Sissi Berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sendiri.
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, malam ini juga keluarga Digo akan datang dan melamar Sissi secara resmi pada kedua orangtuanya.
"Ya Allah, kenapa tiba-tiba jadi gugup begini sih, semoga ini yg terbaik, dari gue harus bertunangan sama si Rega, mendingan sama Kingkong Unyu '. Eh, coba coba! Apalagi keterusan manggil kingkong unyu sih. Tapi memang unyu', lebih jika lagi senyum gitu. " Digsi saat sedang tersenyum sedang tersenyum.
Kingkong caling
" Hmm..baru juga dipikirin udah nongol aja di telpon." gumam Sissi saat melihat handphone-nya bergetar.
"Aku..aku, hallo."
"Hai..Rimba Sayang, pasti lagi mikirin aku ya."
"Apaan sih sayang-sayang, pala lo peyang," cerca Sissi mencoba berbicara sedatar mungkin padahal bahagia tengah berdebar kencang hanya dengan mendengarkan suara Digo di seberang. Apalagi tebakan Digo sangat tepat sekali jika sebelumnya ia sedang membahas kingkong unyu'nya itu.
"Apaan begitu, nggak sopan ya sama-sama calon suami ngomongnya kasar begitu," suara Digo di ujung sana terdengar mendengus kesal karena Sissi masih saja berbicara dengan kata 'lo'.
"Maaf, aku masih belum terbiasa dan suka melepaskan manggilnya pake lo gue. Ada apa kog telpon." sahut sissi dihapus karena masih sering lupa.
"Iya nggak papa, cuma mau tahu aja apa kamu sudah siap, sebentar lagi kami berangkat kesitu,"
"Iya udah siap kog,"
"Yaudah, sampai ketemu nanti ya, sampai jumpa Rimba,"
"Digo tunggu." Sissi memegang Digo agar tidak menutup telponnya dulu.
" Hati-hati dijalan kingkong, bye." Sissi langsung menutup telpon dan menggigit bibir bawahnya untuk menetralkan jantungnya yang masih berdetak normal.
Sissi berkali-kali mematut dirinya di depan cermin, entah kenapa malam ini ia ngin terlihat cantik di depan Digo. Berkali-kali merapal doa semoga acara berjalan lancar. 'Kayak orang mau kawin aja gue deg-degan banget. Yaelah, Si lo kan emang mau kawin ama si kingkong, eh, nikah maksudnya. ' batin sissi dalam hati.
Sissi mengingat kembali bagaimana Digo berhasil meyakinkan kedua orangtuanya saat mengutarakan bahwa anggaran akan datang melamar Sissi secara resmi.
"Kalian ini nggak lagi bercanda kan," cerca pak Alam papi Sissi pada mereka semalam.
"Iya, Sissi bilang antara dia sama Nak Digo ada hubungan apa-apa, katanya cuma teman." selidik Mami Sissi tak mau kalah.
"Begini Om, Tante, selama ini kami memang tidak memiliki hubungan dan komitmen apa-apa, kami sama-sama memiliki prinsip untuk tidak pacaran dan akan langsung menerima jika memang sudah saling cocok dan serius," ujar Digo pada saat ini juga Sissi.
'Cih, prinsip, komitmen. Apaan tuh, itu dia jalanin sama si Keket itu apa coba namanya, dasar kingkong tukang ngibul. ' decih Sissi dalam hati saat mendengar alasan Digo.
"Kami tergantung sama Sissi, apapun keputusannya pasti kami akan mendukung, iya kan Mam," ujar papi Sissi dan di angguki oleh istrinya.
"Lagipula Papi pikir Sissi sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan," ujarnya lagi.
"Sissi sayang," suara panggilan Maminya dari luar kamar menyadarkan Sissi dari lamunanya tentang semalam.
"Iya Mami,"
"Ayo Nak sudah siap belum? Itu keluarga Digo sudah datang."
'Ya Allah semoga lancar.' batinnya sebelum beranjak keluar.
Ruang tamu sudah ramai dengan perbincangan antara pak Alam dan pak Aldo, Papa Digo dan Papi Sissi.
"Nggak nyangkah ya Pak Aldo kalau kita akan menjadi besan,"
"Iya Pak Alam, kalau tahu Digo menjalin hubungan dengan putri pak Alam sudah dari dulu kami akan melamar Sissi,"
Pak Alam dan pak Aldo terlihat bercengkrama dengan sangat akrab.
Setelah melalui pembicaran kedua keluarga, akhirnya pernikahan Digo dan Sissi tetap akan dilakukan dua hari lagi sesuai rencana awal. Oma Arnita terlihat sangat antusias sekali menyambut hari pernikahan cucu kesayangannya itu.
"Oma sudah siapkan dua tiket ke Milan untuk kalian bulan madu besok," ucapan Oma Arnita tapi membuat Digo dan Sissi gugup seketika. Bulan madu? Kepikiran saja tidak pernah. Tapi bukan itu yg mengganggu pikiran Digo dan Sissi, namun tujuan bulan madu yg ke Milan. Bukankah Kathryn juga sedang ada disana sekarang. Apa jadinya jika sampai Kathryn bertemu dan mengetahui jika Digo dan Sissi kesana untuk honeymoon.
>>>>
"Rimba, nggak nyangka banget ya, ternyata lo yg akhirnya nikah duluan " ujar Meta pada Sissi saat menemani Sissi yg tengah di rias karena hari ini adalah acara ijab kabul pernikahan Digo dan Sissi.
"Si, lo nggak akan lupain kita kan nanti meskipun lo udah punya suami." sahut Meli dengan raut sedihnya.
"Kalian ngomong apaan sih, ya nggak mungkin lah gue lupa ama kalian berdua, kalian kan tempat gue mencurahkan semua isi hatiku ini." jawab Sissi dengan lebay.
"Kalau gitu ntar lo mesti cerita ya Si, gimana malam pertama lo sama tuan kingkong." goda Meta seketika membuat pipi Sissi merona.
"Iish, jangan ngaco deh kalau ngomong!" 'malam pertama, kepikiran aja nggak. Tapi nanti kalau Kingkong meminta hak-nya gue mesti gimana dong. Nggak gue belum siap, tapi kalau dia maksa gimana dong, terus kalau dia minta gaya yg macem-macem gue harus gimana nanti' Sissi membatin dalam hati membayangkan bagaimana malam pertamanya nanti bersama Digo. 'Aduh Sissi, mikir apaan sih. Jadi omes gini pikirannya.' rutuknya lagi dalam hati.
Digo dan Sissi saat ini tengah duduk berdampingan di depan penghulu. Sebentar lagi ia akan resmi menjadi Nyonya Narendra Erlandigo. Sah menjadi istri Digo di mata agama dan negara.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rimba Sissilya Sasmitha binti Alam Sasmitha dengan mas kawin tersebut tunai." satu kali mengucap dan satu tarikan nafas Digo dengan lancar berhasil mengucap kalimat sakral ijab kabul.
"Bagaimana saksi?"
"Sah,"
"Sah,"
"Sah,"
Semua berkata sah, Digo dan Sissi kini sah sebagai suami istri.
Seperti kebanyakan pasangan yg baru sah, Sissi mencium punggung tangan Digo begitu juga sebaliknya Digo mengecup lembut kening Sissi. Setelah itu mereka saling menyematkan cincin di jari masing-masing sebagai tanda kalau kini mereka sudah saling terikat tanggung jawab sebagai pasangan suami istri.
Balroom salah satu hotel berbintang yg disewa oleh keluarga Digo sudah disulap sedemikian rupa untuk acara resepsi Digo dan Sissi.
Tamu undangan juga sudah mulai berdatangan.
Digo memandang Sissi tak berkedip saat melihat betapa cantiknya perempuan yg baru resmi menjadi istrinya itu. Sissi bak putri dari negri dongeng dengan balutan gaun berwarna putih tulang yg menjuntai ekornya. Digo sendiri terlihat gagah dan tampan dalam balutan jas berwarna senada dengan gaun yg Sissi kenakan.
Bak seorang putri dan pangeran yg sedang duduk di pelaminan semua mata memandang takjub pada pasangan ini. Pujian dan ucapan tidak berhenti mengalir dari setiap tamu yg hadir.
"Selamat ya Pak Digo, istrinya cantik sekali seperti putri dari negeri dongeng." ucap salah satu karyawan Digo yg memang orangnya terkenal lebay.
"Selamat ya Cucu Oma, semoga kalian langgeng sampai kakek nenek, Oma bahagia sekali lihat kamu Digo akhirnya bisa mewujudkan impian Oma." Oma Arnita memeluk Digo dan Sissi bergantian. Ada rasa haru dalam hatinya menyaksikan cucu semata wayangnya itu akhirnya melepas masa lajang. Tapi yg membuatnya lebih terharu Digo bisa mewujudkan keinginan Omanya itu menikah dengan perempuan pilihan Omanya.
"Selamat ya Sissi sayang, kamu cantik sekali malam ini Nak, yg sabar ya nanti kalau ngadepin Digo. Kalau dia nakal bilang saja sama Oma, nanti biar Oma jewer kupingnya." ucap Oma pada Sissi.
"Oma apaan sih, Digo kan anak pintar nggak pernah nakal," protes Digo tak terima dibilang nakal.
Sissi hanya tersenyum simpul melihat sifat manja Digo jika sedang bersama Omanya itu.
Sudah hampir tengah malam saat suasana balroom tempat diadakan resepsi juga sudah sepih. Kedua kuarga sang pengantin juga sudah tidak nampak karena telah kembali ke rumah masing-masing.
Digo dan Sissi tidak ikut pulang mereka akan menginap di salah satu kamar hotel yg telah dipesan Oma untuk mereka berdua.
Sissi merasa gugup dan canggung sekali saat ini berada sangat dekat dengan kingkongnya itu. Saking gugupnya saat ia mencoba melepas risleting belakang gaun pengantinnya karena merasa gerah dan ingin cepat-cepat mandi, namun tangannya selalu gagal membukanya.
Digo yg melihat Sissi berkali-kali berdecak kesal karena usahanya itu sia-sia akhirnya mendekat dan membantu Sissi membuka gaunnya.
"Sok banget sih, bilang dong kalau nggak bisa sendiri. Minta tolong gitu, kan aku juga pasti nggak akan nolak." goda Digo saat membantu Sissi.
"Kingkong, mau ngapain kamu! Jangan macem-macem lho ya." ucap Sissi berjengit kaget saat Digo tiba-tiba ada di belakangnya.
"Rimba please ya, kalau aku mau macem-macemin kamu nggak perlu nunggu resmi, udah dari kemarin aja waktu di apartemen." cerca Digo. " atau, kamu kali ya yg ngarep mau di macem-macemin." Goda Digo lagi. "Mau ngapa-ngapain juga nggak papa kali, nggak ada yg ngelarang, sudah halal ini." Digo memutar tubuhnya hingga menghadap Sissi dan mulai medekat pada gadis itu.
Sissi yg menyadari tingka Digo bergerak mundur namun Digo makin mendekatkan tubuh mereka.
"Kingkong stop! Jangan macem-macem ya." ancamnya pada Digo
"Nggak macem-macem Rimba. Cuma satu macem saja dan itu kamu." Digo masih saja terus-terusan dipindahkan Sissi.
"Iih, ngawur aja pikirannya. Udah ah aku mau mandi, gerah!" ucap Sissiihkan kamar mandi dengan wajah merah karena meminta gugup dan malu di depan Digo.
Sementara Digo hanya bisa tersenyum puas karena bisa tersenyum dan melihat wajah merona si nona Rimba.
'Rimba, lo tu gemesin banget sih.' gumamnya tanpa sadar.
######