Kinar membereskan barang-barangnya sedangkan Arya diminta untuk menunggu saja di dalam mobil. Setelah semuanya beres Kinar membawa turun barang-barangnya. Arya segera berlari ke arah Kinar saat melihat gadis cantik itu bersusah payah membawa tas-tas besar di tangannya.
“Sini aku bantu!” Arya meraih tas dari tangan Kinar.
“Makasih ya.”
“Sudah semua?” tanya Arya setelah memasukkan barang-barang Kinar ke dalam mobilnya.
“Sudah,” jawab Kinar singkat.
“Oke, ayo aku antar ke tempat kosmu. Alamatnya sudah ada?”
“Sudah. Aku pandu pakai GPS aja. Soalnya alamatnya tidak ada nama jalannya, cuma nama kampung sama RT dan RW.”
“Oke!” jawab Arya mengiyakan saja permintaan Kinar.
Padahal Arya sang pemuda asli daerah ini pasti tahu benar alamat itu walaupun hanya berupa nama kampung dan RT/RW. Tapi kali ini Arya mengalah saja, gadis cantik yang sedang duduk di sampingnya ini seharian menghindarinya karena patah hati saat mengetahui dirinya pernah punya kekasih.
“Nanti sampai perempatan belok kanan.” Kinar sibuk mengamati layar ponselnya.
“Bener belok kanan?” tanya Arya memastikan.
“Iya bener. Kenapa?”
“Ini kan jalan ke arah rumahku.”
“Ya, kali aja tetanggaan sama kamu.”
Arya cemas namun juga lega karena rumahnya kan bukan kos-kosan. Mungkin benar juga yang dikatakan Kinar, ada tetangganya yang punya kos-kosan.
“Nah, sudah sampai!”
Kinar melihat rumah yang akan menjadi tempat kosnya. Rumah itu sangat asri, walaupun rumahnya sederhana namun begitu melihat rumah itu, hati Kinar terasa nyaman seperti pulang ke rumah.
“Yakin di sini??” tanya Arya pucat.
“Iya! Nih!” Kinar menyodorkan ponselnya ke arah Arya.
Arya melihat ponsel Kinar yang memang menyuruh mereka berhenti di rumah ini.
“Kamu ngerjain aku?!” tiba-tiba Arya menjadi galak.
“Kok ngerjain? Maksud kamu apa?” Kinar membela diri.
“Kamu tahu alamat rumahku dari mana? Dapet ide dari mana jadiin rumahku kos-kosanmu?!” Arya tak bisa menahan kemarahannya.
Arya tahu betul, Kinar ini suka usil. Tapi dia benar-benar marah saat Kinar mengatakan rumah Arya adalah tempat kosnya. Jelas-jelas Arya tahu, rumahnya bukan kos-kosan. Dia hanya menghuni rumah ini bersama ibunya, sejak lama rumah ini adalah rumah kediaman pribadi bukan kos-kosan!
“Ini alamat yang diberikan oleh mamaku!”
“Ya, oke! Tapi yang pasti bukan di rumahku! Ini rumah kediaman pribadi!”
“Mama bilang pemilik rumahnya bernama Ibu Kusuma.”
“Kusuma siapa? Ada banyak nama Kusuma di sini!” bentak Arya.
“Kusuma Wijayaningsih, biasa dipanggil Ibu Ningsih.”
“Apa??!!” teriak Arya.
Kinar menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. Tiba-tiba dari dalam rumah, seorang wanita paruh baya memanggil Arya.
“Arya! Ayo cepat bawa Nak Kinar masuk!”
Arya memandang wanita paruh baya itu lalu turun dari mobil. Arya berbaik hati membawakan tas-tas Kinar masuk ke dalam rumahnya. Ibunya sudah menunggu di ruang tamu.
“Selamat malam, Bu. Perkenalkan saya Kinar, putrinya Ibu Dewi.”
“Iya, Kinar. Mamamu sudah menelepon Ibu. Selamat datang di rumah Ibu ya, anggap saja rumah sendiri dan Ibu harap kamu kerasan tinggal di rumah ini.”
“Bu, kita belum pernah membicarakan ini sebelumnya!” protes Arya.
“Arya, mamanya Kinar itu sahabat ibu sejak kecil. Dulu kami sama-sama tinggal di Surabaya. Saat ayahmu meninggal, keluarga Kinar banyak membantu kita. Sekarang Kinar membutuhkan tempat tinggal, sudah sepantasnya kita membalas kebaikan keluarga Kinar.”
“Bu, kalau Mas Arya keberatan saya bisa mencari tempat kos lain,” jawab Kinar.
“Ah, tentu saja tidak! Ibu senang sekali mengetahui kalau kalian ternyata teman kerja. Arya tidak keberatan kok, Kinar! Ya kan, Arya?”
Arya menghela napasnya, “Ya, Bu. Saya tidak keberatan.”
“Baiklah! Kalian berdua istirahatlah. Kinar, kamarmu dan kamar Arya ada di lantai dua ya. Lantai satu hanya ada dua kamar, kamar yang ibu tempati dan satu lagi kamar pembantu,” jelas Ibu Arya.
“Baik, Bu. Terima kasih banyak ya, Bu!”
“Jangan terlalu dipikirkan ya, anggap saja rumah sendiri.”
“Ya, Bu. Kinar izin masuk ke kamar ya Bu.”
“Ya, kalian beristirahatlah ya!” jawab Ibu Arya.
***
Di lantai dua terdapat dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang keluarga merangkap ruang kerja Arya, dan sebuah balkon kecil.
“Ini kamarmu!” Arya membukakan pintu untuk Kinar.
“Terima kasih. Maaf kalau untuk sementara aku harus tinggal di sini,” ucap Kinar penuh penyesalan karena Kinar tahu Arya tidak menyukai kehadirannya di rumah ini.
“Sementara?” tanya Arya sinis.
“Iya, nanti aku cari tempat kos lain supaya semua nyaman.”
Arya meninggalkan Kinar dan barang bawaannya lalu masuk ke dalam kamar. Kinar menata baju dan barang bawaannya di lemari yang ada di dalam kamar. Setelah capek membereskan baju dan barang-barangnya, Kinar ingin mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Kinar berjalan menuju kamar mandi, betapa terkejutnya Kinar saat sampai di depan pintu kamar mandi dan muncul lelaki tampan dengan tubuh yang masih setengah basah bertelanjang d**a. Kinar spontan menutup matanya dan memberi jalan untuk Arya.
“Kenapa??” tanya Arya heran.
“Ngga! Ngga kenapa-kenapa!”
Kinar segera masuk ke dalam kamar mandi, di dalam kamar mandi Kinar masih terbayang pahatan tubuh Arya yang begitu sempurna. Kinar mengetuk kepalanya berkali-kali supaya bayangan Arya yang bertelanjang d**a itu segera menghilang dari kepalanya.
Malam ini Kinar makan bersama dengan Arya dan ibunya. Ibu Arya sangat ramah dan sabar, sungguh berbeda dengan sifat putranya yang dingin dan mudah marah.
“Jadi, Kinar ini anggota timmu Arya?” tanya Bu Ningsih.
“Iya, Bu!” jawab Arya pendek sambil menyantap makan malamnya.
“Tidak disangka ya, kalian punya kegemaran dan pekerjaan yang sama. Kinar sudah punya pacar?” tanya Bu Ningsih.
“Bu!” Arya memrotes ibunya.
“Belum, Bu!” jawab Kinar.
“Belum? Gadis secantik kamu belum punya pacar?” tanya Bu Ningsih.
“Ya, saat ini belum Bu.”
Bu Ningsih memandang ke arah Arya. Arya pura-pura tidak memperhatikan pembicaraan antara Kinar dan ibunya.
“Arya juga belum punya pacar,” jelas Bu Ningsih, “ibu berharap kalian berdua berjodoh.”
“Ibu!” Arya keberatan dengan ucapan ibunya.
“Mas Arya sudah punya pujaan hati, Bu?” goda Kinar.
“Benarkah? Siapa pujaan hatinya?” tanya Bu Ningsih.
“Bu! Sudah jangan bicarakan Arya lagi! Arya jadi malas makan!”
Bu Ningsih tertawa, “Ya, ya! Baiklah, Arya.”
***
Kinar duduk di balkon sambil menikmati udara sejuk di malam hari. Arya menyusul Kinar di balkon.
“Siapa yang kamu maksud pujaan hati?” tanya Arya sambil menyalakan rokoknya.
“Niken,” jawab Kinar sambil menatap langsung ke bola mata Arya.
“Jangan sok tahu!”
“Ya, aku sih cuma dengar dari Winda.”
“Kamu menghindariku seharian karena tahu aku pernah punya pacar yang namanya Niken?” desak Arya.
“Idih! Pede amat ya! Lagian siapa yang menghindari kamu!”
Arya tersenyum seolah mengetahui kebohongan Kinar.
“Ya sudah, tidurlah! Ini sudah malam!” pinta Arya.
“Tidur pun diatur?!” protes Kinar.
“Ya ngga apa-apa sih kalau kamu masih mau menemani aku di sini,” jawab Arya sambil menghisap dalam-dalam rokoknya lalu menghembuskannya.
“Dia cantik?” tanya Kinar.
“Siapa?”
“Niken,” jawab Kinar.
“Oh, Niken?” Arya menghela napasnya, “tidak secantik kamu.”
Arya memandang wajah Kinar yang bersemu mendengar kata-kata dari Arya.
“Benarkah?” tanya Kinar menggoda Arya.
“Iya,” jawab Arya memandang wajah cantik Kinar.
Cupp.. Arya terbelalak saat Kinar mencium pipinya.
“Terima kasih, Mas Arya!”
Kinar berlalu masuk ke dalam kamar meninggalkan Arya yang mematung di balkon.
“Arrrggghhh Kinar!!”
Arya berteriak kesal pada Kinar, Arya merasa Kinar sedang menggoda dan mempermainkannya saat ini.
***
Di mobil Arya, saat mereka berangkat berdua ke tempat kerja.
“Ngapain kamu cium aku semalam?! Jangan bermain seperti anak-anak!” ucap Arya kesal.
“Iya, Mas Arya!” jawab Kinar menahan tawanya.
“Oya, jangan kurang ajar sama aku di tempat kerja! Aku ini atasanmu!”
“Iya, Mas. Mas Arya ngga bisa tidur ya semalam?” tanya Kinar.
“Sok tahu kamu!” jawab Arya.
“Itu matanya merah, kurang tidur. Maaf ya, Mas! Kemarin itu cuma bercanda kok! Mas Arya sudah aku anggap seperti kakak sendiri, begitu juga Ibu Ningsih sudah aku anggap ibu sendiri.” Kinar meluruskan kesalahpahaman.
Arya memandang Kinar dengan kesal, Arya merasa Kinar ini selalu bermain-main dan tidak pernah serius. Bahkan kecupan di pipi juga dipakai buat main-main saja. Arya kesal karena Kinar bertingkah seperti anak kecil dan kurang menghargainya sebagai atasan. Mereka telah sampai di situs, Arya melihat Kinar sangat ceria hari ini.
Seperti biasa, Arya selalu melakukan briefing pagi kemudian menyapa para pekerjanya. Kinar sudah mulai menghafalkan kebiasaan Arya di pagi hari.
“Benar kamu kos di rumah Arya? Arya sekarang buka kos-kosan?” bisik Winda.
Kinar menggeleng, “Dia ngga buka kosan, Win! Jadi, Ibunya Arya sama Mamaku itu saling kenal. Aku untuk sementara saja kok tinggal di rumah Arya. Aku juga ngga enak tinggal serumah sama Arya.”
“Apa? Kamu tinggal di rumah Arya?” Beni tiba-tiba muncul di hadapan mereka bersamaan dengan Arya yang berjalan di belakang Beni.
“Kamu cerita-cerita sama mereka kalau tinggal di rumahku?! Sekalian aja tuh seluruh pekerja kamu kasih tahu!”
Kinar sangat terkejut mendengar teriakan Arya. Kinar bingung harus menjawab apa.
“Hei, Ar! Ngapain marah-marah! Kinar ngga cerita-cerita kok sama aku! Aku juga ngga sengaja dengar pembicaraan antara Winda sama Kinar! Ngapain kamu marah-marah!” Beni membela Kinar.
“Tetep aja itu namanya kasih pengumuman! Biar apa sih? Maksudnya apa??” Arya menatap Kinar dengan tajam.
Kinar hanya diam. Kinar bingung dengan sikap Arya yang sebentar baik sebentar dingin. Kinar hanya diam saja. Lalu, pergi meninggalkan pos informasi menyisakan Arya, Beni, dan Winda. Beni dan Winda juga tampak kesal pada Arya. Mereka juga memilih meninggalkan pos informasi menuju ke bagian timur situs. Kinar menenangkan diri di bawah pohon yang rindang. Kinar melihat Arya berjalan menuju ke arahnya.
tbc