Selamat membaca, teman-teman ...
.
.
.
"Sudah siap?"
Al memindai penampilan Gita yang sederhana namun tampak memesona. Hari ini adalah waktu yang ia janjikan untuk membawa gadis itu ke hadapan keluarganya. Ia sengaja tak mengajak gadis itu untuk ke salon ataupun sekadar membeli gaun. Pria itu ingin Gita tampil apa adanya demi membuktikan kalau keluarganya bisa menerima Gita dengan tangan terbuka tanpa memandang kasta.
Sebelumnya Al sudah mengabarkan pada seluruh keluarga kalau dirinya akan mengenalkan seseorang yang istimewa di hatinya. Hal tersebut sontak disambut gembira oleh orang tua serta para saudaranya.
Kendati Al belum mengatakan siapa orang tersebut, Alyta tentu sudah bisa menebak. Pasalnya belakangan ia tahu kalau Al kerap menjemput Gita saat pulang kerja. Informasi tersebut ia terima dari Security yang bertugas menjaga butiknya saat malam hari.
"Aku gugup banget, kak," jawab Gita yang berdiri tak jauh dari tempat Al duduk. Ia meremas buku-buku jarinya sendiri.
Laki-laki itu segera berdiri kemudian menghampiri gadis ayu yang tengah menatapnya dengan cemas. "Kenapa gugup? Orang tuaku bukan guru killer. Mereka bahkan tidak sabar ingin segera bertemu denganmu."
Mario memerhatikan kedua insan yang kini tengah berhadapan. Tak sekalipun ia menyela pembicaraan mereka. Ia mengerti kekhawatiran sang putri. Akan tetapi, dirinya juga percaya kalau yang Al katakan bukan bualan. Keluarga Al pasti bisa menerima Gita.
"Ayo." Al mengulurkan tangan pada Gita. Meski ragu, Gita tetap menyambutnya.
"Pa, Gita berangkat, ya," pamitnya pada sang Papa yang semula duduk berbincang dengan Alindra.
"Iya, hati-hati, ya," tutur lelaki baya tersebut.
Keduanya pun melangkah beriringan, diikuti Mario yang mengantar sampai teras rumah. Kemudian pria senja itu melambaikan tangan seraya tersenyum bahagia melepas kepergian mereka.
Mobil Al memasuki pelataran luas area parkir yang terhubung ke car port milik keluarga besar Hendrawan. Rumah mewah bernuansa Eropa klasik tersebut berdiri angkuh di hadapan mata Gita yang seolah begitu sulit untuk sekadar berkedip.
"Ini rumah Opa dan Oma," jelas Al, seakan tahu isi pikiran Gita. "Setiap akhir pekan semua berkumpul di sini. Termasuk Kak Alyta dan suaminya," tambahnya kemudian.
"Aku jadi merasa kecil melihat rumah ini," celetuk Gita, membuat Alindra mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?" tanya Al, tak paham.
"Em ... Kak, apa Kakak masih yakin mau melanjutkan hubungan kita?" Gita berkata dengan hati-hati. Seraya menatap Al penuh keraguan.
"Aku harus bagaimana lagi untuk meyakinkan kamu?" Kali ini Al tak ragu menyentuh pipi Gita, yang seketika merona akibat dari perlakuannya. "Percayalah, semua akan baik-baik saja. Aku tidak mungkin mengajakmu melangkah sejauh ini, kalau aku sendiri tidak yakin."
Gita meraih tangan Al yang setiap mengusap lembut di pipi. Ia lalu menggenggamnya erat. Dan memandang lekat pada binar nyata terpampang di depannya.
"Maafkan aku, Kak. Bukannya aku gak percaya sama Kakak. Tapi, kuharap Kakak bisa mengerti posisiku saat ini."
"Iya, aku sangat mengerti. Tetaplah bersamaku maka aku juga akan menggenggam tanganmu agar tak pernah jauh dariku."
Gita tak mampu untuk tidak tersentuh oleh kalimat manis keturunan seorang Dewantara. Pria tampan dengan sejuta pesona. Pada akhirnya gadis itu pun mengangguk yakin. Kali ini ia akan menuruti kehendak Alindra. Ia akan memercayai lelaki itu dengan sepenuh hati.
Suara riuh canda tawa menggema saat dua anak manusia yang tengah menjalin asa melewati angkuhnya pintu utama. Jemari Gita semakin terasa dingin dalam genggaman Alindra. Pria itu bisa merasakan kegugupan gadisnya yang pastinya semakin menjadi.
Sesekali tangannya yang mengusap punggung tangan Gita agar merasa lebih hangat. Gadis itu mendongak ke samping, menatap wajah lelaki yang enggan melepas tautan jemarinya. Juga memberi usapan lembut yang menenangkan.
"Om Al ...." Suara nyaring seorang gadis kecil menyambut kehadiran Al dan Gita di sebuah ruang keluarga yang tampak luas.
Terdapat sofa broken white yang membentang panjang. Satu meja persegi yang cukup lebar melengkapi furniture ruangan tersebut. Sebuah TV Plasma tampak menayangkan serial kartun kegemaran anak-anak.
Gadis cilik dengan rambut sebahu bergelombang pada ujungnya berlari menubruk pria gagah yang kini memilih melepas tautan jari di tangan Gita. Lelaki itu menangkap anak perempuan tersebut seraya berseru dengan riangnya.
"Uh, Om Al kangen banget sama Kyara," seru Al, seraya mengecupi pipi gembil gadis yang disapa Kyara tadi.
Tak pelak seluruh tatap tertuju pada satu titik di mana seorang gadis manis berdiri dengan senyum terkembang menghiasi wajahnya yang terlihat berseri. Tangannya terulur menyentuh ujung surai Kyara yang seolah menggantung di kepalanya.
Kyara mendekatkan mulut ke telinga Alindra. Menutup kedua sisi wajah dengan tangan kemudian berbisik, "Om Al punya Barbie?"
Dahi pria itu menampilkan lipatan yang menyiratkan sebuah ketidak pahaman akan apa yang terlontar dari bibir mungil sang keponakan.
"Om Al, Barbie- nya cantik sekali. Nanti Kyara pinjam, ya?" Al memerhatikan arah manik Kyara yang bergerak mencuri pandang pada sebuah objek yang berada di sebelahnya.
Saat itu juga Al mengerti siapa yang Kyara sebut sebagai Barbie. Kedua sudut bibir lelaki itu tertarik ke atas. Menerbitkan sebuah senyuman yang menawan.
"Jangan, Sayang. Barbie yang ini tidak boleh dipinjamkan." Al balas berbisik, yang segera dihadiahi cubitan di pipi, dan juga ekspresi Kyara yang tampak lucu saat bibirnya mengerucut dan merajuk.
"Sayang, kok, Omnya dicubit?" Seorang wanita setengah baya datang menghampiri. Meraih tubuh mungil Kyara dari gendongan Alindra. Irisnya kemudian beralih pada sosok manis yang mengulas sebuah lengkungan di bibirnya yang berhiaskan lesung pipi. "Selamat datang di rumah kami, Nak. Kemarilah, kita duduk dulu jangan berdiri terus." Tisha, Ibunda Alindra menyambut kedatangan Gita dengan tanggapan yang sulit untuk Gita percaya.
Meraih pinggang ramping Sagita, Alindra pun menggiring gadis itu lebih dekat dengan keluarganya.
Hadir di sana sepasang pria dan wanita senja yang Gita perkirakan sebagai kakek dan nenek Alindra. Ada juga seorang pria gagah yang tersenyum lebar menyambut dirinya. Lelaki itu duduk bersisian dengan perempuan cantik yang tak asing di mata Gita. Dia adalah Alyta.
Wanita itu, berusaha menyembunyikan senyumannya yang bahagia melihat sang adik akhirnya menggandeng seorang wanita. Apalagi, gadis yang ia bawa adalah orang beberapa bulan ini cukup dikenalnya.
Gita menyalami semua yang berada di ruangan tersebut secara bergantian. Seluruh keluarga tampak sumringah dengan kedatangannya. Sungguh sambutan yang sangat luar biasa bagi Gita.
Sampai pada saat ia berada di hadapan Alyta dan kemudian perempuan itu memeluknya tanpa ragu, semua orang mulai melayangkan tatapan penuh tanya.
"Selamat datang di keluarga kami, Gita. Aku senang kau mau menerima adikku yang kaku itu," tutur Alyta, masih memegang kedua bahu Gita. "Ma, Pa, Opa, dan juga Oma, ini Gita. Dia karyawan di butik Alyta."
Sontak semua mata pun tertuju pada Gita yang masih berdiri di hadapan Alyta.
.
.
.
.
.
Bersambung