105, Andre 3

1116 Kata

"Saya tidak tahu, Bu. Sudah 3 tahun berlalu, harusnya arwah anak saya sudah tenang. Tapi, kejadian ini terus berulang sampai rumah yang saya tinggali seperti tak berpenghuni." Ucap Bu Latifah lemah. "Sudah cukup-cukup saya merapikan rumah. Eh, dalam wkt sejam, udah berantakan lagi. Saya lelah, Bu. Lama kelamaan, saya jadi patah arang. Gak sanggup lagi merapikannya. Tenaga saya seperti tersedot habis oleh rumah ini." Latifah menunduk dalam. Kedua tangannya saling bertautan, seperti tengah menyalurkan perasaan yang tak karuan. Qisya pun demikian. Dia tidak bisa mengatakan apa pun karena memang tak tahu harus bagaimana. Sesaat keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Sampai suara pecahan piring di dalam rumah membuat keduanya tersentak kaget. Suara itu semakin menjadi, membuat Qisya d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN