Bab. 18

1607 Kata
Malam yang tenang dan syaduh menjadi saksi bahwa sepasang anak manusia berbeda jenis dan sudah dalam ikatan yang halal tengah tertidur dengan lelapnya. Saling memeluk erat seakan tak rela terpisah jarak walau hanya satu centi saja. Digo merasa lega luar biasa saat mendengar pernyataan Sissi yang ternyata juga menyimpan rasa di hatinya. Sissi menggeliat dalam tidurnya, matanya perlahan terbuka. Ia tersenyum saat melihat tangan yang tengah bertumpuh pada perut ratanya. Tidak sseperti kemarin yang langsung ia hempaskan saat tangan Digo memeluknya, kini ia merasa nyaman sekali berada dalam dekapan Digo. Hatinya juga tak kalah leganya dengan apa yang dirasakan Digo. Cinta Sissi ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Bagai Gayung bersambut, ternyata perasaan yang selama ini diyakini Sissi sebagai cinta disambut oleh Digo yang lebih dulu mengungkapkan isi hatinya pada gadis cantik itu. Nona Rimba kini tengah berbunga-bunga hatinya. Laksana perempuan yang sedang dimabuk asmara. Hari-harinya akan terasa indah bersama lelaki yang dicintainya. "Morning Sayang." Digo membuka mata saat merasakan ada yang memainkan bulu mata lentiknya. "Sudah azan subuh, Kingkong. Salat dulu yuk!" Sambung Sissy lagi. "Berarti belum morning Sayang, masih petang," balas Digo. Sissi ingin beranjak bangun tapi Digo menahannya. "Mau kemana sih?" ucapnya menarik kembali Sissi ke dalam peluknya. "Digo, keburu habis subuhnya. . Aku mau siap-siap habis itu kita jamaah subuh," sahut Sissy. "Morning kiss dulu Sayang," pinta Digo pada Sissi. Wajah Sissi memerah saat Digo bilang meminta morning kiss darinya. Secepat kilat ia mencium pipi Digo. "Udah kan," ucapnya tak berani memandang Digo karena merasa malu. "Bukan disitu Rimba, tapi disini." Digo menunjuk bibirnya. "Kenapa Sayang, masih malu-malu ya." Sambung Digo memandang wajah Sissi yang sudah memerah karena terus digoda olehnya. "Digo," Tubuh Sissy seperti kaku, saat lagi dan lagi bibir tipisnya tersapu oleh benda kenyal dari mulut Digo. Tak ingin memikirkan apa-apa, ia hanya ingin menikmati kebersaman bersama orang yang dicintainya. Digo melepas ciumannya saat merasa Sissi tersengal dengan napas memburu seperti kekurangan oksigen. Saling menautkan dahi dan dengan mata terpejam, seakan meresapi cinta yang tengah hadir di antara mereka. Wajah Sissi memanas mengingat perlakuan sang suami. Masih dengan napas memburu perlahan Sissi membuka mata. "Digo," "Iya Sayang," "Apa yang barusan kita lakukan itu benar?" tanya Sissi konyol. Digo ingin tertawa mendengar pertanyaan konyol istrinya itu. Tapi ia menahannya. "Memang kenapa Rimba? Kita sudah sah sebagai suami istri, mau ngapain saja juga tidak masalah, lebih dari ini juga sah-sah saja Sayang," terang Digo yang kini memeluk erat Sissi. Tentu saja mereka bebas mau ngapain saja. Toh hubungan mereka sudah jelas, halal dan sah dimata hukum, Agama dan Negara. "Tapi Digo, aku..." Sissi seketika gugup kembali saat Digo bilang mereka boleh saja melakukan apapun selain sekedar berciuman. "Tenang Rimba, aku nggak akan maksa kamu, aku akan nunggu sampai kamu siap," ucap Digo yang memahami gurat kegugupan di wajah Sissi. "Makasih Kingkong atas pengertiannya." sahut Sissi yang kini menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Digo. Sejurus keduanya bersiap untuk melaksanakan ibdaha subuh, Sissy yang lebih dulu menuju kamar mandi guna membersihkan diri, sementara Digo menggelar dua sajadah di samping tempat tidur. *** Pagi ini Digo berangkat ke kantor dengan wajah semringah dan lebih ceria. Tak seperti biasanya, mulai pagi ini semangatnya bertambah berkali lipat, kini ada perempuan yang setia mengantarkan ia sampai di depan rumah, jika akan berangkat kerja. Dan pasti akan setia menunggunya saat pulang nanti. Digo kini merasa memiliki tanggung jawab seutuhnya pada Sissi. Membahagiakan pacar halalnya saat ini menjadi tujuan utama Digo. Tapi Digo sepertinya melupakan sesuatu. Saking bahagianya Digo lupa tentang hubungannya dengan Kathryn yang masih belum menemukan titik terang. Ia ingin segera mungkin berterus terang dan mengatakan semua pada Kathryn. Tapi apa tidak terkesan jahat sekali seandainya Digo langsung bilang bahwa ia sudaj menikah dengan Sissi perempuan yang di sewa oleh Kathryn sendiri untuk mrnjadi pacar pura-puranya Digo. Digo sadar ia harus siap menerima apapun yang nanti kemarahan Kath padanya. Semua sudah terjadi, dan Digo baru sadar cinta yang sesungguhnya ia rasakan dalam hati telah berlabuh pada Nona Rimbanya itu, bukan pada pada siapapun termasuk Kathryn. Digo berjalan dari parkiran kantor menuju ruangannya. Tapi baru beberapa meter ia melangkah. Matanya menatap seorang yang ia kenal. Seorang cantik yang tengah berdiri di restoran tepat di sebelah perkantoran Digo. Tapi tunggu, sepertinya perempuan yang Digo kenali tidak sendirian, ia bersama seorang laki-laki. Dan mereka terlihat sedang berdebat sesuatu. "Mau apa kamu kesini? Pergi dari sini Fer, sebelum Digo melihat kita." Digo yang penasaran sedang apa Kathryn sepagi ini sudah ada kantornya perlahan mendekat. Tapi ia tidak menampakkan dirinya. Digo sembunyi dan menguping ingin tahu. "Kamu pikir segampang itu membuatku pergi, sementara apa yang sudah kita lakukan saat liburan di Milan kemarin tidak berarti apa-apa bagimu?" Milan. Jadi Kathryn pergi kesana bukan untuk urusan pekerjaan? Tapi sedang berlibur bersama lelaki itu. Rahang Digo mengeras seketika. Dia marah, bukan karena Kathyn ketahuan beraama lelaki lain. Tapi karena ia merasa tak terima selama ini ternyata dibohongi dan dibodohi oleh Kathryn. "Sudah aku bilang! Aku hanya sekedar suka sesaat denganmu, aku tidak punya perasaan apa-apa sama kamu!" "Lalu kenapa kamu mau ngelakuin semua sama aku. Dan anak yang ada di dalam kandunganmu. Aku yakin itu anakku." Mata Digo mengkilat menahan amarahnya. Hamil? Jadi Kathryn hamil anak dari lelaki lain. Digo merasa menjadi lelaki bodoh selama ini selalu percaya dan menuruti apapun yang Kathryn inginkan. Digo cukup tahu dan tak ingin lebih lama lagi mendengarkan perdebatan dua orang yang membuatnya muak itu. Bayangkan saja, hampir dua tahun ia menjalin hubungan dengan Kathryn, selama itu pula ia selalu berusaha menjadi lelaki yang setia pada pasangannya dan sekarang ia harus mendengar bahwa perempuan yang masih berstatus pacarnya itu telah mengkhianatinya lebih  dulu. Digo jadi jijik sendiri membayangkan selama ini Kathryn berhubungan dengan lelaki lain. Padahal selamai ini saja ia selalu menjaga agar jangan sampai kelewat batas. Hanya sekedar berciuman dan itupun jarang ia lakukan dengan Kath. Disatu sisi Digo merasa sangat kecewa karena kebohongan Kahtryn. Tapi disisi lain ia merasa ini adalah kesempatan baik untuk berpisah secara baik-baik dari Kath. Lagi pula Kath yang telah berkhianat jauh lebih dulu dari Digo. Apalagi Kath kini telah mengandung anak dari lelaki lain, seperti yang Digo dengar saat pembicaraan Kathryn dengan lelaki itu. "Ratna, saya sedang banyak kerjaan hari ini. Tolong jangan ijinkan siapapun yang ingin bertemu dan masuk ke ruangan saya." Digo berpesan pada Ratna sekretarisnya saat akan memasuki ruangannya. Digo paham betul kalau Kathryn pasti ingin menemuinya di kantor. Untuk itu ia meminta Ratna agar jangan mengizinkan siapapun yang ingin menemuinya. "Digo sayang," Digo baru saja ingin memeriksa beberapa berkas tapi fokusnya harus teralihkan oleh suara dari balik pintu yang terbuka. "Maaf Pak Digo, saya sudah bilang sama Mbak Kathryn kalau Bapak sibuk dan tidak bisa diganggu, tapi mbak Kathryn memaksa masuk." Ratna yang berdiri di sebelah Kathryn menjelaskan pada Digo. "Sudah tidak apa Rat, tinggalkan kami berdua." seru Digo pada Ratna. "Honey, makasih ya. Sekretaris kamu itu memang resek sekali masak aku nggak boleh masuk kesini. Mau dipecat apa dia." Kathryn mendekat dan duduk di depan meja Digo. Digo merasa jengah dan muak sekali dengan drama Kathryn terhadapnya. Rasanya ia sudah tak tahan dan ingin segera mengakhiri semuanya. "Ada perlu apa Kath?" tanya Digo dengan nada Dinginnya. "Honey, kenapa tanya begitu. Kan aku kangen sama kamu." Kathryn bergelayut di lengan Digo tapi segera ditepisnya. Apalagi panggilan honey dari Kathryn. Rasa-rasanya ia ingin membekap mulut Kath yang masih berani memanggilnya dengan sebutan itu, padahal jelas-jelas semua yang ia ucapkan adalah palsu. "Digo, kamu kenapa sih?" Kathryn mulai menampakkan wajah kesalnya karena Digo tak menggubrisnya dari tadi. "Bagaiman liburanmu di Milan Kath? Apa menyenangkan?" cerca Digo, seketika membuat wajah Kathryn pucat. "Maksud kamu apa Digo? Aku kesana buat kerja ya! Bukan liburan." elak Kathryn masih belum mau mengakui kebohongannya. "Sepertinya aku harus memberimu selamat Kath, bukan hanya satu, tapi tiga selamat untukmu sekaligus." ucap Digo dengan wajah dinginnya. "Digo, aku makin nggak ngerti ya sama ucapan kamu. Apa sih maksudnya." "Yang pertama, selamat karena kamu telah berhasil membodohiku selama ini." "Digo aku..." Kathryn ingin menyela tapi Digo segera mengisyaratkan agar ia tetap diam. "Yang kedua, selamat atas kehamilanmu, ternyata dua bulan ini alasan pergi kerja dan pemotretan di Milan hanya menjadi alasanmu saja Kath. Kamu asyik-asyikan liburan disana dengan seorang lelaki. Aku benar-benar merasa bodoh sekali selama ini!"  Digo menatap nyalang wajah Kathryn. Sementara yang ditatap hanya diam menunduk tak berani mengangkat wajahnya. "Digo, aku bisa jelasin," "Tidak ada yang perlu dijelasin Kath! Yang ketiga, Selamat karena mulai sekarang kamu bebas. Tidak ada apa-apa lagi diantar kita. Aku rasa sudah jelas semua yang aku ucapkan, dan aku harap kamu mengerti, jadi silahkan tinggalkan ruangan saya nona Kathryna yang terhormat." kata-kata terakhir Digo serasa menohok Kathryn, bagiamana tidak. Jika selama ini ia selalu memproklamirkan diri sebagai wanita baik-baik dan terhormat, tapi nyatanya kini malah sedang hamil dan parahnya ia belum berstatus menikah. "Digo," "Keluarlah Kath, atau aku panggilkan security." Nyali Kathryn menciut, secepat kilat ia berlari meninggalkan ruangan Digo dan menghempaskan pintu dengan keras. Seusai Kathryn keluar dari ruangannya Digo menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya, memjamkan matanya seakan merasa lega luar biasa. Lega karena pada akhirnya ia bisa lepas dari Kathryn tanpa menyakiti perasaannya. Setidaknya itulah yang terjadi, ia dan Kath berpisah karena kesalahan Kathryn sendiri. Dan Digo pun yakin selama ini bukan cinta yang ia rasakan pada Kath, melainkan rasa kagum semata. Usai sudah lembaran cerita dengan Kathryn, Digo akan menutupnya rapat-rapat. Kalau istilah anak mudah jaman sekarang sih, Lo Gue End! Gitu deh. Digo tersenyum mengingat ada bidadari cantik yang akan mengisi hari-harinya. Lembaran baru bersama nona Rimbanya itu baru saja akan dimulai. Berharap selamanya cinta akan berjalan bersisihan di hati mereka. Bersama mengarungi bahtera rumah tangga, dengan wanita tercinta dan anak-anak mereka nanti. Anak-anak?? Hmm..sepertinya Digo harus segera memikirkanya. #######
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN