5. Menghindar

1440 Kata
Pagi-pagi benar Winda sudah menjemput Kinar di hotel. Mereka berencana makan bubur ayam sambil bergosip tentang si bos. “Pesan apa, Win?” “Aku bubur ayam sama teh panas aja,” jawab Winda sambil melepas jaketnya. “Mas, bubur ayam sama teh panas dua ya!” “Ya, Mba!” jawab si penjual bubur ayam. Sambil menunggu pesanan bubur ayam, mereka melanjutkan pembicaraan mereka lewat chat semalam. “Jadi, siapa Niken?” Kinar membuka percakapan. “Tapi janji jangan bilang Arya kalau aku yang cerita ya! Aku bisa diceburin Arya ke dalam sumur situs!" Winda mewanti-wanti Kinar. "Iya, aku ngga akan ember, Win! Tenang aja!" "Niken itu mantan pacar Arya,” jawab Winda. “Oya?” Kinar tampak tidak bersemangat. “Niken itu mahasiswa yang KKN di kampungnya Arya. Arya sudah mengenalkan Niken ke teman-teman dan keluarganya, hampir semua tahu. Sepertinya baru pertama kali itu Arya jatuh cinta sama perempuan.” “Oh, jadi Niken cinta pertamanya Arya ya?” “Ya, bisa dibilang gitu deh. Tapi sayang, Niken ternyata sudah punya pacar di kampusnya. Niken tidak terus terang sama Arya. Niken jalan sama Arya sekaligus sama pacarnya.” “Trus ketahuan sama Arya?” tanya Kinar penasaran. “Saat Niken sama Arya bertengkar, Niken sengaja meminta pacarnya datang ke sini buat manas-manasin Arya. Akhirnya, pas KKN rampung Niken pilih memutuskan Arya dan kembali ke pacarnya. Sekarang Niken sudah menikah dan punya anak sama pacarnya itu.” “Oh, gitu ya?” “Semenjak itu Arya belum pernah pacaran atau dekat sama perempuan lagi. Kecuali sama aku lah ya, aku kan anggota timnya,” Winda tertawa renyah. “Makanya dingin banget kalau sama cewek!” “Hei! Jadi, kesimpulannya kamu naksir si Bos?” Winda menodong Kinar. “Ngga lah Win, aku cuma penasaran aja kenapa si Bos bisa sedingin itu sama aku!” Kinar berkilah. “Kata Beni, kemarin si Bos ngga rela nglepasin kamu jadi timnya Dimas ya?” “Kemarin hampir ada baku hantam sih, Win. Cuma, aku ngga tahu apa yang mereka bicarakan. Mereka cuma berbisik aja, jadi aku ngga denger lah!” Kinar dan Winda menikmati bubur ayam sambil mengobrol tentang banyak hal. Winda sebenarnya tahu kalau Kinar naksir Arya tapi karena Kinar tidak mengakuinya, Winda juga tidak mau memaksa. *** Mereka berdua sampai di situs sedikit terlambat. Hal ini membuat Arya kesal. “Dari mana aja?! Jam 08.15 baru sampai di sini!” Arya marah-marah. “Maaf, Ar. Tadi kami makan dulu,” jawab Winda. “Aku ngga melarang kalian buat makan ya! Tapi ingat, jam kerja itu jam 08.00! Aku ngga mau ini terulang lagi, ngerti!” “Ngerti, Ar. Maaf ya!” bujuk Winda. Arya melirik Kinar, tumben Kinar diam saja batinnya. Biasanya dia bakal melawan Arya, tapi kali ini cuma Winda yang bicara sama Arya. “Ya sudah! Ayo ke pos masing-masing!” Tanpa bicara sepatah kata pun, Kinar mendahului Arya berjalan menuju ke situs bagian barat. Kinar langsung melakukan tugasnya, Kinar sengaja menghindari Arya. Arya melihat Kinar dari kejauhan, Kinar sedang asyik dengan kertas-kertasnya. Arya mendekati Kinar. “Sudah selesai?” tanya Arya. “Hm?” Kinar hanya melihat Arya sepintas, lalu kembali asyik dengan gambar susunan batu candinya. Seharian ini Kinar juga bersikap cuek pada Arya. Arya jadi kebingungan sendiri, tak biasanya Kinar mendiamkannya. Kinar biasanya sangat cerewet dan suka mengusilinya. Saat istirahat makan siang, Kinar juga tidak segera makan bersama di pos informasi. “Kinar, ayo istirahat dulu. Makan siang sudah siap!” Arya mengajak Kinar makan siang. “Kamu duluan aja, nanti kalau kalian sudah selesai makan siang gantian aku yang makan!” Kinar menolak tawaran Arya untuk makan siang bersama-sama. Arya memandang Kinar yang duduk di bawah pohon sambil mengerjakan rekaman digitalnya. Ini sangat-sangat di luar kebiasaan Kinar. *** “Lho, Kinar mana?” tanya Beni. “Dia ngga mau makan bareng kita. Nanti dia mau makan sendiri setelah kita katanya,” jelas Arya. “Owh...” Winda sepertinya sedang membuat kesimpulan. “Ada apa, Win? Kamu tahu sesuatu?” tanya Beni. “Ah, ngga juga sih!” “Kalian bicara apa saat sarapan tadi?” tanya Arya. “Bicara urusan perempuan!” “Aku perhatikan sejak kalian datang tadi Kinar berubah,” ucap Arya sambil menyantap makan siangnya. “Ya, bisa dibilang begitu sih. Cuma Kinar ngga mau terus terang, jadi aku juga bingung ada apa sebenarnya,” jawab Winda. “Kalian bicara apa?!” desak Arya. Winda menarik napas dan menghembuskannya perlahan, “Tapi janji ya, kamu ngga bakal marah-marah!” “Apa sih Win?!” Arya penasaran. “Aku bicarakan ini sama kamu, cuma pengen kamu sadar aja, Ar. Bukan ada maksud apa-apa!” “Win cepetan jangan berbelit-belit!” bentak Arya. “Sabarlah!” Winda gantian membentak Arya, “aku ngomongin ini karena menurutku sudah saatnya kamu melupakan Niken, Ar!” Arya terbelalak, “Apa maksudmu!” Arya memang tidak suka bila ada yang membicarakan tentang Niken, Arya akan marah-marah seharian dibuatnya. “Kinar suka sama kamu! Sejak semalam Kinar minta dijelaskan siapa itu Niken, pagi ini setelah aku jelaskan tentang Niken sepertinya dia patah hati dan menghindari kamu, Ar!” Arya memandang makanannya di piring dengan tatapan mata yang kosong. Arya menyesalkan kenapa Winda menceritakan tentang Niken pada Kinar. Arya mengalami kebingungan karena di satu sisi dia merasa seperti seorang yang kembali berharap akan datangnya cinta, namun di sisi lain dia belum bisa melupakan pengkhianatan Niken. “Lain kali jangan lancang, Win!” Arya kelihatan marah. Arya membanting sendoknya ke piring lalu meninggalkan pos informasi tempat mereka makan siang. Winda tidak menyesal dengan keputusannya menceritakan hal ini pada Arya, Winda berharap Arya segera menyadari keberadaan Kinar dan bisa membuka hatinya buat Kinar. Kinar memperhatikan pos informasi dari kejauhan, pos informasi sudah sepi. Kinar segera menuju ke pos informasi karena perutnya sudah sangat lapar. Kinar segera masuk ke pos dan melihat masih ada sisa satu bungkus nasi untuknya. Kinar segera membuka bungkusan nasi itu dan makan dengan lahap. Tiba-tiba Arya masuk ke dalam pos sambil membawa bungkusan makanan yang baru saja dibelinya. Kinar terkejut. “Arya? Baru mau makan?” tanya Kinar. “Iya. Kenapa?” “Oh, kalau gitu aku makan nanti deh. Kamu makan duluan aja!” “Duduk!” perintah Arya yang melihat Kinar hendak berdiri meninggalkannya. Kinar memandang Arya dengan tatapan kesal. Kinar terpaksa kembali duduk. “Kamu sengaja menghindari aku?” tanya Arya. “Hah? Ngga! Buat apa?” sanggah Kinar. “Ya sudah. Duduk! Trus makan!” perintah Arya tak terbantahkan. Kinar kesal bukan kepalang, selain dingin ternyata Arya juga diktator. Tapi entah kenapa pesona Arya sangat kuat menarik hatinya. drrttt...drrrttt....drrrrtttt.... Ponsel Kinar bergetar. Kinar melihat layar ponselnya ternyata mamanya yang menelepon. “Halo, Ma? Baik, Ma! Iya, Kinar baru makan siang. Oya? Sudah dapat tempat kos buat Kinar? Syukurlah. Oh, teman lama Mama? Oke, Ma! Ya, nanti kirimin aja alamat kosnya ya, Ma! Bye Ma!” tut..tuttt..tutt... Kinar mengakhiri pembicaraan via telepon dengan Mamanya. “Sudah dapat tempat kos?” tanya Arya. “Iya,” jawab Kinar pendek. “Nanti biar aku antar ke tempat kosmu.” “Ahh.. ngga usah Arya. Aku bisa sendiri. Makasih!” Arya menyadari dengan jelas sekali, wanita cantik ini sedang menghindarinya. Benarkah Kinar cemburu pada Niken? Arya melirik Kinar, wajahnya memang sangat cantik. Sudah berapa puluh kali Arya mengakuinya walau hanya di dalam hati. *** Sore harinya Kinar menolak diantarkan oleh Beni, Winda, maupun Arya. Dia memilih pulang jalan kaki sambil menikmati suasana sore di kota ini katanya. “Arya! Kejarlah Kinar! Bahaya gadis secantik dia berjalan sendiri di kota kecil seperti ini! Apalagi ini sudah hampir gelap!” bujuk Winda. Arya segera menuju ke mobilnya lalu mengejar Kinar yang belum begitu jauh berjalan. “Kinar!” Mobil Arya sejajar dengan langkah Kinar di trotoar. Kinar berhenti lalu mendekati mobil Arya. “Ada apa?” “Ayo masuk! Aku antar ke hotel!” perintah Arya. “Makasih, Ar! Aku bisa sendiri.” “Jangan ngeyel! Ayo cepat masuk!” Kinar memicingkan matanya, Arya memang suka memaksakan kehendak! “Ngga!” “Itu di depan ada orang gila!” “Apa??!!!” Arya senyum-senyum sendiri di dalam mobil. Kinar akhirnya berhasil dia paksa masuk ke dalam mobil. Ternyata Kinar takut sama orang gila, padahal yang duduk di sampingnya ini lebih gila dari pada orang gila. Kinar menghindari Arya dan sengaja mengarahkan pandangannya ke luar jendela. “Kamu kenapa sih? Dari pagi menghindari aku terus. Aku ada salah?” tanya Arya kesal. “Idihh, kamu ngomong gitu kaya ngomong sama pacarmu aja!” protes Kinar. Arya tersenyum, galak juga wanita di sampingnya ini. Selain galak, Kinar juga ceplas-ceplos apa adanya, tidak seperti Niken yang jaim tapi menusuk dari belakang. tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN