1. Cupumanik Astagina

1567 Kata
Enam tahun yang lalu Kinar dengan malas masuk ke dalam kelasnya. Hari ini jam terakhir adalah pelajaran Bahasa Jawa, Kinar agak kesulitan dengan mata pelajaran ini karena dia adalah anak baru pindahan dari ibukota yang tidak menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Kinar harus tinggal di salah satu kota kecil di Jawa Tengah karena ayahnya pindah tugas di kota tersebut. “Selamat siang anak-anak!” Bu Sinta menyapa murid-muridnya. “Selamat siang, Bu!” Anak-anak kelas X C menjawab sambil saling menoleh kebingungan karena bukan Pak Joko yang masuk ke dalam kelas mereka sekarang ini, melainkan Bu Sinta guru BK yang juga mengajar di kelas mereka. “Anak-anak, hari ini Pak Joko tidak masuk karena sakit. Jadi, hari ini Bu Sinta akan mendampingi kalian belajar bahasa Jawa. Apakah ada yang keberatan?” tanya guru BK ini dengan ramah. “Tidak, Bu!” jawab anak-anak kelas X C dengan serentak. “Baik anak-anak, Pak Joko sudah menitipkan tugas supaya anak-anak membaca bacaan yang berjudul Cupumanik Astagina dari buku kalian di halaman 102. Biasanya dibaca bersama-sama atau bergantian?” Andi sang ketua kelas menjawab, “Biasanya dibaca sendiri dalam hati, Bu.” “Ah, begitu. Baiklah, khusus hari ini akan kita baca bergantian dan akan Ibu terjemahkan setelahnya, supaya bila ada kata-kata yang belum kalian ketahui, bisa langsung kalian tambahkan sebagai catatan.” Kinar tampak bersemangat saat Bu Sinta memberi tahu bahwa bacaan hari ini akan langsung diterjemahkan. Selama ini, Pak Joko hanya menyuruh murid-muridnya membaca dalam hati, setelah itu langsung diminta untuk mengerjakan soal. Itu yang membuat Kinar kesulitan belajar bahasa jawa. “Baiklah, silakan Andi membaca paragraf pertama.” Andi mulai membaca dengan lancar, “Resi Gotama kagungan garwa ingkang asmanipun Dewi Windradi. Saking Dewi Windradi, Resi Gotama pikantuk putra cacah tiga, inggih punika Dewi Anjani, Guwarsi, lan Guwarsa. Dewi Anjani dados putra ingkang paling dipuntresnani dening ibunipun tinimbang sedherek kekalihipun.” “Baik, anak-anak akan Bu Sinta terjemahkan seperti ini, Resi Gotama mempunyai istri yang bernama Dewi Windradi. Dari Dewi Windradi, Resi Gotama memiliki tiga orang anak, yaitu Dewi Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa. Dewi Anjani menjadi anak yang paling disayang oleh ibunya dibanding kedua saudaranya yang lain. Rani silakan dilanjutkan membaca paragraf kedua.” Rani membaca paragraf kedua, “Dewi Windradi punika salah satunggaling widadari saking kahyangan. Sanadyan sampun kagungan garwa lan putra cacah tiga, nanging Dewi Windradi tasih asring sowan wonten kahyangan kanthi alesan badhe pinanggih kaliyan rencang-rencang ugi sedherekipun. Sejatinipun, Dewi Windradi sowan wonten kahyangan menika anamung badhe pinanggih kaliyan Bathara Surya utawi Dewa Srengenge.” Bu Sinta segera menerjemahkan paragraf kedua setelah Rani selesai membaca. “Dewi Windradi adalah salah satu bidadari dari kayangan. Walaupun sudah memiliki suami dan tiga orang anak, namun Dewi Windradi masih sering pergi ke kayangan dengan alasan ingin bertemu dengan teman-teman juga saudaranya. Sesungguhnya, Dewi Windradi pergi ke kayangan hanya untuk bertemu dengan Bathara Surya atau Dewa Matahari,” Bu Sinta memberi jeda sebelum lanjut ke paragraf ketiga, “baik anak-anak, sebelum kita melanjutkan paragraf ketiga, apakah ada yang ingin kalian tanyakan sampai paragraf kedua ini?” “Saya mau bertanya, Bu!” Arman mengacungkan jari telunjuknya untuk bertanya pada Bu Sinta. “Ya, Arman? Apa yang mau kamu tanyakan?” Bu Sinta fokus memandang Arman. Arman senyum-senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Berarti Dewi Windradi selingkuh dengan Bathara Surya ya, Bu?” Pertanyaan Arman disambut gelak tawa dari teman-temannya, mereka tertawa geli karena Arman menanyakan pertanyaan dengan sangat polos. Bu Sinta tersenyum, “Arman, untuk menjawab pertanyaanmu tadi kita akan lanjutkan dulu membaca paragraf ketiga ya! Ibu minta tolong Kinar ya, untuk membacakan paragraf ketiga.” Kinar yang tidak siap dengan penunjukan itu sempat terbatuk-batuk. Kinar kemudian menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Bathara Surya tresna sanget kaliyan Dewi Windradi, awit saking raos tresnanipun kala wau, Bathara Surya maringi pusaka kanthi sinebat Cupumanik Astagina. Wujudipun endah sanget, menawi tutupipun dipunbikak saged kapirsanan sedaya kaelokan saha kawontenan ing jagad raya.” Kinar menghela napasnya setelah selesai membaca bacaan itu. Dia sendiri tidak menyangka dapat membaca bacaan berbahasa jawa krama tersebut dengan sangat lancar. “Terima kasih Kinar, kamu membaca dengan sangat lancar,” Bu Sinta memberi apresiasi yang sangat melambungkan semangat Kinar hari ini, “baik terjemahannya tolong diperhatikan ya, terutama Arman. Bathara Surya sangat mencintai Dewi Windradi, sebagai bentuk rasa cintanya, Bathara Surya memberikan pusaka yang disebut Cupumanik Astagina. Wujudnya sangat indah, bila tutupnya dibuka maka dapat terlihat keindahan dan keadaan di jagad raya." Kinar sangat tertarik mendengarkan terjemahan cerita yang dikemas apik oleh Bu Sinta. Menurut terjemahan Bu Sinta Cupumanik itu bentuknya mirip tempat untuk menyimpan perhiasan. Bagian dalamnya bisa menampilkan keindahan tempat tinggal para dewa di kayangan, sedangkan bagian tutupnya menampilkan keindahan alam semesta raya ini. Tampil berganti-ganti dari pemandangan satu ke pemandangan yang lain inilah yang membuat Dewi Windradi tidak pernah bosan memandang cupumanik astagina pemberian Bathara Surya sehingga kebosanannya terhadap suaminya yang seorang pertapa dan rasa rindunya kepada sang kekasih bisa terobati. Suatu hari saat anak-anaknya beranjak remaja, terjadilah peristiwa yang mendatangkan petaka bagi keluarga Resi Gotama ini. Anjani melihat Sang Ibu sedang tersenyum-senyum melihat sebuah benda yang memancarkan cahaya. “Ibu! Apa yang sedang Ibu pegang itu?” tanya Anjani. “Oh, Anjani! Ini bukan apa-apa!” jawab Dewi Windradi sambil menyembunyikan cupu itu di balik punggungnya. “Aku mau melihatnya Ibu! Kenapa tempat perhiasan itu bisa memancarkan cahaya? Kumohon Ibu! Tunjukkanlah padaku, Ibu!” Anjani merengek dan terus menyerang ibunya dengan pertanyaan-pertanyaan. Akhirnya, Dewi Windradi menunjukkan cupumanik itu kepada Anjani. Anjani senang bukan kepalang melihat berbagai pemandangan indah muncul dari cupumanik tersebut. Anjani ingin sekali memilikinya, karena Dewi Windradi sangat menyayangi Anjani maka Dewi Windradi memberikan cupumanik itu kepada Anjani dengan syarat Anjani tidak diperbolehkan menunjukkan atau menceritakan tentang cupumanik itu kepada siapa pun termasuk kepada kedua saudaranya karena akan terjadi petaka bila sampai diketahui oleh orang lain. “Baik, Ibu! Aku akan menyimpan cupumanik ini dengan sebaik-baiknya! Adik-adikku tidak akan tahu keberadaannya!” jawab Anjani. Namun sayang, Anjani dengan tidak sadar tidak bisa menepati janjinya. Anjani seolah-olah tersihir oleh pesona cupumanik yang bisa menampilkan segala macam gambar keindahan dunia manusia dan para dewa. Anjani tak henti-hentinya memegang cupumanik itu serta memandangnya siang dan malam. Anjani tidak peduli lagi dengan keadaan di sekitarnya. Anjani tidak ingin lagi bermain dengan adik-adiknya. Hingga suatu hari... “Kak Anjani apa itu?!” tanya Guwarsi adiknya. Anjani terkejut dan segera menyembunyikan cupumanik pemberian ibunya. “Bukan apa-apa! Pergilah Guwarsi!” Anjani mengusir adiknya. “Kak Anjani aku melihat cahaya dari tempat perhiasanmu! Aku juga ingin melihatnya!” kata Guwarsa. Akhirnya, ketiga kakak beradik ini bertengkar memperebutkan cupumanik pemberian Dewi Windradi. Guwarsi dan Guwarsa menemui ayahnya untuk memprotes ayahnya karena hanya memberikan benda indah itu pada Anjani. Resi Gotama yang tidak merasa memberikan barang itu pada Anjani segera memanggil putrinya. “Anjani, sebenarnya benda apa yang kalian perebutkan?” tanya Resi Gotama. Anjani yang sangat takut dan menghormati ayahnya tidak bisa membohongi ayahnya. Anjani mengeluarkan benda yang bernama Cupumanik Astagina itu dan memberikannya kepada ayahnya. Resi Gotama terkejut melihat pusaka dewata itu. Teringat kembali saat pertama kali bertemu Dewi Windradi, Dewi Windradi sempat menolak perjodohannya dengan Resi Gotama karena sudah memiliki kekasih dari kalangan dewa yang bernama Bathara Surya. Resi Gotama akhirnya memanggil Dewi Windradi. “Istriku Windradi, apakah benar cupumanik ini pemberian dari Bathara Surya?” tanya Resi Gotama. Dewi Windradi terkejut dan terdiam seribu bahasa. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa itu pemberian dari Bathara Surya karena sudah pasti perselingkuhannya akan ketahuan oleh suaminya. “Dewi Windradi, aku bertanya kepadamu! Siapa yang memberimu cupumanik ini?? Dewi Windradi cupumanik siapa ini??” Dewi Windradi tidak menjawab, dia menangis tersedu-sedu di depan suami dan anak-anaknya. Dengan kesal akhirnya Resi Gotama mengutuk Dewi Windradi menjadi batu. Batu itu dilempar hingga ke negara Alengka sedangkan cupumanik yang menjadi rebutan itu juga dilemparkan hingga terbawa hembusan angin. Cupumanik itu jatuh di dua buah tempat hingga membentuk cekungan dan kepingan permatanya menjadi air membentuk telaga. Telaga itu bernama telaga Sumala dan telaga Nirmala. *** “Anak-anakku demikian tadi terjemahan cerita Cupumanik Astagina dalam bahasa Indonesia. Kisah ini ditulis oleh Empu Walmiki sekitar 400 tahun sebelum masehi. Di akhir cerita, Anjani dan kedua adiknya tidak memedulikan ibunya yang berubah menjadi batu. Mereka masih mengejar cupumanik itu dan berusaha memilikinya. Cupumanik itu menjadi telaga, mereka bertiga mencelupkan diri ke dalam telaga dan berubah wujud menjadi kera,” jelas Bu Sinta. “Kera itu bernama Sugriwa dan Subali kan, Bu?” tanya Arman. “Benar sekali Arman. Apakah kalian bisa menemukan amanat dari cerita ini?” tanya Bu Sinta. Tidak ada seorang pun yang menjawab, akhirnya Bu Sinta menutup pelajaran hari ini dengan memberikan amanat yang membuat Kinar akhirnya jatuh hati pada warisan budaya Indonesia. “Empu Walmiki saat itu sudah bisa meramalkan bahwa dunia yang akan datang akan dikuasai oleh benda yang bernama hand phone dan internet. Cupumanik ibaratnya adalah hand phone, bila kita tidak bisa menggunakan dengan bijaksana maka kita akan berubah menjadi seperti Anjani dan saudara-saudaranya. Keranjingan HP dan internet. Maka anak-anak gunakanlah HP kalian dengan bijaksana karena bila digunakan dengan salah akan menjauhkan kalian dari orang-orang yang kalian sayangi." Kinar tersenyum, keren juga si Empu Walmiki ini ucapnya dalam hati. Sejak saat itu, Kinar sangat tertarik dengan cerita tentang Cupumanik Astagina. Kinar seolah memiliki bayangan masa lalu dan keterikatan aneh setiap kali membicarakan tentang cupumanik ini. Kinar juga sering kali mengajak ayah dan ibunya untuk berburu telaga yang diyakininya sebagai tempat jatuhnya cupumanik tersebut. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN