Malam Penculikan
Rintik hujan malam itu sepertinya tidak mau berkompromi untuk menunggu seorang gadis lugu sampai tiba di rumah. Langkah cepatnya tertatih-tatih memilih jalan yang bisa ia lalui supaya tidak mengotori kantong besar yang sedang ia bawa. Jalanan desa yang belum beraspal itu sangat licin dan berlubang membuat kakinya sulit melangkah.
Tak lama sebuah mobil pickup berhenti di sampingnya, tiba-tiba seseorang dari belakang menariknya masuk ke dalam mobil. Membuat gadis itu menjerit meminta pertolongan namun tak ada satupun orang yang lewat di kawasan tersebut.
"Jalan!" perintah seorang lelaki bertopeng kepada sopir sembari merangkul tubuh si gadis supaya tidak kabur.
Mobil bergerak ke daerah sepi yang sepertinya jauh dari pusat desa. Sebuah tempat yang sangat asing bagi gadis itu, ia merasa sangat ketakutan sampai tak sempat memikirkan apapun yang akan terjadi padanya nanti. Kawasan itu terlalu gelap apalagi suasana hujan yang mulai deras membuat jarak pandang terbatas. Hanya siluet rimbunan hutan dan semak belukar yang dapat dilihat dalam kegelapan. Membuat rasa takut itu semakin mencekam.
Tangan lelaki itu dengan sigap menyeretnya keluar dari mobil setelah tiba di sebuah rumah klasik dengan bangunan yang lumayan bagus untuk ukuran rumah di tepi hutan. "Kalian jaga di luar!" titahnya seraya terus menyeret tubuh si gadis.
"Lepaskan saya!" teriaknya sambil menangis seolah itu berguna padahal ia tahu permintaan itu hanya akan sia-sia belaka. Tentunya lelaki itu tidak akan mengabulkan keinginan si gadis karena tujuannya memang ingin menculiknya.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" jerit Si gadis seraya terus memberontak.
Lelaki itu menjawab, "Ingin mengikatmu supaya tidak bisa lagi bersama laki-laki lain."
Gadis itu terhenyak dengan posisi tubuh terus digiring sampai memasuki sebuah kamar yang tak dibekali cahaya apapun. Gelap gulita. "Siapa kamu?" tanyanya setelah tubuhnya dihempas ke atas tempat tidur.
Bukannya menjawab lelaki itu malah menyerangnya dengan ciuman kasar membuat gadis itu terus melawan. Sudah pasti kini ia mengetahui apa yang diinginkan oleh lelaki itu, meskipun sia-sia ia mencoba memohon untuk dilepaskan.
Tangannya mengekang tubuh si gadis sampai tak bisa lagi bergerak kemudian berkata, "Aku mencintaimu Elis tapi kenapa kamu selalu mengabaikanku?"
Gadis bernama Elis itu terhenyak, matanya membulat mencoba menangkap wajah si lelaki namun sama sekali tak terlihat hanya garis wajah tegas yang mampu ia lihat dalam kegelapan kamar itu. Dia benar-benar tak mengenali lelaki itu bahkan dari suaranya saja terdengar sangat asing. "Siapa kamu? Tolong jangan berbuat seperti ini kepada saya, kita bisa bicarakan ini baik-baik."
"Aku orang yang selalu ada di depanmu tapi kamu tidak pernah menghiraukan keberadaan ku bahkan kau tak pernah sudi melihat wajahku! Jadi aku gak punya cara lain untuk mengikat kebebasanmu selain merenggut paksa mahkotamu sebagai jaminan kau akan jadi milikku selamanya."
"Tapi—" Belum selesai berbicara bibirnya sudah dibungkam dengan ciuman kasar, mungkin jika lawan bercumbunya perempuan yang sudah berpengalaman tentu akan mengetahui bahwa lelaki itu hanya seorang pemuda bau kencur yang belum mahir bercinta.
Sekuat tenaga Elis mencoba memberontak namun sia-sia. Pemuda itu sudah berhasil merobek bajunya, menggerayangi bagian tubuh yang sudah bisa dijamah. Perasaan jijik seketika menyeruak tatkala pemuda itu sudah berhasil melucuti rok panjangnya dengan mudah. Praktis tubuh bagian bawah Elis sudah tak berbalut sehelai benangpun. Dalam kekalutan ia tetap berupaya untuk membebaskan diri namun lagi-lagi percuma, tenaganya kalah kuat hingga tak berapa lama rasa sakit itu terasa begitu menyiksa dari bawah sana.
Elis menjerit sejadi-jadinya menahan perih yang teramat dalam bukan saja dari area sensitifnya tapi juga dari relung hatinya. Betapa sakit hatinya menerima perlakuan terkutuk pemuda itu, tak terkira besarnya dendam yang muncul tiba-tiba meskipun dia tidak tahu dendam itu diperuntukan ke siapa. Karena sampai dengan selaput darahnya terkoyak dia tidak juga mengenali siapa sosok yang tengah mengerang di atas tubuhnya saat ini.
"Kau akan jadi milikku selamanya Elis! Jangan pernah berhubungan dengan laki-laki lain selama aku ke kota nanti. Kalau saatnya sudah tiba aku pasti datang padamu untuk mempertanggungjawabkan semua ini."
Tangis Elis menjadi selimut malam sebagai pengiring suara hujan yang jatuh di atas genting. Hatinya hancur mengutuk lelaki yang sudah merenggut paksa kehormatannya. Impiannya untuk bisa melewati malam pertama yang sakral bersama sang kekasih lenyap sudah.
Tak cukup dengan hanya menanggung kepedihan setelah menjadi korban pemerkosaan. Elis dituding sang Nenek sebagai perempuan yang tidak becus menjaga harga diri dan kehormatannya. Dengan lantang si Nenek berkata, "Tinggalkan kampung ini!"
Dengan air mata berderai Elis menjawab, "Jadi Elis harus pergi ke mana Nek?"
"Terserah! Yang jelas jauh dari kampung ini. Mau jadi gembel atau p*****r sekalian, jangan pernah kembali ke sini lagi!"
Dengan membawa barang seadanya Elis berjalan menyusuri jembatan kayu yang hampir roboh. Jembatan pemisah antar desa itu melintang di atas sungai dengan arus yang sangat deras. Elis meratapi nasib seraya memandang ke bawah, dia berpikir untuk menyudahi penderitaannya sampai disini.
"Kau mau bunuh diri?" sergap suara dari kejauhan.
Elis menoleh kesana-kemari mencari sumber suara yang menyentakkan lamunannya. Terasa mustahil ada seseorang yang berkeliaran di subuh buta begini kecuali dedemit penghuni sungai itu. Matanya mengerjap ketika melihat sosok pemuda dengan senyum merekah muncul dari kegelapan. "Siapa kamu?" tanyanya sambil mundur beberapa langkah.
Pemuda itu menjawab, "Yang jelas saya bukan hantu."
Elis semakin mundur, mewaspadai apa yang mungkin saja terjadi kalau sampai pemuda itu mendekat. Tentu saja kejadian pahit yang baru saja ia alami membuat trauma itu muncul tanpa diundang. Elis berteriak dengan suara bergetar, "Jangan mendekat!"
Pemuda itu spontan berhenti. "Baiklah! Saya tidak akan mendekat kalau kamu berjanji gak akan terjun sembarangan."
"Mau terjun atau tidak itu bukan urusan kamu!"
"Memang bukan urusan saya tapi apa kamu tidak kasihan melibatkan saya sebagai saksi padahal saya tidak tahu apa-apa."
"Apa maksud kamu?"
"Ya anggap saja kamu berhasil ke nirwana dengan cara terjun bebas. Tapi apa masalah kamu di dunia ini bakal selesai? Tidak! Saya akan menjadi saksi karena melihat kejadian ini."
Elis mengerutkan dahinya entah apa yang terlintas dalam pikirannya saat ini.
Pemuda itu kembali berkata, "Apa kamu yakin begitu melompat bakal langsung tewas? Kalau mati nggak hidup pun nggak, gimana?"
"Sudah saya bilang itu bukan urusan kamu!"
"Hah! Rupanya susah juga memberi pengertian kepada orang yang sudah siap bertemu dengan malaikat maut. Baiklah, silahkan terjun tapi setidaknya biarkan saya lewat dulu karena saya tidak mau menjadi saksi atas matinya orang t***l yang berpikir bunuh diri adalah jalan terbaik."
Mendengar itu Elis langsung meluap, "Tau apa kamu tentang diri saya? Ya … anggap saja saya t***l dan kamu pintar lalu apa kepintaran kamu bisa menyelamatkan saya dari nestapa yang saya rasakan sekarang ini?"
"Nestapa macam apa yang kamu rasakan sampai berniat bunuh diri?"
"Diperkosa sama orang yang gak dikenal dan diusir dari rumah karena dianggap p*****r! Apa kamu masih bisa berkata saya t***l?"
Pemuda itu pastinya terkejut bukan kepalang hanya saja ekspresinya tidak terlihat jelas. Terdengar dia menghela nafas panjang kemudian berkata, "Maafkan saya … serius saya gak tau kalau nasib kamu semalang itu. Kalau kau mau saya bisa membantu kamu menghadapi semua ini."
"Cih!" desis Elis, "keluarga saya saja tidak mau tau, kenapa kamu malah sok peduli? Apa kamu pikir saya akan percaya begitu saja?"
"Saya gak minta kamu untuk percaya tapi setidaknya berikan kesempatan untuk diri sendiri melanjutkan hidup dengan kesempatan kedua."
Elis terdiam untuk beberapa saat kemudian bertanya, "Apa saya masih bisa melanjutkan hidup? Apa kesempatan itu masih tersedia untuk saya yang hina ini?"
"Tidak ada manusia hina di dunia ini, kalau pun ada dia sendiri yang membuat kehinaan itu melekat pada dirinya. Percayalah tidak ada yang mustahil kalau kamu percaya pada takdir. Kalau mati dengan cara bunuh diri kamu anggap sebagai takdir, maka bukan ketenangan yang bakal kau dapatkan melainkan penyesalan panjang yang akan kau rasakan meski jiwamu sudah terlepas dari raga."
"Jadi saya harus bagaimana?"
Pemuda itu menjawab, "Kalau kamu percaya ikutlah denganku, jalani kehidupan baru. Tanamkan dalam semangatmu bahwa kau pantas memiliki kembali kehormatan meskipun merasa diri sudah hina. Jalan lain selalu ada kalau kau yakin untuk menemukannya. Apa kau percaya itu?"
Meskipun berat tapi Elis mengangguk tanda setuju.
Pemuda itu bertanya, "Siapa namamu?"
"Melis …," ucapannya terhenti sejenak kemudian ia kembali menjawab, "Meli!"