"Digo apa-apaan ini !!"
"Kalian sadar tidak apa yang kalian bicarakan!"
"Omah kecewa pada kalian berdua!"
Kata-kata cercaan dan pertanyaan keluar dari mulut kedua Digo dan juga Oma Arnita.
Mereka terlihat sangat marah sekali pada Digo dan Sissi terutama Oma Arnita. Sebelum mereka sempat mengatakan dengan jujur, Oma Arnita berbicara percakapan Digo dan Sissi tentang hubungan mereka yang sebenarnya.
* flasback *
"Kingkong, gue takut kalau nanti Oma akan marah dan benci sama gue,"
"Tidak ada pilihan lain Rimba, lebih cepat kita jujur pada semua haruskah lebih baik kalau kita mau hubungan kita ini hanya pura-pura dan kita kan ada tahu apa-apa " Digo dan Sissi berbicara berdua di ruang tamu saat akan menghadap pada kedua kalinya Digo dan Oma Arnita. Tapi Digo tidak menyadari bahwa sedari tadi ada dua pasang mata dan telinga yang memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Apa maksud ucapanmu itu Digo !!" Oma Arnita yang sedianya ingin menyambut calon cucu menantunya tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Digo dan Sissi saat akan membicarakan mereka bersama di ruangtamu.
"Oma," Digo dan Sissi tidak sadar Oma sudah siap tepat di belakang mereka sejak mereka berbicara tentang hubungan mereka yang sebenarnya.
* lepas landas *
"Oma, Digo bisa jelasin semuanya." ucap Digo yg juga kaget tiba-tiba Omanya datang.
Sementara Sissi hanya bisa diam menunduk dengan tubuh bergetar karwna berhasil yakut.
Lebih dari itu, sudah mempermainkan perasaan senang. Sissi menyenangkan sekali, sekali pada Oma yg terlihat begitu menyayanginya.
"Kenapa kalian bisa melakukan ini Digo, Sissi? Mama benar-benar tidak selesai berpikir. Kalian mempermainkan suatu hubungan." cerca Mama Digo tak kalah kesalnya.
"Papa tidak pernah mengajari kamu untuk jadi pecundang Digo! Papa akan sangat marah sekaki pada kalian kalau sampai membuat Oma marah dan sedih karena ulah kalian ini!" sungut Papa Digo yg juga merasa kesal.
"Oma tidak mau mendengar alasan apapun dari kalian! Kalian akan tetap menikah dua hari lagi." ucap Oma Arnita tegas pada Digo dan Sissi.
"Tapi Oma--"
"Tidak ada tapi-tapian Digo!! Tetap menikah dengan Sissi atau selamanya jangan pernah menemui Oma lagi! Oma anggap Oma tidak pernah mempunyai seorang cucu!" ucap Oma menatap nyalang pada Digo.
"Dan kamu Sissi," Oma berbicara agak lembut pada Sissi saat melihat gadis itu terlihat sangat ketakutan.
"I..iya Oma," jawab Sissi tergagap masih dengan wajah tidak berani memandang Oma Arnita.
"Kami akan datang ke rumah mu malam ini juga untuk melamar dan membicarakan pernikahan kalian pada kedua orangtuamu." Sissi tidak berani membantah dan hanya mengangguk mendengar ucapan Oma Digo.
"Kalau yg kalian pikirkan itu masalah cinta. Oma yakin seiring berjalan waktu rasa cinta akan tumbuh di hati kalian masing-masing, Oma percaya itu."
Ujar Oma lagi pada Digo dan Sissi.
"Tapi Oma, bagaimana dengan hubunganku dengan Kath---"
"Oma tidak peduli! Oma hanya akan merestui kalau kamu menikah dengan Sissi. Dan kamu sudah tahu kan pilihannya Digo!" Oma Arnita menegaskan sekali lagi pada Digo bahwa jika ia memilih tidak menuruti perintah Omanya itu untuk tetap menikah dengan Sissi maka Digo selamanya akan kehilangan kasih sayang Omanya itu.
Digo tidak akan sanggup untuk itu. Ia sangat menyayangi Oma Arnita lebih dari kedua oramgtuanya. Sejak kecil Digo sudah dimanja dan dituruti apapun keinginannya oleh Oma Arnita. Kini Digo merasa sudah saatnya ia harus menyenangkan dan membahagiakan perempuan tua yg sangat disayanginya itu.
Jujur ia harus berterimakasih pada Omanya karena keputusan untuk tetap menikahkannya dengan Sissi membuat hati Digo merasa lega. Paling tidak ia merasa kalau sementara ini tidak harua berpisah dari gadis yg sudah mencuri perhatiannya itu. Lalu bagaimana dengan Kathryn? Digo tidak ingin memikirkan tentang itu. Tentang reaksi nanti saat Kathryn mengetahui bahwa Digo dan Sissi akan benar-benar menikah. 'Bodo amat! Lagipula ini semua terjadi juga karena ulah dia. Maafin aku Kath, tapi perasaanku nggak bisa bohong kalau aku mulai mengagumi Sissi. Justru dia yg ada di samping saat aku membutuhkan. Bukan kamu.' batin Digo dalam hati.
"Digo ak harus gimana ini." ucap Sissi terlihat bingung saat mereka sudah di mobil dan Digo akan mengantarnya pulang.
"Lo bilang apa tadi? Gue nggak salah denger kan. Oemjiii helloo..lo nyebut nama gue Rimba,"
'Plaaaaak!!!'
Satu pukulan tepat mengenai bahu Digo membuatnya meringis.
"Rimba apa-apaan sih lo! Wah, nggak bener ini, masak belum apa-apa lo udah KDRT duluan sama gue. Gimana nanti kalau kita udah nikah, bisa-bisa gue cepet mati karena lo siksa terus."
Ucap Digo dengan wajah dibuat-buat seolah sedang kesakitan.
"Iish, nggak usah lebay deh Kingkong!" sahut Sissi merauk wajah Digo.
"Yaelah, udah seneng banget tadi disebut nama, ujung-ujungnya kingkong lagi." protes Digo.
"Digooooo!! Please deh, gue lagi serius lo malah ngajak bercanda mulu sih."
"Aku juga serius Rimba sayang, kurang serius gimana sih. Dua hari lagi lho kita nikah."
Sissi tertegun sejenak mendengar perkataan Digo yg berubah menjadi 'aku' bukan gue lagi.
"Aku??"
"Please ya Rimba, kali ini kamu yg nggak serius, kita mau nikah lho, mana ada pasangan suami istri yg manggilnya 'lo' 'gue'."
Lagi Sissi tertegun saat kali ini Digo mengganti panggilan yg biasanya 'lo' menjadi kamu.
"Biarin! Lo aja masih manggil gue pake sebutan rimba." protes Sissi menyembunyikan deguban jantungnya yg tiba-tiba.
"Salahnya dimana sih, Rimba Sissillya Sasmitha? Kan nama kamu memang Rimba." ucap Digo tersenyum jahil.
Sissi menoleh Digo tak percaya saat mendengar nama lengkapnya disebut.
"Nggak usah bingung gitu. Aku tahu nama panjang kamu dari KTP yg diminta Oma beberapa waktu yg lalu saat Oma bilang akan mengurur pernikahan kita."
Sissi baru teringat kalau kartu tanda penduduknya ada pada Oma saat mereka tertangkap basah oleh Oma dan Mama Digo yg saat itu sedang berkunjung ke apartemen Digo.
"Kamu tuh yg nggak serius sama aku, mana ada manggil calon suami pake Kingkong begitu, nggak sekalian aja gorila gitu Si," cerca Digo pada Sissi.
"Biarin lo kan emang Kingkong unyu'nya gue, kalau Gorila unyu' kan udah punya Sisi yg di GGS itu." Sissi menutup mulut dan merutuki dirinya sendiri dalam hati saat menyebut Digo dengan 'kingkong unyu'nya gue'
Digo tersenyum mendengar ucapan Sissi. "Apaan? Coba bilang sekali lagi Si? Kingkong unyu'nya siapa?" goda Digo pada Sissi.
"Iish! Apaansih, kagak ada. Udah lo fokus aja nyetirnya." Sissi berusaha mengalihkan pembicaraan dan salah tingkah di dekat Digo.
Tiba-tiba Digo menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Digo menoleh Sissi dan memajukan wajahnya semakin dekat pada Sissi. Sissi sampai mundur dan memepet pada kaca jendela mobil. "Lo, mau ngapain sih, Digo lo jangan macem-macem ya sama gue," Digo tak mendengar ucapan Sissi dan terus berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah Sissi. "Kingkong please ya, gue nggak mau ya kita kena razia satpol pp cuma gegara dikira m***m di mobil."
"Terusin aja manggil pake gue elo-nya, biar sekalian nanti kita dirazia trus dinikahin hari ini juga."
"Digo stop!! Aku bilang mundur!"
Digo kembali ke posisi duduknya semula dan tersenyum penuh kemenangan.
'Nah, gitu kek dari tadi kan enak dengernya." ucapnya yg makin membuat Sissi kesal.
"Digo,"
"Hmm,"
"Apa kamu sudah memikirkan bagaimana nanti ngejelasin semua sama Kathryn." tiba-tiba saja Sissi jadi terganggu akan status Digo yg masih sebagai kekasih Kathryn.
"Kenapa nanya tentang itu." sahut Digo yg merasa tidak senang mendengar Sissi membahas tentang Kathryn.
"Gimanapun juga kan Kahryn itu, dia pacar kamu, dan aku cuma--"
"Cuma apa! Kita sudah mau menikah dan kamu bilang cuma," ucap Digo merasa kesal karena mengira Sissi tak menganggapnya sama sekali.
"Kenapa kamu jadi bentak aku sih." sungut Sissi sudah hampir ingin menangis mendengar kata-kata Digo yg terdengar seperti membentaknya.
"Siapa yg bentak sih? Oke aku akan jelaskan secara perlahan dan baik-baik nanti kalau Kath sudah datang kesini."
Sissi menoleh Digo, kali ini airmata sudah jatuh di pipinya.
"Itu berarti lo akan tetap berhubungan sama Kathryn kan! Bahkan setelah kita menikah nanti."
"Kamu ngomong apa sih Rimba sayang," Digo berusaha menahan emosinya dan bersikap selembut mungkin pada Sissi.
"Udah deh, lo nggak usah pake manggil-manggil gue dengan sebutan sayang lo itu. Kalau kenyataanya nanti lo juga akan tetap berhubungan sama Kathryn. Gue nggak butuh panggilan sayang lo yg palsu itu."
"Palsu kamu bilang? Kalau kenyataannya aku benaran sayang gimana?"
Digo menatap Sissi dengan kesal. Bukan karena ucapannya. Tapi karena panggilan aku kamu berubah lagi menjadi lo gue dan merasa Sissi tidak menganggapnya selama ini. Dan Digo tidak suka mendengar itu.
"Kamu kenapa sih? Kog jadi marah-marah nggak jelas gitu?"
Digo mengelus pucuk kepala Sissi mencoba menenangkan nona rimbanya itu. Sissi masih memalingkan wajah dan enggan menatap Digo. Hatinya merasa kesal sekali.
Sissi bingung dengan perasaannya sendiri yg tidak rela mendengar nama Kathryn terucap dari bibir Digo. Sissi juga terus merutuki dirinya sendiri dalam hati yg tidak bisa mengontrol emosinya.
'Kenapa Si, bukannya wajar ya kalau Digo selalu nyebut nam Kathryn, kan dia emang pacarnya. Sementara lo?'
'Sabar Si, semua butuh waktu dan proses. Kenapa lo harus marah? Apa itu artinya lo cemburu sama Digo.'
Batin Sissi berperang di antara yang dibantah yang sedang berputar. Sissi sendiri bingung. Masak iya besarbesaran cemburu sama Digo. Ternyata cemburu yang berarti memiliki rasa yang disebut cinta. Jadi? Apa yang mungkin Sissi memang sudah jatuh cinta pada kingkong unyu'nya tanpa ia sadari.
"Udah jangan nangis terus, tahu jelek. Udah jelek, jadi makin jelek."
Digo simpan sisa airmata Sissi dengan kedua dipindahkan.
"Biarin jelek! Jelek-jelek begini juga calon istri kamu!" sahutnya dengan wajah cemberut dan malah semakin malah terlihat digemaskan dimata Digo.
"Hmm..macak ciih, nggak mau ah punya calon istli jelek begini." malah malah malah meminta Sissi.
"Kingkooooooong !!!!"
########