading, ya, gaes ... Hari sudah mulai gelap ketika Gita merapikan peralatan kerjanya. Sebelumnya, Ella sudah mengajaknya untuk pulang bersama. Akan tetapi, Gita menolak dan beralasan kalau pekerjaannya belum selesai. Padahal yang sebenarnya, Gita hanya tak ingin, atau lebih tepatnya belum siap jikalau teman-teman seprofesinya mengetahui dirinya akan pulang bersama Alindra. Adik dari pemilik butik. Gita belum siap menjawab ragam pertanyaan yang akan memberondong dirinya ketika mereka semua melihat kedekatan Gita dengan Al tanpa ada cerita apapun sebelumnya. "Git, kamu kunci tokonya, ya. Jangan lupa matikan semua lampu," titah Alyta, sebelum meninggalkan workshop tersebut. Kali ini Alyta sedang terburu-buru, sehingga tidak ada acara berbasa-basi ataupun mengajak Gita pulang bersama. Sudah sedari tadi ponselnya berdering. Seseorang memintanya agar segera pulang. Karena, anaknya tiba-tiba rewel. Gita pun mengangguki perintah Alyta, tanpa berani menatapnya. Entah mengapa, setelah kejadian tadi pagi, Gita merasa begitu malu jika harus bersitatap dengan atasannya tersebut. Saat Gita baru saja berhasil menyematkan kunci, sebuah mobil yang tak asing pun berhenti di belakangnya. Sang pemilik menurunkan kaca jendela yang berada di samping bangku kemudi. Kepalanya molongok sedikit melihat gadis yang ada di depan pintu butik. "Hei," sapa pemilik mobil tersebut. Gita pun menyambut kehadiran pria tersebut dengan seulas senyum manis. Tak tergambar betapa bahagianya hati Alindra mendapati keindahan yang tersuguh di depan matanya. Ada sedikit sesal yang menyergap ke dalam lubuk hati, karena sebelumnya ia tak begitu peduli dengan tempat usaha milik kakaknya tersebut. Seandainya ia tahu lebih awal kalau di dalam sana terdapat makhluk seindah Gita, tentu sudah sejak lama ia sering mengunjungi butik itu. "Kenapa kamu selalu pulang terakhir?" tanya, saat dalam perjalanan. "Saya hanya tidak mau menunda pekerjaan. Kecuali memang masih banyak. Kalau tinggal sedikit, saya bereskan sekalian," ujar Gita, menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran jok mobil milik Alindra. Pria itu melirik sebentar sebelum kembali fokus mengemudi. Dapat ia lihat gurat lelah yang tergambar di wajah gadis itu. "Usiamu berapa?" Al bertanya di detik berikutnya. Seketika itu Gita bangkit menegakkan badan. Ia menoleh kesamping. Rasanya ingin sekali menertawakan pertanyaan lelaki itu tadi. "Kenapa?" tanya Al lagi. Keningnya berkerut bingung dengan sikap Gita. "Kakak ini lucu. Melamar seseorang tanpa tahu apa-apa tentang orang itu. Itu sangat konyol, Kak." Gadis berlesung pipi itu tertawa kecil. "Benarkah? Kurasa cinta memang konyol," seloroh Al, mengabaikan tawa Gita yang semakin renyah. "Tapi, bukan Kakak aja yang konyol. Sepertinya saya juga ikut-ikutan konyol." "Kenapa?" "Ya, karena saya juga menerima lamaran dari pria konyol." Keduanya tertawa bersamaan. Sesekali tangan Al bergerak mengacak rambut Gita. Gadis pemalu itu ternyata bisa membuat suasana menjadi menyenangkan. Ia semakin yakin bahwa melamar Gita bukan sebuah kekeliruan. Sampai kendaraan tiba di depan rumah Gita, Al pun menghentikan lajunya. Akan tetapi, ia tetap membiarkan pintunya terkunci. Detik berikutnya ia melepas seatbelt, lalu tangannya meraih sesuatu di jok belakang. "Semua data yang ada di HP lama sudah dipindahkan ke sini. Termasuk kontaknya juga. Hanya saja ...." Al menghentikan kalimatnya. Sengaja membuat Gita penasaran. "Hanya apa, Kak?" "Sekarang daftar kontaknya sedikit berbeda." "Berbeda gimana?" "Ada kontak milikku di sana," bisik Al, seolah itu adalah sebuah rahasia. Gita pun tergelak mendengarnya. Bukan karena kelucuan Al, melainkan karena merasa aneh saat pria yang terlihat kaku mencoba untuk bercanda. Tetapi, Gita akan hargai usaha Al mengisi suasana. "Kenapa tertawa?" tanya Al. "Gak apa-apa, Kak. Kakak lucu," sahut Gita, sembari menahan sisa-sisa tawa yang masih ingin berderai. "Ya sudah, Kak, saya turun dulu, ya." "Kamu tidak menawari aku mampir?" Lagi-lagi Al berharap pada Gita. "Lain kali aja, ya. Maaf, tapi biar saya bicara dulu sama Papa. Saya gak mau nantinya Papa berpikir yang tidak-tidak." Gita berusaha memberi pengertian pada Alindra. "Oke. Oh ya, hari Minggu ikut aku, ya," ucap Al lagi, sebelum Gita benar-benar turun dari mobilnya. "Kemana?" Gita mengerutkan kening. "Aku ingin mengenalkanmu dengan keluargaku." Dengan santainya pria itu berucap. "Secepat ini?" Menelisik ke dalam mata Al, Gita mencoba mencari kesungguhan ataukan hanya harapan semu yang ada di sana. "Gita, aku melamarmu untuk jadi istriku, bukan sekedar pacaran. Apa masih perlu menunggu waktu lebih lama lagi? Aku khawatir kamu berubah pikiran." Al sedikit tersinggung dengan pertanyaan Gita yang terakhir. Karena, ia menangkap nada keraguan tersemat di dalamnya. Sejenak Gita terdiam. Pria di sampingnya benar-benar serius dengan niatnya. Akan tetapi, benarkah dirinya sudah siap dipersunting oleh putra seorang konglomerat seperti Al? Apakah Gita sanggup berhadapan dengan keluarga dari pria tersebut? Menyadari kegamangan Gita, Al segera menggenggam jemari lentik gadis itu. "Kamu tidak perlu cemas. Keluargaku pasti bisa menerimamu." Al berusaha meyakinkan Gita. Gadis itu hanya mengangguk samar. Mencoba memercayai Al. Kesungguhan pria itu tak mungkin ia abaikan begitu saja. Dirinya sudah menerima lamaran lelaki tersebut. Maka, ia juga harus siap dengan segala konsekuensinya. ************ Mario menatap sang putri dengan manik yang diliputi kabut tipis. Ada haru dan bahagia menyeruak dalam hati. Gadis kecil yang ia bawa dalam hidup susah, kini telah tumbuh dewasa dengan paras jelita. Bahkan seorang keturunan konglomerat tanpa pikir panjang sedia menjadikan Gita sebagai istrinya. Sungguh harapan itu kian tampak nyata. Impiannya melepas sang putri bersanding di pelaminan akan segera terlaksana. Terlebih pria yang melamarnya bukan orang sembarangan. Meski harapannya hanya ingin Gita mendapatkan pendamping yang baik, nyatanya Tuhan memberi lebih dari yang ia minta. "Papa, kok, nangis?" Gita menatap sang papa dengan rasa bersalah. "Papa terharu, Nak," sahut Mario. "Ternyata Al sungguh-sungguh dengan ucapannya," lanjutnya lagi. Gita hanya menyimak perkataan papanya. Ia sendiri masih mempertanyakan situasi yang terjadi. Gita masih mengira ini semua hanya mimpi. "Pesan Papa, jadilah istri yang baik untuk suamimu kelak. Jangan pernah tinggalkan dia apapun kondisinya. Suka maupun duka kau harus selalu menemaninya." Gita mengerti maksud ayahnya. Tentu saja, ia tahu betapa terlukanya hati sang papa atas keputusan istrinya dahulu. Saat dirinya terpuruk, Rida justru tega meninggalkan dan pergi bersama pria lain yang baru dikenalnya. "Iya, Pa. Gita akan berusaha. Gita akan selalu ingat pesan Papa," ucap Gita, menggenggam lembut tangan keriput yang lemah tersebut. "Kamu juga pasti tahu apa yang dialami Papa dan Mama. Kamu ikut merasakan imbas dari perpisahan kami. Ingat, Nak, perceraian itu sangat menyakitkan. Maka dari itu Papa minta sama kamu kalau sudah menikah nanti, jangan pernah bercerai." . . . . . Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN