2. Flat Shoes

1414 Kata
“Kami memerlukan anggota tim laki-laki, Pak!” Arya, anggota tim ekskavasi Badan Arkeologi Nasional wilayah Jawa bagian timur sedang berargumen dengan atasannya. “Kamu lihat dulu lah, Arya! Belum tentu anggota perempuan tidak memberikan peranan di lapangan,” jelas Pak Han. “Kami benar-benar butuh tenaga laki-laki, Pak! Anggota tim saya sudah disabotase!” protes Arya “Bukan disabotase. Tapi kami menempatkan mereka di situs yang memerlukan lebih banyak personil. Ini situs kunci untuk membuka misteri kerajaan Majapahit,” jelas Pak Han. “Bukan berarti situs yang kami kerjakan tidak penting kan, Pak? Kami tetap butuh tenaga laki-laki, Pak!” Arya mengotot. “Ya, saya tahu. Tapi yang lolos seleksi hanya satu. Sementara ini terimalah dia sebagai anggota tim kalian.” Pak Han mencoba meluluhkan hati Arya. “Hufft... Baiklah. Kapan dia datang?” tanya Arya. “Siang ini akan langsung saya minta ke ruanganmu,” jawab Pak Han. “Suruh saja dia langsung ke lapangan. Saya ada di situs Bhre Kahuripan.” Arya membereskan berkas-berkasnya. “Baiklah, nanti akan saya minta dia untuk langsung ke sana,” jawab Pak Han. “Satu lagi, Pak. Kami benar-benar membutuhkan anggota tim laki-laki.” Arya memberi penegasan pada kalimatnya. “Baiklah, akan saya bicarakan dengan pusat!” Pak Han berusaha meyakinkan Arya. *** Arya mengemudikan mobilnya menuju ke situs Bhre Kahuripan. Di sinilah Arya menghabiskan sebagian besar waktunya sebagai arkeolog. Pria lulusan salah satu universitas ternama di Yogyakarta ini memang memiliki minat yang besar terhadap peninggalan cagar budaya di Indonesia. Walaupun Arya belum lama bergabung di Badan Arkeologi Nasional namun dia sudah didapuk sebagai ketua tim ekskavasi di situs Bhre Kahuripan. Beberapa waktu yang lalu, Arya harus kehilangan anggota timnya karena diperbantukan untuk menggarap temuan di situs lain yang lebih besar. “Arya!” Beni memanggil Arya yang baru saja turun dari mobilnya. “Kenapa, Ben?” tanya Arya sambil berjalan mendekati Beni. “Bagaimana pertemuanmu dengan Pak Han?” “Kita mendapat tambahan satu personil,” Arya memberi jeda pada kalimatnya. “Tapi??” tanya Beni penasaran. “Tapi seorang perempuan,” jawab Arya sedikit kesal. Beni tertawa sambil menepuk bahu Arya, “Tak apalah, kalau perempuannya tangguh seperti Winda itu!” Beni menunjuk ke arah Winda, satu-satunya anggota perempuan dalam tim ini. Winda yang berperawakan tinggi besar dan bertenaga seperti laki-laki ini memang banyak membantu kekosongan personil dalam tim mereka. “Ya, semoga anak baru ini nanti seperti Winda!” ucap Arya menghibur dirinya sendiri. “Hei! Lagi pula kalau masalah bongkar membongkar, pekerja kita masih cukup! Jangan terlalu khawatir lah!” “Ya, ya, ya!” jawab Arya kesal. Sebenarnya kekesalan Arya dipicu karena anggota timnya dipindah tugaskan. Situs temuan terbaru dianggap lebih penting daripada situs yang sedang digarap oleh timnya. Namun, anggota tim Arya selalu memberi penghiburan bahwa semua ini semata-mata untuk kemajuan dunia arkeologi dan yang terpenting adalah untuk memperkenalkan pada masyarakat sekitar bahwa mereka memiliki warisan budaya yang maha tinggi nilainya. Arya sedang melakukan koordinasi dengan timnya. Situs Bhre Kahuripan ini adalah salah satu situs peninggalan sejarah kerajaan Majapahit. Situs ini adalah situs pendarmaan bagi ratu Tribhuwana Tunggadewi. Awalnya di tempat ini hanya ditemukan sebuah yoni tanpa lingga, yoni adalah obyek pemujaan penting dalam agama Hindu. Yoni biasanya berpasangan dengan lingga yang melambangkan Dewa Siwa. Setelah dilakukan penelitian dan hasil kajian ternyata di bawah Yoni ini terdapat candi yang terpendam. Candi ini dibangun oleh Raja Hayam Wuruk sebagai tempat pendarmaan bagi ibunya yang meninggal pada tahun 1294 masehi. “Selamat siang,” sapa seorang perempuan dengan lembut. Arya dan tim yang sedang duduk bersila di tanah segera menoleh ke arah datangnya suara. Pandangan mata Arya langsung terpaku pada sepasang sepatu cantik yang dipakai oleh pemiliknya. Flat shoes itu berwarna baby blue berhiaskan pompom yang sangat lucu. Arya memijit pelipisnya bahkan sebelum dia melihat wajah tamu yang datang itu. “Ada yang bisa dibantu, Mba?” tanya Beni pada seorang perempuan yang menurut pendapat Beni adalah wisatawan. “Maaf, Mas apakah saya bisa bertemu ketua tim ekskavasi di situs ini?” tanya Kinar dengan ramah. “Oww! Ini dia orangnya!” Beni menepuk-nepuk bahu Arya. Arya bangkit berdiri lalu memandang Kinar dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia lebih mirip seorang artis dibanding arkeolog batin Arya. “Ada perlu apa?!” tanya Arya yang terkesan galak saat pertemuan pertama. “Oh.. Ehmm.. Saya Kinar. Saya arkeolog baru yang ditugaskan di sini,” jawab Kinar. Kinar sedikit gugup karena mendapatkan sambutan yang kurang bersahabat. Arya melihat Kinar dengan tatapan yang aneh. Gadis ini berkunjung ke situs yang sedang di ekskavasi dengan menggunakan flat shoes baby blue ber-pompom, skinny jeans, dan baju fit body warna putih. Rambutnya yang diwarnai dengan teknik balayage kecokelatan dan berkaca mata hitam membuatnya seperti artis ibukota. Gadis ini membawa serta travel bagnya ke area situs yang penuh debu pembongkaran dan bongkahan batu. “Kamu ke sini mau kerja jadi arkeolog atau mau jadi model, hah?” Arya memandang Kinar dengan tatapan meremehkan. “Maaf, Mas..” “Pak!” potong Arya. “Maaf, Pak!” jawab Kinar yang mulai kesal. “Sebaiknya kamu mencari tempat tinggal dulu!” Arya melihat dua buah travel bag dan beberapa tas lain yang dibawa oleh Kinar. “Sementara ini saya tidur di hotel, Pak!” jelas Kinar. “Hotel??” Arya tersenyum sinis, “sudah tahu berapa besar gajimu?” “Tentu saja!” jawab Kinar dengan cepat, “saya rasa tidak semua orang mempermasalahkan berapa besar gajinya.” “Ya, mungkin itu berlaku buatmu!” jawab Arya sinis. Winda, yang beberapa saat yang lalu menjadi satu-satunya perempuan dalam tim itu menengahi. “Arya! Suruhlah dia duduk dan minum dulu!” teriak Winda. Arya menoleh ke arah Winda lalu berjalan menuju ke pos informasi yang dibangun dengan sangat sederhana dari bambu. Arya meninggalkan Kinar begitu saja. Winda mendekati Kinar. “Hai! Selamat bergabung ya! Namaku Winda,” sapa Winda dengan hangat. “Halo Winda, terima kasih ya! Kenalkan aku Kinar,” Kinar menjabat erat tangan Winda. “Jangan diambil hati. Arya memang seperti itu, lama-lama kamu akan terbiasa,” bisik Winda. Kinar mengangguk lalu mengikuti Winda berjalan ke arah pos informasi. Arya sudah duduk di sana bersama Beni sambil menyeruput kopi. Winda duduk di samping Beni berhadap-hadapan dengan Arya. Kinar terpaksa duduk di samping Arya, di ruangan itu hanya ada empat buah kursi. Setelah sibuk mengatur barang-barangnya, Kinar mengeluarkan sesuatu dari salah satu tas yang dibawanya. “Ini ada pizza, tadi saya mampir.” Kinar membuka kotak pizza yang dibelinya lalu diletakkan di meja. “Wahhh! Lumayan nih, buat mengganjal perut yang keroncongan!” sambut Beni dengan senang hati. “Terima kasih Kinar!” pekik Winda. "Iya, sama-sama!" jawab Kinar sambil tersenyum. Arya melotot memandang Beni dan Winda. “Kamu ngga mau, Ar?” tanya Beni. “Buat kamu saja! Perutmu keroncongan kan??” tanya Arya dengan sinis. “Santai, Bro!” balas Beni. “Aku sudah melihat CV-mu,” Arya memandang Kinar, “belum punya pengalaman kerja?” “Saya rasa semua pernah mengalami diterima kerja untuk yang pertama kali!” protes Kinar dengan nada kesal. "Ini orang kok nge-gas terus ya?" batin Kinar. “Aku akan menjelaskan tugasmu besok pagi. Pakailah baju yang nyaman karena kita kerja di lapangan! Sepatumu juga tidak cocok untuk dipakai kerja di lapangan! Sepatu model apa sih itu, Win?” tanya Arya ke arah Winda, “ada bulu-bulu aneh menggelikan di sepatunya!” Winda menahan tawa mendengar kritikan Arya pada Kinar. “Maaf, Pak. Besok saya akan menyesuaikan!” jawab Kinar. “Win, antarkan dia ke hotelnya! Hari ini dia belum mulai kerja!” Arya melempar kunci mobilnya ke arah Winda lalu pergi meninggalkan pos informasi. “Oke, Bos!” jawab Winda. *** “Benar kamu tinggal di hotel?” tanya Winda sambil membantu Kinar menaikkan barang-barangnya ke mobil Arya. “Iya, Win. Aku belum sempat mencari rumah kontrakan. Semua serba mendadak,” jawab Kinar. “Seandainya aku tinggal di rumahku sendiri, aku pasti akan mengajakmu tinggal bersamaku,” jelas Winda. “Kamu tinggal di mana?” tanya Kinar. “Aku kos di dekat sini, tapi sayangnya sudah tidak ada kamar kosong.” “Ah, tidak apa-apa Win. Aku akan segera mencari rumah kontrakan atau tempat kos dekat sini.” “Oya, pakailah baju dan sepatu yang casual supaya Arya tidak terus-terusan memberi kritikan pedas.” Winda memberi saran. Kinar tersenyum, “Baiklah, Win. Galak juga ya ternyata Pak Arya?” “Dia sedang tidak enak hati. Tapi tenang saja nanti lama-lama kamu juga terbiasa. Dia orang yang baik kok,” jelas Winda. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN