Dampak terbesar dari sebuah emosi memang keputusan yang tidak tepat. Setelah tidak sadarkan diri saat perjalanan pulang ke rumah, Abiraka yang saat itu dalam kondisi serba bingung pun tidak terbesit untuk membawa adiknya ke rumah sakit. Dia bawa adiknya ke rumah saja karena dia pikir kalau sudah di rumah, adiknya bisa dengan mudah ditangani. Lalu, beberapa saat setelah Abiraka mengoleskan minyak kayu putih di dekat hidung adiknya, sosok itu pun membuka mata. Dia kebingungan karena sudah berada di kamar yang dulu dia tempati saat ada di rumahnya. Bukan kamarnya bersama Naresh. “Haus, Kak.” Abiraka dengan sigap menuruti keinginan adiknya. Dia mengambil segelas air putih untuk adiknya. Rasa menyesal yang sangat mendalam saat melihat keadaan adiknya yang seperti sekarang. Ingin rasanya

