7. Perang Dingin

1535 Kata
Kinar rasanya malas sekali bicara dengan Arya. Dari kejauhan, Kinar melihat wajah Arya terlihat sangat marah. Kinar merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa, rasanya keputusan untuk tinggal di rumah Arya adalah keputusan yang salah. Arya semakin mendekat. Kinar menghembuskan napas dengan kesal dan pura-pura sibuk mencari sesuatu di dalam tas. Arya duduk di samping Kinar dan hanya diam saja dengan wajah yang sangat dingin. Kinar jadi malas sekali berada di dekat Arya. Kinar berniat meninggalkan Arya, Kinar bangkit dari duduknya. Baru beberapa langkah Kinar meninggalkan Arya. Arya sudah menghardik Kinar. “Mau ke mana??” tanya Arya dengan tatapan dingin. “Mau bantu-bantu Beni sama Winda. Kali aja mereka butuh tenaga!” jawab Kinar kesal. “Kamu itu ditugaskan di sini, bukan bantu yang di sana!” Dengan kesal Kinar kembali duduk di tempat duduknya semula. “Kenapa sih marah-marah?” tanya Kinar. “Aku ngga marah! Aku emang sehari-harinya kayak gini!” jawab Arya judes. “Bilang aja kalau emang kamu malu! Kamu malu kan aku numpang di rumahmu?!” tebak Kinar. “Buat apa diumum-umumin ke temen-temen?! Bangga?” “HAH? APA?” Kinar geleng-geleng kepala, Kinar benar-benar tidak menyangka kalau Arya berpikiran jelek padanya. “Sepertinya kamu memang tidak cocok kerja di lapangan! Orang lapangan kerja pakai tenaga dan otak, bukan pakai mulut!” Kinar menghela napas, dia masih bisa bersabar menghadapi orang aneh macam Arya. Mungkin kelamaan bekerja menganalisa batu membuat hatinya sekeras batu. “Sudah kamu kerjakan semua tugasmu?!” tanya Arya galak. Kinar diberi tugas untuk mendokumentasikan semua temuan dan mempersiapkan semuanya untuk dipublikasikan pada masyarakat dalam bentuk media cetak. Mereka akan membuat sebuah ruang informasi hasil ekskavasi, hampir mirip sebuah museum sederhana di mana masyarakat dapat melihat hasil temuan baik dalam bentuk fisik maupun foto-fotonya saat ekskavasi, serta dapat membaca keterangannya dalam bentuk media cetak. Arya menyerahkan pekerjaan ini kepada Kinar, Kinar dianggap sangat familiar dengan media sosial, harapan Arya, Kinar dapat membuat gebrakan untuk memperkenalkan situs ini. “Baru kemarin kan kasih tugasnya? Suruh selesaiin sekarang? Oke! Malam ini aku nginep di situs!” jawab Kinar sekenanya. Arya melotot. Baru kali ini Arya ketemu sama cewek yang super ngeyel dan berani melawannya. Winda yang bertubuh kekar saja takut pada Arya. Eh, ini bocah malah nantang-nantangin Arya. “Yakin? Aku pegang omonganmu!” “Yakin aja! Buat apa ngga yakin??” “Sama orang gila aja takut! Gimana mau nginep di situs??” ejek Arya. “Eh! Jangan remehkan saya, ya! Kamu ngga ada kerjaan lain selain ngomelin saya?” Arya yang kesal mendengar ocehan Kinar, langsung berdiri meninggalkan Kinar. Kinar dapat bernapas lega saat Arya pergi meninggalkannya. Mendengar kalimat ketus yang keluar dari bibir Arya membuat Kinar tidak bisa menggunakan otaknya dengan baik. Kinar melanjutkan pekerjaannya, mengambil foto-foto yang menarik supaya hasil pekerjaan yang dipercayakan padanya nanti hasilnya bisa sempurna tanpa cacat. Kinar tidak mau membuka celah untuk Arya menemukan cacat dalam pekerjaannya. *** “Nar! Ayo makan siang dulu!” ajak Winda. “Nantilah, Win! Nanggung banget nih!” jawab Kinar. “Istirahat dulu lah! Aku agak prihatin sama kamu, jangan sampai karena kerja di sini kamu jadi ngga keurus!” Kinar tertawa renyah, “Maksudnya gimana nih?” “Hari pertama kamu di sini, kamu masih secantik foto model. Takutnya setahun di sini jadi berubah!” “Ah! Kamu bisa aja deh, Win! Aku udah biasa gali-gali tanah, kena panas, dan debu!” jelas Kinar. “Balik cantik lagi?” tanya Winda. “Iya lah, kalau udah cantik dari sononya!” gurau Kinar. “Haduh! Gimana kabarnya yang kagak ada takdir cantik macam aku gini?” Kinar tertawa. “Ayolah, makan dulu!” bujuk Winda lagi. “Si Bos ada di sana? Dia lagi makan?” selidik Kinar. “Iya, dia lagi di pos informasi. Lagi makan sama Beni.” “Kalau gitu aku nanti aja deh makannya!” Kinar melanjutkan kesibukan dengan kameranya. “Kayaknya Si Bos sengaja di pos informasi terus deh! Berarti kamu ngga akan bisa makan kalau gitu caranya!” “Makan di luar yuk!” ajak Kinar. “Apa?” Winda terkejut. Selama bekerja dengan Arya, Winda tidak pernah sekalipun makan di luar saat jam istirahat. Sekarang Kinar mengajaknya makan di luar. Winda jadi tergoda, bosan juga sepertinya Winda seharian di area situs. “Kita istirahat satu jam kan?” tanya Kinar. “Iya, satu jam!” jawab Winda. “Ya udah! Ayo, makan di luar aja! Ngga perlu izin ke Arya kan?” tanya Winda. “Duhh… Gimana ya? Aku belum pernah makan di luar!” “Ya udah lah, Win! Kamu makan aja sama mereka, aku makan kalau pos udah sepi aja!” Kinar ngambek. “Dih! Ni anak! Malah ngambek! Ya udah lah, ayo makan di luar! Kalau dipecat sama Arya biar kita dipecat bareng ya!” Kinar tersenyum sumringah mendengar Winda yang bersedia menemaninya makan di luar. “Ngga mungkin dipecat lah, Win! Kalau sampai dikeluarin dari tim, ngga mungkin Pak Han akan tinggal diam! Situs lain masih butuh banyak tenaga!” Kinar memastikan. Kinar memang sengaja mendobrak semua aturan yang dibuat Arya, Kinar ingin tahu batas maksimal kemarahan Arya sampai di mana! Kinar bukan perempuan lemah yang takut pada kemarahan Arya. *** Winda mengambil motornya, seperti saran Kinar tadi, Winda dan Kinar tidak berpamitan ada Arya. Saat Arya melihat Winda mengambil motor, Arya langsung fokus memperhatikan kedua anak buahnya itu. Kinar duduk di jok belakang motor Winda, mereka berdua berboncengan meninggalkan situs. Arya tampak kesal lalu melihat jam tangannya. “Mau ke mana mereka?” tanya Beni pada Arya. “Ngga izin ke aku lagi!” Arya mengeraskan rahangnya. Arya merasa Kinar sedang berontak melawannya. Arya sedikit kesal dan kecewa. Tahu seperti ini lebih baik dia menerima tawaran Pak Han untuk menukar Kinar dengan Candra. Rupanya Kinar ini tipenya pemberontak, Arya merasa semua aturannya sudah dilanggar oleh Kinar. Arya merasa tidak dihargai sebagai atasan, Arya semakin ingin membuat Kinar tunduk padanya. “Nah! Enak kan, Win! Makan di luar gini bisa bikin penat hilang! Aku sudah bosan melihat wajah Arya hari ini!” “Sebenarnya ada apa sama kalian berdua? Tadi pagi kamu ceria banget lho, Nar! Tapi sekarang uring-uringan!” Winda meminta penjelasan. “Aku juga bingung. Sebentar Arya baik, sebentar dia nyebelin! Kamu mustinya yang jelasin ke aku, Win! Kenapa bosmu bisa kayak gitu?” “Dia jarang punya hubungan kerja sama cewek sih! Aku kan ngga dianggap cewek sama dia, jadi dia bisa kerja sama deh sama aku!” jelas Winda. “Hufft! Baru kerja pertama kali udah dapet bos yang nyebelin!” keluh Kinar. “Kayaknya dia cuma lagi cari perhatian aja sama kamu!” “Dih! Cari perhatian ngga gitu juga kali?!” protes Kinar. Kinar dan Winda menikmati nasi soto dan es teh, menu makan terenak di siang hari buat para pengais rejeki seperti Kinar dan Winda. “Ahhh! Enak banget es tehnya!” Winda mengakhiri sruputan es tehnya, sambil memancarkan wajah bersinar seperti habis diisi bahan bakar. Kinar tersenyum melihat sahabat barunya ini. “Yuk balik! Udah satu jam lebih ya?” Kinar melihat jam tangannya. “Masa sih?!” Winda panik. “Iya, lebih dikit!” “Aduh, gimana dong!” “Udah, tenang aja! Kalau dimarahin dengerin aja!” Kinar menenangkan Winda. Benar saja, sesampainya di situs, Arya menyambut mereka berdua dengan berkacak pinggang di pos informasi. “Dari mana saja!” teriak Arya. “Makan,” jawab Kinar pendek. Winda berusaha sedikit menjauh, sepertinya akan ada perang sengit antara Arya dan Kinar. “Makan sambil gosip? Jam segini baru sampai di situs!” ucap Arya ketus. “Kita cuma makan kok! Memangnya gosipin siapa ya? Kayaknya ngga ada orang penting buat digosipin di sini deh, Pak Arya!” jawab Kinar tak kalah ketusnya. “Trus sampai molor istirahatnya kayak gini, apa namanya kalau ngga gosipin orang! Coba aja makan di sini lima belas menit selesai bisa langsung kerja!” “Tapi jatah istirahat kami satu jam, kan?” protes Kinar. “Iya, satu jam! Kamu pikir ini satu jam? Ini udah satu setengah jam, Nona!” “Ya, maaf! Aku tadi ajak Winda mampir sebentar!” Kinar berbohong. “Mampir ke mana sampai jam segini?!” “Oh, mau tahu ya?” “Aku ini atasanmu! Aku berhak tahu!” tegas Arya. “Aku mampir beli pembalut!” Kinar melotot ke arah Arya. Arya gelagapan dibuatnya. Arya diam saja lalu pergi meninggalkan pos informasi dengan kesal. Sedangkan Winda tidak bisa menahan tawanya mendengar apa yang baru saja diucapkan Kinar. Setelah semua sedikit tenang, Winda memberi nasihat pada Kinar. “Nar, sebaiknya nanti kamu minta maaf ke Arya deh!” “Lhah? Kenapa?” Kinar tidak bisa terima. “Gimana pun juga dia atasanmu, bicara baik-baiklah! Tanyain tuh kenapa sikapnya ke kamu hari ini jadi seperti ini!” jelas Winda. Kinar menghela napasnya, rasanya dia tak bisa mencerna dengan baik, apa yang dinasihatkan Winda kepadanya. “Nanti deh aku pikirkan lagi kalau suasana hatiku udah baikan!” ucap Kinar. Kinar dan Winda kembali ke pos masing-masing. Kinar melihat Arya sedang mengawasi para pekerja ekskavasi. Sepintas, Arya memandang Kinar. Kinar menangkap bola mata Arya yang tidak melepas pandangan ke arahnya. Kinar membuang pandangannya ke arah lain lalu melanjutkan pekerjaannya untuk mendokumentasikan temuan-temuan di situs Bhre Kahuripan ini. tbc  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN