“Al.” “Alvaro.” “ALVARO ARGI NARUNA!” “Eh? Hah? Apa, Ma?” Alvaro tersentak ketika mendengar teriakan Mamanya yang membahana di dalam dapur. Pria itu meringgis ketika melihat Mareta menatapnya menyelidik. “Tolong ambilin sirum maple-nya,” suruh Mareta yang tengah berada di depan kompor. Alvaro mengangguk, membuka kabinet yang ada di atas kepalanya. “Di kulkas, Al,” kata Mareta lagi membuat pria dua puluh lima tahun itu meringgis. “Kamu duduk aja di meja makan, bentar lagi pancake-nya mateng,” ucap Mareta yang langsung diangguki oleh Alvaro. Pria itu melemaskan bahunya seiring dengan nafasnya yang berhembus, berjalan menuju meja makan yang masih berada satu ruangan dengan dapur. Lima menit kemudian, Mareta datang dengan piring berisi pancake dan sirup maple. Perempuan itu duduk bersa

