Bab. 16

1471 Kata
Suasana cerah pagi yang beranjak siang, tapi tidak secerah suasana hati Sissi. Seusai makan pagi bersama tadi Digo beranjak pamit untuk menjemput Kathryn di bandara. "Aku pergi dulu ya Rimba, kamu harus percaya sama aku. Kalau aku akan segera membahas ini dengan Kath," ucap Digo meyakinkan Sissi. Meskipun Digo sudah berhasil meyakinkannya dengan kata-katanya tetapi tetap saja ada rasa kawatir dan sedang dihatinya. Sedari tadi sejak kepergian Digo Sissi hanya mondar-mandir di dalam kamar hotel. "Iih, kingkong lama banget sih, ngapain aja coba!" menikmati kesal sekali yang sekarang mencakup hati Sissi. "Awas aja kalau macem-macem sama Kathryn." ancamnya menggumam sendiri. Rupanya rasa cemburu lebih menarik dalam hati Sissi. Katanya nggak sayang, nggak ada cinta. Tapi kog cemburu. Ternyata cemburu itu tanda adanya rasa yang disebut cinta dalam hati. Meminta Sissi belum sadar kalau belum jatuh ke dalam pesona tuan kingkong unyu'nya itu. Sissi jatuh cinta pada Digo, tetapi ditolak ditolak mengakui. ** "Haii sayang," Kathryn yang melihat kedatangan Digo segera pindah ingin menghambur dalam pelukan Digo, tetapi diaktifkan kilat Digo menghindar pura-pura menunduk membenarkan tali sepatunya. Sungguh dengan datangnya Kathryn saja sudah berhasil meyakinkan pada Sissi, tapi mau tak mau ia harus bertemu Kath dan menyeleseikan semuanya. Ia harus jujur jika sekarang Ia ditolak pria lagi. "Digo, kamu nggak kangen sama aku?" rengek Kathryn pada Digo. "Kamu nggak mau peluk aku gitu?" "Eh, itu Kath, aku belum sempat mandi tadi. Masih bau neh, jadi jangan melul aku nanti kamu ikutan bau." dustanya pada Kathryn. "Iyyuu, kamu jorok banget sih sayang! Yaudah kalau gitu aku mau cium pipi kamu aja ya," "Jangaan !!" tolak Digo tapi membuat Kathryn menatapnya penuh selidik. "Eh, aku tidak boleh cium sekarang, soalnya, soalnya tadi aku juga belum sempat cuci muka, neh masih ada ilernya yang nempel tadi." bohongnya lagi pada Kathryn. Sebenarnya dari tadi perut Digo terasa tegang rasanya ditahan tawa yang ingin ia ledakkan karena bualan-nya sendiri. 'Tak apalah bohong sedikit, yang penting nggak disentuh sama perempuan lain selain Rimba. Bukan muhrim tahu! ' batinnya dalam hati. "Kog, kamu jadi tambah jorok gitu sih Digo. Kamu pacarnya super model terkenal, penampilan kamu juga harus perfeck dong sayang. Harus bisa ngimbangi aku." cerocos Kathryn panjang lebar membuat Digo senang dan ingin cepat-cepat pergi dari datang Kathryn. Ini lah yang tidak mendukung dari sikap Kathryn sejak dulu yang selalu membutuhkan Digo. Digo tidak suka mengatur-atur, ia ingin membuatnya sendiri. Selama menjalin hubungan dengan banyak wanita, hanya dengan Sissi lah Digo bisa menjadi diri sendiri. Sissi tak pernah memintanya untuk menjadi seperti apa. Sissi tidak perlu peduli dengan sikap bodoh dan usil yang selalu Digo lakukan pada nona Rimba itu. Itulah yang tidak Digo dapatkan dari perempuan manapun. Dengan yang lain Digo tidak bisa bercanda atau mengambil mereka. Karena sikap terlalu setuju imej yang selalu ditunjukan oleh para perempuan yang dekat dengannya. Berbeda sekali dengan Sissi yang ingin menjadi orang lain. 'Rimba, gue kangen sama lo.' ucapnya dalam hati saat mengingat nona rimbanya itu. "Kathryn, ada yang ingin aku bicara denganmu." ucap Digo saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Kath. "Nanti saja ya Sayang, aku capek sekali, ingin cepat tidur." ucap Kathryn tak menghiraukan Digo. "Meminta, aku akan mengantarmu ke apartemenmu." "Kenapa harus ke apartemenku Digo sayang, kita ke apartemenmu saja, lagipula lebih dekat kan." "Tidak Kath, eh, maksudku apartemenku sudah lama aku pergi dan tidak ada yang membersihkan, pasti sekarang kotor dan rusak sekali, kamu pasti nggak akan suka kan dengan yang kotor dan hancur." elak Digo mencari alasan saat Kathryn ingin mengajaknya ke apartemen Digo. "Menginap sayang, kita ke apartemenku saja." ucap Kathryn akhirnya menuruti Digo. "Kathryn, aku pulang dulu ya, kamu istirahat saja." ucap Digo saat sudah sampai di apartemen Kath. "Kenapa pulang Digo, disini aj ya, temenin aku, kan aku kangen sam kamu." lagi-lagi Kathryn merengek manja pada Digo. "Maaf Kath, aku nggak bisa. Ada pekerjaan yang harus segera ku seleseikan hari ini." Entah sudah berapa banyak kebohongan yang Digo ucapkan pagi ini saat menerima Kathryn. Sebenarnya ia juga tidak mau membahas seperti ini, tetapi mau mencari lagi, ia belum menemukan waktu yang pas untuk mengatakan semua pada Kathryn. Kathryn baru datang dan sedang menyelesaikan capek, bisa-bisa ia mengajukan serangan jantung jika Digo langsung mengalihkan yang sebenarnya terjadi. Bisa berabe kan kalau Kathryn tiba-tiba pingsan terus nggak bangun lagi. Atau kalau tiba-tiba ia frustasi trus lompat dari lantai 20, gimana. Kan nanti Digo juga yang merepotkan jika harus meminta bantuan polisi, nggak lucu kan kalau pengantin baru ditangkap karena membuat kekasihnya bunuh diri. Nah, lho. Belum juga memasak gimana rasanya dibagi duren, masak udah harus masuk hotel prodeo. Sebelumnya sekarang ada bidadari cantik yang sedang menunggunya di hotel berbintang. Setelah membujuk Kathryn akhirnya gadis itu pergi Digo pulang. Sepanjang perjalanan pulang Digo tak hentinya kembali tentang Sissi. Tidak ada yang tahu lelaki bebas. Digo berjalan cepat menuju kamar hotel tempat Sissi menunggunya. Ingin memastikan kalau Sissi baik-baik saja. Digo tertegun melihat Sissi yang menolehnya saat ia datang. Sissi terlihat begitu cantik sekali, hingga rasanya Digo tak sangagup berkata-kata karena terpesona akan kecantikan nona Rimbanya itu. "Sissi," ucapnya masih menatap lekat wajah cantik itu. Sissi masih enggan menjawab Digo, menang masih kesal sekali. Hampir berjam-jam ia meninggalkan sendiri di dalam kamar hotel. Sementara itu sedang menunggu pertemuan kekasihnya. 'Dasar buaya buntung, kingkong kunyuk nyebelin, bisa-bisanya istri ninggalin hanya demi menemukan pacarnya.' umpat Sissi tapi hanya dalam hati. "Rimba, kamu mau kemana?" ucap Digo lagi saat melihat Sissi yang tampak rapi dan cantik itu. "Terserah gue lah mau kemana, bukan urusan lo." ucap Sissi dengan wajah kesalnya. Digo sendiri kaget mendengar Sissi kembali disambut dengan sebutan 'lo' 'gue'. "Si, kamu marah?" ucapnya lembut berusaha memahami Sissi. "Apa hak gue marah sama lo. Lo mau nemuin pacar lo kek, selingkuhan lo kek, gue nggak peduli. Lo pikir cuma lo aja yang bisa seneng-seneng luar, gue juga bisa kali." cerca Sissi lagi tak perduli dengan Digo. "Sissi! Jangan suka anak kecil!" Bentak Digo tanpa sadar. "Iya gue emang kekanak-kanakan, gue emang seperti anak kecil! Bagaimana? Lo nyesel nikah sama gue! Yaudah kita pisah saja!" lagi-lagi kata pisah itu keluar dari mulut Sissi dan Digo tidak suka itu. Tanpa berkata Digo pergi meninggalkan Sissi sendiri. Digo pikir ia dan Sissi sedang-sama log dan salah paham. Tidak akan menemukan ujungnya jika dikembalikan dengan Sissi. Selain itu tanpa sadar ia sempat membentak Sissi, dan itu membuatnya sangat meyakinkan. "Maafin aku ya Rimba," ucapnya dalam hati saat pergi Sissi untuk sama-sama memulihkan diri. "Kingkong jahat! Gue benci sama lo!" ucap Sissi antara isakan tangisnya. Setelah Digo pergi tadi Sissi tidak bisa tahan untuk mengeluarkan tangisnya. Rasa kesal yang dari pagi sudah dikeluarkannya kini sudah meledak, sudah Digo tadi membentaknya. Sissi merasa Digo memang tidak peduli dengan perasaanya. "Kenapa mau menikah, bagaimana kalau nggak bisa menerima apa adanya." Sissi gumam masih belum berhenti menangis. Sementara Digo pergi ke kafe yang berada di samping hotel untuk menghindar dari Sissi. Bukan karena apa-apa, tapi Ia juga ingin memberi ruang pada Sissi agar bisa sama-sama mendinginkan hati. "Semua ini benar-benar berawal dari pura-pura Si, tapi semakin kesini aku semakin yakin kalau aku rasain ke kamu ini adalah cinta. Iya, cinta yang nyata dan bukan cinta pura-pura. Aku tidak pernah merasa senang saat di dekat kamu, alih dengan Kathryn, mungkin benar apa yang dulu aku rasain dan jalanin dengan Kathryn hanya sebatas rasa mengagumi saja. " ucap Digo dalam hati, coba menelaah rasa yang kini diperbarui. Cukup lama Digo butuh di kafe menghabiskan lebih dari dua cangkir espreso. Hari beranjak sakit saat ia memutuskan untuk kembali ke kamar hotel, dan kembali Sissi. Hati Digo ditambahkan diliputi rasa bersalah saat melihat nona Rimbanya yang tertidur dengan posisi tertelungkup memeluk bantal. Digo mendekat melihatnya sisa airmata di kedua sudut mata Sissi. Tangan Digo terulur, memulihkan sisa airmata Sissi dengan rasa bersalah. "Maafin aku ya Rimba, belum apa-apa aja aku udah bikin kamu nangis. Aku memang suami yang jahat, cuma bisa bikin kamu nangis." ucapnya mengelus pipi Sissi dengan lembut. Digo pun ikut terbaring di sebelah Sissi. Biarlah ia sekarang menikamati waktu keberasaam dengan nona rimbanya itu, sebelum nanti Sissi terbangun dan pasti akan bertambah marah pada Digo karena tadi meninggalkannya sendiri. Tangan Digo melingkar erat memeluk Sissi dari belakang. Sissi yang merasakan ada sesuatu yang tertumpu di perutnya membalikkan badannya masih dengan mata terpejam, ia akan menyusupkan kembali ke d**a bidang Digo. Jantung Digo berdegub kencang saat Sissi lagi-lagi tidur dalam dekapannya. Digo ingat wajah cantik Sissi yang tertidur, entah mengapa ia bisa tergoda dengan bibir tipis merah merona milik Sissi. Digo mengecup bibir Sissi membuat Sissi melenguh dengan kelakuan Digo. Tak ingin membangunkan si nona rimba, Digo segera melepas kecupannya. "Tidurlah Rimba Sayang, aku mencintaimu, Rimbanya Kingkong." ucap Digo yang tanpa sadar sudah memilih kata cinta untuk Sissi, mengecup kening Sissi dengan lembut dan dalam, memelukanya dengan cepat sebelum akhirnya ikut terbang ke alam mimpi. Berharap nanti saat bangun ia dan rimba akan baik-baik saja. ######
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN