Bab. 15

1513 Kata
Digo tersenyum saat buka matanya pagi ini. Masih teringat dengan jelas perdebatannya dengan si nona Rimba saat akan beranjak tidur. "Kingkooong !! Mau ngapain kamu, kog tidur disini sih." Digo yang sudah mengehempaskan badannya di ranjang mendapat protesan dari Sissi. "Apasih Rimba? Capek banget neh," gumam Digo dengan mata terkatub. Acara resepsi tadi ternyata benar-benar menyita tenaganya. Badannya terasa pegal dan lemas sekali, hingga ingin cepat-cepat tidur dan beristirahat. "Kalau capek ya tidur di sana Kingkong," "Ini juga baru mau merem Rimba, udah terguncang aja sama suara cemprengnya kamu." Gumam Digo lagi kali ini mendapat pukulan di bahunya oleh Sissi. "Enak aja kalau ngomong, suara lemah lembut, merdu gemulai gini dikatain cempreng! Maksud saya, kamu tidurnya jangan di sini Kingkong," rengek Sissi manja membuat Digo pun kini bisa dipakai sambil melihat wajah Sissi lekat. "Orang kalau tidur biasanya dimana sih Rimba Sayang?" "Ya di tempat tidur lah, emang mana!" "Bagus, jawab kamu tepat sekali, oke aku mau tidur dulu ya. Jangan ganggu!" Sissi baru sadar jika pertanyaan Digo tadi menjebaknya. "Iiih..Kingkooooong !!! Pindah nggak!" "Astagaa Rimba! Apalagi sih," "Pindah! Aku juga capek, mau tidur neh!" "Yaudah sih tidur tinggal tidur, napa bawel banget sih Rimba. Apa perlu aku tidurin kamu biar cepet merem tuh." goda Digo tersenyum menyeringai. "Dasar m***m! Awas ya macem-macem." "Emang kenapa? Udah sah ini kan." "Nggak mau! Pindah sana ke sofa, ngalah napa sih sama perempuan. Kingkong cepat pindah atau..emmbh..mmbhh," Digo dengan cepat membungkam mulut Sissi dengan bibirnya. Awalnya Sissi sempat terlonjak kaget dengan aksi Digo, tapi lama-lama ia pun ikut hanyut dalam decapan yang Digo berikan untuknya. Bahkan tangan Sissi sudah mengalung di leher Digo. Digo melepaskan pagutannya saat melihat Sissi makin tersengal kekurangan oksigen karena ulahnya.  Sissi yakin kalau saat ini wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus. Ia juga merasakan bibirnya yang menebal akibat ciuman Digo padanya. Sissi menunduk tak berani memandang Kingkongnya itu. Aiih..malu sekali rasanya, tadi saja sok-sok'an nggak mau tidur seranjang, tapi begitu tersentuh bibirnya si Kingkong Sissi malah terhanyut dan menikmati. Toh tidak ada yang salah, mereka sudah halal sebagai pasangan suami-istri. "Tidurlah, percaya padaku, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu." Setelah terdiam beberapa saat untuk menormalkan detakan jantung yang tiba-tiba seperti melompat dari tempatnya, Digo menarik Sissi untuk berbaring di sebelahnya. Sissi pun hanya menurut tanpa berkata-kata, membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Digo. Saat Digo membuka mata pagi ini, ada sesosok tubuh mungil dengan erat memeluk perutnya dan menyusupkan kepalanya di d**a bidang Digo. "Hmm..pake sok-sok'an nggak mau tidur seranjang, lha sekarang malah nyaman banget gitu meluknya." gumam Digo memandang wajah cantik Sissi yang masih terpejam. Digo mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut kening Sissi, matanya menatap lekat bibir tipis merona yang sangat menggodanya itu. Digo pun akhirnya mendaratkan bibirnya di bibir Sissi. "Morning kiss, Rimba Sayang," gumamnya saat merasakan Sissi menggeliat akibat ulahnya itu. Perlahan Sissi membuka matanya saat merasakan ada sesuatu yang merambat di wajahnya. Ternyata Digo yang sedang iseng mengelus lembut wajah Sissi. "Kingkong!! Huwaaa..mau ngapain kamu! Mau macem-macem ya!" Digo kembali menghela nafasnya saat mendengar protesan dari Sissi. "Macem-macem apa sih? Nggak ngapa-ngapain juga!" "Itu kenapa tangannya elus-elus muka aku." "Jangan Ge-eR ya Rimba, itu tadi ada iler di pipi kamu, makanya aku usapin, bukannya makasih kek, ini malah nuduh yang macem-macem," bohong Digo pada Sissi. "Haah, masak sih," Sissi yang percaya dengan kata-kata Digo pun meraba kedua pipinya seakan ingin membuktikan perkataan Digo. "Mana? Nggak ada, modus kan Kingkong! Dasar Kingkong tukang modus."  Sissi mengambil guling dan langsung memukulkannya pada Digo tanpa ampun. "Hoey..hoey..apaan sih! KDRT ini namanya Rimba! Stop atau aku cium lagi kamu." ancam Digo pada Sissi dan seketika menghentikan pukulannya pada Digo. "Beneran neh Rimba, nggak mau aku cium lagi??" goda Digo saat Sissi sudah beranjak duduk di sofa. "Apaan sih! Dasar m***m!" cerca Sissi dengan pipi merona mengingat kembali ciuamannya bersama Digo semalam. "Hmm..lagaknya pake ngatain. Semalem aja kelihatan banget sangat menikmati waktu aku cium kamu." sahut Digo yang ingin beranjak ke kamar mandi. "Apaan coba! Yang semalem itu namanya pemaksaan ya! Nggak ada tuh gue menikmati ciuman lo." "Pemaksaan tapi kog sampe merem begitu matanya," Digo masih saja tak mau berhentu menggoda Sissi. "Rimba, kan kita udah ngerasain rasanya ciuman tuh, mau nyobain yang lain juga nggak?" tanya Digo dengan senyuman jahilnya. "Apaan!" sahut Sissi dengan ketus. "Nah, nanya apaan, berarti mau dong ya." "Iiish..apaan sih Kingkong." "Mau ngerasin mandi bareng nggak?" "Digooooooooo!!!" Digo segera berlari ke dalam kamar mandi dengan tawanya meninggalkan Sissi yang mungkin saat ini merasa kesal sekali karena Digo terus-terusan menggodanya. Saat Digo sedang di kamar mandi, Sissi diam-diam meraba bibirnya, seakan mengingat kembali rasa ciuman pertamanya dengan Digo. 'Ciuman pertamaku ternyata si Kingkong yang mengambilnya.' batin Sissi tersenyum dalam hati. Digo mengajak Sissi ke restoran yang ada di seberang hotel tempat mereka menginap untuk sarapan pagi ini. "Kenapa nggak delivery aja sih Digo?" protes Sissi yang memang merasa malas sekali untuk keluar pagi ini. Rasanya tidur semalaman masih belum mengembalikan tenaganya karena saat resepsi semalam ia harus berdiri lebih dari tiga jam hanya untuk menyalami para tamu yang datang memberikan selamat. "Kenapa Rimba? Kamu nggak mau sarapan sama aku?" Digo mengelus lembut rambut Sissi. 'Duh lama-lama bisa jatuh cinta kalau diperlakukan selembut ini sama Kingkong.' batin Sissi dengan jantung berdegub kencang. "Bukan, tapi kaki aku pegel banget Kingkong, rasanya kayak mau patah karena kelamaan berdiri semalam." rengek Sissi dengan manja pada Digo. Tanpa Sissi duga, Digo mengangkat kaki Sissi ke pangkuannya dan memijitnya perlahan. "Digo, mau ngapain?" ucap Sissi kaget dengan apa yang Digo lakukan padanya. "Katanya capek, sini aku pijitin biar capeknya hilang," ujar Digo yang memijit-mijit kedua kaki Sissi. "Nggak usah," Sissi merasa tak enak dan ingin menurunkan kakinya tapi Digo menahannya. "Udah diem dulu, biar hilang capeknya." ujarnya menahan kaki Sissi agar tetap berada di pangkuannya. Aiiih, kenapa jadi makin so swet begini si Kingkong, nanti kalau aku beneran jatuh cinta gimana dong. Kan status kingkong sama Keket belum putus. Duuh, berasa jadi orang ketiga dalam hubungan mereka gue. Gumam Sissi dalam hati. "Udah Digo, capeknya udah hilang kog, ayo kita pergi nyari sarapan, aku udah laper banget." Ujar Sissi menurunkan kakinya dan mengajak Digo pergi. Padahal Sissi sama sekali tak merasa lapar, hanya karen teringat dengan hubungan Digo dan Kathryn, Sissi jadi merasa bersalah dan tak enak hati. "Kamu mau pesan apa Rimba?" tanya Digo saat mereka sudah berada di salah satu restoran siap saji. "Samain aja kayak kamu ya," jawab Sissi dengan tak bersemangat. "Kenapa? Masih capek, kog lemes gitu jawabnya?" selidik Digo yang mendengar Sissi seperti tak bersemangat. Sissi menggeleng kemudian tersenyum. "Nggak kog, mungkin karena laper aja jadi kelihatan lemes." bohongnya pada Digo. Sissi dan Digo sedang menikmati santap paginya saat tiba-tiba hanphone Digo bergetar pertanda ada panggilan masuk. "Kathryn," ucapnya seketika membuat Sissi menolehnya. Digo tak langsung mengangkat telponnya tapi ia memandang Sissi sekilas dan mendapat anggukan dari Sissi. "Iya hallo Kath," "..........." "Apa? Jemput, sekarang?" ".........." "Tapi---" Tanpa bertanya siapa yang menelpon Digo, Sissi sudah tahu dan paham. Kathryn lah yang barusan menelpon Digo, entah apa yang mereka bicarakan, tapi dari ekspresi wajah Digo, Sissi bisa melihat ada raut cemas dan gugup. Sissi pun menunduk karena merasa tiba-tiba matanya memanas. Entah ada apa dengan Sissi, yang jelas mendengar Kathryn menghubungi Digo membuatnya merasa takut dan ikut cemas. Takut kalau-kalau dia dianggap sebagai orang ketiga antara Digo dan Kathryn. Takut jika Digo akan tetap melanjutkan hubungannya dengan Kathryn. Takut kalau dia tidak akan dianggap lagi oleh Digo. "Digo," "Kathryn memintaku untuk menjemputnya di bandara.", Ucap Digo memandang Sissi. "Jemput? Apa dia sudah sampai disini?" tanya Sissi dengan wajah senduhnya. Digo  melihat wajah Sissi yang tiba-tiba murung kemudian meraih tangan Sissi untuk ia genggam. Sissi pun mendongak memandang Digo. "Aku janji sama kamu, akan segera kuseleseikan urusanku dengannya." ucap Digo memandang lekat mata Sissi seolah meyakinkannya. "Digo, aku.." "Aku mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Meskipun diantara kita belum ada cinta, tapi aku tidak ingin mempermainkan ikatan sakral diantara kita," terang Digo bersungguh-sungguh. Tapi Sissi tidak tahu ia harus senang atau tidak. Sissi merasa menjadi perempuan yang sangat jahat sekali karena dia pikir audah merebut kekasih orang lain. Tapi ia juga senang dengan ucapan Digo yang menyatakan kalau ia tak ingin main-main dengan pernikahan mereka. "Digo, aku tidak akan memaksa kamu untuk mempertahankan pernikahan ini kalau kamu dengan Kathryn masih saling...." Sissi belum selesei berbicara tapi Digo dengan cepat menutup bibir Sissi dengan telunjuknya mengisyaratkan agar ia diam. "Kita baru menikah setiap hari dan kamu berpikir dengan perpisahan Si?" ucap Digo bernada agak kesal mendengar ucapan Sissi. Sissi dengan cepat menggeleng seakan memberi tahu jika ia tidak setuju dengan perkataan Digo. 'Bukan seperti itu Digo, aku juga mau nggak pisah sama kamu. Tapi aku bingung harus bagaimana. Di satu sisi kita sekarang suami istri tetapi sampai saat ini kamu bahkan tidak pernah dinilai sayang sekali. Di sisi lain kau masih berhubungan dengan wanita lain. ' Sissi membatin dalam hati. 'Ngomong ngomong soal perpisahan Si, apa begitu tidak inginnya kamu sampai-sampai bicara begitu. Apa kau sadar Si, jika aku mulai nyaman denganmu, aku sayang sama kamu Si, aku ingin terus berada di dekatmu selamanya. ' Digo juga sama membatin dalam hati. ########
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN