“Belva mau, Bunda cerai sama Mas Ansell.” “A-apa, Kak?” tanya Anwa, jelas saja ia begitu terkejut ketika mendengar permintaan anaknya. “Belva mau Bunda pisah sama Mas Ansel,” ulang gadis itu menatap Bundanya dengan pandangan memohon. Bila perlu, ia ingin bersujud jika sang Bunda menginginkannya. “Kak Belva—-“ “Belva cinta sama Mas Ansell, Bun!” seru Belva memberi isi tahunya pada Anwa menbuatnya sang Bunda kembali terkejut, tidak menyangka apa yang selama ini ia pikirkan benar-benar terjadi. Belva mengambil kedua tangan Anwa, gadis itu menatap Ibunya dengan wajah memelas. Ia tidak sedang berakting melainkan sungguh dari hatinya. Ia begitu mencintai sosok Ansell, seolah jika ia tidak hidup menjadi pasangan laki-laki itu hidupnya akan menjadi mati. Segela cara sudah ia lakukan, termasu

