Bab. 17

1225 Kata
Sissi menggeliat dalam dekapan Digo. Perlahan ia membuka mata dan berjengit kaget saat bangun sudah mendapati tangan Digo melingkar dengan eratnya di atas perutnya. 'Ternyata benar cuma mimpi. Kenapa seperti nyata banget ya, si kingkong bilang I Love you sama aku. Hhh..nggak usah mimpi deh Si, ga mungkin banget si kingkong nyatain perasaannya sama lo.' Sissi membatin sendiri dalam hati. Sissi teringat siang tadi saat perdebatannya dengan Digo dan berakhir dengan Digo yang meninggalkannya seorang diri. Rasa marah dan kesal kembali menyelimuti hati Sissi mengingat kejadian siang tadi, dengan cepat ia menghempaskan tangan Digo yang memeluknya. "Rimba," Digo yang kaget karena tangannya dihempas oleh Sissi langsung duduk terbangun. "Ngapain lo peluk-peluk gue! Nyari kesempatan lo ya, dasar kingkong m***m!" cerocosnya masih dengan hati yang kesal. "Hhh.., masih marah aja sih Rimba." Digo menghela nafas saat lagi-lagi Sissi memanggil gue dan elo. "Kita harus bicara Si," Digo berusaha berkata selembut mungkin agar tak menyinggung perasaan Sissi. "Apaan! Nggak ada lagi yang perlu dibicarain, semua udah jelas, lo pasti juga bakalan lebih memilih hubungan lo dengan Kathryn daripada mempertahankan pernikahan kita." ucap Sissi mulai terlihat emosi. "Kalau aku bilang akan lebih memilih pernikahan kita gimana?" ucap Digo dengan senyuaman penuh arti. "Nggak ada yang lucu! Nggak usah senyum-senyum gitu!" cerocos Sissi kesal. Digo malah tertawa mendengar cerocosan Sissi, saat sedang kesal seperti ini Sissi terlihat sangat menggemaskan sekali. "Kamu yang lucu Rimba Sayang," "Nggak usah sayang-sayang! Toh kenyataannya memang nggak Sayang." Kali ini Digo tidak tahan lagi untuk mengacak rambut Sissi saking gemasnya. Hidung mancung dan kedua pipi Sissi pun tak luput dari tangan jahil Digo. "Iih, apaansih! Lepas!" ucap Sissi makin terlihat kesal. "Aku Sayang kog sama kamu Rimba." "Bohong." "Serius!" "Kalau sayang kog masih ketemuan ama cewe lain." "Kamu cemburu ya," "Nggak!" "Nggak salah lagi kan Rimba?" 'Tauh ah, kamu nyebelin!" "Kamu gemesin Rimba!" "Aku benci Kingkong!" "Tapi aku cinta Rimba!" Ucapan Digo sontak membuat Sissi menolehnya tak percaya. Hatinya berdegub kencang mendengar perkataan yang baru keluar dari mulut Digo. Tapi tak ingin terlalu senang Sissi berusaha menepis rasa dalam hatinya. Ia takut apa yang diucapkan Digo padanya hanya gurauan saja. "Rimba Sissilya Sasmitha, aku CINTA sama kamu!" ucap Digo lantang sekali lagi di hadapan Sissi. Dada Sissi ngilu rasanya mendengar pernyataan cinta dari kingkong unyu'nya itu. Benarkah apa yang ia dengar barusan, atau hanya ilusi semata. Sissi masih mematung tak tahu harus berkata apa. Sissi juga mulai menyadari kalau ia mulai memiliki rasa lebih pada Digo. Perasaan yang umumnya dirasakan oleh seorang perempuan dan laki-laki. Iya, Sissi mulai jatuh cinta pada sang kingkong. Tapi untuk mengakuinya ia masih ragu, mengingat urusan Digo dengan Kathryn belum selesei, Sissi menjadi bimbang sendiri. Apa ia tidak seperti perempuan yang tidak punya hati jika dengan mudah sekarang menerima cinta Digo, tapi bukankah itu salah Kathryn sendiri, kenapa punya cinta tidak dijaga. Malah krsannya menyepelehkan sekali, padahal lelaki seperti Digo itu sudah langkah di dunia ini, sangat perhatian, meskipun jahilnya luar biasa, pengertian sekali sama perempuan meskipun tak jarang bersikap tegas, dan yang paling spesial adalah ia sangat menjaga dan melindungi sekali. Bodoh sekali jika ada perempuan yang menyia-nyiakan lelaki seperti Digo. 'Eh, berarti gue juga bodoh dong ya, Digo menyatakan cintanya tapi gue malah mau menghindar, padahal kan dalam hati gue juga sayang sama Kingkong.' Sissi membatin dalam hati. "Sissi..aku Sayang sama Kamu! Aku Cinta sama Kamu!" teriak Digo sekali lagi meyakinkan hati Sissi. "Jawab Si, apa kamu mau bersama-sama denganku, kita sama-sama mengarungi lautan rumah tangga dengan cinta yang ada di hati kita." Aiih, abang Kingkong kata-katanya dalem banget. Siapa coba yang klepek-klepek jika dirayu dengan kata-kata seperti itu. Sissi pun sepertinya tidak akan sanggup menolak cintanya abang Kingkong unyu'nya itu. Masa bodo dengan Kathryn. Toh ia dan Digo sudah sah ini dimata agama dan negara, bukannya sudah seharusnya Sissi menjaga dan mempertahankan apa yang sudah menjadi hak miliknya. 'Ayo Si, bilang juga kalau lo cinta sama dia! Tunggu apa lagi coba, ini kan yang lo harapkan selama ini, si kingkong punya perasaan yang sama seperti lo.' batin Sissi dalam hati. 'Jangan terburu-buru Si! Siapa tahu kingkong cuma becanda saja bilang seperti itu. Apa segampang itu Digo bilang cinta padahal ia dan Kathryn juga belum resmi bubar.' batin hati Sissi yang lainnya. Suara hati Sissi berperang antara ingin meng-iyakan apa yang Digo ucapkan atau menolak begitu saja ungkapan cinta dari kingkong unyu'nya itu. Sissi memejamkan matanya dan menggigit bibirnya tanda ia sedang berpikir untuk mencari jawaban atas pertanyaan Digo. Sementara Digo sendiri menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir nona Rimbanya itu sama seperti sedang berlari puluhan kilometer. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan hatiny berdebar. Takut kalau-kalau Sissi akan menolak cintanya. Tapi ia juga tidak bisa memaksakan Sissi untuk mempunyai rasa yang sama seperti yang saat ini ia rasakan. "Digo..." Sissi diam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. "Aku..., Aku juga cinta sama kamu!" ucap Sissi cepat masih dengan mata terpejam. Sementara Digo sendiri memasang kupingnya baik-baik dan mencerna apa yang barusan ia dengar itu benar dan bukan khayalannya semata. "Sissi," Digo mendekat dan menggenggam erat kedua tangan Sissi. "Si, bisa kamu ulangin sekali lagi," seru Digo masih tak percaya. "Aku Cinta sama kamu Digo!" jawab Sissi sekali lagi, kali ini reflek membuat Digo berhambur memeluknya. Tunggu apa lagi. Disaat hatimu telah terpaut dengan seseorang yang membuatmu nyaman, dan ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama, jadi tidak ada salahnya kan kalau mencoba untuk mempersatukan rasa yang telah ada. Begitu juga dengan Sissi, jiwanya menolak untuk mengakui, tapi nurani-nya tak sanggup mengingkari rasa cinta yang tumbuh di hatinya untuk Digo, lelaki tampan beberapa bulan ini mengisi hari-harinya yang kini telah resmi menjadi suaminya. Jantung Sissi seperti mrloncat-loncat rasanya dipeluk Digo dengan eratnya seperti itu. Aduh, kenapa tiba-tiba jadi gugup dan grogi begini ya deket sama kingkong. Seru batin Prilly. Digo menangkup eajah Sissi dengan kedua tangannya. Ditatapnya mata indah yang sejak lama dikaguminya itu, Digo tersenyum manis pada Sissi sesaat sebelum mendaratkan bibirnya di kening Sissi. Digo mengecup dalam kening Sissi membuat gadis cantik itu tanpa sadar memejamkan matanya. "Terimakasih Sayang," ucap Digo membuat Sissi mendongak menatap Digo bingung. "Sayang?" ucapnya merasa agak geli mendengar Digo memanggilnya dengan sebutan itu. Meski kalau boleh jujur ia agak terkejut dan merasa senang dengan panggilan barunya itu. Ia dan Digo yang biasanya kalau memanggil sama-sam dengan sebutan yang tak lazim kini harus diubah lagi dengan sebutan yang terdengar manis sekali. Sissi nggak nyangkah kalau si kingkong ternyata bisa romantis juga. "Iya  Rimbanya Kingkong, mencintaimu Rimba Sayang." ucap Digo membuat Sissi tersenyum bahagia, sejenak melupakan tentang status Digo yang belum sepenuhnya lepas dari Kathryn. "Mencintaimu juga Kingkongnya Rimba," jawab Sissi kembali menyenderkan kepalanya di d**a bidang kingkongnya itu. "Jadi, kita jadian neh?" "Jadian?" "Iya! Kita pacaran beneran," "Tapi kan kita udah suami istri Kingkong," "Ya, nggak pa-pa Rimba, malah kita harus bersyukur kalau ternyata Allah sama-sama membuka dan menyadarkan  perasaan kita masing-masing baru sekarang, berarti kita pacarannya sudah halalan toyyiban, udah sah dapet pahala sama berkah pula." ujar Digo pada Sissi Sissi merasa tidak ada hari yang lebih membahagiakan dan membuat hatinya senang. Baru kali ini ia merasakan jatuh cinta yang sebenarnya, tiap ditatap Digo kini hatinya berdesir dan jantungnya pun memacu dengan hebat. Digo pun sepertinya begitu terlena dengan uforia kemenanfan hatinya dalam membuat sang nona Rimba yang ternyata mempunyai perasaan yang sama dengannya. Sampai-sampai Digo melupakan kalau masih ada satu hati yang telah menunggunya untuk menjelasakan arti dari semua ini. #####
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN