3. Mas Arya

1406 Kata
Pagi ini Kinar sudah sampai di situs Bhre Kahuripan dengan bantuan abang ojek online. Belum ada siapa pun di sana. "Mungkin aku datang kepagian," batin Kinar. Sepanjang malam, Kinar mengobrak-abrik isi travel bagnya. Dia tidak menemukan baju yang dimaksud oleh Arya. Semua bajunya memang baju fit body, baju yang dipakainya sekarang adalah yang paling longgar menurutnya. Jeans yang dipakainya tetaplah model legging jeans, untungnya dia membawa sepatu sneaker trendy-nya. Kinar berjalan menuju ke pos informasi dan menunggu kedatangan tim yang lain. Sambil menunggu, Kinar membuat beberapa catatan dan mengambil gambar beberapa bagian menarik di situs ini menggunakan ponselnya. Suara mobil milik Arya yang khas menghentikan aktivitas Kinar. Kinar sedikit grogi dengan kedatangan Arya, Kinar berharap hari ini Arya bisa dia jinakkan. Kinar melihat Arya yang berwajah dingin menuju ke pos informasi tempatnya berada saat ini. Jantung Kinar semakin berdegup kencang seolah baru pertama kali berkencan dengan sang kekasih hati. Arya melihat Kinar sepintas lalu. “Selamat pagi, Pak.” Kinar menyapa Arya dengan sopan. “Pagi! Tidak usah terlalu rajin datangnya. Ini masih jam 7. Biasanya anak-anak datang jam 8.” ucap Arya sambil meletakkan tasnya di meja. “Oh, maaf Pak. Tadi sekalian sarapan trus langsung ke sini.” Harus Arya akui makhluk di hadapannya ini memang sangat cantik. Bagaimana bisa makhluk secantik ini memilih profesi sebagai arkeolog? tanya Arya dalam hati. “Kuliah di UI?” tanya Arya. “Eh, saya?” “Iya! Memang ada orang lain lagi di sini?” “Iya Pak, saya lulusan UI!” jawab Kinar sedikit kesal. “Sudah bongkar apa saja selama di ibukota? Jangan-jangan bongkar Monas?” tanya Arya sinis. Kinar cemberut, Arya melihat Kinar saat memanyunkan bibirnya. Kinar tersadar kalau sedang diperhatikan, dia tambah memanyunkan bibirnya. “Saya banyak ditugaskan di situs Tarumanegara, Pak!” jawab Kinar sebal. “Oh, jadi intinya sudah pernah bongkar-bongkar, kan?” tanya Arya serius. “Sudah, Pak Arya!” “Baguslah! Saya kira, saya diberi personil foto model cuma buat promosi situs saya.” Kinar kembali memanyunkan bibirnya, Arya melirik aktivitas Kinar yang sejak tadi manyun setiap kali Arya mengatakan kalimat sindiran pada Kinar. “Bisa bantu saya?” tanya Arya. “Ya?” Kinar sedikit terkejut karena lelaki dingin itu minta bantuan. “Buatkan saya kopi ya! Kamu bisa kan?” perintah Arya. “Hah?!” Kinar terbelalak. “ Ngga mau bantu?” Arya melotot. “Ah, ya.. ya.. saya buatkan!” Kinar membuatkan kopi untuk Arya dengan sebal. Kinar sadar, Arya sedang mengerjainya. "Awas, ya.. Tunggu saja pembalasanku!" gumam Kinar. “Nih, Pak Arya kopinya!” Kinar menyodorkan secangkir kopi untuk Arya. Arya menerima secangkir kopi dari Kinar tanpa menoleh sedikit pun karena sedang asyik dengan laptopnya. Kinar tidak ambil pusing, sebentar kemudian dia ber-swa foto. Arya melirik kegiatan Kinar, lalu merenung. “Apa dia berguna?” gumam Arya. Pukul 8 pagi, para pekerja situs mulai berdatangan termasuk tim arkeolog di situs ini. Sampai hari ini situs Bhre Kahuripan ditangani oleh 4 arkeolog muda yaitu Arya, Beni, Winda, dan Kinar. Pagi ini Arya melakukan briefing dengan timnya sedangkan para pekerja melanjutkan pekerjaan mereka. “Saya akan mengulang sekali lagi khususnya buat arkeolog baru kita,” Arya melirik Kinar yang ternyata sedang serius menatap wajahnya, “situs ini memang tidak se-monumental situs yang baru saja ditemukan oleh rekan-rekan kita tapi saya harap tim ini tetap berkomitmen untuk mencurahkan segala kemampuan yang ada supaya situs ini bisa terungkap seluruhnya dan menjadi kekayaan baru bagi dunia arkeolog dan masyarakat di sekitar situs.“ “Iya, Pak Arya,” jawab Kinar. Beni dan Winda menahan tawa mendengar Kinar memanggil Arya dengan sangat formal. Kinar memandang Beni dan Winda lalu mengernyitkan dahinya. “Saya tidak akan menjelaskan dengan detail tentang asal-usul situs ini, karena saya yakin sebagai arkeolog kamu bisa membaca dari referensi yang benar, Kinar.” “Iya, Mas Arya.” Arya melotot, Beni dan Winda tidak bisa menahan tawa kali ini. Kinar yang menyadari kalau dia salah memanggil Arya dengan sebutan Mas Arya, segera meralatnya. “Eh, maksud saya, iya Pak Arya!” Kinar melirik Arya, Arya salah tingkah. Kinar sangat geli melihat Arya yang salah tingkah, namun tawa yang hampir meledak itu bisa ditahannya. Kalau saja Kinar tertawa pastilah hari ini juga dia akan dipecat dari pekerjaan barunya ini. “Saya akan menjelaskan pembagian tugas kita!” Arya mendadak galak, “Beni dan Winda akan bekerja di situs bagian utara, saya dan Kinar akan bekerja di situs bagian barat.” “Wah! Kok pembagiannya ngga adil gini, Ar!” protes Beni. “Ngga adil gimana?!” tanya Arya ngegas. “Aku dapat yang berat, kamu dapat yang cantik.” Spontan sebuah bogem mentah mendarat di punggung Beni. "Aduh! Aduh, Win! Ya ampun!" teriak Beni kesakitan. “Kurang ajar kamu, Ben! Biar berat, tenagaku berguna!” Winda melotot ke arah Beni. “Beni mau kerja bareng Mas Arya? Eh, Pak Arya?” Kinar sengaja menggoda Arya. “Kok jadi kamu yang ngatur? Saya kepalanya di sini!” Arya sewot. “Maksud saya kalau Beni mau kerja bareng Mas Arya, saya mau kok satu tim sama Winda,” jawab Kinar yang mulai berani angkat bicara. “Mas Arya??” gumam Arya hampir tidak terdengar. Arya berdiri, “Sudah! Ayo kerja!” Arya melangkahkan kaki meninggalkan pos informasi. Sedangkan Beni dan Winda masih asyik mengobrol dengan Kinar. “Selamat bekerja bareng Mas Arya, ya!” goda Beni. “Kamu pasti bisa meluluhkan hati Mas Arya,” sambung Winda sambil terkekeh. “KINARR!!” Mereka bertiga terkejut mendengar teriakan Arya yang memekakkan telinga lalu segera bangkit dari tempat duduk dan berlari tunggang langgang menuju ke lokasi masing-masing. Kinar terengah-engah berlari mengikuti Arya dari belakang. “Jangan bergosip di belakang saya, ya!” ancam Arya saat Kinar sudah berada di dekatnya. “Kami tidak menggosipkan Mas Arya kok!” Kinar membela diri. “Oya, satu lagi. Jangan panggil saya Mas Arya!” “Kenapa?” protes Kinar, “Beni dan Winda malah langsung memanggil nama tanpa menyebut Pak!” “Tugasmu membuat rekaman digital di situs bagian barat,” ucap Arya tanpa menggubris Kinar. “Ya, Mas Arya!” Arya spontan membalikkan badan dan memandang Kinar dengan tajam. Kinar terkejut dibuatnya. Semilir angin meniupkan rambut panjang Kinar yang tergerai indah menyapu wajah Arya. Harum rambut Kinar membuat Arya mengurungkan niatnya untuk bertengkar dengan perempuan cantik ini. “Jangan lupa, rekaman digitalnya harus lengkap! Sudah ngerti kan cara kerjanya?!” “Iya, Mas!” Kinar geram. Kedatangan Kinar untuk bergabung di lapangan membuat para pekerja senyum-senyum sendiri, banyak di antara mereka yang mengoceh dan bersenandung lagu cinta ketika melihat bidadari cantik ikut kerja di lapangan. “Selamat siang, Pak Arya!” sapa para pekerja dengan kompaknya. “Siang!” jawab Arya santai. “Pacarnya, Pak?” celetuk salah seorang pekerja. Arya menjawab dengan cepat, “Bukan! Anggota tim saya!” “Kenalkan dong, Pak!” sahut yang lain. Arya memandang Kinar dan memberi kode untuk memperkenalkan diri. “Selamat siang Bapak-bapak! Perkenalkan nama saya Kinar Ayu, biasa dipanggil Kinar! Saya anggota baru di timnya Mas Arya!” seru Kinar. “Wah! Ya memang ayu, pantas saja namanya pakai Ayu!” celetuk seorang pekerja. “Panggilnya Mas Arya? Mesra sekali Mba Kinar?” celetuk yang lain. Kinar memandang Arya sambil tersenyum, sedangkan Arya pura-pura tidak mendengarnya. “Ayo, Pak! Kerja lagi! Yang semangat ya!” teriak Arya sambil menyemangati anak buahnya. “Ya, Pak Arya. Saya semangat hari ini!!” teriak salah satu pekerja disambut tawa pekerja yang lain. Arya mengawasi para pekerja, sedangkan Kinar mulai membuat rekam digital di situs bagian barat ini. Tidak hanya itu, Kinar juga bertugas membuat sketsa penemuan di situs barat ini. Kinar duduk di bawah pohon yang rindang saat Arya yang sudah selesai berkeliling menghampirinya. “Ada kesulitan?” tanya Arya sambil mengambil duduk di samping Kinar. Kinar memandang Arya sekilas, walaupun agak berantakan namun wajah Arya memang tampan dan keren. Seorang pekerja lapangan yang bisa dibilang menarik perhatian wanita termasuk Kinar, hingga Kinar sudah berani menggoda Arya di hari pertamanya bekerja. “Hmm?” Kinar hanya bergumam sambil terus melanjutkan gambarnya yang meniru bentuk dinding dari batu andesit yang menyusun candi bagian barat itu. Arya melongok ke kertas gambar yang dipegang Kinar. “Lumayan,” ucap Arya. “Apa yang lumayan?” tanya Kinar. “Gambar sketsamu.” “Makanya, Mas Arya jangan meremehkan saya! Lihat nih, saya berguna kan?” Arya memandang wajah Kinar, dia masih tidak habis pikir bagaimana bisa perempuan secantik ini mau jadi arkeolog. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN