“Mas Ray udah selesai makan.” Anwa yang melihat Rayyan sudah mendorong kursi ke belakang dan bersiap meninggal meja makan dengan piring yang masih menyisahkan setengah menahannya untuk tidak pergi. “Tapi, makannya belum habis, Mas.” Rayyan tidak mengidahkan perkataan ataupun panggilan Anwa, bocah laki-laki itu berjalan menuju lantai atas tanpa menoleh sedikit pun. Wanita itu menghela nafasnya pelan, perasaan bersalahnya makin menjadi ketika melihat bagaimana sikap Rayyan padannya. Anwa benar-benar menyesal kelewatan membentak Rayyan juga membatalkam rencana mereka yang akan piknik. Anwa sudah berusaha meminta maaf dan merencanakan jalan-jalan di hari libur berikutnya namun Rayyan malah menolak dan seperti berusaha menghindarinya. Ia kembali melihat ke arah meja makan yang hanya teris

